BEBERAPA bulan lalu, saya menonton film Shinobi. Sebuah film Jepang tentang ninjanya ninja.
Dari awal sampai akhir, saya terpesona. Mungkin karena diangkat dari anime Jepang, pengambilan gambarnya terkesan sangat komik. Begitu juga karakter dan pemilihan para pemain. Menggunakan teknik bertempur memesona, dilengkapi dengan pemandangan alam yang juga memesona.

Seperti pada umumnya film dan buku dari Jepang, usai menonton selalu meninggalkan lubang atau pun gelayut sunyi. Bercerita tentang dua klan penghasil ninja terbesar dan terkuat, Kouga dan Iga. Keduanya memiliki ilmu luar biasa. Bukan hanya menghilang dan memainkan pedang, tetapi juga meremukkan tulang hanya dengan tatapan.

Dua klan ini sadar, masa kejayaan mereka sudah habis, tepatnya saat memasuki pemerintahan shogun Tokugawa (1614). Karena takut terjadi pemberontakan, Tokugawa memerintahkan klan Kouga dan Iga memilih sepuluh orang terbaik dan melakukan pertempuran hidup mati. Pemenangnya boleh hidup, sedangkan klan yang kalah akan dihabisi.

Saat dua pemimpin klan tiba-tiba ditemukan meninggal, maka pelaksanaan pertarungan jatuh pada generasi berikut, yaitu Gennosuke, pemuda dari Kauga dan gadis cantik bernama Oboro dari klan Iga. Dua generasi muda yang sebenarnya sudah lama menjalin cinta. Keduanya terjebak dalam kerumitan tradisi. Berusaha menolak tanggungjawab yang diemban turun-menurun. Mempertanyakan keinginan shogun dan menyesali pertempuran serta kematian sia-sia.

Dalam sebuah pertemuan sembunyi-sembunyi, Gennosuke bertanya pada Oboro:
“Mengapa shogun menginginkan pertempuran kita?”
Oboro menjawab singkat:
“Our time has passed.”
Masa kejayaan mereka memang sudah berlalu. Keberadaan mereka tidak lagi diinginkan. Shogun Tokugawa khawatir, kekuatan dua klan ini akan digunakan untuk memberontak. Dan perintah pertempuran itu merupakan salah satu cara mengebiri kekuatan.

Di akhir cerita, Gennosuke memilih mati ditangan kekasihnya Oboro. Dia pun berpesan, semoga kematiannya tidak sia-sia.
“Tolong selamatkan kehidupan di klanku,” kira-kira demikian pesan terakhir Gennosuke.
Oboro pun berjuang, meminta agar kedua klan dibiarkan hidup damai. Tapi keinginannya ditolak dengan alasan kutukan pada Klan Iga yang memiliki tatapan mata mematikan. Mengharapkan perdamaian sejati, Oboro akhirnya membutakan matanya.

Berhasilkah? Inilah yang menarik. Saya bertemu dengan seorang teman dan perbincangan di warung kopi pun berlangsung menyenangkan. Kami bertukar informasi tentang buku dan film, hingga sampai pada Shinobi. Saya melihat film Shinobi dari sisi keinginan serta perjuangan dan pengorbanan mewujudkan perdamaian.
Sementara itu, teman saya dengan nada meledak mengatakan:
“Saya tidak suka dengan Gennosuke. Di mataku, dia lelaki pengecut. Dia mengorbankan nyawa ratusan mungkin jutaan anggota klannya hanya karena cinta dan perempuan.”
Wah, teman saya itu bersemangat sekali. Sampai-sampai rambut gondrongnya bergerak-gerak. Dia kemudian melanjutkan, seperti tercatat dalam sejarah, Klan Kauga sudah tidak ada lagi. Habis!

Perbincangan kemudian berlanjut ke film Downfall atau dalam bahasa Jermannya Der Untergang (perbincangan ini mengingatkan saya pada seseorang): bercerita tentang satu minggu sebelum kejatuhan Hitler. Intinya: dibalik semua kekejaman, Hitler juga manusia.

Ngalor-ngidul bertukar kata, temanku itu kembali mengatakan:
“Banyak tokoh dunia yang jatuh karena perempuan. Hitler salah satunya. Menyerah pada permintaan kekasihnya Eva Braun. Terus memaksa merangseki Pietersburg sampai akhirnya pasukannya dikalahkan cuaca.”

Haduuuh, hebatnya perempuan. Saya jadi ingin tahu: berapa banyak tokoh dunia yang jatuh dan sukses karena wanita. Saya kemudian ingat syair lagu Sabda Alam ciptaan Ismail Marzuki: Namun ada kala pria tak berdaya// tekuk lutut disudut kerling wanita.

Bersambung…