Mengapa kulit putih menjadi dambaan banyak perempuan? Betulkah citra cantik dan putih merupakan hasil bentukan industri? Dua pertanyaan itu sempat melintas di benak saya. Tepatnya saat mendengar cuplikan catatan sejarah masyarakat Bima di Bo Sangaji kai. Sebuah naskah kuno yang memuat catatan segala pergerakan Kerajaan Bima.
Hajjah Siti Maryam, salah satu putri Sultan Bima terakhir menuturkan, penyebaran masyarakat Bima antara lain dimulai dari Lombok. Katanya, “Makin ke timur perempuan-perempuannya makin hitam dan jelek. Itu benar-benar tertulis dalam Bo Sangaji Kai,” papar Maryam, perempuan berusia 80 tahun sembari tertawa lepas.
Hitam dan jelek! Jadi kalau hitam itu jelek? Pada abad ke-15, kata-kata itu sudah muncul. Apakah saat itu sudah ada gerakan pembentukan citra secara global untuk kepentingan industri kecantikan perempuan? Waah, saya jadi penasaran! Dari mana munculnya anggapan umum, perempuan berkulit putih itu lebih cantik?

