HarikuNovember 28, 2008 5:06 am

Judul : Chindia
Penulis : Pete Engardio
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer, 2008
Tebal : 446 hlm

Keseimbangan kekuatan akan bergeser ke timur, saat China dan India berevolusi.
———————————————

MAJALAH Business Week edisi terbaru membahas Jalan Sutera abad 21. China dan India-lah yang dimaksud. Diramalkan, dua negara itu akan menguasai perdagangan seperti halnya pada abad 25-21 SM. Diprediksi, China dan India akan mengambil alih kekuasaan yang selama ini dimonopoli Barat.
Dua negara itu dibahas Pete Engardio, penulis buku Chindia yang juga merupakan penulis senior di majalah Business Week.
Istilah Chindia (China dan India) dikutip Engardio dari pernyataan politikus India, Jairam Ramesh. Kemampuan, kelemahan, metode kebangkitan, budaya, politik, manajemen, dan banyak sisi lain yang ada di dua negara dibahas di buku ini.

Macan atau naga?
Siapa yang lebih kuat, macan (India) atau naga (China)? Lewat buku ini, Endargio mengupas satu demi satu kekuatan dan kelemahan Chindia. Pelaku ekonomi dan industri Barat kerap menyebut China dan India dengan istilah ‘kekacauan dari Timur’.
China dituliskan unggul di banyak bidang yang berkaitan dengan manufaktur massal. Namun, India unggul dalam industri canggih dan peranti lunak yang sampai sekarang terus tumbuh mengesankan. Di bidang inovasi, China kalah dengan India. Negara itu masih berkutat pada pencurian intelektual. Di India, kesuksesan bisnis sepenuhnya mengenai belajar mengelola dengan adanya keterbatasan dan hambatan fisik.
Endargio menjabarkan keduanya sama-sama berhasil meluluskan setengah juta insinyur dan ilmuwan setiap tahun. Bandingkan dengan AS yang hanya menghasilkan 70 ribu insinyur dan ilmuwan per tahunnya.
Faktanya, kedua negara itu memang tumbuh mencengangkan. Selama dua dekade ekonomi China tumbuh 9,5% per tahun, sedangkan India 6% per tahun. Dengan potensi penduduk usia muda dan tabungan besar, Chindia memiliki dasar untuk terus tumbuh.
Bila kedua negara berhasil mencegah terjadinya bencana akibat berbagai hambatan dan salah urus, tulis Endargio, tiga dekade ke depan India bisa menyaingi Jerman sebagai perekonomian terbesar ketiga di dunia. Pada pertengahan abad, China bisa mengambil alih AS sebagai nomor 1. Setelah itu, China dan India merupakan setengah dari apa yang dihasilkan dunia (hlm 20).
Bahkan proyeksi perusahaan konsultasi Keystone-India yang dilansir kelompok puncak Ernst & Young menyebutkan ada kemungkinan India dalam jangka panjang akan melampaui China. Proyeksi itu didasarkan pada gambaran kependudukan, efisiensi modal, pertumbuhan investasi, pertumbuhan wirausahawan baru (pengusaha India mulai memasuki daftar orang-orang terkaya di dunia), dan produktivitas yang lebih tinggi.
Jika India dapat menumbuhkan kepesatan ekonomi, tak mustahil akan jadi negara pertama yang menggunakan kepandaiannya, bukan sumber daya alam atau otot telanjang para buruh (hlm 60).
Tapi tentu tak mudah. Apalagi sang naga mulai menyadari kelemahannya. Belakangan sektor perbankan mulai dibenahi dan para pengusaha mulai menyadari pentingnya memperbaiki brand. Dalam buku ini, diberikan contoh, gambaran, dan banyak data yang menunjang.

Kebangkitan perempuan
Kebangkitan Chindia tak semata pada masalah serbuan ke luar, tetapi juga besarnya pasar yang bisa digarap di kedua negara tersebut.
Engardio memaparkan contoh pemasaran yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar. Momentumnya antara lain mengambil kebangkitan perempuan India. Mereka disebut sebagai konsumen masa depan.
Hasil survei yang dilakukan Grey Global Group (hlm 186) menyebutkan 51% perempuan di kota besar menginginkan rumah dan mobil sendiri. Selain itu, 67% perempuan menolak tradisi lama yang mengharuskan perempuan ikut suami dan merawat mertua, tidak boleh orang tua sendiri. Mereka justru berencana merawat orang tua sendiri dan itu berarti membutuhkan uang.
Perubahan itu dimanfaatkan Unilever untuk membuat iklan produk kecantikan Fair & Lovely. Digambarkan seorang perempuan pulang dan melihat orang tuanya kehabisan gula untuk membuat kopi. Mereka tak sanggup membeli. Kemudian si gadis menjadi pramugari setelah menggunakan produk Fair & Lovely yang membantu membuatnya tampil cantik.
Ada juga iklan Whirpool yang menggambarkan suami muda membantu mencuci pakaian keluarga. Bagi pemasar, perubahan sosial di India itu menawarkan peluang baru untuk dieksploitasi (hlm 189).

