Putri kecilku sakit. Ini bagian yang paling tidak tertahankan. Mendengar dia berkata: “mama aku lemes, badanku pegel-pegel.”
Saya tadi ke Madania, sekolah bagus yang letaknya sudah beda provinsi dengan Jakarta, yaitu di Parung, Jawa Barat. Sebuah sekolah internasional yang mengedepankan pluralisme, didirikan oleh Paramadina. Saya kemudian kok terkenang almarhum Cak Nur. Tokoh langka yang saya kagumi karena sikapnya yang menghormati agama lain, dalam pikiran dan tindakan.
Memalukan! Ini satu sisi menjengkelkan dari sebuah permainan bola bundar. Tepatnya saat melihat ada pemain berpura-pura jatuh agar mendapat ganjaran tendangan bebas. Apa mereka tidak malu? Pastinya tahu dunk, bakal ada pengulangan gambar yang akan memperlihatkan ketidak sportifan mereka.
SIHIR bola memang luar biasa. Buat saya, permainan ini memberi banyak pelajaran. Bukan hanya permainan tim, tapi terutama semangat berjuang pantang mundur, hingga detik terakhir peluit dibunyikan. Lihat saja bagaimana ngototnya Korea Selatan, meski sudah tertinggal 2-0. Juga partai-partai lain, termasuk Belanda vs Portugal yang berlangsung begitu keras dan seru.
Di tingkat individu, saya juga mengagumi para pemain yang dianggap tidak bergigi lagi, tapi kemudian berhasil bangkit atau keluar dari anggapan itu. Dalam perasaan dan pikiran saya, tentu tidak mudah keluar dari tekanan yang begitu besar. Semangat seperti ini patut dihargai dan ditiru.
Permainan bola bundar juga mengajarkan bagaimana kita semua bisa menerima kekalahan dengan sportif. Bukan hanya pemain, tetapi juga penonton, dan suporter — meski kadang terjadi keributan.
Saya juga belajar menerima keputusan wasit, meski terkadang terasa kurang adil. Juga belajar bagaimana mengendalikan hati, saat diterpa perasaan tak tega melihat gol bunuh diri yang dilakukan pemain. Tentu bukan pekara mudah buat dia, untuk merasa tidak bersalah dan mengembalikan kondisi mental. Saya jadi teringat kasus penembakan Escobar, pemain Kolombia (bener gak?) yang dihabisi mafia karena mengacaukan pasar taruhan.
Selain itu, saya juga mengagumi kemampuan orang melatih sebuah tim. Misalnya, Guus Hiddink yang pernah berhasil membawa Korea Selatan ke empat besar. Saat menulis ini, tengah berlangsung pertandingan antara Italia dan Australia — 16 besar — dimana Hiddink menjadi pelatih. (Australia kalah euy 1-0…golnya di menit 95)
Saya juga mendengar dan membaca kisah ruud gullit yang ditendang oleh Chelsea, setelah berhasil menaikkan peringkat klub itu ke nomor satu. Mantan pemain Belanda ini juga mampu mendongkrak peringkat Newcastle. Dimana dia sekarang ya?
Karena saya senang dengan Argentina, maka setiap tim ini tampil — pada Piala Dunia 2006 — saya teringat beberapa pemain veteran. Kemana sekarang Batistuta? Katanya sih bermain untuk liga-liga kecil, dan sekarang di liga Arab. Lalu kemana Ortega yang pernah disebut-sebut sebagai pemain masa depan, meski doyan akting jatuh di lapangan? Kabarnya, setelah menolak kontrak Manchester, Ortega juga memilih main di liga-liga kecil. Kemana pula Canigia?
Waaah, saya jadi ingin tahu! Selamat Ulang Tahun Lionel Messy!
NB: Putri kecil saya (3,7 tahun) juga terkena demam bola. Dia ngotot memegang Tunisia. Alasannya sederhana, benderanya bagus, warnanya merah. Dan sekarang, setiap hari dia bermain tangkap bola. Katanya meniru aksi kiper. Dia benar-benar kagum dengan penjaga gawang, dan katanya ingin sekali pakai sarung tangan seperti mereka.
