HarikuMay 26, 2008 4:29 pm

INI sebuah tulisan yang akan dipublish di sebuah surat kabar. Seperti halnya kisah Taman Sari yang sudah saya tulis sebelumnya.
Kali ini tentang Harper Lee dan To Kill a Mockingbird. Sebuah novel yang saya kagumi. Juga tentang In Cold Blood karya Truman Capote yang fenomenal, namun saya harus membacanya dalam waktu cukup lama. Kedua pengarangnya saling berkaitan dalam kehidupan sesungguhnya.

Keabadian dalam Satu Karya

Novel yang paling banyak dibaca sepanjang masa.

Judul :To Kill a Mockingbird
Penulis : Harper Lee
Penerbit: Qanita
Harga : Rp58.500

“Keberanian adalah saat kau tahu akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan merampungkannya, apa pun yang terjadi.”
(Harper Lee - to Kill a Mocking Bird)

NELLE Harper Lee jelas pemuja kesetaraan. Lewat novel perdana dan satu-satunya, sikap itu tercermin jelas. To Kill a mockingbird bercerita tentang perjuangan seorang pengacara kulit putih bernama Atticus di Maycomb County, Alabama, pada tahun 1930-an. Dia berjuang membela Tom Robinson, lelaki kulit hitam yang dituduh memperkosa wanita kulit putih.
Novel ini dinarasikan dari pandangan Scout, putri Atticus, anak berusia delapan tahun. Kutipan kata-kata di atas merupakan salah satu nasihat yang diingat Scout ketika keluarganya mendapat tekanan dan teror karena dianggap pecinta ‘niger’.
Ditulis selama 2,5 tahun dan diluncurkan 1961. Langsung mengundang reaksi masyarakat. Maklum pada tahun itu, kekerasan rasial yang dilakukan Ku Klux Klan mencapai masa puncak. Keberanian Lee mengungkap dan menyatakan sikap menciptakan banyak tekanan bagi dirinya.
Terlepas dari itu, begitu terbit To Kill a mockingbird langsung menjadi best seller. Terjual 2,5 juta kopi dan 14 kali cetak ulang di tahun pertama.
Menjadi buku pilihan tiga klub buku Amerika, yaitu Reader’s Digest Condensed Books, the Literary Guild, dan Book-of-the-Month Club. Juga jadi pilihan British Book Society. Tak terbendung, terjemahannya meluncur hampir keseluruh dunia.
To Kill a Mockingbird mendapat ganjaran Pulitzer Prize pada tahun itu juga. Tercatat pada 1999, lembaga Library Journal di Amerika memilih sebagai Novel terbaik Abad ini.
Pada 1988, statistik dari National Council of Teachers of English menyebut Mockingbird dibaca hampir 74 persen pelajar di Amerika Serikat. Sampai sekarang, novel ini masih dibaca masyarakat seluruh dunia, pun pelajar dan mahasiswa yang mempelajari kondisi Amerika saat itu.
To Kill a Mockingbird difilmkan pada 1962 dengan pemain utama Gregory Peck. Film ini memenangi lima Piala Oscar, antara lain untuk kategori pemeran utama terbaik, pemeran pembantu terbaik dan penulis naskah terbaik.

Lee dan Capote
Berkali-kali dalam wawancara, Lee mengatakan To Kill a Mockingbird bukanlah otobiografi. Tapi dia mengakui, kisahnya terinspirasi dari kehidupan nyata.
Antara lain tetangganya sendiri yang terekam dalam sebuah kenangan, saat dia berusia 10 tahun. Ini berkaitan dengan hukuman yang diberikan pada pekerja kulit hitam berdasarkan laporan tetangga perempuannya itu.
Bila diamati, karakter Atticus pun mirip sosok sang ayah, Amasa Coleman Lee yang juga seorang pengacara, editor, dan politikus. Seperti Atticus, Coleman Lee pernah membela dua pria kulit hitam yang akan menjalani hukuman mati.
Agaknya, dari sang ayah-lah Lee mendapatkan akar karakter pemuja kesetaraan. Itu pula yang membuat dia tak gentar, terus bersahabat dengan Truman Capote yang terang-terangan memproklamirkan diri sebagai homoseksual. Sebuah sikap yang jelas mendapat banyak cercaan dan tentangan dari masyarakat Amerika masa itu.
Karakter Dill, salah satu anak yang menjadi sahabat Scout dan kakaknya Jem — tokoh dalam novel — digambarkan mirip Truman Capote, sahabat dekat Lee sejak masa kanak-kanak.
Capote juga penulis dan kemudian dikenal sebagai salah satu peletak genre baru penulisan novel non fiksi In Cold Blood. Novel yang terbit pada 1960-an ini kemudian memunculkan aliran baru yang di Indonesia dikenal dengan sebutan jurnalisme sastrawi.
Dalam In Cold Blood, Lee terlibat aktif dalam riset yang menghabiskan waktu selama enam tahun. Lepas dari itu, dia tak pernah lagi memunculkan novel, kecuali esai-esai kecil.
Keluarga terdekatnya mengatakan, dia kapok setelah draft buku keduanya yang belum selesai hilang dicuri orang. Namun, Lee tak pernah mengatakan apa pun kecuali, “Jika Anda merasa di puncak, itulah saat yang tepat untuk mundur.”

