HarikuDecember 20, 2007 8:28 am

INI tentang pembicaraan antara putri kecilku (P) dan kakeknya (K). Bercerita tentang salah satu teman putriku yang sebut saja bernama Alisa.

P: Alisa itu sombong engkong.
K: Loh kenapa, enggak boleh ngatain orang sombong dong.
P: Alisa yang bilang sendiri, katanya: “aku sombong.” Terus aku tanya kenapa sombong? Kata Alisa karena Alisa paling cantik.
K: Ah …(kamu) juga cantik kok.
P: Aku bilang sama Alisa: enggak boleh gitu Alisa, masih ada yang lebih cantik dari kamu, putri duyung, cinderela, putri salju….
K: hua hahahahaha

Aku yang dengar juga jadi ketawa-tawa: @%^&*()?

HarikuDecember 12, 2007 7:23 am

Lama saya tidak lagi terjun dalam dunia pariwisata. Hitungannya sudah lebih dari lima tahun. Tapi pariwisata Indonesia masih juga jalan di tempat. Pemerintah dan swasta tak akur, antarasosiasi tidak kompak, kebijakan pemerintah pusat tidak mendukung, sumber daya manusia tidak siap, pemerintah daerah pun tak semuanya paham, dan masih banyak lagi.
Pernyataan bahwa pariwisata akan menjadi motor devisa negara seakan hanya hafalan. Dikenal dimana-mana tapi orang tidak benar-benar paham, apalagi melaksanakan. Jadi, tidak mengherankan jika akhirnya Indonesia kalah jauh dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand. Padahal, kekayaan kuliner, alam, budaya, dan kesenian Indonesia luar biasa. Saya pikir, kita ini lama-lama seperti tikus mati di lumbung padi.

Mengejar Tujuh Juta Wisman

SEBELUM krisis moneter 1997, program Visit Indonesia Year pernah menuai sukses. Mendongkrak jumlah wisatawan mancanegara, pun devisa sektor pariwisata.
Sejarahnya, dimulai pada 1991 saat pariwisata masih berada di bawah Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi di bawah pimpinan Soesilo Sudarman. Tahun itulah pertamakali ditetapkan Visit Indonesia Year (VIY). Proses pelaksanaannya dimulai setahun sebelumnya, antara lain lewat kampanye sadar wisata. Bentuknya beragam, mulai dari penyuluhan sampai work shop. Isinya antara lain menggugah kesadaran kebersihan, keamanan, sampai mempersiapkan hal terkecil berupa kenangan yang bisa dibawa pulang. Maka, industri kerajinan pun bergerak menghasilkan sesuatu yang pantas dibawa ke negeri orang dan memiliki nilai kelokalan Indonesia.
Program VIY 1991 dianggap sukses. Pada 1990 jumlah wisman yang semula 2.18 juta, meningkat menjadi 2.57 juta pada 1991. Kenaikan itu dianggap istimewa karena saat itu banyak negara disibukkan dengan Perang Teluk.
Maka, VIY diperpanjang 10 tahun dalam sebuah program bernama Dekade Kunjungan Wisata Indonesia (Dekuni). Berlaku mulai 1992 hingga 2000. Sejak itu, tiap tahun Indonesia selalu meluncurkan tema baru.
Program ini pun dianggap berhasil. Jumlah wisman terus meningkat, pada 1996 berhasil menembus angka lima juta orang. Namun, krisis moneter yang terjadi pada 1997, ditambah panasnya suhu politik Indonesia menghentikan pelaksanaan Dekuni. Pada 1998, kunjungan wisman turun ke kisaran empat juta lebih. Angka itu seakan sulit beranjak, meski berdasarkan data Badan Pusat Statistik serta Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, pada 2000,2001,2004, dan 2005 sempat menembus angka lima juta wisman. Tentu saja masih jauh dari target enam juta.
Sementara itu, jumlah wisman ke negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura terus melaju. Pada 1999, angka kunjungan wisman ke tiga negara itu sudah lebih dari tujuh juta orang. Tahun 2007 Malaysia mencanangkan Visit Malaysia Year. Sejak delapan bulan sebelum pencanangan, dilakukan promosi besar-besaran. Data sampai September sudah menunjuk angka 15 juta lebih. Pada 2008 Malaysia sudah berani menargetkan 20 juta wisman.
Indonesia tak lantas tinggal diam. Tahun depan dimulailah program Visit Indonesia Year 2008. Diluncurkan bertepatan dengan momentum 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Maka, persiapan kilat pun dilakukan. November lalu mulai dicanangkan kampanye Sadar Wisata. Juga diluncurkan ulang www.my-indonesia.info, sebagai situs resmi pemerintah yang antara lain memuat informasi destinasi, hotel dan agenda kegiatan.

