MINGGU ini ada libur berderet. Jadilah tiga hari penuh saya bersama putri kecil yang sekarang berusia 5 tahun 3 bulan.
Jumat, kami sekeluarga jalan-jalan menjemput tantenya terus piknik. Sepanjang perjalanan putri kecilku berpolah. Berkicau tiada henti, menandak, menendang, jungkir balik di mobil, lari sana, lari sini, haduuuh…
Sabtu, kami pergi lagi. Kali ini diajak belanja buah di pasar swalayan yang baru buka dan memberi diskon lumayan terasa. Seperti biasa, putriku tak bisa diam. Akhirnya karena terganggu saya berucap:
” aduuuh, bisa diam gak sih? Pusing deh mama ngeliatnya.”
Jawab putri kecilku dengan mimik yang membuatku ingin tertawa:
“Lo ma, bukannya aku sudah lebih sopan dari kemarin?”
“Ha? Iya juga sih nak…” dan tawaku pun pecah.
—————————–
PAGI ini, putriku bertanya:
“Ma, kalau sudah besar aku boleh jadi pemain sirkus?”
“????…boleh saja, memangnya kenapa?”
Dia mengambil kemoceng, mulai memamerkan aksinya. Ujung melengkung kemoceng dia kaitkan di jari telunjuk, kemudian dia putar-putar.
“Aku sekarang sudah ahli memutar kemoceng di tangan. Sambil naik sepeda aku juga bisa. Makanya nanti aku mau jadi pemain sirkus.”
@#$%^&*(

