ORANG tua zaman dulu mengartikan, gigi tanggal atau lepas berarti akan ada kematian. Belakangan aku membuktikan kepercayaan itu.
Sekitar satu bulan lalu, aku bermimpi gigi geraham kiri lepas, diikuti dua gigi depan. Tidak lama kemudian, sepupu lelakiku meninggal.
Rabu malam (24/5) aku bermimpi lagi, gigi geraham kanan lepas. Jumat malam, telepon berdering, omku meninggal.
Nah..buat sementara, arti mimpi gigi tanggal ada benarnya juga!
Pagi-pagi:
“ma, konkusi itu apa?”
“ha?”
“konkusi! Itu yang Twinies bilang konkusi.”
“aduh, nanti ya, mama harus lihat di kamus.”
“kamus itu apa?”
“itu buku yang tebal isinya arti kata-kata.”
si kecil untuk sementara tidak bertanya lagi. Kepala kecilnya mengangguk-angguk.
siang hari:
“ma, tertawa terkekeh-kekeh itu apa?”
“kalau terbahak-bahak?”
“kalau pidato itu apa?”
“sentosa itu apa mama?”
INFORMASI ini diambil dari berbagai sumber, terbanyak dari Oprah Winfrey Show. Bercerita tentang kondisi, pemikiran, dan kegiatan para perempuan di beberapa negara.
1. Kuwait
Merupakan salah satu negeri terkaya. Biaya sekolah dan kesehatan warganya ditanggung negara. Perempuan memiliki kesetaraan dalam hal pendidikan. Karena negara menanggung banyak hal, perempuan Kuwait bebas menjalani berbagai hobi. Rata-rata gemar menghabiskan waktu dan uang untuk berbelanja dan berjalan-jalan ke Eropa, khususnya pusat-pusat mode. Hanya saja, kebebasan itu tidak sebanding jika diterapkan di arena politik. Mereka tidak memunyai hak suara.
2. Korea
Seperti halnya Indonesia, masyarakat Korea senang dengan wajah indo. Seperti halnya negara yang penduduknya bermata sipit, mereka mengagumi mata besar dan lebar. Jepang menggambarkan lewat tokoh komik yang selalu bermata lebar. Sementara perempuan Korea dikenal paling gemar melakukan operasi mata.
3. Brazil
Gudang perempuan cantik. Bikini merupakan bisnis menggiurkan di negeri ini. Para perempuannya sangat memerhatikan dada dan keindahan pantat. Kabarnya, implantasi bagian pantat paling sering dilakukan. Mereka gemar berjemur, mirip gadis cilik yang ingin punya tubuh indah, karena para lelaki memang menginginkan.
4. Kuba
Sekitar 70% pernikahan berakhir dengan perceraian. Di negeri ini, perceraian mudah dilakukan. Hanya memerlukan waktu lima menit di depan notaris, dengan biaya sekitar US$3.50. Sedangkan aborsi bisa dilakukan gratis. Sebelum mencapai usia 30 tahun, rata-rata perempuan Kuba sudah melakukan empat kali aborsi.
5. Meksiko
Jika di Kuba perceraian gampang dilakukan, kondisi kebalikan ditemui di Meksiko. Perceraian menjadi barang mahal. Selain prosesnya berbelit dan lama, biayanya pun bisa membengkak. Karena itu, perempuan Meksiko memilih bertahan alias tidak bercerai, meski suaminya berkali-kali tidak setia atau melakukan kekerasan lain terhadap dirinya.
6. London
Jumlah perempuan memang lebih banyak dibanding lelaki. Di London, data statistik menunjukkan, satu lelaki diburu empat perempuan.
7. Irak
Perempuan merupakan mahluk lemak sekaligus kuat. Perempuan irak membuktikan hal itu. Mereka bertahan di bawah bayang-bayang ketakutan akan adanya serangan senjata, penculikan, hingga perkosaan. Mereka juga bertahan di bawah ancaman banyak hal, termasuk pasokan listrik yang byar pet. Dua jam hidup, empat jam mati. Untuk meredakan rasa takut, perempuan Irak rajin mengonsumsi valium yang dijual bebas dengan harga US$20 per botol.
