NGOBROL santai bersama beberapa teman di pagi menjelang siang. Ngalor-ngidul sampai pada pembicaraan mendidik anak dan falsafah kepompong. Menceritakan beberapa teman yang berhasil dan gagal mendidik anak.
Berhasil dalam arti anak-anaknya menjadi mandiri, bahkan lebih maju dari orang tuanya. Gagal karena ada seorang teman yang terus mencekoki anaknya dengan fasilitas. Akibatnya, saat dewasa bahkan sudah punya anak tetap bergantung pada orang tuanya.
Kemudian, temanku yang baik hati dan kian bijak (penilaianku nih) mengatakan, “Pada dasarnya Tuhan sudah memberi contoh lewat berbagai ciptaannya. Antara lain proses kepompong menjadi kupu-kupu.”
Begini: Saat kupu-kupu hendak keluar dari bungkusan kepompong, dia akan berusaha sekuat tenaga merobek lubang kecil yang memang sudah tersedia. Ketika berhasil, berlahan tapi pasti dia akan mengepakan sayap, terbang menikmati indahnya dunia dan perjuangan yang sudah dilakukan.
Tapi: jika sedikit saja proses itu dibantu pihak luar, maka bencana menanti. Ketika berhasil lepas dari rumah yang selama ini melindungi, sayapnya menjadi lemah. Dia tidak bisa terbang.
“Itu contoh sederhana yang ditunjukkan Tuhan lewat alam. Kira-kira seperti itu pula yang terjadi ketika kita memanjakan dan selalu memberi fasilitas pada anak. Akhirnya bukan mendidik, tapi menjerumuskan,” begitu temanku yang baik itu bicara.
Menyambung soal anak, seorang temanku yang lain bercerita tentang bisnis besar dan idealismenya untuk membangun sekolah. Nanti, katanya, dia akan menyediakan satu kelas gratis untuk siswa yang tidak mampu. Kemudian akan diberi semacam beasiswa dan juga pancingan lapangan pekerjaan. Setelah berhasil, maka dia berkewajiban menyumbangkan sebagian keuntungan yang diperoleh, untuk membantu angkatan juniornya.
“Mau ikut mengajar tapi tidak dibayar?”
“Mau!”
Hah!!! Mudah-mudahan saya bisa menepati janji.
Kok terus teringat isi blog yy yang baru saja saya baca. Tentang kegembiraannya karena bisa berbagi buku dengan anak-anak di Kamal Muara.
Hai..hai..semoga mimpi saya tidak hanya sekadar mimpi. Semoga bisa diwujudkan, meski hanya sebagian. Berguna untuk orang lain dan menjadi makanan jiwa sendiri.
NB: Ngeri no…kata-kata itu…! 

