HarikuJanuary 25, 2007 8:07 am

“mama aku mau ngaji,” kata putriku tiba-tiba.
Dia lalu mengambil buku, duduk di kasur dan mengeluarkan kata-kata sembarang dengan nada seperti orang mengaji.

Usai itu dia bilang lagi:
“mama aku sekarang mau berdoa bareng mama.”
“hayuuuk, tapi giliran kamu yang bicara ya.”
“iya deh.”

Maka, kami berdoa. Putri kecilku berujar:
“Tuhan, terimakasih karena aku punya rumah. aku pengen rumahku lebih bagus lagi. Tuhan, terimakasih karena aku sudah keluar dari perut mama. aku sayang sekali sama mama. Tuhan aku pengen sepeda roda dua. tolong bilangin sama mama supaya beliin aku sepeda roda dua, amin.”

????
Begitulah putri kecilku berdoa.
Setiap waktu, saya selalu teringat pada dua mata beningnya, juga tawa lebarnya yang aduhai manis.

Hariku 4:15 am

Membaca membuat saya gelisah
mengubah persepsi tentang banyak hal
belakangan saya merasa seperti diseret keluar dari zona nyaman
saya hanya berharap, semoga ini merupakan bagian dari proses
pematangan emosi saya yang berantakan

HarikuJanuary 21, 2007 2:10 pm

Marah dan putus asa!

Itu rasanya saat saya punya kesempatan mendengar rekaman wawancara antara seorang pekerja sosial dengan dua anak berusia tujuh tahun, korban pencabulan. Ironisnya dilakukan ayah kandung sendiri yang seharusnya menjadi pelindung. Anak pertama kita sebut saja Menik, anak kedua Ati.
….
1. Kasus Menik memberi gambaran tentang teori/anggapan pada umumnya tentang salah satu dampak kemiskinan dan kebodohan. Ibu Menik tidak bekerja, ayahnya kuli bangunan.

“pensil bapak dimasukin ke tempat pipis Menik. Sakit, tapi sekarang sudah enggak,” begitu katanya dengan suara masih sangat anak-anak. Dan itu membuat hati saya tercabik-cabik.
“Menik marah, bapak menik jambak, tapi Menik dijambak lagi. keras sekali sampai sakit,” ceritanya. Dan kali ini hati saya hancur.

Untung sebelum dilakukan berkali-kali, perbuatan bejat itu diketahui. Kini kasus Menik ditangani pihak berwajib.
….
2. Kasus Ati merobohkan teori pertama. Ibunya S1, ayahnya S2. Keduanya memiliki pekerjaan mapan. Ati mengalami kasus yang sama. Saat terbongkar, ibunya syok. Dan kini kasus ini pun sudah ditangani pihak berwajib.

Menik dan Ati hanya dua bocah yang kebetulan rekamannya saya dengar. Pada kenyataannya, banyak Menik dan Ati lain. Data untuk kasus-kasus seperti ini, akan saya susulkan, segera!
—-

Mendengar semua itu, saya sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Terbayang bagaimana dua peri kecil itu harus berjuang menghadapi hidup yang masih panjang. Setelah dewasa, mereka akan tahu apa yang terjadi, dan bagaimana norma yang belaku.

Saya cuma bisa berharap, semoga mereka bisa mengatasi dan bernapas berdampingan dengan berbagai perasaan yang muncul dari kepedihan itu. Jika tidak, terbayang bagaimana mereka harus terus merasakan kemarahan, dendam, sakit hati, putus asa, perasaan tidak diinginkan, dan rasa rendah diri. Semua itu akan menggerogoti kualitas kehidupan mereka.

Membayangkan itu, hati saya sungguh redam. Mereka barangkali memang butuh psikolog — sekarang sedang dilakukan terapi — tapi lebih dari itu, mereka harus punya sandaran: agama. Dalam hal ini saya percaya, agama bisa menjadi sandaran yang menguatkan.

Saya jadi teringat berbagai perbincangan dan bacaan berkaitan dengan agama. Ada aliran (kiri) yang mengatakan: agama itu seperti candu, meninabobokkan.
Buat saya, jika itu bisa memperbaiki kualitas hidup seseorang, bisa membuat orang bertahan menghadapi derita dan kerasnya kehidupan, kenapa tidak?

Soal agama, seorang teman pernah mengatakan:
“saya tidak peduli kebenaran adanya surga, neraka, atau pun berbagai hal berkaitan dengan agama yang banyak diperdepatkan. Seseorang pernah berkata dan saya setujui: semua agama mengajarkan yang baik, jadi tidak ada ruginya kita percaya dan mengikuti semua hal yang baik. Siapa tahu surga dan neraka itu memang ada. Siapa tahu Tuhan itu memang ada. Jika tidak, maka kita tidak akan rugi. Jika ada, maka kita telah melakukan apa yang seharusnya.”

