Marah dan putus asa!
Itu rasanya saat saya punya kesempatan mendengar rekaman wawancara antara seorang pekerja sosial dengan dua anak berusia tujuh tahun, korban pencabulan. Ironisnya dilakukan ayah kandung sendiri yang seharusnya menjadi pelindung. Anak pertama kita sebut saja Menik, anak kedua Ati.
….
1. Kasus Menik memberi gambaran tentang teori/anggapan pada umumnya tentang salah satu dampak kemiskinan dan kebodohan. Ibu Menik tidak bekerja, ayahnya kuli bangunan.
“pensil bapak dimasukin ke tempat pipis Menik. Sakit, tapi sekarang sudah enggak,” begitu katanya dengan suara masih sangat anak-anak. Dan itu membuat hati saya tercabik-cabik.
“Menik marah, bapak menik jambak, tapi Menik dijambak lagi. keras sekali sampai sakit,” ceritanya. Dan kali ini hati saya hancur.
Untung sebelum dilakukan berkali-kali, perbuatan bejat itu diketahui. Kini kasus Menik ditangani pihak berwajib.
….
2. Kasus Ati merobohkan teori pertama. Ibunya S1, ayahnya S2. Keduanya memiliki pekerjaan mapan. Ati mengalami kasus yang sama. Saat terbongkar, ibunya syok. Dan kini kasus ini pun sudah ditangani pihak berwajib.
Menik dan Ati hanya dua bocah yang kebetulan rekamannya saya dengar. Pada kenyataannya, banyak Menik dan Ati lain. Data untuk kasus-kasus seperti ini, akan saya susulkan, segera!
—-
Mendengar semua itu, saya sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Terbayang bagaimana dua peri kecil itu harus berjuang menghadapi hidup yang masih panjang. Setelah dewasa, mereka akan tahu apa yang terjadi, dan bagaimana norma yang belaku.
Saya cuma bisa berharap, semoga mereka bisa mengatasi dan bernapas berdampingan dengan berbagai perasaan yang muncul dari kepedihan itu. Jika tidak, terbayang bagaimana mereka harus terus merasakan kemarahan, dendam, sakit hati, putus asa, perasaan tidak diinginkan, dan rasa rendah diri. Semua itu akan menggerogoti kualitas kehidupan mereka.
Membayangkan itu, hati saya sungguh redam. Mereka barangkali memang butuh psikolog — sekarang sedang dilakukan terapi — tapi lebih dari itu, mereka harus punya sandaran: agama. Dalam hal ini saya percaya, agama bisa menjadi sandaran yang menguatkan.
Saya jadi teringat berbagai perbincangan dan bacaan berkaitan dengan agama. Ada aliran (kiri) yang mengatakan: agama itu seperti candu, meninabobokkan.
Buat saya, jika itu bisa memperbaiki kualitas hidup seseorang, bisa membuat orang bertahan menghadapi derita dan kerasnya kehidupan, kenapa tidak?
Soal agama, seorang teman pernah mengatakan:
“saya tidak peduli kebenaran adanya surga, neraka, atau pun berbagai hal berkaitan dengan agama yang banyak diperdepatkan. Seseorang pernah berkata dan saya setujui: semua agama mengajarkan yang baik, jadi tidak ada ruginya kita percaya dan mengikuti semua hal yang baik. Siapa tahu surga dan neraka itu memang ada. Siapa tahu Tuhan itu memang ada. Jika tidak, maka kita tidak akan rugi. Jika ada, maka kita telah melakukan apa yang seharusnya.”