Judul : Rahasia Sukses Ekonomi China
Penulis : James Kynge
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 310 hlm
Tertarik beli? Silakan klik sabuku.com

Biarkan China terlelap. Sebab, jika China terbangun, ia akan mengguncang dunia. Napoleon Bonaparte pernah membuat pernyataan seperti itu. Terlepas dari benar atau tidak, kenyataannya kini kebangkitan China membuat takut banyak pemimpin negara, termasuk adikuasa ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS).

Dalam bukunya Rahasia Sukses Ekonomi Cina, James Kynge mengungkapkan dengan jelas dan rinci berbagai terkaman China di bidang ekonomi yang akhirnya menyebabkan keterpurukan negara-negara lain. Industri ambruk dan pengangguran pun meningkat. Mulai dari industri elektronik, tekstil, hingga kerajinan kecil.

Kekuatan China di bidang ekonomi sudah sering dibahas dalam bentuk buku maupun tulisan di media massa. Namun, buku ini akan memberi pemahaman berbeda. Mulai dari detail kejadian, keterpurukan, kekuatan, hingga berbagai dampak ekspansi ekonomi China. Bukan hanya pada negara yang diincar, melainkan juga kondisi di China sendiri. Kekacauan ekonomi, pengaruh politik, hingga kerusakan lingkungan pada akhirnya menjadi masalah global.

Kynge mampu menjabarkan dengan persepsi berbeda dan menggali fakta tersembunyi yang selama ini lebih sering terabaikan. Ia mempunyai akses luas yang sudah dibangun sejak menjadi mahasiswa di ‘Negeri Tirai Bambu’ tersebut. Tuntutan pekerjaan membuat aksesnya kian berkembang.

Ia meraih gelar MA dalam bahasa China dan Jepang pada 1985 di Edinburgh University, Skotlandia. Juga, diploma bahasa China di Shandong University, Jinan, China. Pada 1989, Kynge meliput langsung pembantaian Tiananmen. Kemudian, pada 1991, ia mengembara ke Mongolia dan melahirkan buku Nomads Among Stones. Ia bergabung dengan Reuters pada 1993 dan menjadi koresponden Financial Times untuk Asia Tenggara sejak 1996.

Kynge menetap di Beijing pada 1998 dan menjabat Kepala Kantor Cabang China. Krena itu ia dapat menyaksikan dari dekat transformasi ekonomi China yang menakjubkan. Ia juga menjadi kontributor tetap BBC, CNN, dan masih banyak lagi.

Kini, Kynge bersama istri dan anaknya tinggal di Beijing dan menjabat sebagai Chief Representative Pearson Group yang menangani seluruh kepentingan grup tersebut di China. Pengalaman dan keterlibatannya di negeri tersebut memberi kekuatan tersendiri pada buku ini.

Kekuatan Ekonomi China mencatat angka pertumbuhan tahunan menakjubkan, yakni 9,4%. Tertinggi dari pertumbuhan perekonomian mana pun di dunia.

Menjelang 2005, sekitar 350 juta orang memiliki telepon genggam di China dan 100 juta orang mengakses internet. Padahal, pada 1978 nyaris belum ada orang yang memiliki telepon pribadi.

Pertumbuhan itu menggoda investor-investor asing. Mereka pun berlomba memburu 1 miliar pasar (penduduk China) yang belum tergarap. Honda, Yamaha, Mitsubishi, Volkswagen, IBM, dan masih banyak lagi melakukan ekspansi ke negara itu. Namun, pada kenyataannya tidak mudah.

Pembatasan-pembatasan pemerintah China membuat mereka tidak bebas mendirikan pabrik. Ada ketentuan yang mengharuskan membentuk usaha gabungan dengan mitra usaha milik pemerintah. Pemerintah juga menuntut adanya transfer teknologi yang tidak diimbangi dengan perlindungan hak cipta intelektual.

Di samping itu, ada ketentuan yang tidak mengizinkan perusahaan asing mengontrol pemasaran dan jaringan pemasok. Meski sulit, iming-iming 1 miliar pasar sungguh sulit ditolak. Maka, rencana pun tetap berjalan.

Yamaha, misalnya, melakukan join venture dengan perusahaan China bernama Jianshe. Awalnya berjalan lancar, sampai kemudian manajemen Yamaha tersentak ketika berhasil mengeluarkan model terbarunya Jinbao empat tak 100 ml pada 1995. Dalam beberapa bulan saja, replika Jinbao sudah dibuat 36 pabrik di seluruh negeri itu. Jiplakannya nyaris tidak berbeda dengan yang asli. Namun, Jinbao Yamaha dijual 18 ribu rmb, sedangkan yang palsu hanya 6.000 rmb.

Kasus serupa juga menimpa Volkswagen yang bermitra dengan SAIC. Pada 1990-an, mobil Jetta keluaran Volkswagen begitu populer di China.

Setelah 33 bulan diluncurkan, Chery Automobil, perusahaan China di tepian Sungai Yangtze mengeluarkan produk Chery yang amat mirip dengan Jetta. Kecurigaan pun meruap. Apalagi salah satu eksekutif puncak di Chery Automobile pernah terlibat dalam pembuatan Jetta di China untuk anak perusahaan Volkswagen, Audi. Kasus itu bergulir hingga berbentuk tuntutan. Namun, akhirnya dibatalkan karena sistem peradilan di China tak memungkinkan.

Pelanggaran hak intelektual seperti itu terus berlangsung di segala bidang. Buku, DVD, dan alat elektronik bajakan dengan merek dibuat hampir sama beredar di mana-mana. Berbagai perkiraan menyatakan perusahaan AS, Jepang, dan Eropa bisa jadi telah kehilangan lebih dari US$60 miliar setahun karena pembajakan di China. Jika benar, demikian ditulis Kynge, pencurian hak atas kekayaan intelektual yang terjadi melebihi total aliran investasi asing yang masuk ke China pada 2004, yaitu sekitar US$56 miliar.

