HarikuAugust 21, 2006 4:35 pm

Bima
Bima
Bima
Lima tahun lalu dan sebentar lagi. Ingatan apa yang masih tersisa? Udara panas, bekas kerajaan yang tak terurus, apa lagi? Pasti menarik. Hanya pikiran pada putri kecilku yang memberatkan.

Rinjani
Rinjani
Rinjani
Beberapa bulan lagi. Semoga terlaksana. Ingatan apa yang masih ada? Rumah bulat Suku Sasak, dan kisah dari sebuah buku. Uuuuh…tunggu saya!

HarikuAugust 15, 2006 7:12 am

BEBERAPA bulan lalu, saya menonton film Shinobi. Sebuah film Jepang tentang ninjanya ninja.
Dari awal sampai akhir, saya terpesona. Mungkin karena diangkat dari anime Jepang, pengambilan gambarnya terkesan sangat komik. Begitu juga karakter dan pemilihan para pemain. Menggunakan teknik bertempur memesona, dilengkapi dengan pemandangan alam yang juga memesona.

Seperti pada umumnya film dan buku dari Jepang, usai menonton selalu meninggalkan lubang atau pun gelayut sunyi. Bercerita tentang dua klan penghasil ninja terbesar dan terkuat, Kouga dan Iga. Keduanya memiliki ilmu luar biasa. Bukan hanya menghilang dan memainkan pedang, tetapi juga meremukkan tulang hanya dengan tatapan.

Dua klan ini sadar, masa kejayaan mereka sudah habis, tepatnya saat memasuki pemerintahan shogun Tokugawa (1614). Karena takut terjadi pemberontakan, Tokugawa memerintahkan klan Kouga dan Iga memilih sepuluh orang terbaik dan melakukan pertempuran hidup mati. Pemenangnya boleh hidup, sedangkan klan yang kalah akan dihabisi.

Saat dua pemimpin klan tiba-tiba ditemukan meninggal, maka pelaksanaan pertarungan jatuh pada generasi berikut, yaitu Gennosuke, pemuda dari Kauga dan gadis cantik bernama Oboro dari klan Iga. Dua generasi muda yang sebenarnya sudah lama menjalin cinta. Keduanya terjebak dalam kerumitan tradisi. Berusaha menolak tanggungjawab yang diemban turun-menurun. Mempertanyakan keinginan shogun dan menyesali pertempuran serta kematian sia-sia.

Dalam sebuah pertemuan sembunyi-sembunyi, Gennosuke bertanya pada Oboro:
“Mengapa shogun menginginkan pertempuran kita?”
Oboro menjawab singkat:
“Our time has passed.”
Masa kejayaan mereka memang sudah berlalu. Keberadaan mereka tidak lagi diinginkan. Shogun Tokugawa khawatir, kekuatan dua klan ini akan digunakan untuk memberontak. Dan perintah pertempuran itu merupakan salah satu cara mengebiri kekuatan.

Di akhir cerita, Gennosuke memilih mati ditangan kekasihnya Oboro. Dia pun berpesan, semoga kematiannya tidak sia-sia.
“Tolong selamatkan kehidupan di klanku,” kira-kira demikian pesan terakhir Gennosuke.
Oboro pun berjuang, meminta agar kedua klan dibiarkan hidup damai. Tapi keinginannya ditolak dengan alasan kutukan pada Klan Iga yang memiliki tatapan mata mematikan. Mengharapkan perdamaian sejati, Oboro akhirnya membutakan matanya.

Berhasilkah? Inilah yang menarik. Saya bertemu dengan seorang teman dan perbincangan di warung kopi pun berlangsung menyenangkan. Kami bertukar informasi tentang buku dan film, hingga sampai pada Shinobi. Saya melihat film Shinobi dari sisi keinginan serta perjuangan dan pengorbanan mewujudkan perdamaian.
Sementara itu, teman saya dengan nada meledak mengatakan:
“Saya tidak suka dengan Gennosuke. Di mataku, dia lelaki pengecut. Dia mengorbankan nyawa ratusan mungkin jutaan anggota klannya hanya karena cinta dan perempuan.”
Wah, teman saya itu bersemangat sekali. Sampai-sampai rambut gondrongnya bergerak-gerak. Dia kemudian melanjutkan, seperti tercatat dalam sejarah, Klan Kauga sudah tidak ada lagi. Habis!