Ini cerita lama yang hangat kembali ketika mendapat porsi di acara Kick Andy, Metro TV. Kisah tentang kekuatan cinta (sebenarnya saya lebih senang menyebut dengan gabungan kekuatan dan misteri cinta).
Saya mendapat kisah ini dari seorang teman yang belum lama ini menonton langsung pengambilan gambar acara tersebut — TAYANG 29 JUNI 2006. Karena itu, maaf kalau ada erosi fakta. Intinya saya hanya ingin menceritakan apa yang saya rasakan berkaitan dengan dua peristiwa, salah satu di antaranya kisah ini.
Berkisah tentang sepasang suami istri yang menurut saya sudah melewati ujian hidup. Mereka adalah Betania dan pasangannya Dwi Kris.
Kira-kira begini ceritanya:
Betania seorang pengkhotbah, dan Dwi adalah salah satu jemaat yang mendengar pelayanannya. Sejak pertamakali melihat Betania, Dwi langsung jatuh cinta. Mereka jadian, dan berikutnya harus menghadapi tentangan keluarga Dwi. Sebab, dalam hitungan weton, Betania dianggap sebagai pembawa sial. Bisa membawa petaka.
Entah ada hubungannya atau tidak, tiga bulan setelah berpacaran, Dwi (seorang pilot) mendapat kecelakaan. Pesawatnya terbakar dan hampir seluruh tubuh dan wajah terbakar. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit, masuk ICU, dan terus koma.
Betani yang mendengar kabar itu datang ke rumah sakit. Namun keluarga Dwi terus menolak, mengusir, dan mengatakan bahwa dia pembawa sial. Sia-sia memohon untuk melihat kekasih hatinya. Saat datang ketigakalinya dan terus ditolak, Betania lari ke sebuah kapel. Di tempat itu dia berdoa, dan berjanji akan setia dan mengabdi pada Dwi, jika Tuhan memberi kesempatan hidup yang kedua. Selesai berdoa, dia kembali ke rumah sakit.
Di rumah sakit, terjadi kehebohan. Saat itu, Dwi sudah divonis meninggal. Ketika akan ditutup kain, tiba-tiba dia berteriak memanggil nama Betania. Suster yang ada di tempat itu pingsan, dan dokter langsung menemui keluarga menanyakan siapa Betania dan meminta untuk segera dihadirkan. Akhirnya, keinginan Betania untuk menemui kekasih hatinya terwujud.
Memasuki ruangan, dia bertanya:
“Dimana wi?”
Dokter menunjuk seorang pasien yang wajahnya sudah tidak berbentuk, antara lain salah satu cuping hidungnya hilang:
“Itu kekasihmu.”
Betania terkejut dan kemudian membatin:
“Tuhan aku ingin menarik kembali janjiku, mengapa Kau memberiku yang seperti ini?”
Tapi kemudian iman Betania berproses. Dengan kelapangan luar biasa dia menjalani semua itu. Andy Noya — pembawa acara Kick Andy — sempat bertanya: Apa yang membuat Betania bisa melakukan semuai itu? Apakah karena kekuatan cinta? Tapi bagaimana mungkin, mengingat mereka baru berpacaran tiga bulan.
Betania menjawab:
“Itulah cara saya mencintai Tuhan.”
Dua tahun kemudian (selama waktu itu, Dwi terus menjalani perawatan) mereka menikah. Kini, telah memunyai anak usia lima tahun. Mereka bersyukur dikaruniai anak luar biasa.
Luar biasa? Begini ceritanya: setiap ada teman anaknya datang ke rumah, selalu terjadi kehebohan. Anak kecil yang datang pasti menunjukkan wajah terkejut, berteriak dan akhirnya menangis begitu melihat wajah Dwi. Namun, dengan tenang anak ini selalu menjelaskan:
“Ini papaku, dia dulu tidak seperti itu. Dia adalah seorang pilot, dan ketika pesawatnya terbakar, papaku menjadi seperti ini.”
Itu kisah pertama.
Kedua: beberapa hari lalu, salah seorang temanku berkenalan dengan seseorang yang kaya, tampan, terkenal, dan diakui sangat pintar. Dia menggambarkan, kepintaran orang itu rasanya seperti membakar.
Hari ini, saya tahu, pacar orang yang disebut-sebut tampan, pintar, dan membakar itu sangat…sangat…sangat…sangat biasa. Bahkan dalam pandangan kami, meski diukur dari sudut pandang umum yang disebut relatif, tetap sangat….sangat….sangat….biasa. Kami berdua kemudian tercenung dan berpandangan-pandangan. Kenyataan yang sungguh jauh dari bayangan. Begitu mengherankan dan begitu indah!
Apakah ini satu lagi kekuatan dan misteri cinta? saya tidak tahu. Tapi saya jadi merasa cemen. Jelas, antara lain karena pengaruh hormon premensturasi. Saya menjadi sensitif dan sulit menolak untuk tidak berkaca-kaca.
Saya kemudian berpikir: ternyata dunia masih normal. Paling tidak ada perbandingan: dari sekian juta orang, ada satu yang tidak memedulikan kemasan. Saya kemudian juga berpikir, syukurlah di antara sekian juta orang, masih ada pasangan normal. Atau mungkin begini: ternyata dari perbandingan sekian juta orang, masih ada pasangan yang abnormal????? (kidding: ini cerita yang indah di dunia yang kejam!)
Saya membaca blog Jurnalis Andreas Harsono yang kini juga menjadi salah satu pentolan Pantau. Di antara postingannya, ada satu yang menyebut tentang kriteria sumber-sumber anonim. Menurut saya menarik — dan sesuai etika (menyebut sumber) — sebagian saya kutip di blog ini.
Pantau punya tujuh kriteria untuk sumber-sumber anonim. Kesemuanya dibahas agak panjang lebar dalam buku Warp Speed (1999) pada bab “The Rise of Anonymous Sourcing” (h. 33-42) karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, ketika mereka membahas pemakaian sumber anonim pada kasus Monica Lewinsky.
Berikut tujuh kriteria tersebut:
1. Sumber tersebut berada pada lingkaran pertama “peristiwa berita” yang kita laporkan. Artinya, dia menyaksikan sendiri, atau terlibat langsung, dalam peristiwa tersebut. Dia bisa merupakan pelaku, korban atau saksi mata, tapi dia bukanlah orang yang mendengar dari orang lain. Dia bukan pihak ketiga yang melakukan analisis terhadap peristiwa itu. Dia bukan berada pada lingkaran kedua, ketiga, dan seterusnya.
2. Keselamatan sumber tersebut terancam bila identitasnya kita buka. Unsur “keselamatan” itu secara masuk akal bisa diterima akal sehat audiens kita. Artinya, entah nyawanya yang benar-benar terancam atau nyawa anggota keluarga langsungnya yang terancam (anak, istri, suami, orang tua, saudara kandung). Kalau sekedar “hubungan sosial” yang terancam, misalnya pertemanan, maka ia tak termasuk faktor “keselamatan.” Kalau sekedar “kelangsungan pekerjaan” yang terancam, masih harus diperdebatkan lagi, apakah benar dia akan kehilangan pekerjaan, dan apakah dia akan sulit mendapat pekerjaan baru?
3. Motivasi sumber anonim memberikan informasi murni untuk kepentingan publik. Kita harus mengukur apa motivasi si sumber memberikan informasi. Banyak kasus di mana si sumber memberikan informasi dan minta status anonim untuk menghantam lawan atau orang yang tak disukainya. Banyak juga kasus di mana informasi anonim diberikan karena hal itu menguntungkan si sumber tapi ia mau sembunyi tangan.
4. Integritas sumber harus Anda perhatikan. Orang yang sering mengarang cerita atau terbukti pernah berbohong atau pernah menyalahgunakan status sumber anonim, tentu saja, jangan diberi kesempatan jadi sumber anonim Anda lagi. Periksalah integritas sumber Anda. Biasanya makin tinggi jabatan seseorang, makin sulit mempertahankan integritas dirinya, sehingga Anda harus makin hati-hati dengan status anonim. Kami praktis punya satu daftar hitam para pejabat atau mantan pejabat Indonesia yang tak boleh kita beri status anonim.
5. Harus seizin atasan Anda. Pemberian sumber anonim harus dilakukan dengan sepengetahuan dan seizin atasan Anda. Bagaimana pun juga, editor Anda yang harus bertanggungjawab kalau ada gugatan terhadap kinerja jurnalistik kita. Ini prinsip dalam pekerjaan jurnalisme. Editor punya hak veto terhadap suatu berita tapi si editor pula yang harus masuk penjara atau membayar denda bila kalah di pengadilan. Lebih baik kita berdebat duluan ketimbang ribut belakangan gara-gara suatu berita anonim digugat orang.
6. Ingat aturan Ben Bradlee. Bradlee adalah redaktur eksekutif harian The Washington Post zaman skandal Watergate. Bradlee pernah mengeluarkan sebuah aturan yang terkenal tentang pemakaian sumber anonim. Dia hanya mau meloloskan sebuah keterangan anonim kalau sumbernya minimal dua pihak yang independen satu dengan yang lain. Dalam film All the President’s Men, Anda akan mengenali adegan di mana Bradlee minta reporter Bob Woodward agar sumber anonimnya ditambah –untuk melakukan verifikasi terhadap informasi yang sama.
7. Bill Kovach sendiri menambahkan satu syarat lagi. Kita harus membuat sangat jelas dengan calon sumber anonim kita bahwa perjanjian keanoniman akan batal dan nama mereka akan kita buka ke hadapan publik, bila kelak terbukti si sumber berbohong atau sengaja menyesatkan kita dengan informasinya. Ini perjanjian yang berat karena konsekuensinya bermacam-macam tapi kita harus menjelaskan pada sumber persyaratan ini.
Andreas Harsono
Keberanian adalah saat kau tahu akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan merampungkannya, apa pun yang terjadi.
(Harper Lee - to Kill a Mocking Bird)
Gara-gara pembicaraan dan tulisan 27 tahun, temanku jadi susah konsentrasi. Dia seperti mendapat banyak pertanda. Tiba-tiba muncul berbagai kejadian yang mendukung rawannya usia 27 dan 28 tahun.
Mulai telpon dari teman yang menyatakan saat ini sedang gamang (gubraaak), orang yang berani mengambil keputusan kilat untuk menikah, sampai membaca blog yang mengungkap dan menyiratkan kebingungan di usia tersebut.
Haaah….selamat datang di usia rawan!!!
Gosip:
Kamus Besar Bahasa Indonesia: Obrolan tentang orang-orang lain; cerita negatif tentang seseorang; pergunjingan.
Pertama-tama, saya mengaca pada diri sendiri, apakah saya senang bergosip? Beberapakali saya lakukan bersama orang yang benar-benar saya percaya. Bukan menciptakan, tetapi sekadar bercerita dan berdiskusi tentang suatu kejadian atau pun pembicaraan. Tidak menyebar ke orang lain, apalagi sekumpulan. Saya juga bertanya, apakah saya sering terlibat dalam pembicaraan gosip? Sebagai manusia iya. Terutama soal kerja. Soal kehidupan orang lain, rata-rata saya hanya mangut-mangut atau mengatakan masa? sampai kadang saya dibilang sok jaim. Tapi saya harus mengakui, kadang saya ngaco juga sih…

Saat saya terkena gosip: halaaah…..!!! kok bisa???
Gosip memang kejam. Apalagi jika datang dari teman-teman sendiri. Lebih-lebih jika apa yang digosipkan tidak benar 100 persen. Sungguh menyebalkan.
Jadi pada titik ini, saya bisa memahami mengapa para artis merasa terganggu dengan ulah wartawan infotaiment. Tapi karena mereka artis, ada untungnya juga. Paling tidak popularitas terdongkrak. Lha saya? Halaaah!
Tapi kemudian ada orang yang memberi penghiburan: “saat satu jari mereka menunjuk padamu, sesungguhnya, empat jari yang lain menunjuk pada diri sendiri.”
(Itu kata-kata menghibur gak sih? tapi kayaknya gak cocok disebut penghiburan
)
Terkadang saya heran, kenapa ya masih merekonstruksi sesuatu yang sebenarnya tidak ada guna?
Saya bukannya tidak sadar kalau apa yang saya bangun ulang bisa menyakiti diri sendiri. Saya bukannya tidak tahu apa yang saya lakukan hanya membangun sesuatu di atas pasir. Saya juga bukannya tidak bisa men set-up pikiran sendiri.
Masalahnya, saya belum mau. Saya masih membiarkan sesuatu yang tidak masuk akal itu berkeliaran di pikiran. Terkadang bisa lebih dari dua jam, kadang kalau saya sedang normal ya tidak sama sekali. Lha wong jelas-jelas enggak ada guna!
Tapi kenapa dipertahankan? Pastinya karena saya masih berproses, belum selesai dengan diri sendiri.
Apa yang terjadi jika perempuan masuk fase 27 tahun?
Berdasarkan apa yang saya alami dan juga pengamatan pada beberapa teman, inilah fase dimana pikiran orang mulai melompat-lompat. Kebingungan memutuskan jalan hidup, berada di persimpangan jalan, merasa sepi, gamang, dan ketahanan menghadapi persoalan cinta yang kian melemah.
Untuk sementara saya berpendapat, perasaan seperti itu terbentuk karena pengaruh budaya dan globalisasi. Disadari atau tidak, pandangan umum yang terbentuk karena budaya dan adat istiadat memengaruhi bawah sadar. Pun derasnya arus globalisasi.
Tidak percaya? Di kantor ada cukup banyak bukti. Masing-masing perempuan memunyai kisah berbeda. Meski demikian, terhubung sebuah benang merah. Saat memasuki usia 27 tahun, mereka mulai dihinggapi perasaan sepi, ketahanan emosi yang menurun, dan bla…bla…bla…
Ada yang kemudian berpacaran dengan sembarang orang, ada yang kebingungan mencari pacar, berdandan aneh, dan ada yang memutuskan menikah karena merasa hidupnya bisa kacau.
Selain itu, seorang teman yang patah hati merasa masa recovery-nya jauh lebih sulit dibanding saat dia belum berusia 27 tahun.
“Kenapa ya,” tanya teman saya tadi.
“Menurut saya, itu sindrom 27 tahun. Coba perhatikan beberapa teman yang memasuki usia tersebut, dan lihat perbedaannya dari waktu ke waktu. Jika tidak bisa mengatasi perasaan itu, usia 27 dan 28 merupakan saat yang rawan. Bisa-bisa seseorang mengambil keputusan gegabah,” sahut saya.
“Tapi apakah perasaan seperti ini juga menghinggapi perempuan dengan karir lebih mapan?”
“Nah, yang ini saya belum tahu. Apa yang saya amati, biasanya terjadi pada perempuan dengan karir biasa hingga sedang.”
Akhirnya, kami berdua tertawa-tawa. Sebagai teman yang jauh lebih tua, saya pura-pura menjadi lebih bijak 
![]()
Di kantor banyak perempuan menjagokan Inggris dan Spanyol. Alasannya supaya Piala Dunia tetap segar dilihat. Tuhan pasti sedang senang saat menciptakan Beckham dan Raul. Bahkan anakku yang baru berumur tigatahun enambulan lebih sembilanbelas hari ingin foto bareng Beckham. Dia juga ingin jadi kiper, pakai sarung tangan, menangkap bola.
Yaaah…begitulah sihir bola bundar. Teman-teman perempuanku untuk sementara hidup dalam halusinasi (itu istilah yang sering dipakai di kantor)…lupa sejenak pada kesebukan, gosip, juga luka akibat patah hati.
Pokoknya teriak-teriak karepe dewe, hati jadi lebih plong, sebelum akhirnya sadar harus kembali ke dunia nyata. Yuuuk!
Ini cerita sesungguhnya yang sempat membuat saya tertawa. Diceritakan oleh perempuan berusia sekitar 50 tahun yang kita sebut saja ceu-ceu, dalam bahasa Sunda berarti kakak perempuan.
Suatu hari — saat fajar belum merekah sempurna — ceu-ceu merasakan sakit di bagian jantung. Dia membangunkan sang suami, minta diantar ke rumah sakit, tapi kemudian teringat belum sholat subuh. Dalam pikiran dia:
“kalau saya tiba-tiba meninggal, saya belum sempat sholat.”
Maka, dia memutuskan untuk melakukan sholat subuh terlebih dahulu. Saat sholat, dia rasa sakitnya jauh berkurang. Tapi ketika selesai melakukan ibadah, nyeri itu kembali datang.
Dengan bergegas, diantar suami, ceu-ceu berangkat ke Rumah Sakit Tebet, Jakarta Pusat. Saat mobil belum berhenti benar di lobi rumah sakit, ceu-ceu melompat, berlari menuju UGD sambil berteriak:
“Tolong…tolong…dada saya sakit.”
Tenaga medis di bagian UGD langsung memberi pertolongan. Ceu-ceu bercerita, dia sudah tidak peduli lagi ketika diminta melepas baju dan dipasangi banyak selang dan kabel. Padahal, katanya, semua tenaga di UGD saat itu lelaki.
Dia juga memutuskan menuruti semua perintah: tidak boleh bicara, tidak boleh berpikir, tidak boleh marah, dan tidak boleh emosi. Pasalnya, setiap memikirkan sesuatu, denyut jantung di layar monitor langsung naik turun drastis. Jadilah ceu-ceu yang biasanya suka bicara ini menahan diri.
Saat sudah boleh berbicara, salah satu saudara yang menjenguk bertanya: “kenapa tidak menunggu kursi roda, tapi langsung turun dan mobil dan lari ke UGD?'’
Jawab ceu-ceu: “kalau menunggu kursi roda, kemungkinan butuh waktu limabelas menit. Dalam rentang waktu itu, kemungkinan saya sudah dead.”
Lalu, dia kembali bercerita: selama di rumah sakit, dia melihat seluruh perawatnya orang Batak. Karena itu, ceu-ceu menjadi begitu khawatir. Kekhawatirannya tentang orang Batak, jelas mengundang pertanyaan:
“Kenapa jadi rasis begitu?”
“Bukan seperti itu maksud saya,” jawab ceu-ceu.
Mengalir lagi ceritanya: dalam anggapan ceu ceu, kalau orang Batak, maka kemungkinan besar agamanya Kristen. Padahal, andai meninggal, dia ingin sekali ada yang menuntun: membisikkan nama Allah (La illah ha ilallaah) di telinganya.
Karena itu, dia sangat gembira ketika pada hari keempat di rumah sakit, ada perawat yang memanggil rekat sejawatnya dengan panggilan mas (dalam Bahasa Jawa berarti kakak laki-laki). Ceu-ceu langsung menghafal wajah lelaki yang dipanggil mas tersebut.
Beberapa jam kemudian, lelaki tadi datang memeriksa peralatan medis yang digunakan. Ceu-ceu tidak menyia-nyiakan kesempatan:
“mas, mas, saya perlu minta tolong. Mari kita berbincang sebentar.”
Laki-laki itu kelihatan agak terkejut:
“wah, darimana ibu tahu nama saya?”
Gubraaaak! ceu-ceu jadi frustasi, karena ternyata nama lelaki itu Thomas, orang Batak dan kebetulan beragama Kristen. Tapi untunglah, sekarang ceu-ceu sudah sehat. Dan kini jadi berteman baik dengan Thomas.
SEMOGA TUHAN MENYESAL PERNAH MENCIPTAKAN DIA!!!
sebelum reinkarnasi, jadi apa sih kamu? tolooong ke psikiater…dari pada merepotkan banyak orang.
Hari ini seharian kotak-katik blog. Akhirnya berhasil juga ganti template-nya. Huaaaah, senang! Belum puas tapi senang. Buat NDORO KAKUNG, tengkyu banget ajarannya…muaaaah!
Aku tahu ada yang berubah.
Benar kata temanku ndoro kakung pecas ndahe bahwa hidup memang penuh tikungan mengejutkan. Tapi aku senang, itu seninya hidup kan?
Temanku tadi merangkum singkat: tentang dunia yang makin tua dan hidup yang penuh kejutan. Kataku: tentang bahagia, kecewa, dan perjuangan untuk menemui kejutan lagi hehe!
Buku: Sang Guru Piano-ku hilang
padahal belum dibaca
yang ambil pasti tahu kalau itu buku bagus!
Dua minggu lalu, gadis kecilku bermain ke rumah uwanya. Meski baru pertamakali, tapi sepertinya dia merasa senang. Berlari-lari, bernyanyi, tidak minta pulang, dan tidak mau pulang. Juga sibuk mencari perhatian. Ini cerita dari papanya:
Sambil loncat dari anak tangga dia berteriak:
“uwa…uwa… lihat… aku bisa loncat.”
“loncat apa itu namanya?”
“loncat tangga.”
“o iya, bener juga ya!”
anakku kemudian sibuk bermain lagi. Baru berhenti ketika memecahkan guci, hiasan yang lumayan mahal. Tangannya langsung mendekap mulut. Matanya membulat. uwanya sibuk menenangkan:
“enggak apa-apa…main lagi sana.”
Tapi gadis kecilku rupanya merasa bersalah. Dia menjadi tenang, tidak mau lagi berlari dan berloncatan. Uwanya jadi sibuk:
“enggak apa-apa kok…gucinya bisa dilem. Ayo main lagi.”
Alih-alih bermain, gadis kecilku malah minta pulang. Sesampai di rumah lapor:
“aku pecahin guci di rumah uwa.”
“halaaah sudah minta maaf?”
“belum. tapi kata uwa enggak apa-apa kok.”
“lain kali kalau salah minta maaf ya.”
“iya deh.”
Siang itu, matahari menyembul sempurna. Namun suara geledek bersahut-sahutan. Gadis kecilku langsung berlari kepelukan.
Sambil rebah dia bertanya:
“Ma geledeg itu bentuknya seperti apa?”
“kayak huruf Z”
“bukan! yang seperti itu namanya kilat. Jadi geledeg bentuknya seperti apa?”
“apa ya?”
“rumahnya dimana?”
“di awan.”
“tapi bentuknya seperti apa?”
“enggak ada bentuknya, cuma ada suaranya.”
“iya tapi aku pengen tahu bentuknya seperti apa?”
“?????”
Papanya yang denger nyeletuk:
“itu seperti kentut. Ada suaranya tapi enggak ada bentuknya!”
“oooo.” gadis kecilku mangut-mangut sambil senyum-senyum.
“hehe kayak kentut,” gitu katanya.
Blink: Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir
Braaaak….Gubraaaak!
Haduuuh, jantung saya rasanya seperti naik kora-kora.
Sepeda motor yang dikendarai anak 19 tahun — luar biasa ngebut — stang motornya nyenggol mobil, dan gubraaak…jatuh! Motornya sampai berantakan. Untung anak itu enggak apa-apa. Ngaku salah, dan polisi yang kebetulan lihat kejadian itu cuma bilang: “selesaikan sendiri saja.”
Dibawa ke rumah sakit, jahit sedikit lutut kiri dan kanan, rontgen, bayar, boleh bawa pulang dengan pesan kontrol tiga hari lagi. Seperti film drama, anak itu ternyata rumahnya dekat kantor, belakang warteg.
saya mau cerita ini:
Awalnya, saya dan keluarga memang mau ke rumah sakit. Tapi karena ada suatu kebutuhan, terjadi perdebatan untuk mampir ke sebuah tempat. Di awal pembicaraan dan beberapakali bahasan lebih lanjut, saya mengatakan sebaiknya tidak usah mampir ke tempat itu, langsung saja ke rumah sakit. Tapi sebuah kejadian melunakkan hati, dan membuat saya akhirnya menyerah.
Keluar dari tempat yang diperdebatkan, kejadian Braaaak….Gubraaaak itu terjadi. Saya kemudian berpikir, barangkali cetusan pertama untuk tidak usah mampir, merupakan intuisi/insting/bisa jadi suara hati yang benar. Tapi seperti biasa, saya mengabaikan. Dan kemudian, saya teringat pada buku berjudul Blink: Kemampuan Berpikir Tanpa berpikir. Belum sempat dibaca, dan kebetulan masih dipinjam teman. Saya membeli karena tertarik dengan ringkasan isi buku itu.
Begini kira-kira deskripsi yang diberikan dalam www.inibuku.com:
Blink adalah buku mengenai dua detik pertama yang sangat menentukan ketika kita mengamati sesuatu—dua detik yang akan memberikan pemahaman dengan amat sangat cepat, yang terbentuk berkat pilihan-pilihan yang muncul dalam sekejap mata. Dalam buku ini, Malcolm Gladwell memperkenalkan fenomena snap judgment dan thin-slicing—dengan kata lain kemampuan berpikir tanpa berpikir—di mana keputusan sekejap bisa didapat dari informasi yang sedikit namun akurat.
Mungkin semacam naluri — seperti dalam buku Alkemis — tapi sudah lebih dimatematikakan! Saya akan meminta kembali buku itu, dan mulai menyempatkan diri membaca.
NB: Hehehe kenapa aku jadi begini ya?
I Love My Country Its the Goverment I’m Afraid!
KATA-kata itu saya baca sambil mengerutkan dahi dan memicingkan mata. Silau, akibat terik matahari yang siang itu benar-benar membakar jalanan Jakarta. Tertulis pada stiker yang menempel lekat di kaca belakang sebuah mobil.
Hanya terdiri dari beberapa kata, tapi sempat membuat saya mesem dan teringat pada sebuah peristiwa yang terjadi sekitar dua minggu lalu:
Suatu sore dalam sebuah perbincangan di bilangan Jakarta Pusat, seseorang bertanya pada saya:
” Kalau ada kesempatan, kamu memilih tinggal di negara mana?”
Pertanyaan kecil, tapi berhasil memaksa saya berpikir. Kemudian dalam kilasan sangat cepat, mencoba merunut perasaan. Saya pernah mengunjungi beberapa negara, dan kemudian selalu rindu pulang. Paling tidak, saat kembali menginjak Bandara Soekarno Hatta, ada selinap perasaan senang. Mungkin karena benar-benar cinta atau mungkin karena sudah terbiasa. Bisa juga karena takut perubahan, atau imajinasi saya memang kurang liar. Kemudian saya menjawab:
“Sepertinya saya tetap memilih Indonesia. Kamu sendiri?”
“Sama, saya juga tetap memilih Indonesia.”
I Love My Country. Its the goverment I’m Afraid!
Stiker yang terbaca di tengah terik Jakarta, mengingatkan saya pada percakapan di atas. Sesederhana itu!
AWALNYA berbicara tentang pinjam-meminjam mobil.
Seorang lelaki (?) mengatakan, tidak bisa sembarangan meminjamkan mobil. Harus dilihat dulu bagaimana sifat dan cara si peminjam menyetir. Kemudian dia berkata:
“Buat lelaki, mobil, gitar, dan perempuan sama sensitifnya.”
Mobil, gitar, dan perempuan? Mendengar pernyataan itu, awalnya saya tercenung. Sulit mendefinisikan perasaan. Setelah itu rasanya ada yang menggelitik. Benar-benar menggelitik, karena membuat saya ingin tertawa. Kemudian saya masuk pada fase tercengang.
Meski tak sepakat dengan pernyataan itu (perempuan?), rasanya saya mendapat pemahaman baru. Ya itu tadi: di antaranya membuat saya ingin tertawa terbahak-bahak, sekaligus tercengang.

