DI dalam secangkir kopi tersimpan banyak cerita, keluh, kesah, amarah, acuh, prihatin dan khawatir yang mengalir dari bibir sensual, tipis, merah, sinis, hingga dower. Saya pun terdiam.
“Kita seperti berada di tengah gua temaram yang tak jelas mana ujung mana pangkal,” tutur salah satu bibir di antara sekian banyak rekahan.
“Bukan. Kita seperti bubuk jagung dalam kopi tubruk yang tengah dipinggir-pinggirkan,” ujar yang lain.
“Atau mungkin segelas capucino yang buihnya dianggap tak berguna. Padahal, capucino tanpa buih berarti bukan capucino,” kata bibir lain.
Maka, malam itu yang hadir tanpa bintang benar-benar temaram. Saya hanya bisa berkata:
“Dalam situasi seperti ini, saya rasa sebaiknya kita semua berusaha mengembangkan pikiran positif. Sebab, itulah yang akan menyelamatkan psikologis masing-masing.”
Uuuuh, saya jadi tueek begini!