Perbincangan kemudian berlanjut ke film Downfall atau dalam bahasa Jermannya Der Untergang (perbincangan ini mengingatkan saya pada seseorang): bercerita tentang satu minggu sebelum kejatuhan Hitler. Intinya: dibalik semua kekejaman, Hitler juga manusia.

Ngalor-ngidul bertukar kata, temanku itu kembali mengatakan:
“Banyak tokoh dunia yang jatuh karena perempuan. Hitler salah satunya. Menyerah pada permintaan kekasihnya Eva Braun. Terus memaksa merangseki Pietersburg sampai akhirnya pasukannya dikalahkan cuaca.”

Haduuuh, hebatnya perempuan. Saya jadi ingin tahu: berapa banyak tokoh dunia yang jatuh dan sukses karena wanita. Saya kemudian ingat syair lagu Sabda Alam ciptaan Ismail Marzuki: Namun ada kala pria tak berdaya// tekuk lutut disudut kerling wanita.

Bersambung…

HarikuAugust 14, 2006 3:12 pm

Banyak subuh tak lagi meninggalkan getas
meski terkadang pagi masih menyisakan mimpi
guguran daun
adalah sesal sekaligus syukur
kekuatan sekaligus kelemahan

see, waktu mulai mengkhianati segalanya: memberiku cara pandang berbeda, meski tidak ada yang berubah!

HarikuAugust 12, 2006 5:49 pm

GANGGUAN mental? Duuuh serem banget! Tapi kenyataannya PMS memang bisa memunculkan gangguan mental. Dalam istilah kedokteran disebut Premenstrual Dysphoric Disorder atau biasa disingkat PDD.
(Hanya sebagai informasi, gangguan mental bukan berarti gila! stres pun sudah termasuk gangguan mental, jika itu memengaruhi aktivitas sehari-hari termasuk menghasilkan insomnia.)
Psikiater dari Unika Atma Jaya Dharmady Agus mengatakan cukup banyak perempuan yang mengalami gangguan PDD. Penekanannya lebih pada psikis, dimana terjadi perubahan emosi, mulai dari yang ringan hingga berat. Mulai dari perasaan cepat marah, menjadi sangat sensitif, mudah sedih, perasaan tidak diinginkan, rasa sunyi, hingga keinginan menyakiti diri sendiri, orang lain, juga bunuh diri.
Semakin berat PDD yang diderita, maka semakin membutuhkan pertolongan. Di luar negeri, kesadaran untuk mencari pertolongan sudah cukup tinggi. Karena itu, ada terapi kelompok. Terapi ini terbukti efektif, karena masing-masing penderita PDD bisa saling menguatkan dan melakukan kontrol. Mereka juga bisa melakukan antisipasi karena lebih mengenal gejala-gejalanya.
Di Indonesia, kesadaran seperti itu masih sangat kecil. Biasanya dianggap sebagai gejala umum, abaikan saja, toh bisa sembuh sendiri setelah masa itu lewat. Padahal, PDD jelas akan memengaruhi kehidupan sehari-hari penderitanya. Bisa memengaruhi produktivitas dan menurunkan kualitas hidup.

Hanya sebagai informasi, saya menuliskan beberapa gejala PDD seperti diungkapkan Dharmady.
1. Depresi, rasa putus asa, pikiran-pikiran yang mencela diri sendiri.
2. Tegang, gelisah, kadang-kadang justru muncul perasaan yang sangat gembira.
3. Labilitas afek yang jelas (perasaan tiba-tiba sedih, menangis, sangat sensitif terhadap penolakan).
4. Perasaan marah yang menetap, iritabilitas, dan peningkatan konflik interpersonal.
5. Penurunan minat dalam aktivitas sehari-hari (sekolah, pekerjaan, teman, dan hobi).
6. Secara subyektif merasa sulit berkonsentrasi.
7. Letargi, mudah lelah, kurang energi yang jelas.
8. Perubahan nafsu makan (meningkat atau menurun).
9. Insomnia atau hipersomnia.
10.Secara subyektif merasa gembira berlebihan.
11.Gejala-gejala fisik lain, seperti: sakit kepala, nyeri sendi atau otot, payudara membengkak, dan berat badan meningkat.