HarikuJanuary 17, 2007 5:26 pm

Logika?
kalau logika itu berarti lebih sering menyakiti hati orang, buat apa?
tapi kamu pasti tidak akan mengerti, seperti saya tidak mengerti kamu

Dialog:
“tidak ingat setiap hari?”

Jawab saya:
“ooh setiap hari, setiap waktu.”

Toh malam dan esok-esoknya: kamu tak pernah bosan menciptakan nyeri. Semuanya atas nama logika. Jadi buat apa logika? saya harus berpijak pada kata-kata yang mana? karena kamu seperti angin. Dan kali ini saya benar-benar ingin menjadi kapten haddock.

HarikuJanuary 15, 2007 5:15 am

Dari sebuah tempat yang dianggap kotor dan hina, saya menemukan 14 ajaran hidup yang luar biasa. Ajaran lama yang penegasannya menggema di sela iringan musik dangdut, gincu merah, paha mulus, baju seksi, dan semerbak parfum.

1. Musuh utama manusia adalah diri sendiri
2. Kegagalan utama manusia adalah kesombongan
3. Kesalahan utama manusia adalah mencampakkan diri sendiri
4. Dosa utama manusia adalah menipu diri sendiri dan orang lain
5. Kesedihan utama manusia adalah rasa iri hati
6. Sifat manusia yang patut dikasihani adalah rendah diri
7. Sifat manusia yang paling dapat dipuji adalah semangat keuletan
8. Kehancuran terbesar manusia dalah rasa putus asa
9. Harta terbesar manusia hanyalah kesehatan
10. Ketentraman manusia adalah saat suka berderma dan beramal
11. Kekurangan terbesar manusia adalah suka berkeluh kesah
12. Utang terbesar manusia adalah utang budi
13. Hadiah utama manusia adalah lapang dada dan mau memaafkan
14. Kebodohan utama manusia adalah sikap menipu

HarikuJanuary 9, 2007 3:22 pm

lucu, segar, muda.
coba baca blog agus
ambil dari blogwalkingku
edaan tenan
seperti es kelapa muda, siropnya warna jambon
aku tertawa: siapa dewi, siapa surga
tinggal pilih mau dewi atau surga
hahahaha

HarikuJanuary 8, 2007 6:38 am

Banyak betul musibah diakhir dan awal tahun. Seperti biasa, cuaca menjadi kambing hitam, meski kontribusinya saya yakin memang ada dan cukup besar.
Tapi peristiwa-peristiwa itu mengingatkan saya pada perbincangan dan cerita dari beberapa orang.
Antara lain pemasok gas (tabung pemadam kebakaran) juga seseorang yang sduah puluhan tahun berpengalaman menjadi nahkoda. Kini dia bekerja di Departemen Perhubungan dan memiliki beberapa kapal penumpang.

Berapi-api, pemasok gas itu mengatakan: korupsi dimana-mana. Keselamatan banyak orang sudah tidak lagi dipedulikan.
“Kamu tahu, tabung pemadam kebakaran yang ada di pesawat dan kapal itu banyak kosong. Laporan pengisian memang ada, padahal sebetulnya tidak. Uangnya masuk kantong pribadi tanpa benar-benar ada pengisian. Ini pengalaman pribadi,” begitu kira-kira yang diucapkan.
……

Lebih berapi-api lagi, seorang bekas nahkoda yang bekerja di Departemen Perhubungan mengungkap tentang kebohongan saat uji kelayakan:

Begini ceritanya: “saya mau menceritakan semua keburukkan saat uji kelayakan. Saya benar-benar mau menjadi sumber, asal nama saya tidak disebutkan.”

“Hampir semua uji kelayakan bohong. Mereka tidak benar-benar memeriksa pesawat atau pun kapal penumpang. Yang penting uang pelicin. Ini sungguh-sungguh terjadi karena saya juga mengalami. Surat bisa keluar dengan mudah jika Anda punya uang. Itu terjadi disetiap bagian pemeriksaan. Jadi, jangan percaya dengan surat layak terbang atau berlayar. Saya sudah menjadi nahkoda puluhan tahun dan tidak pernah mengalami kesulitan berarti. Sebab, kapal yang saya komandoi benar-benar layak jalan. Tapi banyak yang akhirnya hanya memberi uang pelicin dan melakukan tambal sulam onderdil supaya tetap bisa jalan. Tidak ada pemeriksaan yang benar,” serunya.
…..

Dan itulah yang terjadi di jagad trasnportasi Indonesia. Sampai-sampai informasi resmi pun menipu. Berita awal 90 tewas, 12 hidup — berikutnya 90 tewas, 12 hidup tapi belum ditemukan — terakhir informasi itu ternyata palsu. Padahal SBY, JK, dan beberapa pejabat berwenang sudah terlanjur bicara.

Ladalah…Indonesia mengawali tahun dengan bencana dan kebohongan publik. Sampai-sampai Andreas Harsono dan istrinya Sapariah senang sekali dengan guyonan plesetan Indopahit. Beberapa teman bahkan becanda dengan keras tentang sebuah kutukan.

