HarikuJuly 25, 2006 7:06 am

Saya merasa seperti tukang kebun yang sedang mengamati geliat sebuah tanaman. Atau mungkin seperti seorang kakak tengah mengamati perkembangan adiknya.

Tapi kalau dipikir, dua perumpamaan itu kurang tepat juga. Begini barangkali lebih benderang: dalam sebuah episode kehidupan, saya melihat seseorang melakukan penyangkalan, penerimaan, datang dan pergi dalam balutan kata rasional yang sebenarnya setipis gelembung sabun. Sialnya, saya ada dalam bungkusan gelembung itu. Jadi, selama itu pula, berkali-kali saya harus mengkalibrasi hidup saya sendiri.

Untunglah, belakangan saya mendapat banyak bantuan yang mestinya sudah diatur sang sutradara hidup. Jadi semuanya lebih tertanggungkan. Paling banter bengong sedikit, terus tanpa sadar berucap: Heeeh?

Ya sudahlah, saya kan pernah bilang: hidup ini kejam sekaligus indah bukan? Saya juga masih senang dengan kalimat Ndoro kakung Pecasndahe: hidup ini penuh tikungan mengejutkan. Lha ini salah satu wujudnya. Sebagian terbentuk karena jalan hidup di masa lalu dan masa kini yang kita pilih sendiri. Hayooo, bisa enggak belajar dari kesalahan yang sudah kita buat? Mosok saya gak capek-capek bergerak mengkalibrasi hidup untuk persoalan yang sama.
Saya ingin sekali bisa bisa mengatakan: cukup! karena kamu tidak bisa lagi ‘memanfaatkan’ perasaan saya untuk terus melakukan proses kalibrasi di titik yang sama.

Jadimove on aaah! malulah sama usia!

Saya mulai teracuni mantra ini. Tentang keikhlasan dan penyembuhan diri. Diperoleh dari metode TAT yang diajarkan Reza Gunawan. Sebagian cuplikannya berbunyi seperti ini:
1. Semua sudah terjadi, sudah berlalu, dan sekarang badan saya boleh rileks.
2. Semua di tubuh dan perasaan saya yang tersakiti sudah tersembuhkan.
Amin!

HarikuJuly 20, 2006 5:54 pm

SUATU saat nanti, saya ingin bercerita tentang pengaruh Mario teguh, Reza Gunawan, dan Casandra. Duapuluh empat jam yang mencengangkan. Semua menjadi lebih mudah dan tertanggungkan. Jika terbukti demikian, saya sungguh ingin berbagi. Tapi nanti, saat waktu telah membuktikan!

HarikuJuly 9, 2006 8:14 am

Jumat menjadi malam yang paling melelahkan buat saya. Dari pagi telepon berdering, mengharuskan saya melakukan banyak koordinasi. Menerima telepon, menelepon, mengatur pemotretan, dan mengurus pekerjaan rutin.

Kemarin menjadi malam yang paling menguras emosi. Mendengar seorang teman mengucapkan tiga alasan yang tidak masuk akal. Memberi alasan ajaib yang menunjukkan ketidaktahuan dan merusak kerja sebuah tim.

Benar-benar menjadi malam yang menguras energi. Emosi saya bergerak sampai ke ujung kepala. Susah berkata-kata, apalagi menyusun struktur kalimat. Dengan gemetar dan airmata hampir runtuh, saya berkata: “Selesaikan saja di rapat, saat ini saya sedang emosi dan tidak bisa bicara benar.”

Malam dasyat, melengkapi tautan hari yang sudah bergeser ke pembagian waktu pagi. Arrrgh!!! Barangkali saya perlu cuti!

HarikuJuly 7, 2006 3:14 pm

Dengan sepenuh hati saya ingin meminta maaf pada seseorang. Terimakasih selama ini telah membantu saya. Sungguh…tolong tetap jadi teman dan kakak saya.
Hidup ini kejam sekaligus indah…bukan?

Hariku 2:12 pm

Patah hati berkali-kali!
Dua hari ini rasanya saya menghabiskan waktu dengan perasaan patah hati berkali-kali. Ini meminjam istilah temanku si penarimungil. Istilah itu saya pinjam untuk menggambarkan suasana yang membuat perasaan saya seperti remah biskuit. Benar-benar terpatahkan, saat kamu berusaha mengingkari sesuatu karena takut tersakiti.

Untung teman-teman saya begitu baik hati. Untung saya masih bisa tertawa dan menertawai diri sendiri. Begitulah rasanya….gombal tenan!