Penyebab
Berbagai teori telah diajukan untuk menerangkan PDD. Banyaknya faktor yang diduga memengaruhi munculnya gejala PDD>
1. Psikososial
Menurut teori psikoanalisis, gejala-gejala PDD merupakan manifestasi dari konflik peran sebagai wanita. Haid diartikan sebagai suatu stimulus yang mengancam konflik yang telah direpresi. Secara tidak sadar, penderita PDD menggunakan fungsi haidnya untuk menyatakan ketegangan sebagai akibat situasi lingkungan yang menekan, kesukaran dalam hubungan antarpribadi, atau oleh sikapnya sendiri terhadap kewanitaannya.
Hasil penelitian di Malang menunjukkan, penderita PDD merupakan orang yang suka merengek, suka mengeluh, mudah marah, feminin, pasif, keterpaksaan untuk menerima tugas-tugas yang berat karena tak kuasa atau berani menolak.
2. Genetik
Sekitar 70% anak wanita dengan ibu penderita PDD juga menderita PDD. Pada kelompok kontrol (ibu yang tidak menderita PDD) didapat angka sekitar 37%.
3. Biologik
Berbagai teori neuroendokrin telah dilaporkan sebagai penyebab PDD. Itu berarti, antara lain keseimbangan hormon esterogen dan prosgesteron berperan besar. Juga hormon tiroid, endorfin, prostaglandin, dan lain-lain.

Duuuh seram ya? Apalagi kata Dharmady dan berbagai penelitian, jika tidak diobati, PDD bisa berkembang kronik. Penderitanya bisa menjadi agresif (mudah menyerang orang lain) atau justru sebaliknya ingin sekali bunuh diri.
Apa dong yang bisa dilakukan? Dari sisi kedokteran tentu terapi. Antara lain Dharmady mengungkapkan sebagai berikut:
1. Psikoterapi
Efektif untuk menghilangkan gejala-gejala PDD. Terapi suportif dan terapi kelompok dapat digunakan. Penderita akan merasa lebih baik karena mendapat dukungan kelompok, lebih mengerti tentang gejala-gejala yang terjadi, tahu bahwa dirinya tida sendirian, mengurangi rasa bersalah, membantu menghindari stres, dan memperbaiki kepercayaan diri. Keberhasilan terapi ini mencapai 40-50%, sekaligus membuktikan besarnya peran psikologis dalam kasus-kasus PDD.
2. Latihan Fisik
Keluhan PDD jarang ditemukan pada wanita yang aktif berolahraga. Olahraga dikaitkan dengan penurunan stres.
3. Diet
Hindari kopi dan rokok. Kurangi juga kadar gula. Minum susu sangat dianjurkan. Beberapa penelitian menyatakan, Vitamin A, E, B6, Ca carbonat, Mg, dan Zn dapat mempebaiki PDD.

4. Terapi Farmakologik
Secara umum, terapi farmakologik hanya dapat diberikan di bawah pengawasan seorang dokter. Misalnya dalam bentuk pemberian obat, penyeimbangan hormon, terapi cahaya, pembedahan, dan sebagainya.

Sekian informasi dari saya, semoga berguna!!!

Hariku 5:30 pm

JANGAN SEPELEKAN PREMENTRUASI SINDROM
(Media Indonesia, menstruasi.com, psikiater Dharmady Agus, dan sumber-sumber lain)