Faktor X

Sebenarnya, banyak fakta dan data yang diungkap Engardio, sudah tidak asing lagi. Terutama tentang kebangkitan dan kesuksesan China yang sudah sering diperbincangkan dalam buku maupun artikel. Apalagi, dalam beberapa bahasan, ia mengambil data dan mengutip fakta yang sudah diungkap di Business Week.
Namun, komparasi penulisan dan sorotan masalah yang sama dari beberapa sudut pandang berbeda antara China dan India bisa memberi wawasan dan perspektif berbeda. Tentu selalu ada faktor x yang bisa mengacaukan teori dan prediksi. Siapa yang bisa tahu perubahan seperti apa yang akan dibawa dari krisis ekonomi yang terjadi dan masih akan berlanjut belakangan ini?
Lepas dari segala fakta dan prediksi, buku ini setidaknya bisa memberi gambaran luas tentang kekuatan dan kelemahan China dan India. Menambah wawasan pada masyarakat umum dan bisa melengkapi gambaran bagi siapa saja yang barangkali ingin bergabung atau bahkan ambil bagian dari ‘demam China dan India.’

Diambil dari Media Indonesia, 29 November 2008

Hariku 5:02 am

Judul : Rahasia Sukses Ekonomi China
Penulis : James Kynge
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 310 hlm
Tertarik beli? Silakan klik sabuku.com

Biarkan China terlelap. Sebab, jika China terbangun, ia akan mengguncang dunia. Napoleon Bonaparte pernah membuat pernyataan seperti itu. Terlepas dari benar atau tidak, kenyataannya kini kebangkitan China membuat takut banyak pemimpin negara, termasuk adikuasa ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS).

Dalam bukunya Rahasia Sukses Ekonomi Cina, James Kynge mengungkapkan dengan jelas dan rinci berbagai terkaman China di bidang ekonomi yang akhirnya menyebabkan keterpurukan negara-negara lain. Industri ambruk dan pengangguran pun meningkat. Mulai dari industri elektronik, tekstil, hingga kerajinan kecil.

Kekuatan China di bidang ekonomi sudah sering dibahas dalam bentuk buku maupun tulisan di media massa. Namun, buku ini akan memberi pemahaman berbeda. Mulai dari detail kejadian, keterpurukan, kekuatan, hingga berbagai dampak ekspansi ekonomi China. Bukan hanya pada negara yang diincar, melainkan juga kondisi di China sendiri. Kekacauan ekonomi, pengaruh politik, hingga kerusakan lingkungan pada akhirnya menjadi masalah global.

Kynge mampu menjabarkan dengan persepsi berbeda dan menggali fakta tersembunyi yang selama ini lebih sering terabaikan. Ia mempunyai akses luas yang sudah dibangun sejak menjadi mahasiswa di ‘Negeri Tirai Bambu’ tersebut. Tuntutan pekerjaan membuat aksesnya kian berkembang.

Ia meraih gelar MA dalam bahasa China dan Jepang pada 1985 di Edinburgh University, Skotlandia. Juga, diploma bahasa China di Shandong University, Jinan, China. Pada 1989, Kynge meliput langsung pembantaian Tiananmen. Kemudian, pada 1991, ia mengembara ke Mongolia dan melahirkan buku Nomads Among Stones. Ia bergabung dengan Reuters pada 1993 dan menjadi koresponden Financial Times untuk Asia Tenggara sejak 1996.

Kynge menetap di Beijing pada 1998 dan menjabat Kepala Kantor Cabang China. Krena itu ia dapat menyaksikan dari dekat transformasi ekonomi China yang menakjubkan. Ia juga menjadi kontributor tetap BBC, CNN, dan masih banyak lagi.