HARI telah tiba di penghujung malam. Dan saya teringat pada banyak hal, termasuk percakapan dengan beberapa teman yang kembali tergali setelah membaca sebuah buku.
(Seorang teman, 10 tahun lebih muda, satu tahun lalu bertanya)
“Mbak, menurut mbak, soulmate itu ada atau enggak?”
“Mungkin satu juta banding satu. Sisanya kompromi”
“Mbak sendiri?”
“wah pr berat.”
(Perbincangan dengan Jessica Huwae, pengarang soulmate.com, satu bulan lalu)
“Jess, menurut lu, soulmate itu ada beneran atau cuma dongeng?”
“Separo keberuntungan, separo takdir.”
(Takdir mempertemukan Ernesto dan Olga — masing-masing sudah menikah, Ernesto punya anak — dan mereka kemudian berbincang, seperti termuat dalam buku: Pergilah Kemana Hatimu Membawa, dibaca Mei 2006)
“Dalam kehidupan setiap lelaki, hanya ada seorang wanita. Bersama wanita itu, dia akan mencapai persatuan sempurna. Dalam hidup setiap wanita hanya ada satu lelaki, dan bersamanya wanita itu menjadi lengkap.
Namun, hanya sedikit, sangat sedikit manusia yang ditakdirkan untuk bertemu. Sisanya terpaksa hidup dalam ketidakpuasan, dalam kerinduan abadi. Akan ada berapa banyak perjumpaan seperti kita? Sepuluh ribu, satu dalam sejuta, satu dalam sepuluh juta? Pasti satu dalam sepuluh juta. Pasangan sisanya adalah hasil kompromi, ketertarikan dangkal yang bersifat sementara, daya tarik fisik, kemiripan karakter, atau sekadar kebiasaan.”
Dan saya sependapat dengan Susanna Tamaro — penulis yang menciptakan karakter Olga dan Ernesto — bahwa mereka sangat bahagia.
Saya juga sedikit percaya, soulmate itu ada. Tapi karena sedikit orang yang beruntung atau bisa bertemu dengan takdirnya, maka keberadaan atau wujud dari kata soulmate bagaikan ada dan tiada.
NB: Karena kita hidup di dunia nyata, maka pertanyaan yang sering muncul sbb:
1. Bagaimana kita bisa tahu bahwa seseorang merupakan pasangan jiwa yang sesungguhnya?
2. Dan saya berpendapat, bersama pasangan jiwa pun, setiap orang harus tetap berusaha membangun keselarasan. Sebab, dalam pandangan saya, jiwa seseorang terus berkembang dan tidak akan pernah benar-benar seiring.
Bentang hari masih panjang
bahkan malam belum sempat datang
tapi lihat
kita berjalan bagai pendaki
terengah menyusuri waktu
detak jam mengubah segalanya
kuk kuk jam berlalu tergesa
uuuh perjalanan masih panjang,
atau terasa sangat panjang?
mari kita mencoba
menemukan berjuta tukar kata
yang telah hilang entah kemana
“wanita sejati…papa, aku akan jadi wanita sejati.”
“ha..”
“mama apa itu berakhlak?”
“mengapa bulan terus mengikutiku?”
“apa itu meteor?”
“Tuhan itu apa mama?”
“Dia ada dimana?”
“kenapa jerapah suka wortel?”
“kenapa wortel warnanya orange?”
“kenapa kulitku coklat?’
Duuuh, nak, berjuta kenapa. Hari ini usiamu tiga tahun, lima bulan, limabelas hari. Masih begitu muda. Semoga aku bisa memberikan yang terbaik bagimu.
KASUS Erico guteres kian membuktikan, sejarah pada dasarnya ditentukan oleh penguasa. Bila lebih diperlembut maka menjadi: penguasa ikut menentukan arah sejarah. Persis seperti yang pernah ditulis Ibnu Khaldun, sejarahwan Muslim dari Tunisia. Ya ampyuuun, nasibmu Guteres.
foto: liputan6.com
KETIKA orang tua sakit, datang menengok merupakan kewajiban dan bakti seorang anak kepada orang tuanya. Itu yang dilakukan Tommy Soeharto. Dan dengan alasan kemanusiaan, dia mendapat izin keluar dari Nusakambangan untuk menjenguk sang ayah sekaligus cek kesehatan.