SEKITAR 85% perempuan mengalami gangguan fisik dan psikis menjelang, saat, atau pun sesudah menstruasi. Biasanya berlangsung antara satu minggu sebelum dan sesudah mentruasi atau haid.
Tapi tahukah Anda, cukup banyak perempuan yang mengalami gejala prementruasi sindrom (PMS) dalam rentang waktu cukup lama. Mereka hanya terbebas satu minggu dalam sebulan. Artinya hormon mereka hanya normal selama satu bulan. Selebihnya, mereka mengalami gangguan ringan hingga berat. Mulai dari sakit fisik seperti pusing, mual, pembengkakan payudara, perut kembung, sampai pingsan. Mulai dari ledakan emosi dalam bentuk amarah, sensitivitas yang tinggi, sedih, sunyi, hingga keinginan bunuh diri.
Dharmady, psikiater dari dari Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya mengatakan, perempuan yang masa haidnya tidak teratur dalam arti mengalami kemajuan tanggal tiap bulan, berisiko kian lama menderita premenstruasi sindrom. “Jika gejalanya ringan tidak masalah. tapi jika berat, apalagi secara psikologis mengalami depresi, sebaiknya melakukan konsultasi,” katanya.
Berbagai penelitian menyebutkan, beberapa faktor meningkatkan risiko terjadinya PMS. Antara lain, status perkawinan. Disebutkan, perempuan yang sudah menikah lebih banyak mengalami PMS dibanding yang belum. Juga perempuan yang sudah melahirkan beberapa anak. Sebuah jurnal kedokteran (namanya lupa nanti kususulkan) menegaskan, peningkatan PMS terjadi pada usia 30 hingga 45 tahun. Setelah itu biasanya secara perlahan terjadi penurunan risiko.
Situs mentruasi.com mengutip penelitian Dr Guy E Abraham, ahli kandungan dan kebidanan dari Fakultas Kedokteran UCLA, AS. Ahli ini membagi PMS dalam empat tipe. Perlu dbaca, supaya Anda tahu, termasuk tipe apa PMS Anda. Dengan demikian bisa dilakukan tindakan meminimalisasi gejala:
1. Tipe A (Anxiety)
Ditandai dengan gejala cemas, sensitif, saraf tegang, dan perasaan labil. Beberapa wanita bahkan mengalami depresi ringan sampai sedang. Saran: Konsumsi makanan berserat, jangan merokok dan batasi asupan kafein dari kopi, teh, dan cokelat.
2. Tipe C (Craving)
Muncul gejala pembengkakan pada perut (kembung), nyeri pada buah dada, tangan, kaki, serta terjadi peningkatan berat badan. Biasanya terjadi karena asupan garam dan gula yang tinggi pada penderita. Gejala pada tipe ini dapat juga dirasakan bersamaan dengan tipe-tipe lain. Saran: Kurangi asupan garam dan gula. Juga jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh.
3. Tipe D (Depression)
Biasanya mengalami rasa lapar, ingin mengonsumsi makanan yang manis (cokelat) dan karbohidrat sederhana. Biasanya setelah menyantap dalam jumlah banyak muncul gejala hipoglikemia seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing, terkadang sampai pingsan. Gejala ini muncul karena peningkatan hormon insulin. Saran: Perbanyak konsumsi sayuran hijau, biji-bijian, gandum, dan kacang-kacangan.
4. Tipe H (Hyperhydration)
Muncul keinginan menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit berkata-kata. Bahkan muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri. Biasanya tipe ini berlangsung bersamaan dengan tipe A. Hanya 3% penderita yang murni mengalami tipe D. Saran: tingkatkan konsumsi vitamin B6 dan magnesium. ***

HarikuAugust 9, 2006 3:23 pm

ADA benarnya juga anggapan si miskin kemungkinan besar tetap miskin karena kurangnya kesempatan.
Kalau dibalik ke kata yang lebih positif, mungkin menjadi seperti ini: untuk meraih sesuatu, si miskin harus berusaha berkali-kali lipat lebih keras, karena hanya sedikit kesempatan yang datang. Saya membuktikan hal itu.

Beberapa minggu ini, pekerjaan saya bertambah banyak. Antara lain melakukan road show ke berbagai sekolah dasar untuk menggelar dua acara dengan sponsor dua produk besar. Yang pertama meminta sekolah dengan segmen sosial menengah, kedua menengah atas.

Untuk merealisasikan hal itu, tim kami mendapat daftar SD negeri dari event organizer (EO) yang pernah menangani acara produk obat nyamuk masuk sekolah. Jadi di hari pertama, dengan tim lengkap — termasuk EO pihak sponsor — kami mendatangi salah satu SDN di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan. KEMANG gitu loh…kawasan elite…pastilah sekolahnya bagus.