Biografi
Nama : Nelle Harper Lee
Tempat/tgl lahir: Monroeville, Alabama, 28 April 1926
Orang tua : Amasa Coleman Lee dan Frances Cunningham Finch Lee
Penghargaan :
- Presidential Medal of Freedom, 5 November 2007, diberikan Presiden George W Bush di gedung putih.
- Honorary doctorate dari Universitas Notre Dame, 2006.
- Pada 2004 dipilih oleh 25 komunitas berbeda sebagai buku yang wajib dibaca.
- Penghargaan National Conference of Christians and Jews, 1960
- Pulitzer Prize, 1960
————————————————

Genre Baru Capote

Salah satu karyanya menjadi peletak dasar jurnalisme sastrawi.

Judul : In Cold Blood
Penulis : Truman Capote
Penerbit: Bentang Pustaka
Harga : Rp55.000

DALAM pembahasan jurnalisme sastrawi, novel non fiksi In Clood Blood selalu menjadi contoh. Truman Capote sang penulis menjadi salah satu peletak dasar gaya penulisan baru. Di Indonesia mulai dikenalkan pada tahun 2000 dengan sebutan jurnalisme sastrawi.
In Cold Blood terbit pada 1965. Bercerita tentang kisah nyata pembunuhan keluarga Herbert Clutter di kota kecil Holcomb, Kansas. Capote tertarik untuk melakukan penulisan kasus tersebut. Bersama sahabat masa kecilnya, Harper Lee, dia melakukan riset selama enam tahun.
Dalam kelas jurnalistik, Madeleine Blais, dosen di Universitas Massachusetts, selalu membawa novel ini untuk menunjukkan bahwa suatu peristiwa yang semula biasa saja bisa diubah menjadi sangat menarik. Dia juga menunjukkan bagaimana sebuah fakta bisa ditulis dengan gaya fiksi. “Ini sangat indah. Sebuah keajaiban,” katanya.
Jack Hart, managing editor dari The Oregonian, surat kabar harian Portland’s juga memuji novel tersebut. Dia menyebut Capote sebagai salah satu penulis yang berkontribusi pada kelahiran jurnalitik gaya baru.
Tom Wolfe, wartawan senior memperkenalkan gaya ini. Sekitar 1970-an, Wolfe dan rekannya EW Johnson menerbitkan antologi The New Journalism. Mereka memasukkan beberapa nama selain Capote. Antara lain Hunter S Thompson, Joan Didion, Jimmy Breslin.
Dituliskan bahwa jurnlisme gaya baru ini berbeda dari reportase sehari-hari karena dalam bertutur menggunakan adegan demi adegan, reportase yang lebih menyeluruh dan mendalam, serta memakai sudut pandang orang ketiga. Setiap adegan digambarkan dengan detail.

