HarikuAugust 12, 2006 5:49 pm

GANGGUAN mental? Duuuh serem banget! Tapi kenyataannya PMS memang bisa memunculkan gangguan mental. Dalam istilah kedokteran disebut Premenstrual Dysphoric Disorder atau biasa disingkat PDD.
(Hanya sebagai informasi, gangguan mental bukan berarti gila! stres pun sudah termasuk gangguan mental, jika itu memengaruhi aktivitas sehari-hari termasuk menghasilkan insomnia.)
Psikiater dari Unika Atma Jaya Dharmady Agus mengatakan cukup banyak perempuan yang mengalami gangguan PDD. Penekanannya lebih pada psikis, dimana terjadi perubahan emosi, mulai dari yang ringan hingga berat. Mulai dari perasaan cepat marah, menjadi sangat sensitif, mudah sedih, perasaan tidak diinginkan, rasa sunyi, hingga keinginan menyakiti diri sendiri, orang lain, juga bunuh diri.
Semakin berat PDD yang diderita, maka semakin membutuhkan pertolongan. Di luar negeri, kesadaran untuk mencari pertolongan sudah cukup tinggi. Karena itu, ada terapi kelompok. Terapi ini terbukti efektif, karena masing-masing penderita PDD bisa saling menguatkan dan melakukan kontrol. Mereka juga bisa melakukan antisipasi karena lebih mengenal gejala-gejalanya.
Di Indonesia, kesadaran seperti itu masih sangat kecil. Biasanya dianggap sebagai gejala umum, abaikan saja, toh bisa sembuh sendiri setelah masa itu lewat. Padahal, PDD jelas akan memengaruhi kehidupan sehari-hari penderitanya. Bisa memengaruhi produktivitas dan menurunkan kualitas hidup.

Hanya sebagai informasi, saya menuliskan beberapa gejala PDD seperti diungkapkan Dharmady.
1. Depresi, rasa putus asa, pikiran-pikiran yang mencela diri sendiri.
2. Tegang, gelisah, kadang-kadang justru muncul perasaan yang sangat gembira.
3. Labilitas afek yang jelas (perasaan tiba-tiba sedih, menangis, sangat sensitif terhadap penolakan).
4. Perasaan marah yang menetap, iritabilitas, dan peningkatan konflik interpersonal.
5. Penurunan minat dalam aktivitas sehari-hari (sekolah, pekerjaan, teman, dan hobi).
6. Secara subyektif merasa sulit berkonsentrasi.
7. Letargi, mudah lelah, kurang energi yang jelas.
8. Perubahan nafsu makan (meningkat atau menurun).
9. Insomnia atau hipersomnia.
10.Secara subyektif merasa gembira berlebihan.
11.Gejala-gejala fisik lain, seperti: sakit kepala, nyeri sendi atau otot, payudara membengkak, dan berat badan meningkat.

Penyebab
Berbagai teori telah diajukan untuk menerangkan PDD. Banyaknya faktor yang diduga memengaruhi munculnya gejala PDD>
1. Psikososial
Menurut teori psikoanalisis, gejala-gejala PDD merupakan manifestasi dari konflik peran sebagai wanita. Haid diartikan sebagai suatu stimulus yang mengancam konflik yang telah direpresi. Secara tidak sadar, penderita PDD menggunakan fungsi haidnya untuk menyatakan ketegangan sebagai akibat situasi lingkungan yang menekan, kesukaran dalam hubungan antarpribadi, atau oleh sikapnya sendiri terhadap kewanitaannya.
Hasil penelitian di Malang menunjukkan, penderita PDD merupakan orang yang suka merengek, suka mengeluh, mudah marah, feminin, pasif, keterpaksaan untuk menerima tugas-tugas yang berat karena tak kuasa atau berani menolak.
2. Genetik
Sekitar 70% anak wanita dengan ibu penderita PDD juga menderita PDD. Pada kelompok kontrol (ibu yang tidak menderita PDD) didapat angka sekitar 37%.
3. Biologik
Berbagai teori neuroendokrin telah dilaporkan sebagai penyebab PDD. Itu berarti, antara lain keseimbangan hormon esterogen dan prosgesteron berperan besar. Juga hormon tiroid, endorfin, prostaglandin, dan lain-lain.

