Ruang bukuku terabaikan. Lama tidak diperbarui. Padahal tahun sudah bertambah satu. Sumpah pramuka, begitu ada waktu saya akan kembali menengok. Menulis dan mengupload cover buku seperti yang pernah saya janjikan.
Malam ini mood saya jelek sekali. Mungkin pengaruh bulan purnama. Tapi mestinya tidak. Saya’kan bukan manusia srigala?
Saya takut sekali melakukan sesuatu yang konyol. Jadi berkali-kali saya mensugesti diri: sedikit lagi…sedikit lagi…waktu akan segera berlalu. Pulang, tidur, dan besok semuanya akan baik-baik saja.
Larut malam, saya duduk bersama seorang kawan di tenda biru. Tempat nongkrong teman-teman jika ada di kantor. Merokok ditemani segelas teh manis. Duduk di kursi halaman terbuka. Kebetulan cuaca bagus.
Jadilah saya memandangi pancaran bulan bulat penuh. Langit cerah, biru gelap dengan selingan awan putih bergelombang-gelombang kecil. Orang di daerah pantai bilang, awan seperti itu disebut awan sisik. Menjadi pertanda para nelayan akan lebih mudah mencari ikan. Rasanya tak bosan saya memandang bulan. Sinarnya memancar, membentuk pelangi bulat disekelilingnya.
Saya akan baik-baik saja. Sebentar lagi…sebentaaar lagi…tiba waktu pulang, tidur, dan esok semua akan baik-baik saja.

