HarikuSeptember 28, 2006 5:05 am

CUCI Gudang Akhir Tahun Gramedia Group 26-28 September 2006! Asyiiik!

Hari pertama
Berangkat pukul 15.00, sampai di Bentara Budaya persis 16.00. Pintu gerbang didorong petugas… tutup. Apes!

Hari kedua
Sampai Bentara Budaya sekitar jam satu siang. Orang kayak semut, desak-desakan. Ikut arus, tapi yang tersisa cuma buku anak-anak plus komik-komik. Padahal, banyak orang nongkrong dan gotong-gotong buku yang kayaknya bagus, mulai dari politik, ekonomi, sastra, manajemen, sampai novel. Aduh, dimana sih carinya?
“Mas, mas, cari buku kayak sampeyan dimana sih?”
“Wah telat mbak, tadi di meja sana, tapi pagi pas buka. Sekarang sudah habis.”
“Heh, sampeyan dari pagi to?”
“La iya mbak, perjuangan!”
Yah, bisa diterima kalau sudah berjuang terus dapat buku bagus-bagus. Di beberapa pojok, orang menunggui bertumpuk-tumpuk buku. Banyak yang sama. Wah, mestinya mau dijual lagi. Ya sudah, saya harus cepat ikut arus, ngubek-ngubek, cari buku bagus buat si kecil. Dapat! Sudah kebayang nih, bintang di mata putri kecilku.

Hari ketiga
Penasaran! Berangkat dari rumah setengah sembilan, sampai Bentara Budaya jam setengah sepuluh pagi. Tapi: heh! lebih gila dari kemarin. Orangnya buanyak bukan main. Petugasnya teriak-teriak:
“Hari terakhir, jaga barang masing-masing, barusan ada yang kehilangan handphone.”

Halaah, tanggung. Titip tas, ikut kerumunan, bergerak sesuai arus. Gile, banyak orang bawa buku yang kayaknya asyik-asyik. Wah, mestinya masih ada kesempatan. Desak-desakan, sampai meja pertama: kok cuma komik? Meja kedua? bahasa Mandarin? meja ketiga: komik lagi. Waduh kemana ya? Ikuti arus lagi, cari meja paling ujung. Kelihatannya tumpukan masih menggunung. Ini dia barangkali ada kesempatan. Masalahnya, posisi saya masih jauh. Bagaimana cara sampai ke meja itu?

Saya mau kasih tips, dibuat berdasarkan beberapakali pengalaman (hehehe)
1. Ikuti arus, keluarkan sedikit tenaga menuju meja yang dituju.
2. Begitu terjangkau, ulurkan tangan, masuk di sela-sela badan orang, pegang-pegang buku, meski enggak terlihat saking banyaknya orang.
3. Begitu didorong, langsung maju. Boleh deh sesekali bilang: “Ya ampun penuh banget/ya ampun dorong-dorongan gini..bla…bla. Pokoknya, ini kesempatan buat ngrangsek. Dijamin, lama-lama ada di depan meja yang dituju.
4. Kalau sudah berhasil, ya coba saja bertahan. Sebab, kayaknya banyak orang lain juga pakai taktik sama. :-)

Singkatnya, saya berhasil berdiri di depan meja. Aduk-aduk cari buku. Ternyata buku-buku bagusnya disimpan di paling bawah. Jadi kayak cari harta karun, undian berhadiah atau apa pun deh kata yang sensasinya serupa.
Panasnya bukan main. Keringat bercucuran, campur baur sama orang lain. Pas masuk mata, halaaah, perih. Mestinya karena keringat itu asin, iya toh! Muka saya juga perih, bekas kelupasan akibat kebakar matahari Bima.

Akhirnya, setelah enggak tahan, saya keluar dari keributan. Lumayan dapat buku cukup banyak. Cerita anak buat para ponakan: maksudnya hadiah lebaran nanti (murah, meriah, keren toh) dan beberapa buku tentang manajemen serta filsafat timur. Prinsipnya beli dulu. Sayang toh kalau dilewatkan. Sepuluh ribu dapat lima je!