Capote
Sebelum In Cold blood lahir, Capote sudah menjadi selebritas. Tidak hanya di dunia kepenulisan, tetapi juga musik. Dia digambarkan sebagai sosok jenius
Seperti teman masa kecilnya Harper Lee, Capote pemuja kesetaraan. Dia juga memuja kebebasan individu. Pada 1950-an, ia terang-terangan mengakui bahwa dirinya gay.
Terlepas dari itu, Capote melahirkan cukup banyak karya. Di antaranya novel Breakfast at Tiffany yang sudah difilmkan dengan pemeran utama Audrey Hepburn. Capote juga tercatat sebagai penulis di majalah The New Yorker.
Kehidupannya bisa disimak lewat film tentang perjalanan hidup Capote yang dimainkan Philip Seymour Hoffman. Pada 2006 Hoffman mendapatkan penghargaan Academy Award sebagai Aktor Terbaik lewat film ini.
Dibuat berdasarkan biografi Capote yang ditulis Gerard Clarke. Clarke menggambarkan sosok Capote yang gemar pesta, menikmati popularitas, dan memang seorang jenius.
Bisa dikatakan, In Cold Blood adalah puncak karyanya. Namun, di sini pula Capote terjebak dalam belitan popularitas dan nurani. Dia jatuh simpati pada Perry, salah satu kriminal yang membantai keluarga Clutter.
Dia berniat membantu melepas Perry dari hukuman mati. Namun, keinginan melihat kesuksesan buku yang sudah menyedot enam tahun hidupnya menjadi hambatan.
Clarke dan beberapa teman dekat menjadi saksi kejatuhan mental Capote. Sejak Perry dihukum gantung, dia tidak pernah melahirkan lagi karya. Capote tenggelam dalam kehidupan hura-hura, dan akhirnya meninggal dalam usia 59 tahun. Salah satu penyebabnya kecanduan alkohol.
—————-

BOX
Biografi
Nama : Thurman Capote
Tanggal lahir : 30 September 1942
Karya-Karya Capote:
- Novel
Summer Crossing, Other Voices, Other Rooms, The Grass Harp, Breakfast at Tiffany’s, Answered Prayers: The Unfinished Novel, The Beautiful and the Damned

- Cerita pendek
The Thanksgiving Visitor, Mojave, La Cote Basque, 1965 ยท Unspoiled Monsters, Kate McCloud, One Christmas, Miriam, A Christmas Memory

- Koleksi cerita pendek
Music for Chameleons, A Tree of Night and Other Stories, The Complete Stories of Truman Capote, A Capote Reader

- Esai
Music for Chameleons, The Dogs Bark

- Screenplays
Beat the Devil, The Innocents, The Great Gatsby

- Musikal
House of Flowers

- Non fiksi
The Muses Are Heard, In Cold Blood, Too Brief a Treat: The Letters of Truman Capote

Hariku 1:16 pm

YOGYAKARTA? Ini dia kesempatan melarikan diri sejenak dari tekanan pekerjaan dan kehidupan rutin, hahaha! Maka, Berangkatlah saya!
Jogja…Jogja…saya datang. Udara yang terhirup rasanya berbeda. Ada tiga kota yang selalu memunculkan perasaan seperti ini: Malang, Yogyakarta, dan Bandung. Entahlah…mungkin berkaitan dengan endapan kenangan masa kecil remaja, atau dewasa? Saya sendiri sudah lupa, atau sengaja melupakan? Yang jelas nuansa dan harum udaranya — buat saya — berbeda!

Minggu pagi, berkostum celana pendek, saya menelusuri jalanan pusat kota. Tanpa topi alias berpayung terik matahari. Masa bodoh…saya menikmati sekali.
Melewati kompleks keraton, saya pikir, tidak ada salahnya mampir ke kawasan Taman sari. Awalnya bukan karena penasaran, tapi lebih pada perasaan: “Masa sih, objek wisata di dalam negeri sendiri yang begitu dekat tidak dikenali dengan baik?”
Dan ini ceritanya:

Taman Kekuasaan dan Cinta

Ini tempat raja memilih selir, menyaksikan tarian dan memandangi daerah kekuasaannya dari puncak Pulau Kenanga.
————————————–

Berwisata ke kompleks keraton? uuuh jangan-jangan membosankan. Barangkali itu yang pertamakali mampir di benak banyak wisatawan, khususnya dari dalam negeri. Jangan berprasangka dulu sebelum melihat.
Coba tengok Taman Sari, tempat mandi para selir Sultan Yogyakarta. Pemandangan dan cerita di balik semua itu akan membangkitkan sesuatu di dalam hati Anda. Teman saya bilang, itu bagian dari romantisme. Ada lagi yang mengatakan, cerita yang disampaikan akan mengusik semangat persamaan gender.
Mana yang benar, sangat tergantung pada pribadi masing-masing. Yang jelas, Taman Sari akan membangkitkan beragam perasaan. Mungkin kagum, heran, hormat, gemas, atau entah apa lagi yang bisa muncul.

