Ini sekadar berbagi cerita tentang suku Bajo Indonesia yang ternyata punya presiden sendiri. Juga tentang sedikit sejarah, kebiasaan, serta tingkat pendidikan mereka.
Mereka menyebut diri orang laut. Berpenghasilan besar, namun tingkat pendidikan sangat rendah. Tercatat hanya 0,5% dari 46% angka partisipasi sekolah di Sulawesi Tenggara.
SIANG itu, dermaga sederhana Desa Mola (desa Suku Bajo terbesar di Wakatobi) terlihat sepi. Hanya ada beberapa anak berceburan di kemilau air laut.
Di belakang dermaga, berdiri deretan rumah bertiang kayu dikelilingi air laut. Khas rumah Suku Bajo. Hanya saja, sentuhan modernisasi mulai bermunculan. Sebagian kayu sudah berganti dengan fondasi batu karang warna putih. Masing-masing rumah luasnya bervariasi, sekitar 75 meter persegi. Biasanya dihuni tiga atau lebih keluarga.
Saat itu, suasana cenderung sepi. Lelaki Bajo tengah melaut. yang tersisa perempuan, orang tua, dan anak-anak.
Melaut
Melaut merupakan pekerjaan yang dijalani hampir seluruh masyarakat Suku Bajo. Awalnya, mereka menggunakan cara apa saja untuk mendapat ikan. Mulai dari bom hingga racun.
Rustam, salah satu nelayan mengatakan, “Saya dulu juga menggunakan bom, kerja dengan bos Philipina. Kami diajari merakit dan cara menggunakan. Tapi kemudian memilih bekerja sendiri, karena penghasilan tidak sebanding dengan risiko,” ceritanya.
Penangkapan ikan dengan bom biasanya dilakukan dalam kelompok. Yang paling berbahaya bila bertemu dengan kelompok lain. Pasalnya, setiap kelompok dibekali senjata, sehingga sering terjadi tembak-menembak.
Beberapa tahun terakhir, Rustam memilih bekerja sendiri. Lelaki yang dipilih sebagai motivator dalam sebuah program yang disponsori pemerintah dengan Bank Dunia — menyadarkan pentingnya kelestarian laut — kini melaut dengan senjata jaring yang dipasang di karang. Baru-baru ini, sekitar Rp12 juta dia kantongi. “Lumayan, sekarang saya mau istirahat dulu,” katanya sembari tersenyum.
Pendidikan rendah
Soal penghasilan, Abdul manan, kepala Bappeda Wakatobi yang juga menjadi Presiden Suku Bajo seluruh Indonesia mengatakan, pada dasarnya pendapatan rata-rata suku Bajo tergolong tinggi. Dalam satu hari bisa mencapai Rp300 ribu. Namun, biasanya habis dibelanjakan hari itu juga atau untuk membeli perhiasan emas. Belum ada konsep menabung, apalagi manajemen keuangan keluarga.
Soal pendidikan, kurang mendapat perhatian. Anak-anak lebih senang terjun mencari ikan daripada sekolah. Kesadaran orang tuanya pun masih minim. “Minat mereka pada pendidikan masih rendah. Hanya 0,5% dari 46% angka partisipasi sekolah di Sulawesi Tenggara,” papar Manan.
Sebagai Presiden Suku Bajo Indonesia, Manan memiliki impian dapat memajukan sukunya. Paling tidak, dia menargetkan bisa mencapai angka pendidikan hingga 10%. “Hanya dengan pendidikan tanpa menggusur budaya, kita bisa maju,” tukasnya.
Presiden Bajo
Berbicara tentang Presiden suku Bajo, ada kisah tersendiri. Beberapa tahun lalu Manan mendengar ada seorang datuk dari Malaysia mengunjungi suku Bajo di Sulawesi. Dia meminta kontak, kemudian saling email.
Dari situ dilanjutkan dengan pertemuan, yang akhirnya memunculkan ide membuat semacam persatuan orang Bajo dunia. “Suku Bajo ini sudah diakui PBB sebagai suku mandiri,” ungkapnya.
Maka, pada awal 2007 berdirilah semacam perkumpulan suku Bajo internasional. Saat ini anggotanya baru ndonesia, Malaysia, dan Philipina. Abdul Manan merupakan Presiden Suku Bajo pertama. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan suku Bajo dimana pun berada.
Abdul Manan, asli putra Bajo dari Sulawesi tenggara. Barangkali, baru dialah satu-satunya orang Bajo Indonesia yang sudah meraih gelar S2.
Lepas SD, sang ibu awalnya berpendapat, sebaiknya anaknya bergabung dengan kapal Australia menangkap ikan paus. Untunglah sang ayah mendukung keinginannya untuk sekolah. Pada 1976, dia merantau ke Bau Bau melanjutkan SMP hingga SMA. Kemudian mendapat beasiswa ke perguruan tinggi negeri di Kendari. Lepas itu dapat beasiswa lagi, ambil S2 di Thailand, jurusan manajemen tropika.
