HarikuFebruary 6, 2008 2:45 pm

HO Hoo…ini kisah nyata perjuangan seorang lelaki mencari gadis tercintanya. Papua-Jakarta-Makassar, 23 tahun dilalui, diiringi impian, perkawinan, keterus-terangan yang menyakitkan, obsesi…dan pertemuan yang terlambat…

Ini benar-benar cerita nyata dua anak manusia, sebut saja Galih dan Ratna. Kisahnya menghantui mereka berdua, menuai lanjutan mimpi…

GALIH

SD
Galih melihat gadis itu di bandara kecil di Jayapura, sekitar 26 tahun lalu. Berputar di lapangan dengan sepeda mini, rambut hitam yang diikat, dan mata bulat gemerlap bak mutiara. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Maka, diikuti semua perkembangan gadis yang kemudian diketahui bernama Ratna.

SMP
Lulus SD, Galih memilih SMP yang diperkirakan akan dimasuki Ratna. Tapi ternyata salah. Hanya satu bulan sekolah, dia memilih pindah ke sekolah yang sama dengan Ratna. Akhirnya berhasil duduk satu kelas. Setahun kemudian, cinta pun kian bersemi, Galih dan Ratna memadu kasih.
Namun, nasib berbicara lain. Ayah Ratna pindah tugas ke Jakarta. Ratna pun menulis surat perpisahan, pesimistis hubungan jarak jauh bisa dipertahankan.
Galih frustasi. Harga diri menahannya untuk bertanya langsung, dan kemudian disesali hingga saat ini. Tahun berlalu, Ratna tak bisa dilupakan. Sebagai ganti, foto besar Ratna dipasang di kamar, dan Galih pun berganti-ganti pacar. Jika dihitung jumlah pacarnya lebih dari 40. Semua melihat dan tahu foto Ratna, juga kisah cinta pertama dan obsesi Galih.
Orang tua Galih pun tahu, mereka hanya bisa menasehati dan geleng-geleng kepala.

SMA
Tak tertahankan lagi, Galih menyusul ke Jakarta naik kapal barang. Butuh waktu satu bulan untuk menginjakkan kaki di Batavia. Tapi Ratna tak juga ditemukan. Jayapura gempar…Galih pergi meninggalkan sekolah mencari Ratna.
Orang tua Galih tak lagi bisa tinggal diam. Anaknya ditarik, dipindahkan ke kampung halaman di Makassar, kuliah di sana, dan lulus.

Pernikahan
Usia 27 tahun, akhirnya Galih memilih menikah. Berpacaran empat tahun, dan tetap dia ceritakan semuanya pada sang istri, tentang Ratna, cinta pertamanya yang terus menghantui.
Setiap bulan, Galih memimpikan Ratna. Sudah menjadi rutinitas, mimpi itu diceritakan pada sang istri, kemudian dia minta izin menyepi beberapa hari di gunung. Begitu terus setiap bulan.
Sang istri sudah memaklumi. Dia berpikir, itu cinta lama, hanya obsesi…sampai, 23 tahun kemudian (2006) Galih berhasil menemukan Ratna.

RATNA

SD
Tak ingat tentang Galih.

SMP
Mulai menyadari kehadiran galih dan jatuh cinta. Baru beberapa bulan, ayahnya pindah tugas ke Jakarta, dan dilayangkanlah surat perpisahan. Ratna beranggapan, hubungan jarak jauh tak akan berhasil.

SMA dan Kuliah
Sejak SMA dan sebagian kuliah, Ratna dekat dengan — sebut saja Adi. Tidak berpacaran, tapi hubungan mereka dekat. Adi teman kakaknya di Jayapura, yang juga mengenal Galih.
Sampai suatu hari, Tante Nung, sahabat kerja ayahnya menyinggung nama Galih. Dia mengatakan, Galih sempat menelpon menanyakan Ratna. Akhirnya, nasib mempertemukan mereka kembali. Galih mendapatkan nomor telepon Ratna dari Tante Nung.
Dari situ terbongkar banyak peristiwa, mulai dari 23 tahun pencarian cinta, sampai tindakan Adi yang terus menutupi alamat Ratna. Cinta pun kembali bersemi antara Galih dan Ratna. Tapi masalahnya, Galih sudah menikah dan punya dua anak. Dua tahun sebelum dipertemukan kembali, Ratna sudah menikah, tepatnya di usia 36 tahun, dengan seorang lelaki yang sangat, sangat, sangat baik.
Pernikahan itu memang bukan sepenuhnya berlandaskan cinta. Tapi lebih pada kesadaran Ratna akan sebuah wadah pernikahan.

