Dua kali saya menyesal ditinggal pergi seseorang. Bukan karena kepergian mereka ke rumah abadi, tapi karena saya belum melakukan apa yang seharusnya saya lakukan.

Sabtu pagi, saya mendengar kepergian seseorang. Sabtu siang saya datang ke rumah duka. Melihat om saya dalam peti, dengan darah masih mengalir dari sudut bibir. Terus terang, saya takut. Kepala saya rasanya berpendar, melayang tidak menentu.
Setelah berdoa, saya memilih menyingkir. Tapi saya merasa bersalah, mengapa harus takut? Sekali lagi, saya berdiri di samping peti memandangi wajahnya yang sudah bersih, tak ada lagi darah. Kepala saya sekali lagi berpendar, seperti melayang. Saya memutuskan pergi ke warung.

Setengah jam kemudian, saya berdiri lagi di sampingnya. Kali ini ada anak dan ponakannya yang datang jauh dari Tulungangung, Jawa Timur. Kami berbincang:
“Babe sering sekali menyebut nama kamu. Dia bercerita dimana kamu bekerja, bagaimana anakmu, dan masih banyak lagi,” kata ponakannya.
Perasaan saya mulai tidak enak. Saya dekatkan pandangan ke wajah om saya itu, dan saya melihat banyak tahi lalat. Saat itu kenangan membanjir.
di masa kecil. dia sering datang membawa mangga, mengajak jalan-jalan, dan menonton. Saat saya melahirkan, dia datang sendiri menengok, melihat pertumbuhan anak saya, padahal usianya sudah hampir 70 tahun.
Yang paling menyesakkan, kenangan ketika saya digendong, dan dengan kurang ajarnya saya menghitung berapa banyak tahi lalat di wajahnya.

Sampai di situ, saya merasa kehilangan, menyesal belum melakukan apa pun. Menyesal karena selalu menunda menengok. Dan saya tak bisa menahan jatuhnya air mata.
Selama ini, dia tinggal sendiri. Ketika telepon tidak juga diangkat, anaknya mendobrak pintu pada pukul 00.00 WIB (peralihan Jumat ke Sabtu). Dia ditemukan sudah meninggal dunia dalam posisi duduk. Tangan terkepal seperti menahan sakit dengan lidah tergigit.

Selamat jalan…maafkan saya