HarikuSeptember 11, 2007 11:25 am

Suatu hari:
“Aku hari ini dimarahi ibu guru.”
“Loh kenapa?”
“Soalnya aku nakal.”
“Ngapain?”
“Aku ganggu temen-temenku. Waktu berdoa, baris, aku colek-colek.”
“Oooh.”

Lain hari:
“Hari ini aku jadi anak manis.”
“Bagus dong!”

Kali lain:
“Aku ditegor ibu guru mama.”
“kenapa?”
“Aku ketiduran di kelas.”
“Kok bisa?”
“Iya aku ngantuk, terus ketiduran. Ibu guru bilang: …ayo bangun, jangan tidur.
“Terus kamu jawab apa?”
“maaf bu guru, aku ngantuk, jadi ketiduran.”

Di lain waktu:
“Mama, aku dimarahin lagi sama ibu guru.”
“Loh?”
“Iya.”
“Kenapa nak?”
“Soalnya aku ngajak temen-temenku, naik ke atas meja, terus joget.”
Alamak!

Belum lama ini:
“Laose cao an. Wo men Hao sie sie. ik, ol, san, se u…”
“Wah bahasa apa itu nak?”
“Ini namanya Bahasa Mandarin ma. Masak sih enggak tau?”
Lalu, dia asyik melantunkan beberapa lagu. Beberapa hari kemudian, dia menyanyi lagi, sambil memberitahu arti atau terjemahannya.

Tadi siang:
“Aku senang ikut ekstrakurikuler.”
“Baguslah. Kenapa senang?”
“Soalnya aku disuruh maju terus.”
“…..???? Hari ini diajari apa?”
“Diajari telur mengambang di air asin. Pertama-tama telur dimasukkan ke dalam tabung isi air, terus telurnya tenggelam. Ibu guru mau ambil susah. Akhirnya dipancing, tapi pancingnya kependekkan. Terus ibu guru ambil garam, dimasukkan ke tabung. Telurnya ngambang mama.”
“Wah hebat.”
“Iya, aku nanti mau percobaan sama teteh.”

Semua cerita putri kecilku yang sekarang duduk di TKA, sungguh selalu menyegarkan hari-hariku.

Hariku 11:11 am

Suatu hari:
“Mama aku Katolik.”
“Oke.”

Lain waktu:
“Ayo kita berdoa.”
“Aku sekarang Islam mama. Jadi aku sholat.”
“Oke.”

Lain hari:
“Mama aku mau Hindu saja.”
“Oke.”
“Bagaimana cara berdoanya?”
“Mama kurang paham nak.”
“Oh, ya sudah.”

Percakapan dengan teteh (pengasuhnya):

“Teteh Islam’kan?”
“Iya.”
“Kenapa teteh enggak berdoa atas nama bapa dan putra dan roh kudus saja?”
“Soalnya keluarga teteh dari kecil sudah Islam.”
“Oh…”

Begitulah putri kecilnya. Semakin pandai bercakap, bertanya, mengamati, dan berkomentar. Sebentar lagi, sekitar dua setengah bulan lagi, dia akan genap berusia lima tahun. Dan seperti umumnya para ibu, saya begitu mencintai dia. Selalu rindu dengan celoteh dan senyum manis berhias lesung pipit di pipi kanannya. Oooh, saya benar-benar sudah ditaklukkan!

HarikuSeptember 7, 2007 12:42 pm

Di tempat saya,
kian banyak luka
banyak yang terluka
banyak yang melukai
banyak yang dilukai
saling melukai
duuuuh dasyatnya luka!

HarikuSeptember 6, 2007 4:26 pm

PERANG tengah berkecamuk di tempat saya. Masing-masing melancarkan serangan. Terkadang mabuk kemenangan, terkadang banjir tekanan. Masing-masing kian membabi buta. Tujuan berubah dan cara pun berubah.
“Dalam kondisi seperti ini, coba sebutkan, pihak mana yang tidak tercemari subyektifitas?” sebut salah seorang teman saya.

Begitulah adanya. Masing-masing lebih senang mendengar suara yang punya keberpihakan mutlak, meski terkadang berupa fitnahan dan desas-desus tak jelas. Hanya sedikit yang masih bisa berpikir jernih. Jadilah pertemanan seringkali tak lagi dipertimbangkan.

Beberapa hari lalu, saya merasa begitu bersyukur memiliki teman (meski sedikit) yang masih bisa menerima perbedaan dan tak segan saling mengingatkan. Itu membuat saya tetap bisa bertahan di tengah guncangan.

Saya bangga karena tidak ikut merendahkan diri — terseret dalam penyebaran fitnah. Saya senang karena masih bisa mensyukuri hal-hal kecil yang menurut saya sungguh ruarrr biasa.

NB: Saya berterimakasih pada teman-teman saya, termasuk seorang teman yang saya rasa layak dijadikan teladan. Mampu mengalahkan ego dan menekan harga diri, meski sudah mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya dari orang terdekat saya. Dengan penuh hormat, sekali lagi saya menyampaikan permintaan maaf saya.