PERANG tengah berkecamuk di tempat saya. Masing-masing melancarkan serangan. Terkadang mabuk kemenangan, terkadang banjir tekanan. Masing-masing kian membabi buta. Tujuan berubah dan cara pun berubah.
“Dalam kondisi seperti ini, coba sebutkan, pihak mana yang tidak tercemari subyektifitas?” sebut salah seorang teman saya.
Begitulah adanya. Masing-masing lebih senang mendengar suara yang punya keberpihakan mutlak, meski terkadang berupa fitnahan dan desas-desus tak jelas. Hanya sedikit yang masih bisa berpikir jernih. Jadilah pertemanan seringkali tak lagi dipertimbangkan.
Beberapa hari lalu, saya merasa begitu bersyukur memiliki teman (meski sedikit) yang masih bisa menerima perbedaan dan tak segan saling mengingatkan. Itu membuat saya tetap bisa bertahan di tengah guncangan.
Saya bangga karena tidak ikut merendahkan diri — terseret dalam penyebaran fitnah. Saya senang karena masih bisa mensyukuri hal-hal kecil yang menurut saya sungguh ruarrr biasa.
NB: Saya berterimakasih pada teman-teman saya, termasuk seorang teman yang saya rasa layak dijadikan teladan. Mampu mengalahkan ego dan menekan harga diri, meski sudah mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya dari orang terdekat saya. Dengan penuh hormat, sekali lagi saya menyampaikan permintaan maaf saya.


kenapa gak segera keluar aja? itu bukan perangmu kan? kapan kita nge-date? hehehe…
Comment by ndoro kakung — September 7, 2007 @ 5:46 am