Lewat VIY 2008, Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Jero Wacik optimistis tercapainya target 7 juta wisman dan US$6,4 miliar devisa dari sektor pariwisata. Dia kemudian mencontohkan beberapa target yang dikemukakan daerah seperti Bali, 1.5 wisman, Sumatra Barat 1 Juta, Jakarta 1,6 juta, dan Jawa Barat 600 ribu wisman. Dari empat daerah itu saja, katanya, sudah tercapai 4,7 juta wisatawan asing.
Maka, Wacik pun kian optimistis, meski banyak pihak meragukan program VIY 2008. Pasalnya, persiapan yang dilakukan dianggap terlalu mepet, kurang koordinasi, dan peluncurannya pun dinilai kurang tepat. Pada 2008, diperkirakan sebagian besar perhatian dan minat penduduk dunia akan terarah ke Beijing yang tengah menggarap gawe besar, olimpiade.
Apa pun, jalan menuju tujuh juta wisman mulai diretas. Pada saatnya nanti, waktulah yang akan membuktikan!

HarikuDecember 10, 2007 5:00 am

PUTRIKU baru saja merayakan ulang tahun yang ke lima. Dan sekarang dia sedang tergila-gila dengan tokoh kartun Ben 10. Terutama dengan jam tangan besar milik Ben 10 yang jika ditekan bisa membuat pemakainya berubah dalam berbagai bentuk. Mulai alien, robot bola, dan masih banyak lagi.
Biasanya, musuh Ben 10 bentuknya juga seperti robot, namun mengambil gambaran berbagai gabungan binatang. Pokoknya, buat saya, tokoh-tokoh dalam Ben 10 itu aneh dan menyeramkan. Misalnya, ada robot gabungan antara cumi-cumi dan alien. Atau tidak jelas berbentuk apa, entah lalat, nyamuk, atau apalah.
Tapi heran, putriku kecilku malah tergila-gila Ben 10, terutama jam tangannya. Saking terobsesi, dia akhirnya memilih membeli jam tangan besar warna oranye. Menurut dia, karena besar maka mirip dengan jam tangan Ben 10. Jadilah jam itu barang favorit terbaru. dipakai kemana-mana, bahkan tidur pun ada dalam genggamannya. Baru dilepas saat dia pergi ke sekolah.

Minggu lalu, tiba-tiba putriku membuat pengumuman:
“Sekarang namaku ganti jadi Ben Ten. Jadi semua kalau manggil aku sekarang harus Ben ten.”

Minggu (9/12) pagi, dia asyik bermain dengan dua teman dekatnya. Tiba-tiba saya mendengar tangisan si Ben Ten gadungan:
“Kenapa dia nangis?” dari dapur saya bertanya pada pengasuhnya yang kebetulan masuk rumah.

Jawaban pegasuhnya: Putri kecilku kesal karena temannya terus memanggil nama aslinya, lupa kalau dia sudah memproklamirkan nama baru, sebagai Ben Ten gadungan. Halaaah…!

Minggu siang saat bersantai dan tengah menonton Ben Ten, saya tanya ke dia:
“Heran, kok bisa kamu suka Ben 10. Bentuk tokoh-tokohnya saja enggak jelas. Serem gitu.”

“Ini keren mama, apalagi Ben Ten bisa berubah bentuk. Aku dibeliin jam tangan Ben Ten dong ma…yang mirip. Ada kok yang jual, nanti kalau ada iklannya mama aku panggil.”

Benar saja, tidak lama kemudian di Cartoon Network memunculkan iklan jam tangan Ben Ten. Intinya dapat dibeli di www…..

“Nah kan ma, ada. Kalau mama punya uang beliin dong. Bener ya kalau punya uang beliin aku..?”

Waduuuh…!

Urutan Kartun Kesukaan Putriku:
1. Tom & Jerry
2. Ben Ten
3. Micky Club House
4. Mr Bean
5. Scooby doo

HarikuDecember 9, 2007 1:17 pm

Ini sekadar berbagi cerita tentang suku Bajo Indonesia yang ternyata punya presiden sendiri. Juga tentang sedikit sejarah, kebiasaan, serta tingkat pendidikan mereka.

Mereka menyebut diri orang laut. Berpenghasilan besar, namun tingkat pendidikan sangat rendah. Tercatat hanya 0,5% dari 46% angka partisipasi sekolah di Sulawesi Tenggara.

SIANG itu, dermaga sederhana Desa Mola (desa Suku Bajo terbesar di Wakatobi) terlihat sepi. Hanya ada beberapa anak berceburan di kemilau air laut.
Di belakang dermaga, berdiri deretan rumah bertiang kayu dikelilingi air laut. Khas rumah Suku Bajo. Hanya saja, sentuhan modernisasi mulai bermunculan. Sebagian kayu sudah berganti dengan fondasi batu karang warna putih. Masing-masing rumah luasnya bervariasi, sekitar 75 meter persegi. Biasanya dihuni tiga atau lebih keluarga.
Saat itu, suasana cenderung sepi. Lelaki Bajo tengah melaut. yang tersisa perempuan, orang tua, dan anak-anak.

