Banyak betul musibah diakhir dan awal tahun. Seperti biasa, cuaca menjadi kambing hitam, meski kontribusinya saya yakin memang ada dan cukup besar.
Tapi peristiwa-peristiwa itu mengingatkan saya pada perbincangan dan cerita dari beberapa orang.
Antara lain pemasok gas (tabung pemadam kebakaran) juga seseorang yang sduah puluhan tahun berpengalaman menjadi nahkoda. Kini dia bekerja di Departemen Perhubungan dan memiliki beberapa kapal penumpang.
Berapi-api, pemasok gas itu mengatakan: korupsi dimana-mana. Keselamatan banyak orang sudah tidak lagi dipedulikan.
“Kamu tahu, tabung pemadam kebakaran yang ada di pesawat dan kapal itu banyak kosong. Laporan pengisian memang ada, padahal sebetulnya tidak. Uangnya masuk kantong pribadi tanpa benar-benar ada pengisian. Ini pengalaman pribadi,” begitu kira-kira yang diucapkan.
……
Lebih berapi-api lagi, seorang bekas nahkoda yang bekerja di Departemen Perhubungan mengungkap tentang kebohongan saat uji kelayakan:
Begini ceritanya: “saya mau menceritakan semua keburukkan saat uji kelayakan. Saya benar-benar mau menjadi sumber, asal nama saya tidak disebutkan.”
“Hampir semua uji kelayakan bohong. Mereka tidak benar-benar memeriksa pesawat atau pun kapal penumpang. Yang penting uang pelicin. Ini sungguh-sungguh terjadi karena saya juga mengalami. Surat bisa keluar dengan mudah jika Anda punya uang. Itu terjadi disetiap bagian pemeriksaan. Jadi, jangan percaya dengan surat layak terbang atau berlayar. Saya sudah menjadi nahkoda puluhan tahun dan tidak pernah mengalami kesulitan berarti. Sebab, kapal yang saya komandoi benar-benar layak jalan. Tapi banyak yang akhirnya hanya memberi uang pelicin dan melakukan tambal sulam onderdil supaya tetap bisa jalan. Tidak ada pemeriksaan yang benar,” serunya.
…..
Dan itulah yang terjadi di jagad trasnportasi Indonesia. Sampai-sampai informasi resmi pun menipu. Berita awal 90 tewas, 12 hidup — berikutnya 90 tewas, 12 hidup tapi belum ditemukan — terakhir informasi itu ternyata palsu. Padahal SBY, JK, dan beberapa pejabat berwenang sudah terlanjur bicara.
Ladalah…Indonesia mengawali tahun dengan bencana dan kebohongan publik. Sampai-sampai Andreas Harsono dan istrinya Sapariah senang sekali dengan guyonan plesetan Indopahit. Beberapa teman bahkan becanda dengan keras tentang sebuah kutukan.
Semoga tidak seburuk itu.

