Si Miskin Kehilangan Kesempatan
ADA benarnya juga anggapan si miskin kemungkinan besar tetap miskin karena kurangnya kesempatan.
Kalau dibalik ke kata yang lebih positif, mungkin menjadi seperti ini: untuk meraih sesuatu, si miskin harus berusaha berkali-kali lipat lebih keras, karena hanya sedikit kesempatan yang datang. Saya membuktikan hal itu.
Beberapa minggu ini, pekerjaan saya bertambah banyak. Antara lain melakukan road show ke berbagai sekolah dasar untuk menggelar dua acara dengan sponsor dua produk besar. Yang pertama meminta sekolah dengan segmen sosial menengah, kedua menengah atas.
Untuk merealisasikan hal itu, tim kami mendapat daftar SD negeri dari event organizer (EO) yang pernah menangani acara produk obat nyamuk masuk sekolah. Jadi di hari pertama, dengan tim lengkap — termasuk EO pihak sponsor — kami mendatangi salah satu SDN di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan. KEMANG gitu loh…kawasan elite…pastilah sekolahnya bagus.
Kami pun berangkat, nyasar ke sana kemari, sampai akhirnya menemukan jalan yang benar. Masuk ke jalan kecil dengan rumah-rumah awal begitu megah. Setelah itu dilanjutkan berjalan kaki menyusuri gang. Sampailah ke SD tersebut pukul 12.00 WIB, terlambat satu jam dari perjanjian pukul 11.00.
SD itu besar, terdiri dari dua sekolah. Tapi fasilitas dan kebersihan yang dipertunjukkan menggambarkan sekolah ini untuk kelas sosial bawah. Apa yang terjadi? Pihak sponsor langsung mengatakan, sepertinya tidak layak dijadikan tempat audisi — bagian dari lomba — sekaligus promosi produk.
“Ini bukan segmen kami,” begitu kira-kira yang dikatakan wakil dari EO. Pernyataan yang secara profesional jelas tidak salah.
Kami pun mencari upaya agar tidak terlalu mengecewakan pihak sekolah. Sungguh membuat miris hati, karena mereka menyambut dengan penuh sukacita. Mereka sudah membubarkan siswa pukul 11.00 tepat. Hampir semua guru hadir dalam pertemuan tersebut. Disatu sisi sungguh mengharukan, di sisi lain menunjukkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.
Hiccck…apa yang harus dilakukan? Akhirnya kami meminta mereka mengirim beberapa karya dari anak didik di sekolah itu.
“Bagaimana cara mengirim?” tanya guru-guru tersebut.
“Oh pakai email saja,” jawab salah satu anggota tim.
Para guru saling berpandangan.
“Apa tidak bisa pakai faks? Itu lebih mudah, kami bisa ke wartel,” begitu pertanyaan dan penyataan seorang guru, setelah sebelumnya hening beberapa detik.
Saat itu, hati saya seperti disodok. Duuuug! Duuuh…beginikah kondisinya? Dan mereka baru saja kehilangan kesempatan mendapat hadiah beasiswa karena kemiskinan yang tidak mereka minta dan akhirnya membatasi kesempatan serta transfer teknologi. Akhirnya, kami memutuskan akan datang lagi mengambil karya para siswa.
Selepas dari sekolah, pihak sponsor mengatakan,
“Lain kali kalau mau mendatangi sekolah dengan tim lengkap, lakukan survei terlebih dahulu.”
Secara profesional betul sekali. Akhirnya dirunut, daftar sekolah dari produk obat nyamuk itu memang menyasar SD kelas bawah. Tujuannya memromosikan produk dengan kemasan idealisme membrantas demam berdarah. Dan sekolah yang kami datangi memang tepat untuk tujuan itu. Setiap tahun langganan banjir, setinggi satu meter. Itu berarti logikanya rawan sarang nyamuk.
Terangisme
Saya kemudian teringat kata-kata Mario Teguh. Banyak orang menganut ilmu terangisme. Saat tidak bisa mencapai sesuatu, mereka menyalahkan keadaan atau orang lain. Misalnya:
“Terang saja, dia kan lebih pintar. Terang saja, dia kan lebih kaya. Terang saja, dia kan mendapat backing orang penting….dan terus terangisme.”
Saya cuma berharap, semoga guru dan anak-anak di sekolah itu dan tentu banyak sekolah lain yang lebih parah kondisinya, tidak menganut ilmu terangisme. Meski pada kenyataannya mereka memang harus berusaha berkali-kali lipat lebih keras. Saya berkeyakinan, kesuksesan mereka nantinya akan terasa lebih manis.


yang anda rasakan juga saya rasakan kok bu
Comment by yoyok — August 9, 2006 @ 4:05 pm
Ya ampun, aku juga langsung ‘dug’ betapa besar harapan mereka, pasti. Tapi gimana caranya mengatakan kepada mereka agar tidak terperangkap dalam ‘terangisme’, coba…
Comment by [em-eijs] — August 12, 2006 @ 2:58 am