Ini cerita lama yang hangat kembali ketika mendapat porsi di acara Kick Andy, Metro TV. Kisah tentang kekuatan cinta (sebenarnya saya lebih senang menyebut dengan gabungan kekuatan dan misteri cinta).
Saya mendapat kisah ini dari seorang teman yang belum lama ini menonton langsung pengambilan gambar acara tersebut — TAYANG 29 JUNI 2006. Karena itu, maaf kalau ada erosi fakta. Intinya saya hanya ingin menceritakan apa yang saya rasakan berkaitan dengan dua peristiwa, salah satu di antaranya kisah ini.
Berkisah tentang sepasang suami istri yang menurut saya sudah melewati ujian hidup. Mereka adalah Betania dan pasangannya Dwi Kris.
Kira-kira begini ceritanya:
Betania seorang pengkhotbah, dan Dwi adalah salah satu jemaat yang mendengar pelayanannya. Sejak pertamakali melihat Betania, Dwi langsung jatuh cinta. Mereka jadian, dan berikutnya harus menghadapi tentangan keluarga Dwi. Sebab, dalam hitungan weton, Betania dianggap sebagai pembawa sial. Bisa membawa petaka.
Entah ada hubungannya atau tidak, tiga bulan setelah berpacaran, Dwi (seorang pilot) mendapat kecelakaan. Pesawatnya terbakar dan hampir seluruh tubuh dan wajah terbakar. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit, masuk ICU, dan terus koma.
Betani yang mendengar kabar itu datang ke rumah sakit. Namun keluarga Dwi terus menolak, mengusir, dan mengatakan bahwa dia pembawa sial. Sia-sia memohon untuk melihat kekasih hatinya. Saat datang ketigakalinya dan terus ditolak, Betania lari ke sebuah kapel. Di tempat itu dia berdoa, dan berjanji akan setia dan mengabdi pada Dwi, jika Tuhan memberi kesempatan hidup yang kedua. Selesai berdoa, dia kembali ke rumah sakit.
Di rumah sakit, terjadi kehebohan. Saat itu, Dwi sudah divonis meninggal. Ketika akan ditutup kain, tiba-tiba dia berteriak memanggil nama Betania. Suster yang ada di tempat itu pingsan, dan dokter langsung menemui keluarga menanyakan siapa Betania dan meminta untuk segera dihadirkan. Akhirnya, keinginan Betania untuk menemui kekasih hatinya terwujud.
Memasuki ruangan, dia bertanya:
“Dimana wi?”
Dokter menunjuk seorang pasien yang wajahnya sudah tidak berbentuk, antara lain salah satu cuping hidungnya hilang:
“Itu kekasihmu.”
Betania terkejut dan kemudian membatin:
“Tuhan aku ingin menarik kembali janjiku, mengapa Kau memberiku yang seperti ini?”
Tapi kemudian iman Betania berproses. Dengan kelapangan luar biasa dia menjalani semua itu. Andy Noya — pembawa acara Kick Andy — sempat bertanya: Apa yang membuat Betania bisa melakukan semuai itu? Apakah karena kekuatan cinta? Tapi bagaimana mungkin, mengingat mereka baru berpacaran tiga bulan.
Betania menjawab:
“Itulah cara saya mencintai Tuhan.”
Dua tahun kemudian (selama waktu itu, Dwi terus menjalani perawatan) mereka menikah. Kini, telah memunyai anak usia lima tahun. Mereka bersyukur dikaruniai anak luar biasa.
Luar biasa? Begini ceritanya: setiap ada teman anaknya datang ke rumah, selalu terjadi kehebohan. Anak kecil yang datang pasti menunjukkan wajah terkejut, berteriak dan akhirnya menangis begitu melihat wajah Dwi. Namun, dengan tenang anak ini selalu menjelaskan:
“Ini papaku, dia dulu tidak seperti itu. Dia adalah seorang pilot, dan ketika pesawatnya terbakar, papaku menjadi seperti ini.”
Itu kisah pertama.
Kedua: beberapa hari lalu, salah seorang temanku berkenalan dengan seseorang yang kaya, tampan, terkenal, dan diakui sangat pintar. Dia menggambarkan, kepintaran orang itu rasanya seperti membakar.
Hari ini, saya tahu, pacar orang yang disebut-sebut tampan, pintar, dan membakar itu sangat…sangat…sangat…sangat biasa. Bahkan dalam pandangan kami, meski diukur dari sudut pandang umum yang disebut relatif, tetap sangat….sangat….sangat….biasa. Kami berdua kemudian tercenung dan berpandangan-pandangan. Kenyataan yang sungguh jauh dari bayangan. Begitu mengherankan dan begitu indah!
Apakah ini satu lagi kekuatan dan misteri cinta? saya tidak tahu. Tapi saya jadi merasa cemen. Jelas, antara lain karena pengaruh hormon premensturasi. Saya menjadi sensitif dan sulit menolak untuk tidak berkaca-kaca.
Saya kemudian berpikir: ternyata dunia masih normal. Paling tidak ada perbandingan: dari sekian juta orang, ada satu yang tidak memedulikan kemasan. Saya kemudian juga berpikir, syukurlah di antara sekian juta orang, masih ada pasangan normal. Atau mungkin begini: ternyata dari perbandingan sekian juta orang, masih ada pasangan yang abnormal????? (kidding: ini cerita yang indah di dunia yang kejam!)