Duuuh seram ya? Apalagi kata Dharmady dan berbagai penelitian, jika tidak diobati, PDD bisa berkembang kronik. Penderitanya bisa menjadi agresif (mudah menyerang orang lain) atau justru sebaliknya ingin sekali bunuh diri.
Apa dong yang bisa dilakukan? Dari sisi kedokteran tentu terapi. Antara lain Dharmady mengungkapkan sebagai berikut:
1. Psikoterapi
Efektif untuk menghilangkan gejala-gejala PDD. Terapi suportif dan terapi kelompok dapat digunakan. Penderita akan merasa lebih baik karena mendapat dukungan kelompok, lebih mengerti tentang gejala-gejala yang terjadi, tahu bahwa dirinya tida sendirian, mengurangi rasa bersalah, membantu menghindari stres, dan memperbaiki kepercayaan diri. Keberhasilan terapi ini mencapai 40-50%, sekaligus membuktikan besarnya peran psikologis dalam kasus-kasus PDD.
2. Latihan Fisik
Keluhan PDD jarang ditemukan pada wanita yang aktif berolahraga. Olahraga dikaitkan dengan penurunan stres.
3. Diet
Hindari kopi dan rokok. Kurangi juga kadar gula. Minum susu sangat dianjurkan. Beberapa penelitian menyatakan, Vitamin A, E, B6, Ca carbonat, Mg, dan Zn dapat mempebaiki PDD.

4. Terapi Farmakologik
Secara umum, terapi farmakologik hanya dapat diberikan di bawah pengawasan seorang dokter. Misalnya dalam bentuk pemberian obat, penyeimbangan hormon, terapi cahaya, pembedahan, dan sebagainya.

Sekian informasi dari saya, semoga berguna!!!

Hariku 5:30 pm

JANGAN SEPELEKAN PREMENTRUASI SINDROM
(Media Indonesia, menstruasi.com, psikiater Dharmady Agus, dan sumber-sumber lain)

SEKITAR 85% perempuan mengalami gangguan fisik dan psikis menjelang, saat, atau pun sesudah menstruasi. Biasanya berlangsung antara satu minggu sebelum dan sesudah mentruasi atau haid.
Tapi tahukah Anda, cukup banyak perempuan yang mengalami gejala prementruasi sindrom (PMS) dalam rentang waktu cukup lama. Mereka hanya terbebas satu minggu dalam sebulan. Artinya hormon mereka hanya normal selama satu bulan. Selebihnya, mereka mengalami gangguan ringan hingga berat. Mulai dari sakit fisik seperti pusing, mual, pembengkakan payudara, perut kembung, sampai pingsan. Mulai dari ledakan emosi dalam bentuk amarah, sensitivitas yang tinggi, sedih, sunyi, hingga keinginan bunuh diri.
Dharmady, psikiater dari dari Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya mengatakan, perempuan yang masa haidnya tidak teratur dalam arti mengalami kemajuan tanggal tiap bulan, berisiko kian lama menderita premenstruasi sindrom. “Jika gejalanya ringan tidak masalah. tapi jika berat, apalagi secara psikologis mengalami depresi, sebaiknya melakukan konsultasi,” katanya.
Berbagai penelitian menyebutkan, beberapa faktor meningkatkan risiko terjadinya PMS. Antara lain, status perkawinan. Disebutkan, perempuan yang sudah menikah lebih banyak mengalami PMS dibanding yang belum. Juga perempuan yang sudah melahirkan beberapa anak. Sebuah jurnal kedokteran (namanya lupa nanti kususulkan) menegaskan, peningkatan PMS terjadi pada usia 30 hingga 45 tahun. Setelah itu biasanya secara perlahan terjadi penurunan risiko.
Situs mentruasi.com mengutip penelitian Dr Guy E Abraham, ahli kandungan dan kebidanan dari Fakultas Kedokteran UCLA, AS. Ahli ini membagi PMS dalam empat tipe. Perlu dbaca, supaya Anda tahu, termasuk tipe apa PMS Anda. Dengan demikian bisa dilakukan tindakan meminimalisasi gejala:
1. Tipe A (Anxiety)
Ditandai dengan gejala cemas, sensitif, saraf tegang, dan perasaan labil. Beberapa wanita bahkan mengalami depresi ringan sampai sedang. Saran: Konsumsi makanan berserat, jangan merokok dan batasi asupan kafein dari kopi, teh, dan cokelat.
2. Tipe C (Craving)
Muncul gejala pembengkakan pada perut (kembung), nyeri pada buah dada, tangan, kaki, serta terjadi peningkatan berat badan. Biasanya terjadi karena asupan garam dan gula yang tinggi pada penderita. Gejala pada tipe ini dapat juga dirasakan bersamaan dengan tipe-tipe lain. Saran: Kurangi asupan garam dan gula. Juga jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh.
3. Tipe D (Depression)
Biasanya mengalami rasa lapar, ingin mengonsumsi makanan yang manis (cokelat) dan karbohidrat sederhana. Biasanya setelah menyantap dalam jumlah banyak muncul gejala hipoglikemia seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing, terkadang sampai pingsan. Gejala ini muncul karena peningkatan hormon insulin. Saran: Perbanyak konsumsi sayuran hijau, biji-bijian, gandum, dan kacang-kacangan.
4. Tipe H (Hyperhydration)
Muncul keinginan menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit berkata-kata. Bahkan muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri. Biasanya tipe ini berlangsung bersamaan dengan tipe A. Hanya 3% penderita yang murni mengalami tipe D. Saran: tingkatkan konsumsi vitamin B6 dan magnesium. ***