Hariku 8:14 am

MESKI malam telah larut, kehidupan di banyak keluarga tetap benderang. Hampir semua bertahan tidak tidur, menanti pertandingan bola pukul 02.00 WIB. Berbincang santai, bertukar kekaguman tentang indahnya permainan bola bundar.
Jika didramatisasi, inilah saatnya para perempuan yang sudah punya pasangan bebas melirik dan mengagumi lelaki lain. Inilah saatnya para pacar dan suami tidak bisa berbuat apa-apa, meski pasangannya berteriak-teriak menyebut nama lelaki lain.
Permainan bola bundar memang luar biasa. Tiba-tiba saja rivalitas antarlelaki menjadi tidak ada arti. Tiba-tiba saja para pacar dan suami melunakkan sikap. Bahkan banyak yang senang menonton ditemani pasangan, meski nama yang digumamkan dan diteriakkan adalah lelaki lain.
Hampir satu bulan ini, jutaan pasang mata terpukau pada permaianan sepak bola. Para lelaki macho unjuk kebolehan, menggojek bola, menebar pesona, dan bersama pasangannya — rata-rata selebritis –ikut menentukan arah fesyen dunia.
Kedatangan mereka benar-benar membuat euforia. Poster dan gambar bertebaran. Bahkan ada yang iseng menyimpan guntingan foto dari koran di dalam dompet. Seorang teman saya dengan jahil mengatakan:
“coba saja menyimpan foto caleg, sahabat, atau teman satu kantor di dalam dompet. Hasilnya pasti berbeda,” ujarnya sambil tertawa-tawa.
Dia kemudian teringat pada sebuah peristiwa, dimana seorang suami membacok istri karena menyimpan salah satu foto caleg di daerahnya. Untunglah untuk sementara ini saya belum mendengar ada pembacokan karena seorang istri atau pacar menyimpan foto Beckham, Raul, atau Cristiano Ronaldo.
Yang saya lihat dari kehebohan itu justru munculnya perkembangan dan perdebatan positif. Tiba-tiba saja banyak perempuan yang benar-benar sangat fasih membahas permainan bola. Mulai dari adu strategi antarpelatih, posisi pemain di lapangan, hingga argumentasi penyebab kegagalan sebuah tim. Seorang teman menganalisa, piala dunia kali ini membuktikan, kerjasama tim jauh lebih menentukan dibanding kemampuan individu. Itulah sebabnya, mengapa tim bertabur bintang dari Amerika Latin rontok sebelum mencapai semifinal.
Perdebatan juga berputar di sekitar emansipasi. Ada yang dilontarkan serius, banyak juga yang dijadikan candaan. FIFA mencatat, kian banyak perempuan yang menyukai sepak bola. Berdasarkan hitungan terakhir, jumlah penonton perempuan di dunia naik 40 persen. Itu mestinya hanya bisa terjadi karena adanya kesadaran tentang kebebasan dan juga rasa saling menghormati antarpria dan perempuan.
Saya menikmati kebebasan itu. Rasanya menyenangkan terlibat dalam euforia yang melibatkan nama negara dan hanya terjadi empat tahun sekali. Menyenangkan karena permainan ini menciptakan rivalitas dalam lingkaran positif. Kambing hitam yang benar-benar hitam dalam teori mimesis bedahan Sindhunata — teori Rene Girard — tidak ada atau belum terjadi. Mimesis Rene mengutarakan hubungan segitiga (rivalitas plus kambing hitam). Dalam konteks ini, antara pemain, penonton, dan sepak bola sebagai kambing hitam berjalan relatif manis. Andai terjadi sedikit guncangan, biasalah dalam sebuah kehidupan.
Sebab, dalam permainan ini, yang dijadikan kambing hitam ya bola yang disepak-sepak tadi. Yang kalah, silakan menyimpan ‘dendam’. Berlatih lebih keras, empat tahun kemudian melampiaskan lagi dalam sebuah pertandingan sepak bola yang terbukti mampu menghibur ratusan juta orang di seluruh penjuru dunia.
Semoga saja terus demikian. Karena saya punya imajinasi ala kartun: andai saja Amerika dan Irak bisa menyelesaikan persoalan lewat bola sepak? Semuanya pasti menjadi lain. Mestinya tidak ada korban jiwa, dendam, kesepian, dan juga jiwa-jiwa merana karena kehilangan anggota keluarga. ****

NB: Daah dipublish, meski gak sama persis!

HarikuJuly 5, 2006 5:40 pm

INILAH saatnya para perempuan yang sudah punya pasangan bebas melirik dan mengagumi lelaki lain. Inilah saatnya para pacar dan suami tidak bisa berbuat apa-apa, meski pasangannya berteriak-teriak mengagumi lelaki lain.
Permainan bola bundar memang luar biasa. Tiba-tiba saja rivalitas antarlelaki menjadi tidak ada arti. Tiba-tiba saja para pacar dan suami melunakkan sikap. Bahkan banyak yang senang menonton ditemani pasangan, meski nama yang digumamkan dan diteriakkan adalah lelaki lain.

Satu bulan ini, televisi dibanjiri pemain bola. Lelaki ganteng dari berbagai penjuru dunia. Mereka unjuk kebolehan, menebar pesona, dan terlihat macho saat bersimbah basah keringat (hueeek…)

Kedatangan mereka benar-benar membuat euforia. gambar mereka bertebaran, bahkan ada yang menyimpan di dalam dompet.
Seorang teman saya dengan jahil mengatakan:
“coba saja menyimpan foto caleg, teman sepermainan, sahabat, atau teman satu kantor di dalam dompet. Hasilnya pasti berbeda,” ujarnya sambil tertawa-tawa.
Dia kemudian teringat pada sebuah peristiwa, dimana seorang suami membacok istri karena menyimpan salah satu foto caleg di daerahnya. Untunglah untuk sementara saya belum mendengar ada pembacokan karena seorang istri atau pacar menyimpan foto Beckham, Raul, atau Christiano Ronaldo.

