SIHIR bola memang luar biasa. Buat saya, permainan ini memberi banyak pelajaran. Bukan hanya permainan tim, tapi terutama semangat berjuang pantang mundur, hingga detik terakhir peluit dibunyikan. Lihat saja bagaimana ngototnya Korea Selatan, meski sudah tertinggal 2-0. Juga partai-partai lain, termasuk Belanda vs Portugal yang berlangsung begitu keras dan seru.

Di tingkat individu, saya juga mengagumi para pemain yang dianggap tidak bergigi lagi, tapi kemudian berhasil bangkit atau keluar dari anggapan itu. Dalam perasaan dan pikiran saya, tentu tidak mudah keluar dari tekanan yang begitu besar. Semangat seperti ini patut dihargai dan ditiru.

Permainan bola bundar juga mengajarkan bagaimana kita semua bisa menerima kekalahan dengan sportif. Bukan hanya pemain, tetapi juga penonton, dan suporter — meski kadang terjadi keributan.

Saya juga belajar menerima keputusan wasit, meski terkadang terasa kurang adil. Juga belajar bagaimana mengendalikan hati, saat diterpa perasaan tak tega melihat gol bunuh diri yang dilakukan pemain. Tentu bukan pekara mudah buat dia, untuk merasa tidak bersalah dan mengembalikan kondisi mental. Saya jadi teringat kasus penembakan Escobar, pemain Kolombia (bener gak?) yang dihabisi mafia karena mengacaukan pasar taruhan.

Selain itu, saya juga mengagumi kemampuan orang melatih sebuah tim. Misalnya, Guus Hiddink yang pernah berhasil membawa Korea Selatan ke empat besar. Saat menulis ini, tengah berlangsung pertandingan antara Italia dan Australia — 16 besar — dimana Hiddink menjadi pelatih. (Australia kalah euy 1-0…golnya di menit 95)

Saya juga mendengar dan membaca kisah ruud gullit yang ditendang oleh Chelsea, setelah berhasil menaikkan peringkat klub itu ke nomor satu. Mantan pemain Belanda ini juga mampu mendongkrak peringkat Newcastle. Dimana dia sekarang ya?

Karena saya senang dengan Argentina, maka setiap tim ini tampil — pada Piala Dunia 2006 — saya teringat beberapa pemain veteran. Kemana sekarang Batistuta? Katanya sih bermain untuk liga-liga kecil, dan sekarang di liga Arab. Lalu kemana Ortega yang pernah disebut-sebut sebagai pemain masa depan, meski doyan akting jatuh di lapangan? Kabarnya, setelah menolak kontrak Manchester, Ortega juga memilih main di liga-liga kecil. Kemana pula Canigia?
Waaah, saya jadi ingin tahu! Selamat Ulang Tahun Lionel Messy!

NB: Putri kecil saya (3,7 tahun) juga terkena demam bola. Dia ngotot memegang Tunisia. Alasannya sederhana, benderanya bagus, warnanya merah. Dan sekarang, setiap hari dia bermain tangkap bola. Katanya meniru aksi kiper. Dia benar-benar kagum dengan penjaga gawang, dan katanya ingin sekali pakai sarung tangan seperti mereka.