Sejarah Bajo
Tentang suku bajo, manan berkisah, tersebar di banyak tempat di Indonesia. Juga diberbagai negara termasuk Thailand. Meski demikian, bahasa yang digunakan tetap sama, bahasa Bajo.
Ada dua versi sejarah suku Bajo, pertama ada yang berpendapat dari Johor, tapi ada juga yang mengatakan berasal dari Palopo, Sulawesi Selatan. Namun, menurut Manan, kalau dari bahasa, dia malah melihat ada kesamaan dengan bahasa Tagalog, Filipina.
Kalau masalah ini sih, terserah saja….!


I wanna give comment about Manan said in the last paragraph that “ada kesaman bhs Bajo dgn bhs Philiphina”. I agree with him, and I mind that suku Bajo come from Philiphina because in Philipina, there are many Bajonese.
Please replay this, because I’m very interesting to this problem.
Harni Jumitri
English Department of Haluoleo University
(Bajonese From Muna Island)
Comment by HARNI JUMITRI — December 29, 2007 @ 1:41 pm
saya putra bajo yang sekarang tingggal di banda aceh sedang kuliah di Unv.Syiah kuala,..saya senang membaca artikel ini n saya mhn di kirimkan alamat Presidennya orang bajo bapak Manan..terimah kasih
Comment by alwin daeng papalo — March 23, 2008 @ 10:31 am
I wanna say that I’m very proud with the father of bajonese namely Mr.Manan.Acording to me Bajo ethnic come from johor and they were ordered by the prince to looking for the king in arround the sea in the world because the king was loose in his sailing.They didn;t allowed to back without the king.So, bajonese afraid to back and live in each coast where they visited to looking for the king.
Wina Nasir
English Department of Gorontalo University
(Bajonese from Tilamuta)
Comment by Wina — April 24, 2008 @ 4:48 am
I’m very proud with mr. Manan, who becoming The First Bajonese President, so i need Him email addres, any body can help me ?
Agus Kaharuddin
Bajonese from Bandung
Comment by Agus Kaharuddin — May 21, 2008 @ 3:10 am
terimakasih om karena telah menulis tentang suku bajo dalam satu blog, mudah-mudahan ini akan menjadi momentum bagi masyarakat bajo yang ada di perantauan khususnya yang sempat membuka blog untuk bertukar pikiran dan juga bagi yang bukan masyararakat bajo akan mendapatkan informasi bagaimana sebenarnya sejarah masyarakat bajo.
insya ALLAH beberapa tahun kedepan akan banyak perubahan pada masyarakat bajo khususnya dalam peningkatan pendidikan karena telah banyak masyakatbajo yang sadar bahwa pendidikan merupakan hal yang paling utama untuk mendapatkan pekerjaan dan melaut tidak selamanya akan menjadi pekerjaan tetap dan ini terbukti dengan adanya masyarakat bajo yang melanjutkan kuliah diJogja, Jakarta dan daerah lainnya.
salam buat om mana
LIS di Bintan Kepulauan Riau
Tanto, Manto dan Robin di JOGJA
Comment by muslim/LIS — August 27, 2008 @ 2:19 pm
senang membaca artikel ini karena memberikan inspirasi saya untuk mengetahui suku bajo lebih jauh lagi. mungkin saya akan lebih senang kalau dapat bertemu dengan presiden suku bajo atau mungkin kalau bisa saya diberikan emailnya pak Abdul Manan. terima kasih
Comment by safril sofwan — November 1, 2008 @ 1:10 pm
Suku Bajo, ada yang berpendapat dari Johor, ada juga yang mengatakan berasal dari Palopo, Sulawesi Selatan. Namun, menurut Manan, kalau dari bahasa, ada kesamaan dengan bahasa Tagalog, Filipina.
Saya pikir ini menjadi pengantar awal untuk bisa menulis menjadi buku “Sejarah Suku Bajo”, bapak sudah memulai dan jangan berhenti sampai disini pak, saya yakin jika bapak mau melanjutkan penulisan dan penelusuran sejarah ini akan banyak yang mendukung dan saya yakin jika bisa dituliskan lengkap Sejarah Suku Bajo akan menjadi buku sejarah yang amat berharga nantinya seperti buku Laskar Pelangi.
