MACET
Soal macet, Jakarta bener-bener gudangnya. Setiap ada tugas keluar kantor, lututku langsung lemes. Terbayang berjam-jam perjalanan. Baru begitu saja, energi rasanya sudah terkuras. Tapi kalau tidak dijalani, rasanya rugi. Bisa-bisa kuper.
BANJIR
Banjir? Wah ini bikin aku trauma dot com. Gimana enggak, setiap hujan deras, kaki maunya melangkah ke teras , mata melotot ke got besar di depan rumah. Itu cuma untuk menjawab pertanyaan, airnya sudah sampai di garis atas got atau belum? Kalau kebetulan sedang di luar rumah, maunya telpon melulu, cuma tanya, apakah rumah masih aman? Ya ampuuun…
Masih soal banjir, aku jadi ingat beberapa hal yang bikin grrrhg! Setelah banjir dasyat awal 2007, ternyata tetap tidak ada kegiatan perbaikan dari pemerintah. Yang ada malah jalan dibikin tinggi lagi, sementara saluran mampet atau jalan yang tidak ada saluran dibiarkan. Bahkan beberapa jalan di deket komplekku, mulai kena proyek beton. Loh…loh..loh…piye to, resapan berarti kian berkurang. Bener-bener cuma mikir proyek!
TABUNG GAS
Dua minggu lalu rumahku didatangi petugas RT. Mereka minta fotokopi kartu keluarga sama KTP. Dua kali datang, pagi dan sore keesokan harinya.
“Buat apa to pak?”
“Pembagian tabung gas.”
“Saya sudah punya, mungkin ada yang lebih butuh?”
“Sayang loh bu, jatahnya dapat dua.”
“Hah?”
“Iya terima saja, nanti kalau enggak kepakai kasih ke orang,” sambut salah seorang tetanggaku yang kebetulan ada di depan rumah.
(????…wah….apa gak salah?)
Suatu sore, cerita pembagian tabung gas menyeruak di kantor. Soal tidak tepat sasaran sih sudah bukan kisah aneh lagi. Tapi temanku yang rumahnya di Jakarta Timur punya cerita lucu. Dia memersoalkan kurangnya penyuluhan ke keluarga-keluarga yang belum pernah pakai kompor gas. Jadi, waktu mereka diiming-imingi tabung gas malah ngeri.
“Ini ada pembagian tabung gas,” cerita temanku menirukan petugas RT.
“Loh pak, kalau mbledug piye? Kalau kompor minyak tinggal ditutup goni basah, kalau kompor gas gimana?
“Iya aku enggak mau kompor gas. Waktu diputer aja, bunyinya klek, bikin ngeri. Mending tetep atre minyak tanah,” sambut yang lain.
Jadilah petugas di kawasan itu mumet. Gas bertumpuk, warga enggak mau trima. Akhirnya, tengah malam ketua RT dan beberapa anak buahnya bergerilya. Di depan pintu beberapa rumah dihadiahi tabung gas.
Subuh-subuh orang-orang yang keluar rumah jadi ramai, plus clingak-clinguk. Apesnya, sampai matahari terbit beberapa tabung gas masih ajeg di depan pintu. Tapi sebagian lagi sudah raib. Dan itu bikin lega pak RT. Tapi beberapa hari kemudian baru ketahuan, rumah-rumah yang disangka sudah menerima tabung gas, ternyata tetap pakai kompor minyak. Katanya sih dijual lagi.
Weeeh?!@#$%^*)