Melaut
Melaut merupakan pekerjaan yang dijalani hampir seluruh masyarakat Suku Bajo. Awalnya, mereka menggunakan cara apa saja untuk mendapat ikan. Mulai dari bom hingga racun.
Rustam, salah satu nelayan mengatakan, “Saya dulu juga menggunakan bom, kerja dengan bos Philipina. Kami diajari merakit dan cara menggunakan. Tapi kemudian memilih bekerja sendiri, karena penghasilan tidak sebanding dengan risiko,” ceritanya.
Penangkapan ikan dengan bom biasanya dilakukan dalam kelompok. Yang paling berbahaya bila bertemu dengan kelompok lain. Pasalnya, setiap kelompok dibekali senjata, sehingga sering terjadi tembak-menembak.
Beberapa tahun terakhir, Rustam memilih bekerja sendiri. Lelaki yang dipilih sebagai motivator dalam sebuah program yang disponsori pemerintah dengan Bank Dunia — menyadarkan pentingnya kelestarian laut — kini melaut dengan senjata jaring yang dipasang di karang. Baru-baru ini, sekitar Rp12 juta dia kantongi. “Lumayan, sekarang saya mau istirahat dulu,” katanya sembari tersenyum.

Pendidikan rendah
Soal penghasilan, Abdul manan, kepala Bappeda Wakatobi yang juga menjadi Presiden Suku Bajo seluruh Indonesia mengatakan, pada dasarnya pendapatan rata-rata suku Bajo tergolong tinggi. Dalam satu hari bisa mencapai Rp300 ribu. Namun, biasanya habis dibelanjakan hari itu juga atau untuk membeli perhiasan emas. Belum ada konsep menabung, apalagi manajemen keuangan keluarga.
Soal pendidikan, kurang mendapat perhatian. Anak-anak lebih senang terjun mencari ikan daripada sekolah. Kesadaran orang tuanya pun masih minim. “Minat mereka pada pendidikan masih rendah. Hanya 0,5% dari 46% angka partisipasi sekolah di Sulawesi Tenggara,” papar Manan.
Sebagai Presiden Suku Bajo Indonesia, Manan memiliki impian dapat memajukan sukunya. Paling tidak, dia menargetkan bisa mencapai angka pendidikan hingga 10%. “Hanya dengan pendidikan tanpa menggusur budaya, kita bisa maju,” tukasnya.

Presiden Bajo
Berbicara tentang Presiden suku Bajo, ada kisah tersendiri. Beberapa tahun lalu Manan mendengar ada seorang datuk dari Malaysia mengunjungi suku Bajo di Sulawesi. Dia meminta kontak, kemudian saling email.
Dari situ dilanjutkan dengan pertemuan, yang akhirnya memunculkan ide membuat semacam persatuan orang Bajo dunia. “Suku Bajo ini sudah diakui PBB sebagai suku mandiri,” ungkapnya.
Maka, pada awal 2007 berdirilah semacam perkumpulan suku Bajo internasional. Saat ini anggotanya baru ndonesia, Malaysia, dan Philipina. Abdul Manan merupakan Presiden Suku Bajo pertama. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan suku Bajo dimana pun berada.
Abdul Manan, asli putra Bajo dari Sulawesi tenggara. Barangkali, baru dialah satu-satunya orang Bajo Indonesia yang sudah meraih gelar S2.
Lepas SD, sang ibu awalnya berpendapat, sebaiknya anaknya bergabung dengan kapal Australia menangkap ikan paus. Untunglah sang ayah mendukung keinginannya untuk sekolah. Pada 1976, dia merantau ke Bau Bau melanjutkan SMP hingga SMA. Kemudian mendapat beasiswa ke perguruan tinggi negeri di Kendari. Lepas itu dapat beasiswa lagi, ambil S2 di Thailand, jurusan manajemen tropika.

Sejarah Bajo
Tentang suku bajo, manan berkisah, tersebar di banyak tempat di Indonesia. Juga diberbagai negara termasuk Thailand. Meski demikian, bahasa yang digunakan tetap sama, bahasa Bajo.
Ada dua versi sejarah suku Bajo, pertama ada yang berpendapat dari Johor, tapi ada juga yang mengatakan berasal dari Palopo, Sulawesi Selatan. Namun, menurut Manan, kalau dari bahasa, dia malah melihat ada kesamaan dengan bahasa Tagalog, Filipina.
Kalau masalah ini sih, terserah saja….!