Kini, ratna terombang-ambing romantisme pencarian cinta selama 23 tahun. Galih tetap bersikukuh suatu hari nanti akan ada cara menikahi Ratna. “Ini bukan sekadar obsesi. Kalau hanya obsesi, mungkin saat bertemu sudah selesai. Tapi ratna benar-benar cinta saya. Tuhan mempertemukan kami kembali.”

Galih dan Ratna kini menjalin lagi hubungan lewat telepon, sesekali bertemu, saat Galih terbang menuju Jakarta. Orang tua dan saudara-saudara Galih pun sudah mengetahui…anaknya telah menemukan kembali cinta pertamanya yang pernah hilang…menemukan obsesinya…menemukan cinta yang terus menghantui selama puluhan tahun.

“Suatu hari nanti harus ada penyelesaian. Tapi sekarang biarlah semua mengalir. Cinta sejati itu memang ada. Lihat saja Pangeran Charles dan Camila,” begitulah yang diungkapkan Ratna, saat tak berdaya dalam kebingungan, tak berdaya dalam jebakan cinta, tak berdaya dibuai romantisme 23 tahun pencarian Cinta Galih.
———————–

Ini betul kisah nyata yang diungkapkan salah satu teman kuliah saya. Dari dulu, kisah cintanya memang selalu mengharu-biru. Dan selama ini dia selalu beruntung, selalu dikaruniai untuk mendapatkan pria yang mencintai dengan kekuatan dan kebaikan.
Dalam setiap kata saat dia meminta pendapat, saya hanya bisa mengatakan: “Terkadang, kenyataan tak seindah harapan dan impian. Terkadang, obsesi tak seindah saat dijalani,” Hmmmm…!

Hariku 1:31 pm

(Maaf, Saya Takut)

Entah sedang ada angin apa, dalam satu minggu ini saya dimintai tolong dua orang yang membawa cerita menaktkan, mengejutkan atau…(entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya).
Sungguh, bukannya tidak mau menolong, tapi saya benar-benar tidak tahu harus membantu dengan cara apa. Karena maaf, terus terang saya takut. Tapi saya jadi terdorong untuk bercerita lewat blog ini.

Ini kisah dua orang perempuan. Yang pertama (sebut saja Ida), kedua istri teman lama saya (sebut saja Iva).
—————-
Ida

Minggu, di tengah maraknya pesta pernikahan, saya dikenalkan pada seorang lelaki yang saya ‘curigai’ teman dekat Ida. Ternyata benar. Dalam kesempatan percakapan, Ida mengeluarkan semua unek-unek dan meminta saran apa yang harus dia lakukan.
Ida janda dengan dua anak, sementara lelaki itu beristri dengan satu anak. Kata Ida, istri pertama lelaki itu menyetujui, bahkan sudah menelpon dan mendorong untuk segera melakukan pernikahan. Tapi Ida ragu. Keraguan itu antara lain tentang pekerjaan pria itu yang dipastikan bakal bikin shock keluarga.
(Saya memilih mengesampingkan dulu isu poligami, karena cerita berikutnya memang bikin kaget)
“Dia dukun. Dukun jahat dari…(menyebut satu suku).”
“Dia bisa membantu orang mendapat banyak uang dengan melakukan kontrak dengan setan.”

“Hah ada seperti itu? Kok kayak di film. Kamu tahu darimana?” tanya saya.
Ida menjawab, hubungannya dengan pria tersebut sangat terbuka. Sejak awal, pria itu sudah mengatakan bahwa Idalah jodoh yang akan menjadi istri kedua dan nantinya akan memberi satu anak. Setelah itu dia membuka semua kisahnya, termasuk pekerjaan yang dilakoni. Ida juga diajak menyaksikan sendiri pekerjaan itu.
Misalnya, pernah ada pasangan suami istri yang usahanya bangkrut total datang minta pesugihan. Kemudian mereka diajak ke suatu tempat (Ida ikut serta) dan melakukan kontrak dengan setan. Disebutkan, uang akan segera datang, tapi beberapa tahun kemudian salah satu pasangan suami istri itu akan meninggal kecelakaan. Beberapa bulan kemudian terbukti usaha suami istri itu bangkit dan bisa melunasi semua utang yang nilainya miliaran rupiah.
Kenyataan itu membuat Ida diombang-ambing antara cinta dan keraguan. Apalagi saat menikah nanti, dia akan diboyong ke suku pria tersebut.

Wah…saya malah jadi takut. Kalau benar seperti itu, apa yang bisa saya bantu? Mendengar saja sudah ingin kabur.
“Apa tidak mungkin kamu dipelet?” Tiba-tiba saja, pertanyaan aneh itu meluncur dari mulut saya.

