Ini cerita sesungguhnya yang sempat membuat saya tertawa. Diceritakan oleh perempuan berusia sekitar 50 tahun yang kita sebut saja ceu-ceu, dalam bahasa Sunda berarti kakak perempuan.
Suatu hari — saat fajar belum merekah sempurna — ceu-ceu merasakan sakit di bagian jantung. Dia membangunkan sang suami, minta diantar ke rumah sakit, tapi kemudian teringat belum sholat subuh. Dalam pikiran dia:
“kalau saya tiba-tiba meninggal, saya belum sempat sholat.”
Maka, dia memutuskan untuk melakukan sholat subuh terlebih dahulu. Saat sholat, dia rasa sakitnya jauh berkurang. Tapi ketika selesai melakukan ibadah, nyeri itu kembali datang.
Dengan bergegas, diantar suami, ceu-ceu berangkat ke Rumah Sakit Tebet, Jakarta Pusat. Saat mobil belum berhenti benar di lobi rumah sakit, ceu-ceu melompat, berlari menuju UGD sambil berteriak:
“Tolong…tolong…dada saya sakit.”
Tenaga medis di bagian UGD langsung memberi pertolongan. Ceu-ceu bercerita, dia sudah tidak peduli lagi ketika diminta melepas baju dan dipasangi banyak selang dan kabel. Padahal, katanya, semua tenaga di UGD saat itu lelaki.
Dia juga memutuskan menuruti semua perintah: tidak boleh bicara, tidak boleh berpikir, tidak boleh marah, dan tidak boleh emosi. Pasalnya, setiap memikirkan sesuatu, denyut jantung di layar monitor langsung naik turun drastis. Jadilah ceu-ceu yang biasanya suka bicara ini menahan diri.
Saat sudah boleh berbicara, salah satu saudara yang menjenguk bertanya: “kenapa tidak menunggu kursi roda, tapi langsung turun dan mobil dan lari ke UGD?'’
Jawab ceu-ceu: “kalau menunggu kursi roda, kemungkinan butuh waktu limabelas menit. Dalam rentang waktu itu, kemungkinan saya sudah dead.”
Lalu, dia kembali bercerita: selama di rumah sakit, dia melihat seluruh perawatnya orang Batak. Karena itu, ceu-ceu menjadi begitu khawatir. Kekhawatirannya tentang orang Batak, jelas mengundang pertanyaan:
“Kenapa jadi rasis begitu?”
“Bukan seperti itu maksud saya,” jawab ceu-ceu.
Mengalir lagi ceritanya: dalam anggapan ceu ceu, kalau orang Batak, maka kemungkinan besar agamanya Kristen. Padahal, andai meninggal, dia ingin sekali ada yang menuntun: membisikkan nama Allah (La illah ha ilallaah) di telinganya.
Karena itu, dia sangat gembira ketika pada hari keempat di rumah sakit, ada perawat yang memanggil rekat sejawatnya dengan panggilan mas (dalam Bahasa Jawa berarti kakak laki-laki). Ceu-ceu langsung menghafal wajah lelaki yang dipanggil mas tersebut.
Beberapa jam kemudian, lelaki tadi datang memeriksa peralatan medis yang digunakan. Ceu-ceu tidak menyia-nyiakan kesempatan:
“mas, mas, saya perlu minta tolong. Mari kita berbincang sebentar.”
Laki-laki itu kelihatan agak terkejut:
“wah, darimana ibu tahu nama saya?”
Gubraaaak! ceu-ceu jadi frustasi, karena ternyata nama lelaki itu Thomas, orang Batak dan kebetulan beragama Kristen. Tapi untunglah, sekarang ceu-ceu sudah sehat. Dan kini jadi berteman baik dengan Thomas.