Kami pun berangkat, nyasar ke sana kemari, sampai akhirnya menemukan jalan yang benar. Masuk ke jalan kecil dengan rumah-rumah awal begitu megah. Setelah itu dilanjutkan berjalan kaki menyusuri gang. Sampailah ke SD tersebut pukul 12.00 WIB, terlambat satu jam dari perjanjian pukul 11.00.

SD itu besar, terdiri dari dua sekolah. Tapi fasilitas dan kebersihan yang dipertunjukkan menggambarkan sekolah ini untuk kelas sosial bawah. Apa yang terjadi? Pihak sponsor langsung mengatakan, sepertinya tidak layak dijadikan tempat audisi — bagian dari lomba — sekaligus promosi produk.
“Ini bukan segmen kami,” begitu kira-kira yang dikatakan wakil dari EO. Pernyataan yang secara profesional jelas tidak salah.

Kami pun mencari upaya agar tidak terlalu mengecewakan pihak sekolah. Sungguh membuat miris hati, karena mereka menyambut dengan penuh sukacita. Mereka sudah membubarkan siswa pukul 11.00 tepat. Hampir semua guru hadir dalam pertemuan tersebut. Disatu sisi sungguh mengharukan, di sisi lain menunjukkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut.

Hiccck…apa yang harus dilakukan? Akhirnya kami meminta mereka mengirim beberapa karya dari anak didik di sekolah itu.
“Bagaimana cara mengirim?” tanya guru-guru tersebut.
“Oh pakai email saja,” jawab salah satu anggota tim.
Para guru saling berpandangan.
“Apa tidak bisa pakai faks? Itu lebih mudah, kami bisa ke wartel,” begitu pertanyaan dan penyataan seorang guru, setelah sebelumnya hening beberapa detik.

Saat itu, hati saya seperti disodok. Duuuug! Duuuh…beginikah kondisinya? Dan mereka baru saja kehilangan kesempatan mendapat hadiah beasiswa karena kemiskinan yang tidak mereka minta dan akhirnya membatasi kesempatan serta transfer teknologi. Akhirnya, kami memutuskan akan datang lagi mengambil karya para siswa.

Selepas dari sekolah, pihak sponsor mengatakan,
“Lain kali kalau mau mendatangi sekolah dengan tim lengkap, lakukan survei terlebih dahulu.”
Secara profesional betul sekali. Akhirnya dirunut, daftar sekolah dari produk obat nyamuk itu memang menyasar SD kelas bawah. Tujuannya memromosikan produk dengan kemasan idealisme membrantas demam berdarah. Dan sekolah yang kami datangi memang tepat untuk tujuan itu. Setiap tahun langganan banjir, setinggi satu meter. Itu berarti logikanya rawan sarang nyamuk.

Terangisme
Saya kemudian teringat kata-kata Mario Teguh. Banyak orang menganut ilmu terangisme. Saat tidak bisa mencapai sesuatu, mereka menyalahkan keadaan atau orang lain. Misalnya:
“Terang saja, dia kan lebih pintar. Terang saja, dia kan lebih kaya. Terang saja, dia kan mendapat backing orang penting….dan terus terangisme.”

Saya cuma berharap, semoga guru dan anak-anak di sekolah itu dan tentu banyak sekolah lain yang lebih parah kondisinya, tidak menganut ilmu terangisme. Meski pada kenyataannya mereka memang harus berusaha berkali-kali lipat lebih keras. Saya berkeyakinan, kesuksesan mereka nantinya akan terasa lebih manis.

HarikuAugust 7, 2006 6:02 pm

Sejak 17 Juli putriku masuk kelompok bermain, tiga kali dalam seminggu. Saya bersyukur karena dia tidak rewel. Sejak hari pertama tidak minta ditunggu. Langsung bergabung, mendapat teman, masuk ke dalam kelas tanpa rengekan.

