HarikuNovember 20, 2007 2:58 pm

Iiiih Sadis
DUA minggu lalu saya ke Wakatobi, kabupaten mekaran baru di Sulawesi tenggara dengan ibu kota kabupaten Wangi-Wangi. Maksudnya sih mau bertugas sambil santai. Tapi ya ampyuuun, ternyata perjalanannya memakan waktu berhari-hari. Gila bener. Begini nih rutenya:

Hari pertama:
- berangkat jam setengah delapan malam dari Bandara Soekarno Hatta menuju Kendari, transit di Makassar. Sampai Kendari sudah tengah malam, menginap satu malam

Hari kedua:
- Pagi sekitar pukul 10.00 WIT berangkat dengan kapal penumpang menuju Wakatobi. Kapal ini berlayar rute Kendari-Wakatobi seminggu dua kali. Harga tiket Rp100.000 - 150.000. Waktu perjalanan sembilan jam. Itu berarti sampai Wangi-wangi sekitar pukul 19.00, dan kenyataannya hampir mendekati pukul 21.00 WIT.

Hari ketiga:
- Mengunjungi suku Bajo (hmmmm…)
- Mengunjungi Pulau Hoga
Dua pulau itu dikunjungi dengan menyewa kapal penumpang kecil. Selesai kunjungan (kembali ke Wangi-Wangi) — disesuaikan dengan jadwal pasang surut air laut, pukul 16.00 WIT
- Kembali ke Kendari. Tapi karena kapal penumpang dari Wangi-Wangi belum ada (hanya satu minggu dua kali), maka perjalanan dilakukan melalui rute Bau Bau. Kapal penumpang Wangi-Wangi-Bau Bau berangkat pukul 21.00, tiba di tujuan pukul 05.00 WIT. Dilanjutkan kapal cepat Bau Bau-Kendari. Berangkat pukul 07.30, tiba pukul 12.00.
- Pesawat Kendari-Jakarta, Merpati Airlines, berangkat pukul 17.00 WIT

Huaaah…kebayang’kan pegel-pegelnya. Beberapa teman menderita mabuk laut. Teman saya — orang Maluku — langsung berkomentar: “Iiiih sadis.”
Untunglah saya berhasil menghindari penyakit laut itu. Tapi flu yang belum sembuh benar jadi tambah parah.

Dengan kondisi perjalanan seperti itu, bagaimana bisa Wakatobi mengandalkan sektor pariwisata? Ya toh…lamanya perjalanan tanpa pesawat rasanya tidak seimbang dengan niat berwisata. Rata-rata orang Indonesia mengambil cuti satu minggu. Pengambilan jatah dua minggu bisa dibilang jarang dilakukan. Dengan asumsi seperti itu, berarti tiga hari cuti habis di perjalanan …duuuuh….sangar noooo

Menyadari keterbatasan akses, Pemda Kabupaten Wangi-Wangi sudah mulai membangun bandara. Rencananya akan diresmikan pertengahan 2008. Lumayan-lah meski panjang landasan baru 1.500 m. Itu berarti untuk pesawat jenis foker.

Dari beberapa perjalanan yang saya lakukan ke Indonesia timur, akses benar-benar menentukan kemajuan suatu daerah. Jadi, tidak mengherankan jika kabupaten-kabupaten di Indonesia timur, rela membayar subsidi (biasanya ke Merpati Airlines) sebesar Rp10 miliar setahun. Tujuannya cuma satu, supaya wilayahnya tetap diterbangi. Dan biasanya karena ‘monopoli’, keluhan dari konsumen bermunculan. ‘Merpati seenaknya mengubah jadwal terbang.’ Kira-kira begitulah komentar yang sering saya dengar.

Jadi, keterbatasan akses benar-benar mengerikan. Memengaruhi kemajuan di semua bidang. Ekonomi sudah jelas, pun pendidikan.
(Bersambung… Bajo…)

Hariku 9:49 am

MACET
Soal macet, Jakarta bener-bener gudangnya. Setiap ada tugas keluar kantor, lututku langsung lemes. Terbayang berjam-jam perjalanan. Baru begitu saja, energi rasanya sudah terkuras. Tapi kalau tidak dijalani, rasanya rugi. Bisa-bisa kuper.

BANJIR
Banjir? Wah ini bikin aku trauma dot com. Gimana enggak, setiap hujan deras, kaki maunya melangkah ke teras , mata melotot ke got besar di depan rumah. Itu cuma untuk menjawab pertanyaan, airnya sudah sampai di garis atas got atau belum? Kalau kebetulan sedang di luar rumah, maunya telpon melulu, cuma tanya, apakah rumah masih aman? Ya ampuuun…

Masih soal banjir, aku jadi ingat beberapa hal yang bikin grrrhg! Setelah banjir dasyat awal 2007, ternyata tetap tidak ada kegiatan perbaikan dari pemerintah. Yang ada malah jalan dibikin tinggi lagi, sementara saluran mampet atau jalan yang tidak ada saluran dibiarkan. Bahkan beberapa jalan di deket komplekku, mulai kena proyek beton. Loh…loh..loh…piye to, resapan berarti kian berkurang. Bener-bener cuma mikir proyek!

TABUNG GAS
Dua minggu lalu rumahku didatangi petugas RT. Mereka minta fotokopi kartu keluarga sama KTP. Dua kali datang, pagi dan sore keesokan harinya.

“Buat apa to pak?”

“Pembagian tabung gas.”

“Saya sudah punya, mungkin ada yang lebih butuh?”

“Sayang loh bu, jatahnya dapat dua.”

“Hah?”

“Iya terima saja, nanti kalau enggak kepakai kasih ke orang,” sambut salah seorang tetanggaku yang kebetulan ada di depan rumah.

(????…wah….apa gak salah?)

Suatu sore, cerita pembagian tabung gas menyeruak di kantor. Soal tidak tepat sasaran sih sudah bukan kisah aneh lagi. Tapi temanku yang rumahnya di Jakarta Timur punya cerita lucu. Dia memersoalkan kurangnya penyuluhan ke keluarga-keluarga yang belum pernah pakai kompor gas. Jadi, waktu mereka diiming-imingi tabung gas malah ngeri.

“Ini ada pembagian tabung gas,” cerita temanku menirukan petugas RT.

“Loh pak, kalau mbledug piye? Kalau kompor minyak tinggal ditutup goni basah, kalau kompor gas gimana?

“Iya aku enggak mau kompor gas. Waktu diputer aja, bunyinya klek, bikin ngeri. Mending tetep atre minyak tanah,” sambut yang lain.

Jadilah petugas di kawasan itu mumet. Gas bertumpuk, warga enggak mau trima. Akhirnya, tengah malam ketua RT dan beberapa anak buahnya bergerilya. Di depan pintu beberapa rumah dihadiahi tabung gas.

Subuh-subuh orang-orang yang keluar rumah jadi ramai, plus clingak-clinguk. Apesnya, sampai matahari terbit beberapa tabung gas masih ajeg di depan pintu. Tapi sebagian lagi sudah raib. Dan itu bikin lega pak RT. Tapi beberapa hari kemudian baru ketahuan, rumah-rumah yang disangka sudah menerima tabung gas, ternyata tetap pakai kompor minyak. Katanya sih dijual lagi.
Weeeh?!@#$%^*)