Di pohon johar yang istirah
di musim penghujan yang basah
aku tumbuh dari rasa sakit masa lalu
Menyulam rumah berkabut
Karya S Yoga, diambil dari harian Kompas 18 Jan 09
Di pohon johar yang istirah
di musim penghujan yang basah
aku tumbuh dari rasa sakit masa lalu
Menyulam rumah berkabut
Karya S Yoga, diambil dari harian Kompas 18 Jan 09
Pergulatan Cinta dan Rasa Takut
SAYA tidak tahu, apakah ini kebetulan atau bukan. Tapi satu bulan ini banyak peristiwa yang berkutat pada kata bahagia dalam hidup pribadi saya. Mulai dari pertanyaan hingga berbagai keluhan teman, pun yang disampaikan tetangga menjelang subuh (?) beberapa waktu lalu.
Kemudian, saat saya memindahkan buku dari lantai satu ke atas, dan saat memindahkan lagi dari lantai ke lemari dalam rentang berbeda (hitungan hari dan minggu), satu buku terus menyita perhatian saya. Setelah selesai disusun, selalu ada ditumpukan atas. Tapi saat itu saya sedang dihinggapi keengganan membaca. Sampai sekitar lima hari lalu, lagi, buku itu ada di tempat tidur, (mungkin untuk sarana bermain putri kecilku), dan kembali menarik perhatian.
Kali ini saya sulit mengabaikan. Maka, mulailah saya membaca buku tersebut. Judulnya Pergulatan Cinta dan Rasa Takut, tulisan Dan Baker dan Cameron Stauth. Cinta? ya…ini bukan sekadar cinta antara dua manusia berbeda jenis. Tapi lebih luas lagi mencakup berbagai hubungan.
Dua hari membaca buku itu, saya merasa tertohok, berkali-kali rasanya perasaan dan hidup saya ditelanjangi. Sebagian pengetahuan yang dipaparkan mungkin sudah banyak diketahui orang. Namun, buku ini memberi makna yang jauh lebih mendasar.
Saya, yang dua minggu ini dihinggapi banyak perasaan, seolah ditampar, diajak mengubah persepsi, dan banyak hal lagi yang memaksa saya menelanjangi apa yang selama ini membuat saya takut dan selalu melarikan diri. Sulit mengungkapkan, tapi saya menulis ini, dengan harapan dapat membagi apa yang saya dapatkan. Di blog ini, saya hanya menulis sepenggal-sepenggal, tentu baru akan mengena jika Anda membaca seluruhnya.
Kulitas Kebahagiaan:
1. Cinta
Cinta dalam arti luas merupakan penawasr rasa takut dan langkah pertama menuju kebahagiaan.
2. Optimisme
Optimisme adalah menyadarisemakin menyakitkan peristiwa yang kita alami, semakinmendalam pelajaran yang dapat kita petik.
3. Keberanian
Inilah senjata paling ampuh untuk mengalahkan rasa takut. Keberanian adalah kualitas kita untuk terus berjuang.
4. Perasaan Bebas
Kebebasan adalah pilihan, dan pilihanlah nyang membuat diri kita manusiawi
5. Proaktif
Orang yang bahagia berpartisipasi untuk mengubah nasib mereka sendiri. Mereka tidak menanti peristiwa atau orang lain untuk membuatr mereka bahagia.
6. Rasa aman
Orang bahagia menyadari tidak ada yang abadi. Mereka menyukai keadaan diri sendiri apa adanya.
7. Kesehatan
Kebahagiaan dan kesehatan adalah dua hal yang saling bergantung.
8. Spiritualitas
Orang yang bahagia tidak takut menjalani hal-hal baru dalam kehidupan mereka.
9. Altruisme
Orang yang tidak bahagia biasanya terobsesi dengan diri sendiri, sehingga tidak sempat memperhatikan kebutuhan orang lain. Altruistis menjalin kebersamaan Anda dengan orang lain dan memberikan Anda tujuan hidup.
10. Perspektif
Orang yang tidak bahagia cenderung melihat segala sesuatu hitam putih. Orang yang bahagia bisa melihat sisi abu-abu. Mereka tahu bagaimana memprioritaskan berbagai masalah dan mengubah menjadi sejumlah kemungkinan.
11. Humor
Merupakan pergeseran persepsi yang memberkali seseorang dengan keberanian.
11. Tujuan Hidup
Orang bagahia tahu apa tujuan hidupnya.
“Kebahagiaan bukan berarti semuanya baik-baik saja. Kebahagiaan adalah kerja keras. Keberanian merupakan salah satu prasyarat kebahagiaan. Kata orang, keberanian bukan berarti menghapus rasa takut, tetapi kemampuan untuk bertindak walau pun merasa takut. Orang yang bahagia tidak melawan ketidaksempurnaan, mereka mengalahkan rasa takut. Kita mengubah nasib kita setiap hari, dengan apa yang kita lakukan.”
