HarikuDecember 11, 2006 11:07 am

macroni panggang (budhe emjis)
pempek (istri ndorokakung)
salad buah
lodeh
gepuk
ikan asin
sambal
lalap
krupuk
tahu
ayam goreng
hmmmm….ueeenak tenan

ditambah kue tar lapis surabaya
ulang tahun keempat putri kecilku
selamat ulang tahun nak…
I..L.Y

HarikuDecember 6, 2006 1:34 pm

Jumat malam (1/12)
Kisah ayahnya:
Kebetulan, Jumat itu ayahnya pulang awal sekitar pukul 18.00 Wib. Putri kecilku yang belum lama ini genap berusia empat tahun langsung menyambut gembira. Tapi menurut ayahnya, tingkah lakunya ada yang aneh.

“Anak kita salting. Tersenyum-senyum sambil peluk-peluk,” ceritanya.

Tetehnya (pengasuh) mencoba berbicara. Tetapi putri kecilku langsung memotong pembicaraan sambil senyum-senyum dan mengacungkan tinju ke arah tetehnya:

“Jangan bilang-bilang nanti tak tinju,” begitu teriaknya sambil tertawa-tawa (salting).

Usut punya usut ternyata ada kejadian yang membuat tingkah lakunya menjadi salting tidak karuan. Tetehnya bercerita, siang itu putriku diam-diam menarik kursi, naik, mengambil gunting di atas lemari.
Dibawalah gunting itu ke depan kaca. Sambil mengaca kreeeesss rambut depannya yang panjang habis dipotong. Tentu tidak rapi. Dia kemudian mendatangi tetehnya dan berkata:

“Rambutku dipotong, mau pendek kayak teh is (teteh satunya lagi),” ceritanya sambil senyum-senyum.
“Hah ya ampun, coba teteh lihat.”

Tetehnya mengambil sisir dan mulai menyisir rambut putri kecilku. Saat itu, banyak rambut berjatuhan, dan putri kecilku kaget luar biasa. Tangisnya langsung pecah.

“Hoaaa..ayo keramas aja teteh (padahal biasanya dia paling malas disuruh keramas), biar rambutnya panjang lagi…hoooa.”

Setelah berhasil ditenangkan, putri kecilku mungkin mulai berpikir: bagaimana caranya memberitahu mama papanya. Maka, dia mulai merayu kedua tetehnya:

“Teh, tolong sms mama papa, bilang malam ini enggak usah pulang saja,”
“lo kenapa?”
“tunggu sampai rambutku panjang lagi,”
rayunya.
“nanti mama papa tidur mana?”
“gimana nih, nanti aku dimarahin. Rambutku jadi botak, aku malu.”

Untuk menenangkan hati putri kecilku, tetehnya memutuskan menjepit sisa rambut ke atas, hingga tak terlalu terlihat. Begitulah kisah mengapa putri kecilku jadi salting enggak karuan. Sampai waktu tidur, dia tetap tidak mau cerita pada ayahnya.

Sabtu pagi (2/12)
Jumat itu, saya pulang larut malam sekitar pukul 01.00 — berarti sudah masuk Sabtu. Pagi-pagi ketika bangun, saya pura-pura belum tahu apa-apa. Seperti biasa, bangun tidur kami berbincang dan tertawa-tawa. Beberapa waktu kemudian, saya bertanya:

“Eeeh, ngomong-ngomong, kayaknya rambutmu ada yang aneh ya nak?”

Putri kecilku langsung salting, tapi kemudian menjawab:
“Dipotong.”
“Loh siapa yang motong?”
“Aku mama, aku potong sendiri ambil gunting di atas lemari, terus aku nangis. Rambutnya banyak yang jatuh. Aku mau potong pendek aja kayak teh is.”
“oooh gitu, ya nanti kita ke salon aja.”
“aku sekarang enggak mau sekolah, malu.”
“kenapa? tetep cantik kok.”

Anakku tersenyum-senyum:
“Tuuuh kan kalau kata mama aku tetep cantik. Kalau papa pasti marah,” katanya pada dua tetehnya.
Dan begitulah, putri kecilku kembali ceria, tidak lagi peduli pada rambutnya.