Saya merasa seperti tukang kebun yang sedang mengamati geliat sebuah tanaman. Atau mungkin seperti seorang kakak tengah mengamati perkembangan adiknya.
Tapi kalau dipikir, dua perumpamaan itu kurang tepat juga. Begini barangkali lebih benderang: dalam sebuah episode kehidupan, saya melihat seseorang melakukan penyangkalan, penerimaan, datang dan pergi dalam balutan kata rasional yang sebenarnya setipis gelembung sabun. Sialnya, saya ada dalam bungkusan gelembung itu. Jadi, selama itu pula, berkali-kali saya harus mengkalibrasi hidup saya sendiri.
Untunglah, belakangan saya mendapat banyak bantuan yang mestinya sudah diatur sang sutradara hidup. Jadi semuanya lebih tertanggungkan. Paling banter bengong sedikit, terus tanpa sadar berucap: Heeeh?
Ya sudahlah, saya kan pernah bilang: hidup ini kejam sekaligus indah bukan? Saya juga masih senang dengan kalimat Ndoro kakung Pecasndahe: hidup ini penuh tikungan mengejutkan. Lha ini salah satu wujudnya. Sebagian terbentuk karena jalan hidup di masa lalu dan masa kini yang kita pilih sendiri. Hayooo, bisa enggak belajar dari kesalahan yang sudah kita buat? Mosok saya gak capek-capek bergerak mengkalibrasi hidup untuk persoalan yang sama.
Saya ingin sekali bisa bisa mengatakan: cukup! karena kamu tidak bisa lagi ‘memanfaatkan’ perasaan saya untuk terus melakukan proses kalibrasi di titik yang sama.
Jadi…move on aaah! malulah sama usia!
Saya mulai teracuni mantra ini. Tentang keikhlasan dan penyembuhan diri. Diperoleh dari metode TAT yang diajarkan Reza Gunawan. Sebagian cuplikannya berbunyi seperti ini:
1. Semua sudah terjadi, sudah berlalu, dan sekarang badan saya boleh rileks.
2. Semua di tubuh dan perasaan saya yang tersakiti sudah tersembuhkan.
Amin!

