Lama saya tidak lagi terjun dalam dunia pariwisata. Hitungannya sudah lebih dari lima tahun. Tapi pariwisata Indonesia masih juga jalan di tempat. Pemerintah dan swasta tak akur, antarasosiasi tidak kompak, kebijakan pemerintah pusat tidak mendukung, sumber daya manusia tidak siap, pemerintah daerah pun tak semuanya paham, dan masih banyak lagi.
Pernyataan bahwa pariwisata akan menjadi motor devisa negara seakan hanya hafalan. Dikenal dimana-mana tapi orang tidak benar-benar paham, apalagi melaksanakan. Jadi, tidak mengherankan jika akhirnya Indonesia kalah jauh dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand. Padahal, kekayaan kuliner, alam, budaya, dan kesenian Indonesia luar biasa. Saya pikir, kita ini lama-lama seperti tikus mati di lumbung padi.

Mengejar Tujuh Juta Wisman

SEBELUM krisis moneter 1997, program Visit Indonesia Year pernah menuai sukses. Mendongkrak jumlah wisatawan mancanegara, pun devisa sektor pariwisata.
Sejarahnya, dimulai pada 1991 saat pariwisata masih berada di bawah Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi di bawah pimpinan Soesilo Sudarman. Tahun itulah pertamakali ditetapkan Visit Indonesia Year (VIY). Proses pelaksanaannya dimulai setahun sebelumnya, antara lain lewat kampanye sadar wisata. Bentuknya beragam, mulai dari penyuluhan sampai work shop. Isinya antara lain menggugah kesadaran kebersihan, keamanan, sampai mempersiapkan hal terkecil berupa kenangan yang bisa dibawa pulang. Maka, industri kerajinan pun bergerak menghasilkan sesuatu yang pantas dibawa ke negeri orang dan memiliki nilai kelokalan Indonesia.
Program VIY 1991 dianggap sukses. Pada 1990 jumlah wisman yang semula 2.18 juta, meningkat menjadi 2.57 juta pada 1991. Kenaikan itu dianggap istimewa karena saat itu banyak negara disibukkan dengan Perang Teluk.
Maka, VIY diperpanjang 10 tahun dalam sebuah program bernama Dekade Kunjungan Wisata Indonesia (Dekuni). Berlaku mulai 1992 hingga 2000. Sejak itu, tiap tahun Indonesia selalu meluncurkan tema baru.
Program ini pun dianggap berhasil. Jumlah wisman terus meningkat, pada 1996 berhasil menembus angka lima juta orang. Namun, krisis moneter yang terjadi pada 1997, ditambah panasnya suhu politik Indonesia menghentikan pelaksanaan Dekuni. Pada 1998, kunjungan wisman turun ke kisaran empat juta lebih. Angka itu seakan sulit beranjak, meski berdasarkan data Badan Pusat Statistik serta Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, pada 2000,2001,2004, dan 2005 sempat menembus angka lima juta wisman. Tentu saja masih jauh dari target enam juta.
Sementara itu, jumlah wisman ke negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura terus melaju. Pada 1999, angka kunjungan wisman ke tiga negara itu sudah lebih dari tujuh juta orang. Tahun 2007 Malaysia mencanangkan Visit Malaysia Year. Sejak delapan bulan sebelum pencanangan, dilakukan promosi besar-besaran. Data sampai September sudah menunjuk angka 15 juta lebih. Pada 2008 Malaysia sudah berani menargetkan 20 juta wisman.
Indonesia tak lantas tinggal diam. Tahun depan dimulailah program Visit Indonesia Year 2008. Diluncurkan bertepatan dengan momentum 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Maka, persiapan kilat pun dilakukan. November lalu mulai dicanangkan kampanye Sadar Wisata. Juga diluncurkan ulang www.my-indonesia.info, sebagai situs resmi pemerintah yang antara lain memuat informasi destinasi, hotel dan agenda kegiatan.

Lewat VIY 2008, Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Jero Wacik optimistis tercapainya target 7 juta wisman dan US$6,4 miliar devisa dari sektor pariwisata. Dia kemudian mencontohkan beberapa target yang dikemukakan daerah seperti Bali, 1.5 wisman, Sumatra Barat 1 Juta, Jakarta 1,6 juta, dan Jawa Barat 600 ribu wisman. Dari empat daerah itu saja, katanya, sudah tercapai 4,7 juta wisatawan asing.
Maka, Wacik pun kian optimistis, meski banyak pihak meragukan program VIY 2008. Pasalnya, persiapan yang dilakukan dianggap terlalu mepet, kurang koordinasi, dan peluncurannya pun dinilai kurang tepat. Pada 2008, diperkirakan sebagian besar perhatian dan minat penduduk dunia akan terarah ke Beijing yang tengah menggarap gawe besar, olimpiade.
Apa pun, jalan menuju tujuh juta wisman mulai diretas. Pada saatnya nanti, waktulah yang akan membuktikan!