Apa yang terjadi jika perempuan masuk fase 27 tahun?
Berdasarkan apa yang saya alami dan juga pengamatan pada beberapa teman, inilah fase dimana pikiran orang mulai melompat-lompat. Kebingungan memutuskan jalan hidup, berada di persimpangan jalan, merasa sepi, gamang, dan ketahanan menghadapi persoalan cinta yang kian melemah.
Untuk sementara saya berpendapat, perasaan seperti itu terbentuk karena pengaruh budaya dan globalisasi. Disadari atau tidak, pandangan umum yang terbentuk karena budaya dan adat istiadat memengaruhi bawah sadar. Pun derasnya arus globalisasi.
Tidak percaya? Di kantor ada cukup banyak bukti. Masing-masing perempuan memunyai kisah berbeda. Meski demikian, terhubung sebuah benang merah. Saat memasuki usia 27 tahun, mereka mulai dihinggapi perasaan sepi, ketahanan emosi yang menurun, dan bla…bla…bla…
Ada yang kemudian berpacaran dengan sembarang orang, ada yang kebingungan mencari pacar, berdandan aneh, dan ada yang memutuskan menikah karena merasa hidupnya bisa kacau.
Selain itu, seorang teman yang patah hati merasa masa recovery-nya jauh lebih sulit dibanding saat dia belum berusia 27 tahun.
“Kenapa ya,” tanya teman saya tadi.
“Menurut saya, itu sindrom 27 tahun. Coba perhatikan beberapa teman yang memasuki usia tersebut, dan lihat perbedaannya dari waktu ke waktu. Jika tidak bisa mengatasi perasaan itu, usia 27 dan 28 merupakan saat yang rawan. Bisa-bisa seseorang mengambil keputusan gegabah,” sahut saya.
“Tapi apakah perasaan seperti ini juga menghinggapi perempuan dengan karir lebih mapan?”
“Nah, yang ini saya belum tahu. Apa yang saya amati, biasanya terjadi pada perempuan dengan karir biasa hingga sedang.”
Akhirnya, kami berdua tertawa-tawa. Sebagai teman yang jauh lebih tua, saya pura-pura menjadi lebih bijak 


yuuuuukkkkkk….!!!:)
Comment by -ca- — June 20, 2006 @ 2:31 am