Belakangan dia sering menyanyikan lagu-lagu baru. Di antaranya plesetan dari lagu Balonku Ada Lima. Begini nyanyiannya:

Balonku ada satu
Kusimpan di balik pintu
Kuambil pakai sapu
Kulihat burung hantu
kikuk kikuk (sambil menekuk siku kemudian dikepak-kepakkan)

Lucu sih, apalagi melihat dia mengepakkan tangan sambil menyanyi kikuk kikuk. Tapi kok menurut saya rangkaian kata-katanya gak mutu. Merusak dan tidak membentuk logika. Ya sudah, dengan maksud meluruskan logika saya bilang:
“masak sih simpan balon di balik pintu, terus ada burung hantu. Enggak masuk akal deh.”

Dia kemudian menjawab:
“Itu kan cuma nyanyian mama.”
Halaaah, iya juga sih kalau logika dia begitu. :)

Hariku 3:36 pm

PERBENDAHARAAN kata putriku kian banyak. Ada beberapa kejadian lucu yang membuat saya tertawa terbahak-bahak. Begini ceritanya:

1. Merek susu yang dia minum membuat semacam undian berhadiah dengan cara mengirim tutup dus. Hadiahnya jalan-jalan ke Amerika, Hong Kong, dan seperangkat mainan. Saya kemudian bertanya pada dia:
“Non kita kirim yuuuk, siapa tahu menang. Kamu pengennya hadiah apa?”
“Aku mau ke Amerika.”
(dia senang melihat gambar roket yang mewakili Amerika)

Mendengar itu salah satu tetehnya (dua saudara yang ikut mengasuh sejak bayi) bertanya:
“Memangnya bisa bahasa Inggris?”
“bisa dong.”
“coba kalau begitu bagaimana?”

Dengan senyum dikulum sambil menunjuk dua tetehnya, anakku menjawab:
“one, two, monkey.”

Beberapa detik dua tetehnya melongo, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak. Saya pun tak bisa menahan senyum.
“Artinya apa tuh?” tanya teteh satunya lagi.
Anakku tetap memasang senyum dikulum, enggan menjawab.

2. Kemarin (Minggu), saya, putri kecilku, dan dua tetehnya memutar DVD Superman. Tentu si kecil tidak bisa diam. Dia terus berceloteh, kadang mengajak bermain, minta ini dan itu. Tapi kemudian asyik menonton saat muncul helikopter dan gelombang lautan.
Mulailah dia bereksperimen merangkai kata-kata. Dan itu membuat saya tertawa-tawa. Antara lain begini:

Saat melihat ada helikopter jatuh, dia berucap:
“Ma, helikopternya berjatuhan.”
Saya cuma mangut-mangut. Tapi kemudian dia merasa aneh sendiri dengan rangkaian kata itu. Terus tertawa-tawa, melihat ke mata saya dan berkata:
“hahaha salah ya ma, memangnya roti berjatuhan.”
“enggak juga sih, kalau banyak kan bisa juga disebut berjatuhan,” jawab saya.

Dia kemudian asyik lagi menonton. Tapi saat melihat ombak besar, permaianan rangkai-merangkai berlanjut.
“Ma, ombak mengamuk.”

Beberapa saat kemudian dia mencoba merangkai kata lain:
“ombak menguap.”
Merasa aneh lagi dengan rangkaian itu, dia menengok ke arah saya tertawa dan berkata:
“hahaha memangnya ngantuk. Menguap kan begini ya ma…”(sambil membuka mulut, menirukan orang menguap).

Saya tak bisa menahan senyum, selalu menikmati saat-saat bersama si kecil.

HarikuAugust 2, 2006 5:23 pm

Selalu ada ruang untuk Bandung.
Begitu kaki menjejak, perbedaan denyut kota langsung terasa.
Selalu ada ruang untuk perubahan.
Horeee…saya mulai bergerak. Melalui sebuah peristiwa yang memang harus dilalui. Pahit tapi menyadarkan. Setiap hari menjadi lebih baik, dan hari ini semuanya berjalan menyenangkan. Saya sudah melakukan gerak perubahan, meski skalanya masih keciiil. Semoga bukan cuma kilap-kilap di mata, seperti istilah temanku yang meminjam dari temannya juga hehehe.