Yang saya lihat dari kehebohan itu justru munculnya perdebatan positif. Ada yang dilontarkan serius, banyak juga yang dijadikan candaan. Di antaranya seputar emansipasi. Ada yang mengatakan, ini sebuah kemajuan karena para lelaki tidak merasa tersaingi saat pasangannya mengagumi dan mendesahkan nama pria lain. Kemajuan karena kian banyak perempuan yang menyukai sepakbola. Berdasarkan hitungan FIFA, jumlah penonton perempuan di dunia naik 40 persen. Itu mestinya hanya bisa terjadi karena adanya kesadaran tentang kebebasan dan juga rasa saling menghormati.

Saya sendiri menikmati kebebasan itu. Rasanya menyenangkan terlibat dalam euforia yang melibatkan nama negara dan hanya terjadi empat tahun sekali. Namun di tengah kegembiraan menonton sepakbola, kadang dengan sendirinya saya tersadarkan. Tepatnya ketika ada yang bekata:
“laper euy, buatin indomi dong.”
Gubraaaak: kembalilah saya ke dunia nyata.

Tapi barangkali karena itulah, sampai sekarang rivalitasnya yang melibatkan bola sepak masih dalam lingkaran positif. Kambing hitam yang benar-benar hitam dalam teori mimesis bedahan Sindhunata — teori Rene Girard — tidak ada atau belum terjadi. Hubungan segitiga antara pemain, penonton, dan sepakbola sebagai kambing hitamnya relatif berjalan manis. Andai terjadi sedikit guncangan, biasalah…

Semoga saja terus demikian. Karena saya punya imajinasi ala kartun: andai saja Amerika dan Irak bisa menyelesaikan persoalan lewat bola sepak? Semuanya pasti menjadi lebih baik. Karena yang dijadikan kambing hitam ya bola yang disepak-sepak tadi. Yang kalah, silakan menyimpan dendam. Kemudian melampiaskan lagi dengan cara menyepak-nyepak bola.

Hariku 5:40 pm

SELAIN penuh tikungan mengejutkan — seperti kata Ndoro Kakung — hidup ini menurut saya penuh tantangan dan perjuangan. Dari kecil sampai sekarang, saya terus berjuang mengalahkan begitu banyak ketakutan dan rasa malu. Terbaru, saat dipaksa berhadapan dengan kamera. Rasanya menciut, jadi keciiiil sekali. Seperti ada di sebuah ruang tertutup, panik, mau lari, tapi tidak ada pintu, tidak ada jendela, tidak ada lubang apa pun.

Perlu banyak energi dan kemauan untuk mengalahkan perasaan itu. Mencoba memompa semangat, bahwa saya bisa melakukan itu. Mencoba membangkitkan kesombongan, membuktikan bahwa saya bisa. Mencoba meyakinkan diri sendiri, jika bisa melakukan dan melewati tantangan itu, maka semua akan menjadi lebih mudah.

Berhasil? Berani tampil di depan kamera iya. Tapi saya tidak pernah bisa menghilangkan perasaan nervous . Saya benci efek sebelum dan sesudahnya. Jujur saja, saya tidak pernah beranjak — menjadi tampil lebih baik. Padahal sudah cukup sering melakukan.

Sekarang, saya mulai berpikir: bagaimana caranya supaya saya bisa lepas dari tugas ini? Atau bagaimana caranya bisa menghilangkan perasaan nervous ? Juga, bagaimana caranya menghilangkan efek yang dalam sekejab bisa membuat tangan dan kaki saya dingin serta gemetar?

Betulkan, selain kejutan, hidup ini penuh tantangan dan perjuangan. Sulit mengalahkan diri sendiri.

HarikuJuly 3, 2006 1:52 pm

Tercabik-cabik. Indah, suram, dan pedih. Kejujuran yang diungkap mengembangkan air mata. keunikan karakter dan penggambaran sakit jiwa yang lembut, membuat saya membatin: bukankah itu sebagian dari hidup yang juga kita jalani sehari-hari? Hanya saja, kita terkadang mengabaikan perasaan dan pencarian. Menutupi dengan kesibukan dan ketidakpedulian. Mana lebih baik? Saya tidak tahu. Tapi paling tidak, meski sangat pelan, saya tetap berjalan. Menapak dua langkah, mundur satu langkah.

Hari ini, saya menenggelamkan diri. Membiarkan perasaan aneh berkeliaran, berusaha menutupi sesaknya airmata , saat membaca habis Norwegian Wood. Semua itu, mengisi perjalanan Jakarta-Ambon-Jakarta.