Kini, Kynge bersama istri dan anaknya tinggal di Beijing dan menjabat sebagai Chief Representative Pearson Group yang menangani seluruh kepentingan grup tersebut di China. Pengalaman dan keterlibatannya di negeri tersebut memberi kekuatan tersendiri pada buku ini.

Kekuatan Ekonomi China mencatat angka pertumbuhan tahunan menakjubkan, yakni 9,4%. Tertinggi dari pertumbuhan perekonomian mana pun di dunia.

Menjelang 2005, sekitar 350 juta orang memiliki telepon genggam di China dan 100 juta orang mengakses internet. Padahal, pada 1978 nyaris belum ada orang yang memiliki telepon pribadi.

Pertumbuhan itu menggoda investor-investor asing. Mereka pun berlomba memburu 1 miliar pasar (penduduk China) yang belum tergarap. Honda, Yamaha, Mitsubishi, Volkswagen, IBM, dan masih banyak lagi melakukan ekspansi ke negara itu. Namun, pada kenyataannya tidak mudah.

Pembatasan-pembatasan pemerintah China membuat mereka tidak bebas mendirikan pabrik. Ada ketentuan yang mengharuskan membentuk usaha gabungan dengan mitra usaha milik pemerintah. Pemerintah juga menuntut adanya transfer teknologi yang tidak diimbangi dengan perlindungan hak cipta intelektual.

Di samping itu, ada ketentuan yang tidak mengizinkan perusahaan asing mengontrol pemasaran dan jaringan pemasok. Meski sulit, iming-iming 1 miliar pasar sungguh sulit ditolak. Maka, rencana pun tetap berjalan.

Yamaha, misalnya, melakukan join venture dengan perusahaan China bernama Jianshe. Awalnya berjalan lancar, sampai kemudian manajemen Yamaha tersentak ketika berhasil mengeluarkan model terbarunya Jinbao empat tak 100 ml pada 1995. Dalam beberapa bulan saja, replika Jinbao sudah dibuat 36 pabrik di seluruh negeri itu. Jiplakannya nyaris tidak berbeda dengan yang asli. Namun, Jinbao Yamaha dijual 18 ribu rmb, sedangkan yang palsu hanya 6.000 rmb.

Kasus serupa juga menimpa Volkswagen yang bermitra dengan SAIC. Pada 1990-an, mobil Jetta keluaran Volkswagen begitu populer di China.

Setelah 33 bulan diluncurkan, Chery Automobil, perusahaan China di tepian Sungai Yangtze mengeluarkan produk Chery yang amat mirip dengan Jetta. Kecurigaan pun meruap. Apalagi salah satu eksekutif puncak di Chery Automobile pernah terlibat dalam pembuatan Jetta di China untuk anak perusahaan Volkswagen, Audi. Kasus itu bergulir hingga berbentuk tuntutan. Namun, akhirnya dibatalkan karena sistem peradilan di China tak memungkinkan.

Pelanggaran hak intelektual seperti itu terus berlangsung di segala bidang. Buku, DVD, dan alat elektronik bajakan dengan merek dibuat hampir sama beredar di mana-mana. Berbagai perkiraan menyatakan perusahaan AS, Jepang, dan Eropa bisa jadi telah kehilangan lebih dari US$60 miliar setahun karena pembajakan di China. Jika benar, demikian ditulis Kynge, pencurian hak atas kekayaan intelektual yang terjadi melebihi total aliran investasi asing yang masuk ke China pada 2004, yaitu sekitar US$56 miliar.

Kondisi seperti itu memusingkan banyak perusahaan di dunia. Ancaman dari China tidak hanya barang palsu dengan kualitas di bawah standar, tapi juga lebih pada barang palsu dengan kualitas menyamai. Tak bisa dipungkiri — terlepas dari cara — China tengah menaiki tangga teknologi dengan sangat cepat. Kebangkitan itu menurut Kynge, lebih banyak didukung perdagangan bukan riset.

Dalam bukunya, Kynge mengawali kebangkitan China jauh sebelum negeri ini dibicarakan banyak negara. Serbuan ke Jerman dimulai di pabrik baja ThyssenKrupp di Dortmund yang diakuisisi China sekitar 2000.

Akuisisi itu diikuti serbuan 1.000 pekerja China yang bekerja dengan sangat tekun pada pagi, siang, dan malam tanpa hari libur. Hanya dalam waktu dua tahun, pembongkaran dan pemindahan mesin perusahaan telah diselesaikan. China terus bergerak memadukan tenaga buruh murah dan pabrik modern.

