HO Hoo…ini kisah nyata perjuangan seorang lelaki mencari gadis tercintanya. Papua-Jakarta-Makassar, 23 tahun dilalui, diiringi impian, perkawinan, keterus-terangan yang menyakitkan, obsesi…dan pertemuan yang terlambat…
Ini benar-benar cerita nyata dua anak manusia, sebut saja Galih dan Ratna. Kisahnya menghantui mereka berdua, menuai lanjutan mimpi…
GALIH
SD
Galih melihat gadis itu di bandara kecil di Jayapura, sekitar 26 tahun lalu. Berputar di lapangan dengan sepeda mini, rambut hitam yang diikat, dan mata bulat gemerlap bak mutiara. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Maka, diikuti semua perkembangan gadis yang kemudian diketahui bernama Ratna.
SMP
Lulus SD, Galih memilih SMP yang diperkirakan akan dimasuki Ratna. Tapi ternyata salah. Hanya satu bulan sekolah, dia memilih pindah ke sekolah yang sama dengan Ratna. Akhirnya berhasil duduk satu kelas. Setahun kemudian, cinta pun kian bersemi, Galih dan Ratna memadu kasih.
Namun, nasib berbicara lain. Ayah Ratna pindah tugas ke Jakarta. Ratna pun menulis surat perpisahan, pesimistis hubungan jarak jauh bisa dipertahankan.
Galih frustasi. Harga diri menahannya untuk bertanya langsung, dan kemudian disesali hingga saat ini. Tahun berlalu, Ratna tak bisa dilupakan. Sebagai ganti, foto besar Ratna dipasang di kamar, dan Galih pun berganti-ganti pacar. Jika dihitung jumlah pacarnya lebih dari 40. Semua melihat dan tahu foto Ratna, juga kisah cinta pertama dan obsesi Galih.
Orang tua Galih pun tahu, mereka hanya bisa menasehati dan geleng-geleng kepala.
SMA
Tak tertahankan lagi, Galih menyusul ke Jakarta naik kapal barang. Butuh waktu satu bulan untuk menginjakkan kaki di Batavia. Tapi Ratna tak juga ditemukan. Jayapura gempar…Galih pergi meninggalkan sekolah mencari Ratna.
Orang tua Galih tak lagi bisa tinggal diam. Anaknya ditarik, dipindahkan ke kampung halaman di Makassar, kuliah di sana, dan lulus.
Pernikahan
Usia 27 tahun, akhirnya Galih memilih menikah. Berpacaran empat tahun, dan tetap dia ceritakan semuanya pada sang istri, tentang Ratna, cinta pertamanya yang terus menghantui.
Setiap bulan, Galih memimpikan Ratna. Sudah menjadi rutinitas, mimpi itu diceritakan pada sang istri, kemudian dia minta izin menyepi beberapa hari di gunung. Begitu terus setiap bulan.
Sang istri sudah memaklumi. Dia berpikir, itu cinta lama, hanya obsesi…sampai, 23 tahun kemudian (2006) Galih berhasil menemukan Ratna.
RATNA
SD
Tak ingat tentang Galih.
SMP
Mulai menyadari kehadiran galih dan jatuh cinta. Baru beberapa bulan, ayahnya pindah tugas ke Jakarta, dan dilayangkanlah surat perpisahan. Ratna beranggapan, hubungan jarak jauh tak akan berhasil.
SMA dan Kuliah
Sejak SMA dan sebagian kuliah, Ratna dekat dengan — sebut saja Adi. Tidak berpacaran, tapi hubungan mereka dekat. Adi teman kakaknya di Jayapura, yang juga mengenal Galih.
Sampai suatu hari, Tante Nung, sahabat kerja ayahnya menyinggung nama Galih. Dia mengatakan, Galih sempat menelpon menanyakan Ratna. Akhirnya, nasib mempertemukan mereka kembali. Galih mendapatkan nomor telepon Ratna dari Tante Nung.
Dari situ terbongkar banyak peristiwa, mulai dari 23 tahun pencarian cinta, sampai tindakan Adi yang terus menutupi alamat Ratna. Cinta pun kembali bersemi antara Galih dan Ratna. Tapi masalahnya, Galih sudah menikah dan punya dua anak. Dua tahun sebelum dipertemukan kembali, Ratna sudah menikah, tepatnya di usia 36 tahun, dengan seorang lelaki yang sangat, sangat, sangat baik.
Pernikahan itu memang bukan sepenuhnya berlandaskan cinta. Tapi lebih pada kesadaran Ratna akan sebuah wadah pernikahan.
Kini, ratna terombang-ambing romantisme pencarian cinta selama 23 tahun. Galih tetap bersikukuh suatu hari nanti akan ada cara menikahi Ratna. “Ini bukan sekadar obsesi. Kalau hanya obsesi, mungkin saat bertemu sudah selesai. Tapi ratna benar-benar cinta saya. Tuhan mempertemukan kami kembali.”
Galih dan Ratna kini menjalin lagi hubungan lewat telepon, sesekali bertemu, saat Galih terbang menuju Jakarta. Orang tua dan saudara-saudara Galih pun sudah mengetahui…anaknya telah menemukan kembali cinta pertamanya yang pernah hilang…menemukan obsesinya…menemukan cinta yang terus menghantui selama puluhan tahun.
“Suatu hari nanti harus ada penyelesaian. Tapi sekarang biarlah semua mengalir. Cinta sejati itu memang ada. Lihat saja Pangeran Charles dan Camila,” begitulah yang diungkapkan Ratna, saat tak berdaya dalam kebingungan, tak berdaya dalam jebakan cinta, tak berdaya dibuai romantisme 23 tahun pencarian Cinta Galih.
———————–
Ini betul kisah nyata yang diungkapkan salah satu teman kuliah saya. Dari dulu, kisah cintanya memang selalu mengharu-biru. Dan selama ini dia selalu beruntung, selalu dikaruniai untuk mendapatkan pria yang mencintai dengan kekuatan dan kebaikan.
Dalam setiap kata saat dia meminta pendapat, saya hanya bisa mengatakan: “Terkadang, kenyataan tak seindah harapan dan impian. Terkadang, obsesi tak seindah saat dijalani,” Hmmmm…!