Semoga tidak seburuk itu.

HarikuJanuary 4, 2007 6:00 pm

Ruang bukuku terabaikan. Lama tidak diperbarui. Padahal tahun sudah bertambah satu. Sumpah pramuka, begitu ada waktu saya akan kembali menengok. Menulis dan mengupload cover buku seperti yang pernah saya janjikan.

Hariku 5:49 pm

Malam ini mood saya jelek sekali. Mungkin pengaruh bulan purnama. Tapi mestinya tidak. Saya’kan bukan manusia srigala?
Saya takut sekali melakukan sesuatu yang konyol. Jadi berkali-kali saya mensugesti diri: sedikit lagi…sedikit lagi…waktu akan segera berlalu. Pulang, tidur, dan besok semuanya akan baik-baik saja.

Larut malam, saya duduk bersama seorang kawan di tenda biru. Tempat nongkrong teman-teman jika ada di kantor. Merokok ditemani segelas teh manis. Duduk di kursi halaman terbuka. Kebetulan cuaca bagus.
Jadilah saya memandangi pancaran bulan bulat penuh. Langit cerah, biru gelap dengan selingan awan putih bergelombang-gelombang kecil. Orang di daerah pantai bilang, awan seperti itu disebut awan sisik. Menjadi pertanda para nelayan akan lebih mudah mencari ikan. Rasanya tak bosan saya memandang bulan. Sinarnya memancar, membentuk pelangi bulat disekelilingnya.

Saya akan baik-baik saja. Sebentar lagi…sebentaaar lagi…tiba waktu pulang, tidur, dan esok semua akan baik-baik saja.

HarikuJanuary 3, 2007 9:09 am

(Pindahan 27 Desember 2006)

Ini sepenggal kisah di Saritem, Bandung

“Saritem? memang masih ada?”
“masih! Ayo lihat, di sana juga ada koh teki.”
“Siapa itu?”
“temen.”
“hayuuk berangkat.”
“hayuklah.”

Sampailah kita di Kompleks Saritem. Masuk sebuah jalan cukup lebar, bisa berpapasan dua mobil. Di mulut jalan ada tempat biliar dan kantor polisi. Kami jalan terus, kemudian mulai menapaki salah satu gang yang dipenuhi anak muda.
“permisi…”
“silakan…”

Jalan terus, beberapa rumah ditempel kertas dengan tulisan besar-besar ‘RUMAH KELUARGA’.
“Untuk membedakan rumah bordir dan bukan,” tutur sepupu suamiku menjelaskan.
“supaya pelanggan tidak salah masuk,” ujar seorang ibu di salah satu rumah yang ditulisi Rumah Keluarga.

Akhirnya kami memasuki gang yang hanya cukup menampung dua badan manusia. Anak-anak kecil berlarian riang gembira. Bangunan bertuliskan Rumah Keluarga kian banyak. Berdampingan dengan rumah yang terkesan biasa dengan pintu dan jendela terbuka lebar.
Di dalamnya? fuiih… cewek-cewek muda dengan pakaian super seksi dan dandanan lengkap. Mereka duduk, mengobrol, menanti kunjungan, menanti dikunjungi. Wangi parfum merebak, menusuk hidung.

Kami terus berjalan menyusuri gang sempit, sesekali mengobrol dengan para pramuria dan warga biasa. Sampai kemudian menemukan satu-satunya toko kelontong kecil. Memajang pakaian-pakaian seksi, parfum, sabun, kosmetik, dan masih banyak lagi.
“itu toko koh teki,” sepupu tadi menjelaskan.

Rombongan yang terdiri dari empat orang masuk ke dalam toko kecil yang dilapisi karpet plastik. Kami mengobrol sambil merokok. Ngalor-ngidul hingga sampailah pada kemampuan koh teki meramal. Dia menghitung berdasarkan kalender China, juga melakukan semacam penerawangan seperti layaknya paranormal. Cukup dasyat!

Disela perbincangan, beberapa gadis muda bertubuh seksi datang membayar utang. Dengan kebapakan, koh teki menawarkan lagi baju-baju baru yang jelas seksi. Lain menit, penjual roti datang mengeluhkan sesuatu kemudian pergi lagi.
“baik tidaknya semua ada di hati kita. agama itu semua baik. tidak perlu dipertentangkan, itu hanya kulit,” katanya tiba-tiba menyimpang dari ramalan.

Begitulah, obrolan berlanjut. Tak terasa dua jam terlewati. Kami keluar dari kompleks Saritem. Di benak saya tersisa pertanyaan, sehatkah lingkungan itu untuk anak-anak?
Teman saya mengatakan: “Pernah ada penelitian yang dilakukan selama lima tahun, dan ternyata anak-anak di sana hidup normal alias tidak lantas menjadi pelacur.”

Hmmm…Saritem.