Gapura Agung
Pintu masuk Taman Sari melewati perumahan penduduk yang merupakan abdi dalem keraton Yogtakarta. Anda akan disambut pemandu wisata, dibawa ke tempat penjualan tiket, sebelum akhirnya mengelilingi kompleks Taman Sari yang dulu luasnya mencapai 15 hektare, dan kini menurut data menyusut menjadi sekitar 12,6 hektare.
Siang di penghujung Mei, matahari luar biasa terik. Setelah membereskan urusan administrasi, saya mengikuti Andi, satu dari 30 guide yang bertugas di Taman Sari. “Ini gapura panggung,” jelasnya sambil menunjuk gapura besar dan tinggi yang bisa dicapai dengan menapaki sejumlah anak tangga.
Lalu dia berucap, “Komplek Taman sari dibangun pada 1958 oleh arsitek berkebangsaan Portugis. Pada 2004, sudah direnovasi dengan bantuan dana dari Portugis,” ujarnya.
Kemudian dia menunjuk ukiran di gapura yang mengandung simbol awal pembuatan Taman Sari. Tahun 1765 penanggalan Jawa dan 1758 hitungan masehi.
Perjalanan dilanjutkan menuju panggung gapura, dimana di bawahnya terhampar empat bangunan plus pelataran yang menurut Andi menjadi tempat pagelaran tari. “Biasanya setelah mandi bersama selir, sultan menonton tarian dari atas gapura ini. Empat bangunan itu disebut gedung sekawan, tempat gamelan dimainkan,” kisahnya.
Beberapa saat kemudian, kami sampai di rumah sekawan. Tak banyak cakap, tiba-tiba Andi bertepuk tangan. “Anda dengar sendiri, gemanya sangat nyaring. Sengaja didesain demikian agar suara gamelan kian merdu,” katanya.

Pemandian
Dari situ, kami berjalan menuju pemandian para selir. Elok dan memang memberi kesan romantis. Memasuki areal, terpampang tiga kolam berhias payung yang melambangkan pengayoman raja pada para penghuni keraton.
Ada tiga kolam. Pertama untuk putra-putri raja, kedua para selir, ketiga untuk raja dan selir yang saat itu terpilih. Di setiap sudut pemandian ada bangunan kotak cukup besar yang dikhususkan untuk membakar wewangian. Dalam istilah sekarang disebut aromaterapi.
Pemilihan selir menurut Andi, dilakukan dengan cara melempar bunga dari atas menara yang memisahkan dua kolah pertama dan kolam pribadi sultan. Selir yang memperoleh bunga berarti mendapat giliran menemani raja. “Cara ini dilakukan untuk keadilan dan menghindari kecemburuan. Para selir biasanya diambil dari abdi dalam, untuk mengangkat derajat mereka menjadi bangsawan.”
Selir yang terpilih diajak masuk ke pemandian pribadi yang dilengkapi dengan ruang ganti sendiri, pun satu ranjang besar yang unik. Di bawah ranjang bisa dibuatkan penghangat dengan menambah bara saat udara dingin. Jika tidak, bisa digunakan untuk menguarkan wewangian.
Setelah selesai ritual di pemandian, raja akan berjalan ke Gapura Agung menyaksikan tari-tarian. Kemudian dilanjutkan ke Pulau Kenanga untuk melihat daerah kekuasaannya dari puncak tertinggi.
Sebagai tambahan informasi, Taman Sari digunakan saat kekuasaan Sultan Hamengkubuwono I dan II. pada saat itu, raja Jawa memiliki banyak selir, hingga mencapai puluhan.
Fungsi Taman Sari agak terbengkalai setelah terjadi gempa bumi pada 1812. Saat itu sebagian bangunan hancur, ditambah lagi kerusakan saat bertempur melawan Inggris.
Bencana alam yang terjadi membuat Sultan mengambil kebijakan menjadikan sebagian lokasi sebagai tempat pengungsian warga yang sebelumnya tinggal di lereng Gunung Merapi. Mereka diberi hak pakai tanah, dan kemudian berkembang menjadi abdi dalam.
Saya pribadi, terpesona dengan segenap penjelasan mengenai Taman Sari. Selama ini pengetahuan saya hanya sebatas tempat mandi para selir. Namun dibalik itu, tersimpan banyak kisah. Gapura Agung dan pemandian selir hanya sebagian dari sekian banyak jejak yang menggambarkan bagaimana kekuasaan dan kisah cinta Raja Jogjakarta di masa itu. ***
—————————-

