HarikuSeptember 13, 2006 6:00 pm

Mengapa kulit putih menjadi dambaan banyak perempuan? Betulkah citra cantik dan putih merupakan hasil bentukan industri? Dua pertanyaan itu sempat melintas di benak saya. Tepatnya saat mendengar cuplikan catatan sejarah masyarakat Bima di Bo Sangaji kai. Sebuah naskah kuno yang memuat catatan segala pergerakan Kerajaan Bima.

Hajjah Siti Maryam, salah satu putri Sultan Bima terakhir menuturkan, penyebaran masyarakat Bima antara lain dimulai dari Lombok. Katanya, “Makin ke timur perempuan-perempuannya makin hitam dan jelek. Itu benar-benar tertulis dalam Bo Sangaji Kai,” papar Maryam, perempuan berusia 80 tahun sembari tertawa lepas.

Hitam dan jelek! Jadi kalau hitam itu jelek? Pada abad ke-15, kata-kata itu sudah muncul. Apakah saat itu sudah ada gerakan pembentukan citra secara global untuk kepentingan industri kecantikan perempuan? Waah, saya jadi penasaran! Dari mana munculnya anggapan umum, perempuan berkulit putih itu lebih cantik?

Hariku 5:51 pm

KABAR gembira bagi kaum perempuan yang sangat mendambakan tubuh kurus. Barangkali kini saatnya berhenti berusaha dan bermimpi. Kini saatnya memandang realita, menghilangkan gejala anorexia dan bulimia. Sebab, angin tengah menggoyang tren tubuh kurus.
Berita paling gres seperti ditulis AFP, kurus tidak lagi identik dengan cantik. Madrid Fashion Week yang akan berlangsung 18-22 September mendatang melarang keikutsertaan model yang terlalu kurus. Langkah ini akan diikuti panitia Milan Fashion Week.
Mungkinkah tren tubuh kurus akan berganti? Bisa saja! Pada 1800-an, perempuan baru dianggap cantik jika memiliki tubuh montok. Gambarannya, berpinggang ramping tapi memiliki dada dan pantat besar. Model kurus baru muncul sekitar 1960-an. Sejak era itu, kurus benar-benar menjadi impian banyak perempuan. Sejak saat itu pula, penderita anorexia dan bulimia meningkat.