“Mbak, sekarang aku punya pelabuhan yang bisa kupulangi kapan pun aku mau.”
Kutatap temanku. Matanya itu memang sudah kembali berbintang. Melupakan tragedi yang lalunya pun belum sampai setahun. Malam itu jadi penghantar tukar kata. Kami terus berbincang, sambil menekan-nekan tust keyboard komputer
“Aku bikin puisi buat ade. dia bilang stop, karena katanya, puisiku selalu membuat dia menangis.”
“kenapa?”
“tidak tahu, dia selalu bilang begitu.”
Ini salah satu puisi cinta lelaki itu untuk kekasihnya di Bandung:
ADE
Di Pagi Nanti
: Laurentia Ade Oktavina Roberta
Mungkin ini selamanya
Seperti air
Mungkin cuma sebentar
Seperti petir
Tapi
Kami hendak percaya
Seperti hamba
Semoga benderang
Seperti saat ini, selalu nyala(ng)
Ketika langit berubah warna
Seperti rambutmu
Seperti nafasmu
Ketika angin tak berbau
Seperti kau bilang
Itu aku!
Sebuah mimpi berputar di ujung jemari
Aku mulai fasih merindukanmu
Senin 10 Juli 2006
KPK
…
Serasa sudah sejarak
Kamu dan aku
Mata hatiku
Ade
Jatinangor, 30 Juli 2006
Kamu seperti langit. Mudah menangis, selalu penuh. Menangis itu sakit hati. Maaf, telah membakar dedaunan kering di matamu.
Kamu seperti laut. Tak jernih tapi mengalir terus. Kadang menabrak kosong, mencium bibir pelangi. Itu sebabnya laut selalu biru. Teduh, seperti tawamu.
Kamu seperti bukit. Merangkak di pesisir hijau bunga kupu-kupu. Mendarat di halusnya bulu-bulu bunga jambu. Rambutmu seperti surga.
Sayankku, berkah buatku. Seperti mukjizat di porak-poranda kisahku.
Selalu ada puisi di tubuhmu. makanya aku tak mungkin berhenti berdoa buatmu.
KPK, 31 Juli 2006
Ade Puisi
hingga pagi sampai mati
di hati ini
cuma kamu
berdiri
tersenyum
memahat pelangi yang merayap di tubuhmu
Sayang, aku rindu kamu
rindu air mukamu
rindu laut di balik tawamu
rindu warna suaramu
rindu bulan di telapakmu
rindu angin dari jendela matamu
sampai pagi
sampai mati
Depok, 1 Agustus 2006
Cakap Malam
Ade, datang lagi
Seperti datang-datang tadi
Kini nanti
Kemudian, koma,,,
Bercakap dengan malam
Semilir batang-batang neon
Nyala suara bumi
Kipas waktu berputar
Terus…Bertempo-tempo
Jangan sampai pelangi nanti
Tak jadi-jadi
Depok, 18 Agustus 2006