Kondisi seperti itu memusingkan banyak perusahaan di dunia. Ancaman dari China tidak hanya barang palsu dengan kualitas di bawah standar, tapi juga lebih pada barang palsu dengan kualitas menyamai. Tak bisa dipungkiri — terlepas dari cara — China tengah menaiki tangga teknologi dengan sangat cepat. Kebangkitan itu menurut Kynge, lebih banyak didukung perdagangan bukan riset.

Dalam bukunya, Kynge mengawali kebangkitan China jauh sebelum negeri ini dibicarakan banyak negara. Serbuan ke Jerman dimulai di pabrik baja ThyssenKrupp di Dortmund yang diakuisisi China sekitar 2000.

Akuisisi itu diikuti serbuan 1.000 pekerja China yang bekerja dengan sangat tekun pada pagi, siang, dan malam tanpa hari libur. Hanya dalam waktu dua tahun, pembongkaran dan pemindahan mesin perusahaan telah diselesaikan. China terus bergerak memadukan tenaga buruh murah dan pabrik modern.

Jerman kini mengalami krisis pekerjaan terparah sejak sebelum perang dunia kedua meletus. Sekitar 12% atau 5 juta orang menganggur. Di semua negeri Uni Eropa, tingkat pengangguran mencapai 9%.

Di Eropa, Kynge menceritakan keruntuhan industri tekstil di Prato, Italia, pusat pertekstilan Eropa tertua lebih dari 700 tahun. Saat ini, beberapa perusahaan tua berada di ujung tanduk. Penyebabnya, jika dulu hanya satu bagian proses pembuatan kain atau pun pakaian yang dikerjakan di China, sekarang hampir setiap tahap produksi dipindahkan ke luar negeri. Bahkan beberapa pemilik merek, butik, dan rumah mode besar juga melakukan outsourcing ke ‘Negeri Tirai Bambu’. China terus bergerak. Kynge menyebutkan negara itu tengah memenuhi rasa lapar yang tak berkesudahan. Di Amerika, Walmart dipenuhi barang-barang China.

Dominasi itu meruntuhkan banyak perusahaan besar dan kecil. Dalam sebuah hasil survei, — Kynge mengutip dengar pendapat Bruce Cain, Presiden Perusahaan Xcel Mold and Machine di Canton, Ohio, dengan kongres Amerika Serikat — dalam kurun waktu 1 Mei 2003 hingga September 2004 ada 180 pamflet lelang atau rata-rata satu pamflet setiap hari. Yang mencemaskan, penutupan perusahaan biasanya disebabkan saingan dari China yang tiba-tiba menawarkan harga jauh lebih murah.

Kelemahan Begitulah rasa lapar China menghantam dunia. Membangkrutkan perusahaan-perusahaan kecil dan mulai mengakuisisi perusahaan-perusahaan besar, termasuk IBM.

Kebangkitan ekonomi China memang luar biasa. Namun, di balik semua kekuatan itu membuntuti berbagai kelemahan. Pencurian hak intelektual, kelemahan sistem ekonomi yang kini mulai memusingkan pemerintah China sendiri, dan kehidupan sosial yang memunculkan sisi hero ekonomi yang patut dikagumi serta berbagai situasi memprihatinkan akibat kebijakan pemerintah yang terus memburu angka pertumbuhan.

Dari segi lingkungan, kondisi China luar biasa hancur. Pencemaran air dan udara tak terkendali. Sungai Kuning kini kering. Sejak 1985, air sungai tersebut tak mampu lagi mencapai laut. Dari daftar 20 kota paling tercemar di dunia, 16 di antaranya terdapat di China. China menjadi bengkel dunia, sekaligus tempat sampah dunia.

Daniel Jacob, profesor kimia atmosferik dari Harvard, melacak bubungan udara kotor di sebuah titik di atas New England. Hasilnya, sampel menunjukkan polusi yang terjadi berasal dari China. Penelitian lain menunjukkan China menyemburkan merkuri 600 ton ke udara setiap tahunnya. Itu berarti hampir seperempat emisi merkuri sedunia.

Sementara itu, hutan-hutan yang menjadi paru-paru dunia, termasuk di Indonesia terus ditebang. Sebagian untuk memenuhi rasa lapar China yang tak bisa lagi memenuhi produksi kayu dari dalam negeri sendiri.

Pada 2002, China mengimpor 2,6 juta kubik meter kayu Indonesia lebih banyak daripada ekspor kayu resmi Indonesia. Worldwide Fund for Nature memperkirakan 44% kayu yang diimpor China adalah hasil penebangan liar dari berbagai negara.

Banyak sisi lain yang diungkapkan Kynge dalam buku yang disusun berdasarkan pengamatan langsung dan riset selama satu setengah tahun.

Gabungan dari itu membuat buku ini sangat layak dibaca. Memberi pemahaman dan persepsi berbeda. Menyodorkan dua sisi China, yakni tentang kekuatan pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan dan dampak yang selama ini terabaikan.

Pada akhir penulisan di bahasan lingkungan, Kynge mengatakan di dunia yang saling terhubung ini, masalah lingkungan di sebuah negara sebesar China tak bisa lagi dianggap sebagai masalah domestik. Besar kemungkinan, ketegangan internasional akan terus meningkat karena kebutuhan China akan sumber daya asing dan perusakan lingkungan yang sampai sekarang masih terus berlangsung.

Diambil dari Media Indonesia/28 Juli 2007