Tapi kemudian pikiran ‘iseng’ mulai mampir di benak saya. Jika kebetulan ada narapidana dengan kasus mencuri atau merampok misalnya — mendapat berita istri, anak, atau orang tuanya sakit — apakah akan mendapat izin yang sama? Saya hanya bisa membatin, semoga alasan kemanusiaan juga berlaku untuk mereka.
foto: suaramerdeka.com
Tuhan Ada Disetiap Denyut Jantungmu
Tuhan ada dimana-mana
kata-kata itu sudah aku dengar sejak kecil,
baik di rumah, di sekolah,
juga dari banyak orang.
Kemudian aku juga mendengar,
Tuhan itu tidak ada dimana-mana
tapi Dia ada dihatimu,
Dia ada disetiap denyut jantung dan juga napasmu
Itu kenyataan tentang maha kekuatan
yang sebenarnya mudah sekaligus sulit dimengerti,
karena tidak bisa dibuktikan, tapi bisa dirasakan.
Namun toh tetap saja,
saat dirundung rasa tak berdaya
aku mencoba mencari kekuatan
dengan cara melontarkan pertanyaan
dimana Kau Tuhan?
NB: postingnya gini lagi 
Kadang membaca buku
buat aku rindu pada
ruangan kecil dengan satu ranjang,
satu lemari, kamar mandi kecil,
dan teras mungil.
Kadang juga buat aku
pengen lari sebentar saja
ke tempat sunyi
berudara sejuk,
membawa setumpuk buku
yang belum sempat kubaca.
Tapi kamu pasti tidak akan mengerti!
Duuuh Tuhan, dimana sih Kamu?
beritahu aku sedikiiit saja dari rencanaMu
untuk itu kan Kamu tidak perlu teknologi
mungkin bisa lewat mimpi,
atau tiba-tiba saja membuat saya jadi mengerti
tidak sulit kan?
apa permintaan saya terlalu berlebihan?
atau Kamu terlalu sibuk?
atau saya yang terlalu sibuk?
Kebebasan adalah keberanian untuk memilih. (Paulo Coelho)
Dalam lingkup sehari-hari, saya tidak percaya ada kebenaran mutlak. Kepercayaan itu rasanya berbalik menghantam diri saya sendiri. Bagaimana kita bisa tahu apa yang kita pikirkan itu benar atau juga salah? Bagaimana kita bisa tahu langkah yang kita ambil benar atau salah? Kalau saya bertanya pada banyak orang, jawabannya pasti berkisar pada: “dengarkan suara hatimu.”
Bagaimana cara kita bisa mendengarkan suara hati? Saya rasa, saya belum bisa mendengar suara hati. Buktinya, sampai sekarang saya masih berkutat pada pertanyaan: “apakah yang saya anggap benar memang benar atau yang saya anggap salah memang salah?”
Kadang saya ingin sekali menjadi orang ekstrem yang bisa memutuskan segala sesuatu dengan ekstrem pula. Menurut saya, itu sebuah keberhasilan. Tentu jika konsekuensinya dapat diterima dengan baik, meski mungkin juga ditemani air mata. Kadang saya juga rindu kenaifan (kebodohan barangkali), dimana saya bisa berpasrah diri (merasa bahagia tentu) dengan dogma dan konsep yang sudah sejak kecil dijejalkan di kepala.
Saya berpikir, semakin banyak kita tahu, semakin banyak pula tanya. Semakin banyak kita tahu, semakin banyak pula pemberontakan.
Lalu, dimana letak letak suatu kata benar yang memang benar dan salah yang memang salah? Kalau sampai tahap ini saja saya masih dalam tataran berpikir, bagaimana saya bisa memilih?
Apa yang saya jalani sekarang pada dasarnya merupakan buah dari pilihan sebelumnya. Dari situ pula lahir pilihan-pilihan baru. Tapi mengapa sekarang saya menjadi kian takut menetapkan pilihan? Banyak alasan yang bisa saya kemukakan, dan pastinya kian mendukung ketidakmampuan saya memutuskan pilihan.