HarikuSeptember 26, 2006 5:08 am

1.
Sekali lagi aku jatuh cinta pada ranting keringmu
Pada Keras dan getasmu
Pada padang pasir yang kaubebat dengan kain
–di tempat terbuka

Masa lalu seperti pemijit buta
mencengkeram bahu

Bau tubuhmu yang tak bersalin kembali dibawa angin
Mengganggu dengan kenyataan lain
:malam, kaki gunung, api unggun, gitar dan lagu lagu
oalah, sepatah cinta tanpa sepatu, dulu

Pemijit buta terus bekerja
Meraba-raba yang luka dan tak luka
Lalu semua pori-pori terbuka
Lebih dari yang seharusnya

Datang angin dari depan dan belakang
Datang cinta yang dulu dan sekarang

Aku jatuh cinta sekeras penolakanku atasnya
Pada ranting dan padang pasirmu
Pada keras dan rapuhmu
Pada angin yang menghadirkan bau tubuhmu

Ini hanya perkara lama yang tak pernah selesai

4.
Di dekatmu aku mencium harum bayi
Meruap dari pori-pori
Kuputuskan menjauh
Kauputuskan menjauh
Supaya tak ada yang celaka
tak ada yang terluka

Dan seluruh peristiwa
baik baik saja–sepertinya

Sampai suatu saat kita terpaksa merapat
Tragedi itu tercipta lagi dengan cepat
Aku meraba-raba kelelahan di tubuhmu
Kau mencabuti uban di rambutku
–Bocah bocah tua bermain api masa lalu

Harus berakhir sebelum seluruhnya lahir

5
Apa kabarmu, lama aku tak menyentuhmu
Bercak putih itu
apa masih bertahan di jempol tanganmu

Kita sama menua di ruang yang sama
Cepat lupa dan tak waspada
Tak awas lagi pada logika
Padahal, ada yang belum usai dan bahaya

:Kesepianku mengancammu
Larilah, jangan tidur di pangkuanku

Apa kabarmu, lama aku tak memelukmu
Racun putih itu
apa masih melekat di ujung bibirmu

Banda Aceh-Yogyakarta 2006
Gunawan Maryanto, Kompas 24 September 2006

HarikuSeptember 13, 2006 6:00 pm

Mengapa kulit putih menjadi dambaan banyak perempuan? Betulkah citra cantik dan putih merupakan hasil bentukan industri? Dua pertanyaan itu sempat melintas di benak saya. Tepatnya saat mendengar cuplikan catatan sejarah masyarakat Bima di Bo Sangaji kai. Sebuah naskah kuno yang memuat catatan segala pergerakan Kerajaan Bima.

Hajjah Siti Maryam, salah satu putri Sultan Bima terakhir menuturkan, penyebaran masyarakat Bima antara lain dimulai dari Lombok. Katanya, “Makin ke timur perempuan-perempuannya makin hitam dan jelek. Itu benar-benar tertulis dalam Bo Sangaji Kai,” papar Maryam, perempuan berusia 80 tahun sembari tertawa lepas.

Hitam dan jelek! Jadi kalau hitam itu jelek? Pada abad ke-15, kata-kata itu sudah muncul. Apakah saat itu sudah ada gerakan pembentukan citra secara global untuk kepentingan industri kecantikan perempuan? Waah, saya jadi penasaran! Dari mana munculnya anggapan umum, perempuan berkulit putih itu lebih cantik?

Hariku 5:51 pm

KABAR gembira bagi kaum perempuan yang sangat mendambakan tubuh kurus. Barangkali kini saatnya berhenti berusaha dan bermimpi. Kini saatnya memandang realita, menghilangkan gejala anorexia dan bulimia. Sebab, angin tengah menggoyang tren tubuh kurus.
Berita paling gres seperti ditulis AFP, kurus tidak lagi identik dengan cantik. Madrid Fashion Week yang akan berlangsung 18-22 September mendatang melarang keikutsertaan model yang terlalu kurus. Langkah ini akan diikuti panitia Milan Fashion Week.
Mungkinkah tren tubuh kurus akan berganti? Bisa saja! Pada 1800-an, perempuan baru dianggap cantik jika memiliki tubuh montok. Gambarannya, berpinggang ramping tapi memiliki dada dan pantat besar. Model kurus baru muncul sekitar 1960-an. Sejak era itu, kurus benar-benar menjadi impian banyak perempuan. Sejak saat itu pula, penderita anorexia dan bulimia meningkat.

HarikuSeptember 8, 2006 1:07 pm

Siang di Bima begitu menggelora
rona senjanya menggelayut
hapus jejak-jejak kaki
yang rajin menciumi
surutan asin laut

Tiap petang
ranggasan ranting hitamkan langit
mencumbu rembulan dan ratusan bintang
berdamai tanpa prasangka
meski hanya menjadi lintasan

Lalu,
tak bisakah kita berbincang saja
mencoba seluas dan selapang lautan
lupakan jejak-jejak kaki
yang suatu masa dulu
pernah juga bergelora
menciumi surutan asin laut

NB: Bima menyenangkan dan menenangkan