Gema Indah di Bangunan Tua

PERJALANAN mengelilingi Taman Sari, Yogyakarta, tak cukup hanya satu jam. Dari pemandian, Anda akan diajak menyusuri lorong perkampungan menuju masjid bawah tanah yang tak lagi digunakan.
Saat menuruni tangga menuju masjid, terik matahari langsung berganti dengan aliran udara sejuk. Arsitektur bangunan sangat memperhitungkan ventilasi hingga udara di ruang bawah tanah terasa dingin namun tidak lembab dan bau. Lagi-lagi saya mendengar gema saat orang berbicara atau bertepuk tangan. Terbayang keindahan saat suara azan dikumandangkan di ruangan ini.
Arsitekturnya tergolong unik. Bentuknya bundar dan terdiri dari dua lantai. Jemaah perempuan melingkar dengan iman sendiri yang posisinya menjorok ke dalam bangunan. Demikian juga tempat untuk laki-laki.
Di tengah lingkaran terdapat kolam tempat untuk mengambil air wudhu. bentuknya bulat, lebih rendah dari lantai pertama, dikeliling lima tangga, tantara lain langsung menuju lantai dua. “Lima tangga itu melambangkan lima rukun Islam,” jelas Andi pemandu wisata yang tak bosan memberi penjelasan.
Kemudian, dia membawa saya ke satu tempat yang tertutup bata telanjang. Ini, jelasnya, tadinya merupakan lorong yang kabarnya bisa menembus pemandian Taman sari dan bagian dalam keraton. Tapi ada juga yang mengatakan, lorong ini bisa langsung membawa ke pantai selatan, saat Sri Sultan bertemu dengan Nyi Roro Kidul.
“Tapi saya rasa itu hanya mitos. Meski demikian, kenyataannya tidak ada warga yang tahu ke arah mana lorong ini berakhir. Tidak ada yang berani mencoba sampai akhirnya ditutup,” papar Andi.

Pulau Kenanga
Dari bangunan masjid, kami berjalan kaki lagi menuju Pulau Kenanga. Disebut demikian karena bangunan kokoh yang sebagian besar sudah runtuh ini, tadinya dikelilingi air. Secara keseluruhan, dulunya lokasi ini disebut Istana Air.
Lagi, tempat ini mempesona saya. Reruntuhannya meninggalkan kesan tersendiri. Naik menuju bagian teratas, saya menyaksikan kekokohan tembok bangunan yang tebalnya mencapai satu meter.
Bangunan ini menurut Andi, dulunya digunakan untuk menginap para tamu. Sisi lain menjadi tempat para abdi dalam yang membuat batik untuk keraton. Saat masih berfungsi, usai menyaksikan tarian biasanya Sri Sultan berperahu menuju Pulau Kenanga, menyaksikan Yogyakarta dari ketinggian.
Berperahu? Demikian adanya. Pada zaman dulu bangunan ini dikelilingi air yang dialirkan dari Kali Code dan dibuang menuju Kali Winongo. Ketinggian air tidak seberapa, hanya setengah meter. Sengaja dibuat antara lain sebagai salah satu wujud pertahanan dari serangan musuh.
Reruntuhan bangunan ini benar-benar memesona. Tidak mengherankan jika banyak wisatawan yang datang. Pun muda-mudi yang sekadar ingin menikmati pemandangan dan berfoto ria. Saat saya datang, ada sekelompok orang yang sedang mengerjakan pekerjaan kreatif. Mereka tengah menyusun perlengkapan foto profesional.
Di benteng itu petualangan saya berakhir. Pandangan saya tentang wisata sejarah dan bangunan di Yogyakarta berubah total. Saat pulang ke Jakarta, sebagian pikiran saya tertinggal di Taman Sari. ***

HarikuMay 2, 2008 4:28 pm

Belakangan rasanya capeeeek sekali, mengurus berbagai pernak-pernik. Sampai-sampai terkadang kerja utama agak dikesampingkan. Apalagi sekarang sedang dikejar deadline tertentu.

Meski sudah pulang malam dan bangun pagi, waktu terasa tetap kurang. Yang satu belum di up-load, yang lain juga belum selesai. Yang satu belum didata, yang satu belum ditulis. Satu lagi belum dikirim, satu lagi belum wawancara. Ditambah lagi dua minggu belakangan padat bertemu orang untuk menjajaki kerjasama.

Duuuuh…tapi yang bikin saya ‘kumat’ berbagai tambal sulam untuk menjaga supaya setiap pagi tetap bisa berjalan. Terkadang saya berpikir, mungkin saya harus keluar dan berkonsentrasi di satu bidang.

Aaaaa…rasanya saya sedang mengeluh ya…? hahaha. Semua akan indah pada waktunya. Mudah-mudahan.