Dalam pandangan saya, apa yang saya jalani sekarang belum sepenuhnya menajdi pilihan. Karena terkadang saya menyimpan amarah, ketidakberdayaan, kepengecutan, dan berjuta keraguan. Andai nanti saya berhasil melakukan pilihan, tidakkah akan muncul lagi perasaan yang sama? Nah…muncul dan datang lagi keraguan serta kepengecutan saya. Mungkin juga ketakutan pada perubahan yang pastinya akan memberi dampak juga pada orang di luar saya.
Hhhh….semakin diurai, semakin bingung dan kian menjadi benang bola yang saling berhubungan tapi kusut. Ya sudahlah, saya pamit dulu dari tumpahan unek-unek ini.
NB: sepertinya kebebasan masih jauh dari diri saya … 
Kugoreskan pada waktu
yang telah
menyisipkan sunyi,
memudarkan gairah
mengkhianati ketidaktahuan
dan menciptakan
kepengecutan
(Awal Mei 2006–menyiasati ketidakberdayaan)
Ayatrohaedi
(5 Desember 1938 - 18 Februari 2006)
MAKIN KUKENAL
Makin kukenal diriku
makin tak kukenal diriku:
Apakah ia yang selalu ragu
untuk berkata “tidak”
ataukah yang selalu
tak bisa mengatakan “ya”
pada saatnya yang tepat
atau sangat mendesak?
Kukira telah kukenal diriku
yang duduk demikian rapat disampingku,
tetapi siapa pulakah itu
yang berdiri di depan pintu
dengan senyumnya mencemooh
dan menudingkan telunjuk
sambil berkata pasti:
“Kau tak mengenal dirimu.”
Makin kukenal diriku
makin tak kukenal diriku:
Apakah ia yang bimbang
dan terlalu banyak menimbang,
ataukah yang selalu
terburu-buru memanggil ragu
karena ia selalu
diburu ragu?
(1974)
JIWA YANG GELISAH
Dia berkaca dan terdengar bisik hatinya:
Pada matanya terbayang hidupku yang gelisah
ataukah pada mataku terpeta pula
kegelisahan jiwanya?
Kami saling memandang
Setiap tatapan adalah jejak sejarah
setiap senyuman adalah urutan kisah
perjalanan jiwa yang resah
Kami saling memandang
Setiap tatapan adalah senyum bertanya
setiap senyuman adalah pandangan mendakwa
jiwa yang gelisah adalah kau,
tapi juga adalah aku.
Jiwa yang gelisah adalah kita.
Kami saling memandang
Setiap tatapan adalah tanda pengertian
setiap senyuman adalah lambang pengertian
perjalanan jiwa yang resah
menemukan kedamaian
entah pabila dan di mana
(1963)
Saya pertamakali membaca karya Ayatrohaedi sekitar 1986. Meminjam di perpustakaan sekolah, kumpulan puisi Pabila dan Dimana.
Sastrawan Indonesia ini lahir di Jatiwangi, Cirebon, 5 Desember 1939. Lulusan arkeologi Universitas Indonesia (1964), dan pada 1971-1973 memperdalam keahlian dibidang linguistik dan filologi di Belanda. Pada 1975-1976 memperdalam dialektologi di Universitas Grenoble III, prancis.
Pernah bekerja sebagai staf ilmiah Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional, menjadi doses di Universitas Padjadjaran, juga di Fakultas Sastra UI. Ayatrohaedi pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Arkeologi (1983-1987), Pembantu Dekan Bidang Akademik (1999-2000), Pembantu Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) selama lima tahun (1989-1994).
Pada 1978 meraih gelar doktor dari UI dengan mengajukan disertasi berjudul Bahasa Sunda di Daerah Cirebon: Sebuah Kajian Lokabasa. Merupakan disertasi pertama mengenai dialektologi di Asia Tenggara.
Banyak menghasilkan cerpen, puisi, roman pendek, bacaan anak, artikel, dan berbagai buku dalam Bahasa Indonesia dan Sunda.
Kumpulan puisi Pabila dan Dimana (1977) merupakan salah satu di antaranya. Ingin tahu lebih banyak tentang karyanya, dapat dilihat di www.wikipedia.org

