(Pindahan 27 Desember 2006)

Ini sepenggal kisah di Saritem, Bandung

“Saritem? memang masih ada?”
“masih! Ayo lihat, di sana juga ada koh teki.”
“Siapa itu?”
“temen.”
“hayuuk berangkat.”
“hayuklah.”

Sampailah kita di Kompleks Saritem. Masuk sebuah jalan cukup lebar, bisa berpapasan dua mobil. Di mulut jalan ada tempat biliar dan kantor polisi. Kami jalan terus, kemudian mulai menapaki salah satu gang yang dipenuhi anak muda.
“permisi…”
“silakan…”

Jalan terus, beberapa rumah ditempel kertas dengan tulisan besar-besar ‘RUMAH KELUARGA’.
“Untuk membedakan rumah bordir dan bukan,” tutur sepupu suamiku menjelaskan.
“supaya pelanggan tidak salah masuk,” ujar seorang ibu di salah satu rumah yang ditulisi Rumah Keluarga.

Akhirnya kami memasuki gang yang hanya cukup menampung dua badan manusia. Anak-anak kecil berlarian riang gembira. Bangunan bertuliskan Rumah Keluarga kian banyak. Berdampingan dengan rumah yang terkesan biasa dengan pintu dan jendela terbuka lebar.
Di dalamnya? fuiih… cewek-cewek muda dengan pakaian super seksi dan dandanan lengkap. Mereka duduk, mengobrol, menanti kunjungan, menanti dikunjungi. Wangi parfum merebak, menusuk hidung.

Kami terus berjalan menyusuri gang sempit, sesekali mengobrol dengan para pramuria dan warga biasa. Sampai kemudian menemukan satu-satunya toko kelontong kecil. Memajang pakaian-pakaian seksi, parfum, sabun, kosmetik, dan masih banyak lagi.
“itu toko koh teki,” sepupu tadi menjelaskan.

Rombongan yang terdiri dari empat orang masuk ke dalam toko kecil yang dilapisi karpet plastik. Kami mengobrol sambil merokok. Ngalor-ngidul hingga sampailah pada kemampuan koh teki meramal. Dia menghitung berdasarkan kalender China, juga melakukan semacam penerawangan seperti layaknya paranormal. Cukup dasyat!

Disela perbincangan, beberapa gadis muda bertubuh seksi datang membayar utang. Dengan kebapakan, koh teki menawarkan lagi baju-baju baru yang jelas seksi. Lain menit, penjual roti datang mengeluhkan sesuatu kemudian pergi lagi.
“baik tidaknya semua ada di hati kita. agama itu semua baik. tidak perlu dipertentangkan, itu hanya kulit,” katanya tiba-tiba menyimpang dari ramalan.

Begitulah, obrolan berlanjut. Tak terasa dua jam terlewati. Kami keluar dari kompleks Saritem. Di benak saya tersisa pertanyaan, sehatkah lingkungan itu untuk anak-anak?
Teman saya mengatakan: “Pernah ada penelitian yang dilakukan selama lima tahun, dan ternyata anak-anak di sana hidup normal alias tidak lantas menjadi pelacur.”

Hmmm…Saritem.