Iiiih Sadis
DUA minggu lalu saya ke Wakatobi, kabupaten mekaran baru di Sulawesi tenggara dengan ibu kota kabupaten Wangi-Wangi. Maksudnya sih mau bertugas sambil santai. Tapi ya ampyuuun, ternyata perjalanannya memakan waktu berhari-hari. Gila bener. Begini nih rutenya:
Hari pertama:
- berangkat jam setengah delapan malam dari Bandara Soekarno Hatta menuju Kendari, transit di Makassar. Sampai Kendari sudah tengah malam, menginap satu malam
Hari kedua:
- Pagi sekitar pukul 10.00 WIT berangkat dengan kapal penumpang menuju Wakatobi. Kapal ini berlayar rute Kendari-Wakatobi seminggu dua kali. Harga tiket Rp100.000 - 150.000. Waktu perjalanan sembilan jam. Itu berarti sampai Wangi-wangi sekitar pukul 19.00, dan kenyataannya hampir mendekati pukul 21.00 WIT.
Hari ketiga:
- Mengunjungi suku Bajo (hmmmm…)
- Mengunjungi Pulau Hoga
Dua pulau itu dikunjungi dengan menyewa kapal penumpang kecil. Selesai kunjungan (kembali ke Wangi-Wangi) — disesuaikan dengan jadwal pasang surut air laut, pukul 16.00 WIT
- Kembali ke Kendari. Tapi karena kapal penumpang dari Wangi-Wangi belum ada (hanya satu minggu dua kali), maka perjalanan dilakukan melalui rute Bau Bau. Kapal penumpang Wangi-Wangi-Bau Bau berangkat pukul 21.00, tiba di tujuan pukul 05.00 WIT. Dilanjutkan kapal cepat Bau Bau-Kendari. Berangkat pukul 07.30, tiba pukul 12.00.
- Pesawat Kendari-Jakarta, Merpati Airlines, berangkat pukul 17.00 WIT
Huaaah…kebayang’kan pegel-pegelnya. Beberapa teman menderita mabuk laut. Teman saya — orang Maluku — langsung berkomentar: “Iiiih sadis.”
Untunglah saya berhasil menghindari penyakit laut itu. Tapi flu yang belum sembuh benar jadi tambah parah.
Dengan kondisi perjalanan seperti itu, bagaimana bisa Wakatobi mengandalkan sektor pariwisata? Ya toh…lamanya perjalanan tanpa pesawat rasanya tidak seimbang dengan niat berwisata. Rata-rata orang Indonesia mengambil cuti satu minggu. Pengambilan jatah dua minggu bisa dibilang jarang dilakukan. Dengan asumsi seperti itu, berarti tiga hari cuti habis di perjalanan …duuuuh….sangar noooo
Menyadari keterbatasan akses, Pemda Kabupaten Wangi-Wangi sudah mulai membangun bandara. Rencananya akan diresmikan pertengahan 2008. Lumayan-lah meski panjang landasan baru 1.500 m. Itu berarti untuk pesawat jenis foker.
Dari beberapa perjalanan yang saya lakukan ke Indonesia timur, akses benar-benar menentukan kemajuan suatu daerah. Jadi, tidak mengherankan jika kabupaten-kabupaten di Indonesia timur, rela membayar subsidi (biasanya ke Merpati Airlines) sebesar Rp10 miliar setahun. Tujuannya cuma satu, supaya wilayahnya tetap diterbangi. Dan biasanya karena ‘monopoli’, keluhan dari konsumen bermunculan. ‘Merpati seenaknya mengubah jadwal terbang.’ Kira-kira begitulah komentar yang sering saya dengar.
Jadi, keterbatasan akses benar-benar mengerikan. Memengaruhi kemajuan di semua bidang. Ekonomi sudah jelas, pun pendidikan.
(Bersambung… Bajo…)

