HarikuOctober 25, 2007 6:17 am

DI dalam secangkir kopi tersimpan banyak cerita, keluh, kesah, amarah, acuh, prihatin dan khawatir yang mengalir dari bibir sensual, tipis, merah, sinis, hingga dower. Saya pun terdiam.

“Kita seperti berada di tengah gua temaram yang tak jelas mana ujung mana pangkal,” tutur salah satu bibir di antara sekian banyak rekahan.

“Bukan. Kita seperti bubuk jagung dalam kopi tubruk yang tengah dipinggir-pinggirkan,” ujar yang lain.

“Atau mungkin segelas capucino yang buihnya dianggap tak berguna. Padahal, capucino tanpa buih berarti bukan capucino,” kata bibir lain.

Maka, malam itu yang hadir tanpa bintang benar-benar temaram. Saya hanya bisa berkata:
“Dalam situasi seperti ini, saya rasa sebaiknya kita semua berusaha mengembangkan pikiran positif. Sebab, itulah yang akan menyelamatkan psikologis masing-masing.”

Uuuuh, saya jadi tueek begini!

HarikuOctober 24, 2007 7:54 am

SELALU ada kejutan di setiap tikungan — sampeyan bener ndoro kakung!
Sebuah pilihan terkadang merupakan harga yang harus kita bayar. Meski terkadang harus kita tanggung dalam rentang waktu yang terasa kian panjang.

HarikuOctober 23, 2007 2:29 pm

IBU saya meninggal pertengahan Agustus lalu. Menjelang Lebaran, ayah saya masuk icu karena serangan jantung dan penyempitan pembuluh jantung. Apakah menjadi tahun yang berat? Bisa iya bisa juga tidak. Tapi yang jelas, semua mengalir begitu saja. Lengkap dengan bumbu kehidupan lainnya. Keluarga, suasana kantor, pertemanan, dan romantisme basi yang masih juga ada di hati.

Malam ini saya jadi banyak menulis dan mengingat. Termasuk mimpi adik bungsu saya yang berhasil menciutkan hati dan hampir saja meruntuhkan pertahanan airmata saya.

Dalam mimpinya, dia didatangi seseorang yang katanya dikelilingi cahaya terang benderang. Orang itu berkata pada adik saya:
“Waktumu sudah dekat.”

adik saya bertanya:
“Maksudnya apa?”

Orang dengan cahaya terang itu menjawab:
“Iya waktumu sudah dekat.”

Dalam mimpi, adik saya masih terus ingin terus mendesak, tapi kemudian dia terbangun.

Saya kemudian mengatakan pada dia:
“Mimpinya kok seram?”

Dia menjawab:
“Enggak ah, biasa saja. Siapa tahu yang dimaksud orang itu, waktu saya untuk menjadi kaya sudah dekat.”

Amin, amin, amin!

Hariku 1:55 pm

APA yang salah dengan ingatan? Jelas tidak ada. Tapi saya seringkali kesal dengan sifat pelupa yang luar biasa mengganggu. Lupa meletakkan barang, lupa nomor telepon, lupa janji bertemu, lupa nama orang, lupa wajah orang, lupa pernah bertemu orang, dan masih banyak lupa yang membuat saya sering kebingungan sendiri. Siyalnya, saya ini kok ya jarang bahkan tidak pernah lupa makan, lupa tidur, atau pun lupa menyalakan rokok.

Dari semua lupa itu, saya baru menyadari bahwa ternyata bisa menjadi lupa itu merupakan berkah. Tapi itu tadi, saya tidak bisa lupa untuk sesuatu yang ingin saya lupakan. Nah, ini jadi repot. Ya sudahlah, saya harus bisa juga belajar mensyukuri, karena sampai sekarang saya masih diberi kesehatan pikiran alias tidak menjadi lupa ingatan.

Tapi ngomong-ngomong, saya sungguh ingin bersulang, melupakan beberapa kenangan. Tapi kok susah. Tetap melekat, memunculkan rasa sakit, nyaris rutin seperti kedutan.
Oalaah…hanya asma Allah tempat saya bersandar, supaya ingatan saya tetap waras.