PAGI ini, saya meminjam kamar seseorang untuk berdoa. Heran melihat buku lama Khalil Gibran bertajuk Sang Nabi, tergeletak begitu saja. Saya abaikan.
Namun, usai ritual doa, saya tidak tahan mengambil buku yang seharusnya tidak ada di kamar itu, karena pemiliknya tak suka membaca.
Lalu, saya membaca acak dan terbuka pada pertanyaan tentang cinta. Hmmm…akhirnya saya ingin menulis ulang tentang pengertian cinta versi Gibran di blog ini…untuk kamu, untuk aku, untuk kita, dan untuk hidup kita yang terkadang bisa begitu biru…
PABILA cinta memanggilmu, ikutilah dia, walau jalannya terjal berliku.
Dan pabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu.
Dan jika dia bicara padamu, percayalah, walau ucapannya membuyarkan mimpimu, bagai angin utara mengobrak-abrik pertamanan.
sebab sebagaimana cinta memahkotaimu, demikian pula dia menyalibmu. Demi pertumbuhanmu, begitu pula demi pemangkasanmu.
Seebagaimana dia membubung, mengecup puncak-puncak ketinggianmu, membelai mesra ranting-ranting terlembut yang bergetar dalam cahaya matahari, demikian pula dia menghujam ke dasar akarmu, mengguncang-guncangnya dari ikatanmu dengan tanah.
….
….
Namun jika dalam kecemasan, hanya kedirian cinta dan kesenangannya yang kaucari,
maka lebih baiklah bagimu menutup tubuh lalu menyingkir dari papan penempaan,
memasuki dunia tanpa musim, dimana kau dapat tertawa, namun tidak sepenuhnya,
tempat kau pun dapat menangis, namun tidak sehabis airmata
Cinta tak memberikan apa apa, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh
pun tidak mengambil apa apa, kecuali dari dirinya sendiri
cinta tidak memiliki atau pun dimiliki
karena cinta telah cukup untuk cinta
….
….
Pun jangan mengira kau dapat menentukan arah cinta
karena cinta, pabila kau telah dipilihnya, akan menentukan perjalanan hidupmu
Cinta tidak berkeinginan selain mewujudkan maknanya
Namun jika kau mencintai disertai berbagai keinginan, ujudkanlah dia demikian
meluluhkan diri, mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan lagu persembahan malam,
mengenali kepedihan kemesraan yang terlalu dalam,
merasakan luka akibat pengertianmu sendiri tentang cinta,
dan meneteskan darah dengan sukarela dan sukacita.
Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
istirah di terik siang merenungkan puncak puncak getaran cinta
pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
dan sebuah nyanyian puji syukur tersungging di bibir senyum
Khalil Gibran

