(Maaf, Saya Takut)

Entah sedang ada angin apa, dalam satu minggu ini saya dimintai tolong dua orang yang membawa cerita menaktkan, mengejutkan atau…(entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya).
Sungguh, bukannya tidak mau menolong, tapi saya benar-benar tidak tahu harus membantu dengan cara apa. Karena maaf, terus terang saya takut. Tapi saya jadi terdorong untuk bercerita lewat blog ini.

Ini kisah dua orang perempuan. Yang pertama (sebut saja Ida), kedua istri teman lama saya (sebut saja Iva).
—————-
Ida

Minggu, di tengah maraknya pesta pernikahan, saya dikenalkan pada seorang lelaki yang saya ‘curigai’ teman dekat Ida. Ternyata benar. Dalam kesempatan percakapan, Ida mengeluarkan semua unek-unek dan meminta saran apa yang harus dia lakukan.
Ida janda dengan dua anak, sementara lelaki itu beristri dengan satu anak. Kata Ida, istri pertama lelaki itu menyetujui, bahkan sudah menelpon dan mendorong untuk segera melakukan pernikahan. Tapi Ida ragu. Keraguan itu antara lain tentang pekerjaan pria itu yang dipastikan bakal bikin shock keluarga.
(Saya memilih mengesampingkan dulu isu poligami, karena cerita berikutnya memang bikin kaget)
“Dia dukun. Dukun jahat dari…(menyebut satu suku).”
“Dia bisa membantu orang mendapat banyak uang dengan melakukan kontrak dengan setan.”

“Hah ada seperti itu? Kok kayak di film. Kamu tahu darimana?” tanya saya.
Ida menjawab, hubungannya dengan pria tersebut sangat terbuka. Sejak awal, pria itu sudah mengatakan bahwa Idalah jodoh yang akan menjadi istri kedua dan nantinya akan memberi satu anak. Setelah itu dia membuka semua kisahnya, termasuk pekerjaan yang dilakoni. Ida juga diajak menyaksikan sendiri pekerjaan itu.
Misalnya, pernah ada pasangan suami istri yang usahanya bangkrut total datang minta pesugihan. Kemudian mereka diajak ke suatu tempat (Ida ikut serta) dan melakukan kontrak dengan setan. Disebutkan, uang akan segera datang, tapi beberapa tahun kemudian salah satu pasangan suami istri itu akan meninggal kecelakaan. Beberapa bulan kemudian terbukti usaha suami istri itu bangkit dan bisa melunasi semua utang yang nilainya miliaran rupiah.
Kenyataan itu membuat Ida diombang-ambing antara cinta dan keraguan. Apalagi saat menikah nanti, dia akan diboyong ke suku pria tersebut.

Wah…saya malah jadi takut. Kalau benar seperti itu, apa yang bisa saya bantu? Mendengar saja sudah ingin kabur.
“Apa tidak mungkin kamu dipelet?” Tiba-tiba saja, pertanyaan aneh itu meluncur dari mulut saya.

“Saya pernah tanyakan itu, tapi dia dengan tegas mengatakan tidak! Ini dari hati dan saya sudah tahu sejak awal sebelum kamu muncul, bahwa kamulah jodoh saya,” cerita Ida menirukan pria tersebut.

Aduuh, buat saya kok jadi tambah menakutkan.
“Apakah kamu pernah tanya, kalau nantinya menikah, kamu tidak menjadi bagian dari perjanjian-perjanjian yang mengerikan itu (kalau memang benar ada)?”

“Saya belum pernah tanya sejauh itu. Nanti saya akan tanyakan. Tapi apa yang sekarang harus saya lakukan? Saya mencintai dia, tapi juga didera keraguan. Saya sudah ceritakan semua yang jelek tentang saya, tapi dia tidak terpengaruh. Dia bilang: Percuma! Dia tidak akan mundur, karena takdir kami pada akhirnya menikah. Dia bilang akan membimbing saya menjadi baik, seperti yang dia inginkan,” kata Ida.

Ada satu poin lagi yang menurut saya perlu diperdebatkan. Tapi lepas dari itu, saya jadi bingung, saran apa yang harus saya berikan?
“Kamu selama ini tetap sholat?” — sejak menikah (pernikahan pertama) Ida sudah menjadi mualaf.
“Tidak.”
“Mungkin sebaiknya kamu sholat.”

Dan pembicaraan kami terhenti di titik itu. Tapi terus terang, terlepas dari benar atau tidak, saya sungguhan takut. Apa yang bisa saya bantu kalau mendengar cerita itu dan juga kata dukun — jahat pula — nyali saya jadi ciut gini? Aduuuh….maaf!
—————

Iva
Tadi sore, saya mendapat telepon di meja kerja saya. Kok ya kebetulan saya ada di meja, padahal biasanya jarang duduk diam. Dan kebetulan juga saya masuk kerja, padahal seharusnya libur.
Iva menelpon menanyakan kabar karena sudah sekian tahun kami tidak berkomunikasi. Pada akhirnya dia mengatakan, ingin menceritakan sesuatu dan ingin minta tolong karena tidak tahu harus bercerita pada siapa lagi.
Tapi pada saya? Buat saya agak mengherankan karena kami sudah lama tidak bertemu, meski dengan suaminya tahun lalu sempat bertemu satu kali, dan kemudian saya bertitip salam.

Begini kisahnya:
Tiga bulan lalu, Iva senang karena suaminya jadi rajin sholat. Tapi kemudian dia mulai merasa aneh karena tiba-tiba banyak prinsip keras yang kemudian jadi perdebatan dan pertengkaran di antara mereka.
“Saya tidak mengerti, rasanya ada yang aneh dengan prinsipnya. Suami saya jadi melarang saya keluar rumah, harus pakai jilbab, tidak boleh ke pengajian, kalau ada yang meninggal tidak boleh yasinan, tidak boleh tabur bunga, dan masih banyak lagi tidak boleh.”

Selain itu, tutur Iva, kini suaminya menyimpan senjata tajam di lemari. Tiap bulan juga menyetor uang sebesar Rp150 ribu ke ustad yang dia ikuti dari daerah Parung, Jawa Barat. Parahnya lagi, uang untuk kebutuhan sehari-hari termasuk sekolah tiga anaknya dijatah hanya Rp2 juta.
“Saya sudah tanya, kemana gaji kamu yang lima juta lagi? Suami saya menjawab: Bukan urusan kamu. Sebagai istri diberi 100 ribu pun harus terima. Menurut tetangga-tetangga, suami saya sudah terjerumus aliran sesat. Tapi saya tidak tahu pasti aliran apa. Tetangga-tetangga pun bingung. Tapi katanya pernah ustad aliran ini diusir dari masjid di wilayah kami. Tolong carikan apa sebenarnya aliran ini, dan apa yang harus saya lakukan?”

Aduuuh…ini…saya tidak begitu paham. Beberapakali pernah mendengar kisah seperti ini, bahkan lebih parah, tapi tidak pernah tersangkut atau dimintai tolong. Akhirnya, saya menelpon teman saya yang lulusan IAIN dan adik iparnya pernah jatuh dalam sebuah aliran yang kurang lebih hampir sama. Bahkan kalau mendengar ceritanya sih jauh lebih parah karena dihalalkan tidak mengakui orang tuanya sendiri jika tidak satu aliran. Kemudian atas seizin teman saya itu, saya berikan nomor teleponnya pada Iva.

Aaah…saya buta tentang ini. Hanya itu yang bisa saya lakukan.