“Saya pernah tanyakan itu, tapi dia dengan tegas mengatakan tidak! Ini dari hati dan saya sudah tahu sejak awal sebelum kamu muncul, bahwa kamulah jodoh saya,” cerita Ida menirukan pria tersebut.

Aduuh, buat saya kok jadi tambah menakutkan.
“Apakah kamu pernah tanya, kalau nantinya menikah, kamu tidak menjadi bagian dari perjanjian-perjanjian yang mengerikan itu (kalau memang benar ada)?”

“Saya belum pernah tanya sejauh itu. Nanti saya akan tanyakan. Tapi apa yang sekarang harus saya lakukan? Saya mencintai dia, tapi juga didera keraguan. Saya sudah ceritakan semua yang jelek tentang saya, tapi dia tidak terpengaruh. Dia bilang: Percuma! Dia tidak akan mundur, karena takdir kami pada akhirnya menikah. Dia bilang akan membimbing saya menjadi baik, seperti yang dia inginkan,” kata Ida.

Ada satu poin lagi yang menurut saya perlu diperdebatkan. Tapi lepas dari itu, saya jadi bingung, saran apa yang harus saya berikan?
“Kamu selama ini tetap sholat?” — sejak menikah (pernikahan pertama) Ida sudah menjadi mualaf.
“Tidak.”
“Mungkin sebaiknya kamu sholat.”

Dan pembicaraan kami terhenti di titik itu. Tapi terus terang, terlepas dari benar atau tidak, saya sungguhan takut. Apa yang bisa saya bantu kalau mendengar cerita itu dan juga kata dukun — jahat pula — nyali saya jadi ciut gini? Aduuuh….maaf!
—————

Iva
Tadi sore, saya mendapat telepon di meja kerja saya. Kok ya kebetulan saya ada di meja, padahal biasanya jarang duduk diam. Dan kebetulan juga saya masuk kerja, padahal seharusnya libur.
Iva menelpon menanyakan kabar karena sudah sekian tahun kami tidak berkomunikasi. Pada akhirnya dia mengatakan, ingin menceritakan sesuatu dan ingin minta tolong karena tidak tahu harus bercerita pada siapa lagi.
Tapi pada saya? Buat saya agak mengherankan karena kami sudah lama tidak bertemu, meski dengan suaminya tahun lalu sempat bertemu satu kali, dan kemudian saya bertitip salam.

Begini kisahnya:
Tiga bulan lalu, Iva senang karena suaminya jadi rajin sholat. Tapi kemudian dia mulai merasa aneh karena tiba-tiba banyak prinsip keras yang kemudian jadi perdebatan dan pertengkaran di antara mereka.
“Saya tidak mengerti, rasanya ada yang aneh dengan prinsipnya. Suami saya jadi melarang saya keluar rumah, harus pakai jilbab, tidak boleh ke pengajian, kalau ada yang meninggal tidak boleh yasinan, tidak boleh tabur bunga, dan masih banyak lagi tidak boleh.”

Selain itu, tutur Iva, kini suaminya menyimpan senjata tajam di lemari. Tiap bulan juga menyetor uang sebesar Rp150 ribu ke ustad yang dia ikuti dari daerah Parung, Jawa Barat. Parahnya lagi, uang untuk kebutuhan sehari-hari termasuk sekolah tiga anaknya dijatah hanya Rp2 juta.
“Saya sudah tanya, kemana gaji kamu yang lima juta lagi? Suami saya menjawab: Bukan urusan kamu. Sebagai istri diberi 100 ribu pun harus terima. Menurut tetangga-tetangga, suami saya sudah terjerumus aliran sesat. Tapi saya tidak tahu pasti aliran apa. Tetangga-tetangga pun bingung. Tapi katanya pernah ustad aliran ini diusir dari masjid di wilayah kami. Tolong carikan apa sebenarnya aliran ini, dan apa yang harus saya lakukan?”

Aduuuh…ini…saya tidak begitu paham. Beberapakali pernah mendengar kisah seperti ini, bahkan lebih parah, tapi tidak pernah tersangkut atau dimintai tolong. Akhirnya, saya menelpon teman saya yang lulusan IAIN dan adik iparnya pernah jatuh dalam sebuah aliran yang kurang lebih hampir sama. Bahkan kalau mendengar ceritanya sih jauh lebih parah karena dihalalkan tidak mengakui orang tuanya sendiri jika tidak satu aliran. Kemudian atas seizin teman saya itu, saya berikan nomor teleponnya pada Iva.

Aaah…saya buta tentang ini. Hanya itu yang bisa saya lakukan.