SATU setengah tahun belakangan, saya menjadi lebih sering bersinggungan dengan nama Papua.
1. Berkenalan dengan Ani Sekarningsih, yang ternyata pengarang buku Namaku Teweraut. Sebuah kisah antropologi sastra tentang persinggungan tradisi dan modernisasi Suku Asmat.
2. Mendapat tugas ke Tembagapura dan Timika selama satu minggu.
3. Berbincang dengan sekjend OPM Thoha Alhamid.
4. Kedatangan tamu dari Merauke yang menginap hampir satu bulan.
5. Membaca buku tentang Pramudya Ananta Toer berjudul Saya Terbakar Amarah Sendirian. Di dalamnya antara lain disinggung ketidak setujuan dia mengganti nama Irian menjadi Papua. Dalam buku itu disebutkan, Irian: Ini Republik Indonesia Anti Nederland. Sedangkan dari sumber lain disebutkan, Papua berarti penduduk berambut keriting.
6. Mendapat berbagai cerita tentang kehidupan di Irian yang sungguh mengusik hati.
Cerita terbaru datang dari seorang kerabat yang tinggal di Kepi, Merauke. Dia bercerita tentang perahu dan perempuan kelambu. Sebuah kompleks pelacuran di sebuah sungai di Desa Aswe, yang berlangsung dengan cara barter kayu gaharu. Kekuatan yang berada di belakang pertukaran itu yang membuat saya tersentak.
Meski sudah banyak cerita menyangkut kekuatan itu, juga teori Thomas Hobbes: Manusia adalah srigala bagi manusia lain; namun toh saya masih juga terhenyak.
Istilah perahu dan perempuan kelambu muncul karena perahu yang tampak di seberang sungai benar-benar menggunakan kelambu. Dihuni oleh wanita yang terjebak dan mungkin juga secara sadar, terjun dalam bisnis jual beli badan.
Di atas perahu itulah mereka beroperasi. Datang dari berbagai daerah seperti Manado, Surabaya, dan Banyumas. Pembelinya penduduk lokal. Mereka bisa ‘menaiki’ — maaf…demikian istilah mereka — asal membayar dengan satu kilogram kayu gaharu. Begitu setuju dengan persyaratan transaksi, langsung tersedia perahu kecil yang siap menyeberangkan mereka menuju perahu kelambu.
Dalam beberapa menit (atau mungkin jam?) transaksi selesai. Satu kilogram kayu gaharu yang mereka cari di hutan berpindah tangan. Kelihatannya sederhana. Tapi coba simak beberapa fakta di bawah ini:
1. satu kilogram kayu gaharu, setelah sampai di Pulau Jawa termurah bernilai Rp7 juta.
2. Kayu gaharu di dalam kejayaan hutan Irian, hanya bisa dirambah dengan bebas oleh penduduk lokal.
3. Ini yang paling menyentak: kedatangan perahu dan perempuan kelambu, serta penadah kayu gaharu, ternyata melibatkan peran tentara.
Berdasarkan penyelidikan istri salah satu pejabat di Kepi, kayu-kayu gaharu itu disetor pada tentara, kemudian diganti uang sekitar Rp3-4 juta perkilogram.
Keterlibatan tentara juga sudah saya dengar — dari sumber terpercaya — saat datang ke Desa Banti, tetangga kompleks Tembagapura. Masyarakat desa ini (Suku Kamoro), mencari nafkah dengan cara menambang sisa-sisa emas yang mengalir di sungai, salah satu pembuangan limbah PT Freeport.
Setiap sore, hasil emas itu dikumpulkan dan dijual murah, bahkan kadang hanya ditukar dengan minuman keras atau pun rokok dan tembakau. Pembelinya rata-rata tentara.
Alhasil, masyarakat asli Irian kian ‘terjajah’. Mereka hidup dalam kesenangan minum minuman keras, sedangkan pengguna perempuan kelambu rentan terkena AIDS. Bayangkan, efek berantai yang bisa ditimbulkan dari hubungan tersebut. Tidak mengherankan jika Papua menjadi salah satu provinsi yang memiliki kasus HIV dan AIDS tertinggi.
Data dari Ditjend PPM&PL Depkes per 4 Januari 2006 seperti tercantum di www.lp3y.org menunjukkan, saat ini papua menempati urutan kedua jumlah penderita HIV/AIDS (1.752 kasus). Satu tingkat di bawah DKI Jakarta (3.427).
Meski jumlah total nomor dua, namun jika dilihat rincian penyebaran per seratus ribu penduduk sangatlah mengkhawatirkan. Papua yang penduduknya lebih sedikit menempati urutan pertama, yaitu 49.06 per seratus ribu orang. Sedangkan DKI 23.15 per seratus ribu orang. Data juga menunjukkan, penderita HIV/AIDS sebagian besar berada di usia muda produktif, yaitu antara 20-29 tahun.
Papua, Papua, Papua! Begitu banyak persoalan yang harus diselesaikan. Kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan masih banyak lagi.