MESKI malam telah larut, kehidupan di banyak keluarga tetap benderang. Hampir semua bertahan tidak tidur, menanti pertandingan bola pukul 02.00 WIB. Berbincang santai, bertukar kekaguman tentang indahnya permainan bola bundar.
Jika didramatisasi, inilah saatnya para perempuan yang sudah punya pasangan bebas melirik dan mengagumi lelaki lain. Inilah saatnya para pacar dan suami tidak bisa berbuat apa-apa, meski pasangannya berteriak-teriak menyebut nama lelaki lain.
Permainan bola bundar memang luar biasa. Tiba-tiba saja rivalitas antarlelaki menjadi tidak ada arti. Tiba-tiba saja para pacar dan suami melunakkan sikap. Bahkan banyak yang senang menonton ditemani pasangan, meski nama yang digumamkan dan diteriakkan adalah lelaki lain.
Hampir satu bulan ini, jutaan pasang mata terpukau pada permaianan sepak bola. Para lelaki macho unjuk kebolehan, menggojek bola, menebar pesona, dan bersama pasangannya — rata-rata selebritis –ikut menentukan arah fesyen dunia.
Kedatangan mereka benar-benar membuat euforia. Poster dan gambar bertebaran. Bahkan ada yang iseng menyimpan guntingan foto dari koran di dalam dompet. Seorang teman saya dengan jahil mengatakan:
“coba saja menyimpan foto caleg, sahabat, atau teman satu kantor di dalam dompet. Hasilnya pasti berbeda,” ujarnya sambil tertawa-tawa.
Dia kemudian teringat pada sebuah peristiwa, dimana seorang suami membacok istri karena menyimpan salah satu foto caleg di daerahnya. Untunglah untuk sementara ini saya belum mendengar ada pembacokan karena seorang istri atau pacar menyimpan foto Beckham, Raul, atau Cristiano Ronaldo.
Yang saya lihat dari kehebohan itu justru munculnya perkembangan dan perdebatan positif. Tiba-tiba saja banyak perempuan yang benar-benar sangat fasih membahas permainan bola. Mulai dari adu strategi antarpelatih, posisi pemain di lapangan, hingga argumentasi penyebab kegagalan sebuah tim. Seorang teman menganalisa, piala dunia kali ini membuktikan, kerjasama tim jauh lebih menentukan dibanding kemampuan individu. Itulah sebabnya, mengapa tim bertabur bintang dari Amerika Latin rontok sebelum mencapai semifinal.
Perdebatan juga berputar di sekitar emansipasi. Ada yang dilontarkan serius, banyak juga yang dijadikan candaan. FIFA mencatat, kian banyak perempuan yang menyukai sepak bola. Berdasarkan hitungan terakhir, jumlah penonton perempuan di dunia naik 40 persen. Itu mestinya hanya bisa terjadi karena adanya kesadaran tentang kebebasan dan juga rasa saling menghormati antarpria dan perempuan.
Saya menikmati kebebasan itu. Rasanya menyenangkan terlibat dalam euforia yang melibatkan nama negara dan hanya terjadi empat tahun sekali. Menyenangkan karena permainan ini menciptakan rivalitas dalam lingkaran positif. Kambing hitam yang benar-benar hitam dalam teori mimesis bedahan Sindhunata — teori Rene Girard — tidak ada atau belum terjadi. Mimesis Rene mengutarakan hubungan segitiga (rivalitas plus kambing hitam). Dalam konteks ini, antara pemain, penonton, dan sepak bola sebagai kambing hitam berjalan relatif manis. Andai terjadi sedikit guncangan, biasalah dalam sebuah kehidupan.
Sebab, dalam permainan ini, yang dijadikan kambing hitam ya bola yang disepak-sepak tadi. Yang kalah, silakan menyimpan ‘dendam’. Berlatih lebih keras, empat tahun kemudian melampiaskan lagi dalam sebuah pertandingan sepak bola yang terbukti mampu menghibur ratusan juta orang di seluruh penjuru dunia.
Semoga saja terus demikian. Karena saya punya imajinasi ala kartun: andai saja Amerika dan Irak bisa menyelesaikan persoalan lewat bola sepak? Semuanya pasti menjadi lain. Mestinya tidak ada korban jiwa, dendam, kesepian, dan juga jiwa-jiwa merana karena kehilangan anggota keluarga. ****
NB: Daah dipublish, meski gak sama persis!
HarikuJuly 7, 2006 8:14 am
Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://ruangku.blogsome.com/2006/07/07/kambing-hitam/trackback/
No comments yet.
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>