Lima Perangkap Kebahagiaan:
1. Berusaha membeli kebahagiaan
2. Berusaha menemukan kebahagiaan dalam kesenangan
3. Berusaha merasa bahagia dengan melupakan masa lalu
4. Berusaha merasa bahagia dengan memperbaiki segala kekurangan
5. Berusaha memaksakan kebahagiaan
Empat keyakinan umum yang bisa sangat mematikan. Karena itu, jika Anda mengalami perasaan ini, segera alihkan atau ubah persepsi Anda ke arah lebih positif:
1. Aku adalah korban
2. Aku berhak untuk menuntut lebih banyak
3. Aku akan diselamatkan
4. Orang lain yang harus disalahkan
KEMARIN saya berbincang dengan dokter kantor yang juga psikiater. Perpincangan berlanjut ke masalah hipnosis. Dalam hal penyembuhan, tentu dokter ini sudah berpengalaman. Juga praktek hipnosis.
Dari perbincangan iseng tadi, saya bertanya, “Boleh dong ilmu hipnosisnya dicoba?”
“Boleh, boleh,” jawab dokter tadi.
Asistennya memberitahu, ternyata sudah banyak teman di kantor yang minta bukti keajaiban hipnosis. Kisahnya, ada yang lupa nama sendiri, ada yang tak bisa melepas kaitan tangan, ada pula yang tak kuat mengangkat botol.
Maka, saya berniat mencoba. Apalagi dokter itu bilang, kalau saya sudah berhasil fokus dan dihipnosis, ada keuntungan tambahan, yaitu akan lebih kebal pada kejahatan dengan dasar hipnosis. Waaah, boleh juga tuh, pikir saya.
Jadilah saya memasuki tahap hipnosis. Ada proses saat dokter mengatakan saya akan lupa nama sendiri. Saya juga akan lupa siapa saya sebenarnya. Saya diminta mengosongkan pikiran sekaligus fokus melupakan diri saya. Maka, saya membayangkan diri tersesat, tidak ingat apa-apa lagi, kosong…kosong.
Saat disuruh membuka mata, dokter itu bertanya, siapa nama dirinya, dan saya jawab betul. Ketika ditanya siapa saya? Astaga…saya tetap ingat, menyebut nama dengan lancar.
Lalu, dicobalah sekali lagi. Kali ini saya disuruh melupakan angka dua. Sekali lagi, saya mengosongkan pikiran. Saya benar-benar berusaha keras untuk berkonsentrasi, mematuhi semua perintah sang dokter. Lalu saya disuruh membuka mata, dan diminta menghitung 1-10.
Saya mulai menghitung, lalu berhenti pada angka satu. Dengan tidak enak hati saya berkata, “Tapi dokter saya tetap ingat angka dua.”
Sekali lagi proses hipnosis gagal . Dan akhirnya disudahi. Dokter itu bilang, saya kurang konsentrasi. Terus dia menjelaskan, di dunia ini, ada 20% orang yang mudah dihipnosis, 70% sedang-sedang saja, dan 10% sulit dihipnosis karena otak kiri terlalu aktif.
Saya pikir, mungkin saya ada di antara 70% dan 10% alias di antara yang sedang-sedang dan sulit.
Tapi masa iya sih? Selama ini saya selalu berpikir sebagai orang yang gampang di hipnosis. Bagaimana tidak? Saya ini mudah terpengaruh dengan histeria masa. Saat peristiwa Mei 1998, begitu ada teriakan dan orang berlarian, saya langsung ikut ambil langkah seribu. Benar itu, jadi mungkin kemarin itu saya memang kurang fokus. Dokter itu berjanji, akan mencoba lagi.
SUATU hari, saya mendapat pertanyaan, apa beda makna senang dan bahagia?
Trus berlanjut peristiwa dan keadaan seperti apa yang pernah membuat saya senang dan bahagia?
Nah, untuk pertanyaan kedua, saya terpaksa termenung lamaaaa sekali. Apa ya? Gawat nih…apa ya perasaan yang paling menonjol dalam kehidupan saya? Saya ingat perasaan takjub saat pertamakali melihat putri kecilku menghirup udara. Perasaan ajaib saat pertamakali melihat dia digendong suster dan disodorkan kepada saya, ibunya.
Selanjutnya? Terlepas dari segala keajaiban yang terus diberikan putri kecilku, apa ya? Saya masih termenung. Bukan tidak ada yang bahagia dan tidak senang. Bukan pula ada kesedihan. Lalu apa? hahaha…
Itu yang saya bingung. Sebingung saat diajak teman membaca tarot dan disuruh melontarkan pertanyaan pada ‘tukang’ tarot yang sudah menunggu di seberang meja. “Apa yang harus saya tanyakan? ”
“Masalahmu to mbak?” kata teman saya tadi.
“Waduuuh, apa ya?”
Akhirnya saya bilang, ya sudah liat saja semua hahaha.