Jerman kini mengalami krisis pekerjaan terparah sejak sebelum perang dunia kedua meletus. Sekitar 12% atau 5 juta orang menganggur. Di semua negeri Uni Eropa, tingkat pengangguran mencapai 9%.

Di Eropa, Kynge menceritakan keruntuhan industri tekstil di Prato, Italia, pusat pertekstilan Eropa tertua lebih dari 700 tahun. Saat ini, beberapa perusahaan tua berada di ujung tanduk. Penyebabnya, jika dulu hanya satu bagian proses pembuatan kain atau pun pakaian yang dikerjakan di China, sekarang hampir setiap tahap produksi dipindahkan ke luar negeri. Bahkan beberapa pemilik merek, butik, dan rumah mode besar juga melakukan outsourcing ke ‘Negeri Tirai Bambu’. China terus bergerak. Kynge menyebutkan negara itu tengah memenuhi rasa lapar yang tak berkesudahan. Di Amerika, Walmart dipenuhi barang-barang China.

Dominasi itu meruntuhkan banyak perusahaan besar dan kecil. Dalam sebuah hasil survei, — Kynge mengutip dengar pendapat Bruce Cain, Presiden Perusahaan Xcel Mold and Machine di Canton, Ohio, dengan kongres Amerika Serikat — dalam kurun waktu 1 Mei 2003 hingga September 2004 ada 180 pamflet lelang atau rata-rata satu pamflet setiap hari. Yang mencemaskan, penutupan perusahaan biasanya disebabkan saingan dari China yang tiba-tiba menawarkan harga jauh lebih murah.

Kelemahan Begitulah rasa lapar China menghantam dunia. Membangkrutkan perusahaan-perusahaan kecil dan mulai mengakuisisi perusahaan-perusahaan besar, termasuk IBM.

Kebangkitan ekonomi China memang luar biasa. Namun, di balik semua kekuatan itu membuntuti berbagai kelemahan. Pencurian hak intelektual, kelemahan sistem ekonomi yang kini mulai memusingkan pemerintah China sendiri, dan kehidupan sosial yang memunculkan sisi hero ekonomi yang patut dikagumi serta berbagai situasi memprihatinkan akibat kebijakan pemerintah yang terus memburu angka pertumbuhan.

Dari segi lingkungan, kondisi China luar biasa hancur. Pencemaran air dan udara tak terkendali. Sungai Kuning kini kering. Sejak 1985, air sungai tersebut tak mampu lagi mencapai laut. Dari daftar 20 kota paling tercemar di dunia, 16 di antaranya terdapat di China. China menjadi bengkel dunia, sekaligus tempat sampah dunia.

Daniel Jacob, profesor kimia atmosferik dari Harvard, melacak bubungan udara kotor di sebuah titik di atas New England. Hasilnya, sampel menunjukkan polusi yang terjadi berasal dari China. Penelitian lain menunjukkan China menyemburkan merkuri 600 ton ke udara setiap tahunnya. Itu berarti hampir seperempat emisi merkuri sedunia.

Sementara itu, hutan-hutan yang menjadi paru-paru dunia, termasuk di Indonesia terus ditebang. Sebagian untuk memenuhi rasa lapar China yang tak bisa lagi memenuhi produksi kayu dari dalam negeri sendiri.

Pada 2002, China mengimpor 2,6 juta kubik meter kayu Indonesia lebih banyak daripada ekspor kayu resmi Indonesia. Worldwide Fund for Nature memperkirakan 44% kayu yang diimpor China adalah hasil penebangan liar dari berbagai negara.

Banyak sisi lain yang diungkapkan Kynge dalam buku yang disusun berdasarkan pengamatan langsung dan riset selama satu setengah tahun.

Gabungan dari itu membuat buku ini sangat layak dibaca. Memberi pemahaman dan persepsi berbeda. Menyodorkan dua sisi China, yakni tentang kekuatan pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan dan dampak yang selama ini terabaikan.

Pada akhir penulisan di bahasan lingkungan, Kynge mengatakan di dunia yang saling terhubung ini, masalah lingkungan di sebuah negara sebesar China tak bisa lagi dianggap sebagai masalah domestik. Besar kemungkinan, ketegangan internasional akan terus meningkat karena kebutuhan China akan sumber daya asing dan perusakan lingkungan yang sampai sekarang masih terus berlangsung.

Diambil dari Media Indonesia/28 Juli 2007