HarikuApril 26, 2006 4:23 pm

Malam ini, aku asyik ber-walking-blog-walking.
mengintip sedikit rahasia hidup orang
menebak identitas orang
menikmati susunan kata
menjadi pengkritik kecil
ikut tertawa, berempati, kadang juga bertanya

Seorang teman bergabung, mengintip beberapa alamat yang sudah kumasukkan dalam bookmarks. Dia kemudian memberi saran mengintip blog biru-elang-bara.

oh..oh..oh…coba baca untuk merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin masuk dalam ruang komunikasi elang. Tidak bisa! Posting terakhir 17 Juni 2005.
“blognya sudah dimatikan,” komentar temanku.
“Kenapa ya…kemana ya?” komentar dan pertanyaan yang sering terlontar dalam dunia blog.

Dan temanku itu kemudian bercerita:
“Aku pernah mengintip sebuah blog atas saran temanku. Dan aku keasyikkan membaca perjalanan hidup pemiliknya yang dituturkan secara gamblang. Pun kisah cinta yang dipaparkan degan sedih. Sampai suatu ketika, penulisnya tak lagi menulis. Dan aku jadi bertanya-tanya, apa akhir kisah cintanya. Aku khawatir dia bunuh diri.”

Begitulah…
Blog menyimpan banyak cerita, juga banyak tanya….tentang segala hal!

Hariku 5:51 am

Dua hari ini saya belajar sangat…sangat…banyak
menambah kedewasaan
sekaligus kian mengikis kenaifan

HarikuApril 21, 2006 1:54 pm

“Hah ditahan? kapan?”
Duuuh dek, kamu bisnis apa sih?

HarikuApril 18, 2006 8:46 am

Betapa masygul pun patut disyukuri
juga saat nurani terusik
di sudut kecil sebuah ruang
tempat pikiran dan hati jujur bicara

HarikuApril 12, 2006 8:40 am

“Nonton Brokeback Mountain, keren.”

“Itu film buat legitimasi homo.”

He he he…lagi-lagi beda cara pandang. Kamu menyarankan seperti ini:

“Sekali-kali cari tahu dong latar belakang kenapa film itu dibuat. Coba buka www.imdb.com baca yang paling bawah.

“Oke”

Tapi esensi yang saya maksud bukan itu teman. Lebih pada cerita yang berbeda, alur yang mengalir, dan ini: cara pengungkapan rasa yang menurut saya menyentuh, meski kadang hanya digambarkan lewat simbol. Dan itu menurut saya keunggulan Ang Lee. Juga dukungan pengambilan panorama yang fuiiih… Termasuk di dalamnya akting dua aktor yang jadi Ennis dan Jack. Lha buktinya, meski awalnya ada adegan yang bikin saya hueeek, tapi setelah itu menumpahkan emosi dan air mata hehe. (Soal rasa dan efek tentu subyektif).

Itu esensi yang ingin saya gambarkan: rasa!
Bukan soal politik. Karena menurut saya, setiap film (karya) ketika dibuat pasti ada muatan politik pembuatnya. Ada tujuan. Bahkan saat kita bergerak, berbicara, berdiskusi, pasti sudah menunjuk satu tujuan atau lebih kasar lagi berpolitik kehidupan.

Tapi itu sisi lain…yang lain lagi ya itu tadi, merah, kuning, hijau, di antara hitam dan putih. Cuma beda titik pandang. Tapi paham sih maksudmu….sepakatlah di sisi itu.


HarikuApril 11, 2006 6:15 am

Jika memang milikmu,
dia akan kembali

NB: Betulkan kataku, ketahanan seseorang kian surut dimakan usia hehehe! Enggak ding. Syndrom menjelang 30 tahun tuuuh!

HarikuApril 5, 2006 11:38 am

SATU setengah tahun belakangan, saya menjadi lebih sering bersinggungan dengan nama Papua.
1. Berkenalan dengan Ani Sekarningsih, yang ternyata pengarang buku Namaku Teweraut. Sebuah kisah antropologi sastra tentang persinggungan tradisi dan modernisasi Suku Asmat.
2. Mendapat tugas ke Tembagapura dan Timika selama satu minggu.
3. Berbincang dengan sekjend OPM Thoha Alhamid.
4. Kedatangan tamu dari Merauke yang menginap hampir satu bulan.
5. Membaca buku tentang Pramudya Ananta Toer berjudul Saya Terbakar Amarah Sendirian. Di dalamnya antara lain disinggung ketidak setujuan dia mengganti nama Irian menjadi Papua. Dalam buku itu disebutkan, