INILAH saatnya para perempuan yang sudah punya pasangan bebas melirik dan mengagumi lelaki lain. Inilah saatnya para pacar dan suami tidak bisa berbuat apa-apa, meski pasangannya berteriak-teriak mengagumi lelaki lain.
Permainan bola bundar memang luar biasa. Tiba-tiba saja rivalitas antarlelaki menjadi tidak ada arti. Tiba-tiba saja para pacar dan suami melunakkan sikap. Bahkan banyak yang senang menonton ditemani pasangan, meski nama yang digumamkan dan diteriakkan adalah lelaki lain.
Satu bulan ini, televisi dibanjiri pemain bola. Lelaki ganteng dari berbagai penjuru dunia. Mereka unjuk kebolehan, menebar pesona, dan terlihat macho saat bersimbah basah keringat (hueeek…)
Kedatangan mereka benar-benar membuat euforia. gambar mereka bertebaran, bahkan ada yang menyimpan di dalam dompet.
Seorang teman saya dengan jahil mengatakan:
“coba saja menyimpan foto caleg, teman sepermainan, sahabat, atau teman satu kantor di dalam dompet. Hasilnya pasti berbeda,” ujarnya sambil tertawa-tawa.
Dia kemudian teringat pada sebuah peristiwa, dimana seorang suami membacok istri karena menyimpan salah satu foto caleg di daerahnya. Untunglah untuk sementara saya belum mendengar ada pembacokan karena seorang istri atau pacar menyimpan foto Beckham, Raul, atau Christiano Ronaldo.
Yang saya lihat dari kehebohan itu justru munculnya perdebatan positif. Ada yang dilontarkan serius, banyak juga yang dijadikan candaan. Di antaranya seputar emansipasi. Ada yang mengatakan, ini sebuah kemajuan karena para lelaki tidak merasa tersaingi saat pasangannya mengagumi dan mendesahkan nama pria lain. Kemajuan karena kian banyak perempuan yang menyukai sepakbola. Berdasarkan hitungan FIFA, jumlah penonton perempuan di dunia naik 40 persen. Itu mestinya hanya bisa terjadi karena adanya kesadaran tentang kebebasan dan juga rasa saling menghormati.
Saya sendiri menikmati kebebasan itu. Rasanya menyenangkan terlibat dalam euforia yang melibatkan nama negara dan hanya terjadi empat tahun sekali. Namun di tengah kegembiraan menonton sepakbola, kadang dengan sendirinya saya tersadarkan. Tepatnya ketika ada yang bekata:
“laper euy, buatin indomi dong.”
Gubraaaak: kembalilah saya ke dunia nyata.
Tapi barangkali karena itulah, sampai sekarang rivalitasnya yang melibatkan bola sepak masih dalam lingkaran positif. Kambing hitam yang benar-benar hitam dalam teori mimesis bedahan Sindhunata — teori Rene Girard — tidak ada atau belum terjadi. Hubungan segitiga antara pemain, penonton, dan sepakbola sebagai kambing hitamnya relatif berjalan manis. Andai terjadi sedikit guncangan, biasalah…
Semoga saja terus demikian. Karena saya punya imajinasi ala kartun: andai saja Amerika dan Irak bisa menyelesaikan persoalan lewat bola sepak? Semuanya pasti menjadi lebih baik. Karena yang dijadikan kambing hitam ya bola yang disepak-sepak tadi. Yang kalah, silakan menyimpan dendam. Kemudian melampiaskan lagi dengan cara menyepak-nyepak bola.