Comment by Fadlullah Aceh — December 4, 2008 @ 2:54 am
Saya putra bajo yang sekarang tinggal di jogjakarta
sedang kuliah jurusan teknik telekomunikasi.aq senang banget membaca artikel ini.karena di satu sisi dengan adanya artikel seperti ini dapat memotifasi putra dan putri bajo, untuk lebih menyadari akan pentingnya pendidikan.Harapan saya kepada semua teman-teman khususnya putra bajo,yang tersebar di seluruh indonesia yang sedang menempuh pendidikan,marilah kita sama-sama bersatu padu untuk membangun suku bajo kearah yang lebih maju dan berpendidikan.Kepada bapak Abdul Anan minta mailnya donk????
Comment by amir — December 18, 2008 @ 10:08 am
Bajo punya prsiden? Itu ikut-ikutan negara demokrasi yang bullshit atau memang ada adat yang telah memilihnya? Lebih baik dalam hal pemerintahan internal, patuh pada ‘indegenous knowledge’ jangan ikut-ikut pada ‘outer knowledge’ ala demokrasi. Apa bagusnya demokrasi diterapkan di suku Bajo? Negara Indonesia saja yang menerapkan demokrasi hanya dipimpin oleh presiden fiktif!
Comment by Ostaf Al Mustafa — April 5, 2009 @ 10:12 pm
aku na kenalan ma kau. aku ana bajo tikka ma kaledupa. aku kuliah ma jogja . aku ingin sharing ka kau. aku orang bajo dari wakatobi. sama tika mangga koko?? salam tom. 085878426249
Comment by tom — April 28, 2009 @ 10:15 pm
kaitu kita ta Bersatu membangun Bajo. Temann kontak kau dong???/ aku Juga orang bajo
Comment by tom — April 28, 2009 @ 10:17 pm
sy seorang mahasiswa di univ gadjah mada yogyakarta. sy senang membaca artikel ini. ini membuat saya terinspirasi untuk menulis tentang suku bajo dalam tugas akhir saya..
mohon bantuan saudara2 semua untuk memberikan informasi2 yg berguna tentang sejarah, perkembangan, dan kehidupan suku bajo.
terima kasih kepada rekan2 smua.
salam sukses selalu..
Comment by wikra LAODE — May 15, 2009 @ 6:10 am
Sy putra bajo yg ada dikotaKupang,skrg gi kuliah di-Umk Fai jur.Tarbyah smstr7,ktka kuliah prtma sy agak minder dgn teman2 kuliah aplgi kbias2n org bajo susah bradptasi trutama mslh dialek,tp skrg sy bangga krn saat ini hmpir tiap univ.Dikupang ada putra bajo,klw ada teman2 yg pgn knl lbh dkat sm sy slhkn kntk di 085239368220.By S.Toga(Roged)
Comment by Sulating toga — August 29, 2009 @ 5:11 pm
kole keje kenalan aha pare pagir samete,aku anak same jedu tambang ma sumbawa NTB
Comment by rhomy alqadry — September 9, 2009 @ 4:44 am
rhomy alqadry
anak same asli
sumbawa NTB
Comment by rhomy alqadry — September 9, 2009 @ 4:48 am
saya orang bajo (sama) saya cuma ingin tw alamat-alamat teman yang satu suku sama saya dimanapun berada. saya ingin berbagi crita. hubungi saya di 085241493861. by hefryanto (sama likka’ ma kalumbatang, bangkep, sulteng)
Comment by hefriyanto — October 18, 2009 @ 11:53 pm
Menurut pengamatan saya bahwa suku bajo mempunyai perilaku yang baik serta seni budaya.sebagai contoh seni gendang dan gong kalau di bone dikenal dengan nama Genrang Bajo yang dimainkan pada saat ada pesta perkawinan kaum bangsawan bone.atau ada pesta di kerajaan Bone.Masyarakat suku Bajo menjunjung tinggi terhadap adatnya maupun adat yang berlaku di Bone
Mereka merasa bahwa mereka bagian dari masyarakat bone.Pada jaman Kerajaan Bone yang mendiami pesisir Bajoe(sekarang Kelurahan Bajoe) adalah Suku Bajo.Sebenarnya Suku Bajo ahli di bidang maritim dan ilmu bintang.
Comment by andi kadir — October 25, 2009 @ 11:17 am
saya juga orang bajoe(same),tepatnya di daerah kepulawan madura,yaitu pulau sapeken,yang mana sukunya orang bajoe semua yang berasal dari sulsel
Comment by mamex — November 7, 2009 @ 6:44 pm
Terimakasih bapak karena sudah membuat blog ini saya sangat senang sekali kalau benar suku bajo telah di akui oleh PBB,saya sangat bangga sekali menjadi putra bajo, saya putra bajo dari sapeken dan saat ini saya sedang kuliah di perguruan tinggi di bali yaitu STIKOMBALI dan aku janji kita dari ptra bajo sapeken akan selalu ikut menjunjung tinggi aha bjo…. LELLE DENDE DANAKAN MEMON…
Comment by Ibaz Djoe. — December 8, 2009 @ 4:11 pm