HarikuAugust 7, 2006 6:02 pm

Sejak 17 Juli putriku masuk kelompok bermain, tiga kali dalam seminggu. Saya bersyukur karena dia tidak rewel. Sejak hari pertama tidak minta ditunggu. Langsung bergabung, mendapat teman, masuk ke dalam kelas tanpa rengekan.

Belakangan dia sering menyanyikan lagu-lagu baru. Di antaranya plesetan dari lagu Balonku Ada Lima. Begini nyanyiannya:

Balonku ada satu
Kusimpan di balik pintu
Kuambil pakai sapu
Kulihat burung hantu
kikuk kikuk (sambil menekuk siku kemudian dikepak-kepakkan)

Lucu sih, apalagi melihat dia mengepakkan tangan sambil menyanyi kikuk kikuk. Tapi kok menurut saya rangkaian kata-katanya gak mutu. Merusak dan tidak membentuk logika. Ya sudah, dengan maksud meluruskan logika saya bilang:
“masak sih simpan balon di balik pintu, terus ada burung hantu. Enggak masuk akal deh.”

Dia kemudian menjawab:
“Itu kan cuma nyanyian mama.”
Halaaah, iya juga sih kalau logika dia begitu. :)

Hariku 3:36 pm

PERBENDAHARAAN kata putriku kian banyak. Ada beberapa kejadian lucu yang membuat saya tertawa terbahak-bahak. Begini ceritanya:

1. Merek susu yang dia minum membuat semacam undian berhadiah dengan cara mengirim tutup dus. Hadiahnya jalan-jalan ke Amerika, Hong Kong, dan seperangkat mainan. Saya kemudian bertanya pada dia:
“Non kita kirim yuuuk, siapa tahu menang. Kamu pengennya hadiah apa?”
“Aku mau ke Amerika.”
(dia senang melihat gambar roket yang mewakili Amerika)

Mendengar itu salah satu tetehnya (dua saudara yang ikut mengasuh sejak bayi) bertanya:
“Memangnya bisa bahasa Inggris?”
“bisa dong.”
“coba kalau begitu bagaimana?”

Dengan senyum dikulum sambil menunjuk dua tetehnya, anakku menjawab:
“one, two, monkey.”

Beberapa detik dua tetehnya melongo, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak. Saya pun tak bisa menahan senyum.
“Artinya apa tuh?” tanya teteh satunya lagi.
Anakku tetap memasang senyum dikulum, enggan menjawab.

2. Kemarin (Minggu), saya, putri kecilku, dan dua tetehnya memutar DVD Superman. Tentu si kecil tidak bisa diam. Dia terus berceloteh, kadang mengajak bermain, minta ini dan itu. Tapi kemudian asyik menonton saat muncul helikopter dan gelombang lautan.
Mulailah dia bereksperimen merangkai kata-kata. Dan itu membuat saya tertawa-tawa. Antara lain begini:

Saat melihat ada helikopter jatuh, dia berucap:
“Ma, helikopternya berjatuhan.”
Saya cuma mangut-mangut. Tapi kemudian dia merasa aneh sendiri dengan rangkaian kata itu. Terus tertawa-tawa, melihat ke mata saya dan berkata:
“hahaha salah ya ma, memangnya roti berjatuhan.”
“enggak juga sih, kalau banyak kan bisa juga disebut berjatuhan,” jawab saya.

Dia kemudian asyik lagi menonton. Tapi saat melihat ombak besar, permaianan rangkai-merangkai berlanjut.
“Ma, ombak mengamuk.”

Beberapa saat kemudian dia mencoba merangkai kata lain:
“ombak menguap.”
Merasa aneh lagi dengan rangkaian itu, dia menengok ke arah saya tertawa dan berkata:
“hahaha memangnya ngantuk. Menguap kan begini ya ma…”(sambil membuka mulut, menirukan orang menguap).

Saya tak bisa menahan senyum, selalu menikmati saat-saat bersama si kecil.