JUDUL itu saya ambil dari Media Indonesia Minggu rubrik Life & Family, karena kebetulan cocok dengan cerita ini.
Mumpung masih ingat, saya ingin bercerita lagi bagian dari seminar tentang Pola Asuh Anak bersama Gloraia Adhitya yang pernahg saya ceritakan sebelumnya.
Psikolog ini memberi contoh satu kasus lagi yang menurut saya sangat perlu direnungkan oleh para ibu, terutama yang memiliki remaja putri.
Dikisahkan, seorang ibu rumah tangga di kompleks perumahan tempat dia tinggal, suatu hari datang sambil bercucuran airmata. Ibu itu bercerita hatinya serasa remuk redam usai bersitegang dengan putri remajanya. Kalau jarum jam bisa diputar ulang, katanya, dia akan memulai dari awal dan memperbaiki segala kesalahan yang dia buat.
Cerita itu bermula dari ketidaksengajaan, ketika sang ibu (I) iseng memeriksa tas putrinya. Dia terkejut ketika menemukan alat kontrasepsi kondom. Didatangi anaknya (P), dan dia bertanya:
(I) : Nak, kamu masih perawan kan?
(P): Apa peduli ibu? Saya bukan anak kecil lagi dan ibu tidak berhak bertanya seperti itu.
Si Ibu sungguh terperangah. Hatinya pedih saat menyaksikan putrinya berjalan menuju kamar tidur sambil membanting pintu. Beberapa saat kemudian, dia mendatangi kamar putrinya dan mengetok pintu.
(I): Nak, tolong buka pintu. Ibu bertanya demikian karena ibu sayang kamu.
Pintu terbuka, sang anak menatap ibunya dan menjawab:
(P) Sayang? Apa tidak salajh ibu berkata demikian. Apa peduli ibu sekarang? Kemana ibu waktu saya ketakutan karena mendapat menstruasi pertamakali? Saat dalam ketakutan saya bertanya pada ibu yang baru pulang kerja, ibu tidak peduli. Duduk menselonjorkan kaki dan berkata, “aduuuh, sudahlah ibu capek.”
Kemana ibu waktu saya takut hamil ketika mendapat ciuman pertamakali. Jadi sekarang ibu sudah terlambat untuk mempedulikan hal-hal seperti itu.
Sang ibu kembali terperangah. Tak berdaya ketika anaknya sekali lagi membanting pintu. Airmatanya bercucuran. Dia merasa hidupnya menjadi sia-sia. Padahal, kisah Gloria, kekayaan tak kurang apa pun. Mobil mewah di garasinya saat itu ada lima buah. Tapi itu semua tak mampu menghapus penyesalannya.
“Kalau jarum jam bisa diputar ulang, saya tak akan peduli dengan kekayaan. Saya ingin menebus kesalahan,” Gloria menirukan apa yang dia dengar.
Peserta seminar pagi itudiam. Suasana hening mendengar cerita tersebut. Saya berbagi di blog ini, untuk menjadi bahan perenungan buat kita semua.

