SAYA ingin bercerita tentang penghambaan dan perbudakan di Sumba Barat dan Sumba Timur. Saat ini penghambaan masih terjadi, meski sudah jauh berkurang. Adat di daerah ini memang masih kuat dan memungkinkan orang terpandang memiliki satu budak atau mereka sebut hamba.
Benar-benar hamba, karena yang dihambakan melakukan dengan sukarela. Dua kutub (tuan dan hamba) bekerjasama, hingga menyuburkan kebiasaan pengorbanan.
Seorang hamba merasa terhormat jika bisa masuk liang kubur bersama tuannya. Itu berarti, mereka akan minta dikubur hidup-hidup atau sengaja dilakukan ritual untuk memenggal kepala menemani sang tuan yang sudah pindah ke dunia lain. Alhasil, sekitar duapuluh tahun lalu, setiap ada kematian, polisi sibuk berjaga-jaga, lengkap dengan bedil di tangan.
Hasilnya lumayan. Sekarang, kebiasaan itu sudah jauh berkurang. Sebagai ganti, mereka akan memotong kuda atau hewan lain. Menjadi perlambang menemani sang tuan. Meski demikian, tetap saja ada kasus-kasus khusus. Seorang teman yang berasal dari Sumba Barat mengatakan, dua tahun lalu ada seorang hamba berhasil mengelabui aparat, ikut masuk ke kuburan sang tuan.
Sementara itu seorang teman yang menjadi kontributor di sebuah surat kabar nasional mengatakan, sekitar satu tahun lalu, ada sebuah keluarga yang mengorbankan anaknya untuk menemani sang tuan ke liang kubur. Proses penemanan itu dilakukan dengan ritual lama, membunuh. Tapi sepertinya istilah membunuh kurang tepat, karena keluarga dan anak yang dikorbankan melakukan dengan sukarela.
Kasus ini diketahui umum, dilaporkan pada aparat, dan kini masih dalam proses hukum. Aparat mencurigai keluarga sang tuan. Tapi toh mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena ibu sang anak mengatakan bahwa dialah yang membunuh anaknya. Maka, kini ibu itu menjalaniproses hukum, sedangkan keluarga tuannya tetap bebas merdeka.
Sebagai informasi tambahan, di Sumba Barat, makam dibuat dari batu (megalithikum). Bagi yang masih menganut animisme — Merapu — dikubur dalam kotak batu besar yang kemudian diletakkan di atas empat tiang kaki yang juga terbuat dari batu. Konsep penyanggaan itu bermakna bahwa orang yang dikubur sudah berada di dunia lain yang tidak menginjak tanah.
Tapi, ada juga yang dikubur di dalam tanah, tetap dengan hiasan batu dan empat penyangga. Di Sumba Baray model seperti ini menandakan bahwa yang meninggal sudah menganut agama Kristen, Katolik, Islam, atau agama lain.
Di Sumba Timur, model makam terlihat sama. Hanya saja, semua dimakamkan di tanah. Falsafahnya, sudah kembali ke pelukan bumi.Yang menyamakan Sumba Barat dan Timur ialah posisi jenasah. Begitu seseorang meninggal, maka akan segera diposisikan duduk, dengan lutut menyentuh perut seperti layaknya posisi janin. Kemudian seluruh tubuh orang yang meninggal dibebat kain tradisional, bak mumi. Setelah itu baru dimasukkan ke dalam batu (Sumba Barat) atau tempat yang sudah dipersiapkan di dalam tanah (Sumba Timur dan sebagian Barat).
Sampai sekarang, model makam seperti itu masih bertahan. Hanya saja, mulai banyak yang memilih kepraktisan. Kini, banyak penggunaan batu yang diganti dengan semen. dari sini, muncul perlambang lanjutan status sebuah keluarga. Penggunaan batu menunjukkan status sosial lebih tinggi dibanding semen.
Begitulah sekelumit cerita yang saya peroleh dalam perjalanan ke Sumba Barat-Sumba Timur-Alor- Kupang, beberapa waktu lalu. Masih banyak yang ingin saya tulis, sebagai bagian dari catatan kenangan dan berbagi pengalaman. Mungkin besok, mungkin juga besoknya lagi. Menunggu kesempatan datang.

