HarikuJanuary 14, 2009 3:42 pm

KEMARIN saya berbincang dengan dokter kantor yang juga psikiater. Perpincangan berlanjut ke masalah hipnosis. Dalam hal penyembuhan, tentu dokter ini sudah berpengalaman. Juga praktek hipnosis.
Dari perbincangan iseng tadi, saya bertanya, “Boleh dong ilmu hipnosisnya dicoba?”

“Boleh, boleh,” jawab dokter tadi.

Asistennya memberitahu, ternyata sudah banyak teman di kantor yang minta bukti keajaiban hipnosis. Kisahnya, ada yang lupa nama sendiri, ada yang tak bisa melepas kaitan tangan, ada pula yang tak kuat mengangkat botol.

Maka, saya berniat mencoba. Apalagi dokter itu bilang, kalau saya sudah berhasil fokus dan dihipnosis, ada keuntungan tambahan, yaitu akan lebih kebal pada kejahatan dengan dasar hipnosis. Waaah, boleh juga tuh, pikir saya.

Jadilah saya memasuki tahap hipnosis. Ada proses saat dokter mengatakan saya akan lupa nama sendiri. Saya juga akan lupa siapa saya sebenarnya. Saya diminta mengosongkan pikiran sekaligus fokus melupakan diri saya. Maka, saya membayangkan diri tersesat, tidak ingat apa-apa lagi, kosong…kosong.
Saat disuruh membuka mata, dokter itu bertanya, siapa nama dirinya, dan saya jawab betul. Ketika ditanya siapa saya? Astaga…saya tetap ingat, menyebut nama dengan lancar.

Lalu, dicobalah sekali lagi. Kali ini saya disuruh melupakan angka dua. Sekali lagi, saya mengosongkan pikiran. Saya benar-benar berusaha keras untuk berkonsentrasi, mematuhi semua perintah sang dokter. Lalu saya disuruh membuka mata, dan diminta menghitung 1-10.
Saya mulai menghitung, lalu berhenti pada angka satu. Dengan tidak enak hati saya berkata, “Tapi dokter saya tetap ingat angka dua.”

Sekali lagi proses hipnosis gagal . Dan akhirnya disudahi. Dokter itu bilang, saya kurang konsentrasi. Terus dia menjelaskan, di dunia ini, ada 20% orang yang mudah dihipnosis, 70% sedang-sedang saja, dan 10% sulit dihipnosis karena otak kiri terlalu aktif.
Saya pikir, mungkin saya ada di antara 70% dan 10% alias di antara yang sedang-sedang dan sulit.
Tapi masa iya sih? Selama ini saya selalu berpikir sebagai orang yang gampang di hipnosis. Bagaimana tidak? Saya ini mudah terpengaruh dengan histeria masa. Saat peristiwa Mei 1998, begitu ada teriakan dan orang berlarian, saya langsung ikut ambil langkah seribu. Benar itu, jadi mungkin kemarin itu saya memang kurang fokus. Dokter itu berjanji, akan mencoba lagi.

Hariku 3:29 pm

SUATU hari, saya mendapat pertanyaan, apa beda makna senang dan bahagia?
Trus berlanjut peristiwa dan keadaan seperti apa yang pernah membuat saya senang dan bahagia?

Nah, untuk pertanyaan kedua, saya terpaksa termenung lamaaaa sekali. Apa ya? Gawat nih…apa ya perasaan yang paling menonjol dalam kehidupan saya? Saya ingat perasaan takjub saat pertamakali melihat putri kecilku menghirup udara. Perasaan ajaib saat pertamakali melihat dia digendong suster dan disodorkan kepada saya, ibunya.

Selanjutnya? Terlepas dari segala keajaiban yang terus diberikan putri kecilku, apa ya? Saya masih termenung. Bukan tidak ada yang bahagia dan tidak senang. Bukan pula ada kesedihan. Lalu apa? hahaha…

Itu yang saya bingung. Sebingung saat diajak teman membaca tarot dan disuruh melontarkan pertanyaan pada ‘tukang’ tarot yang sudah menunggu di seberang meja. “Apa yang harus saya tanyakan? ”

“Masalahmu to mbak?” kata teman saya tadi.

“Waduuuh, apa ya?”

Akhirnya saya bilang, ya sudah liat saja semua hahaha.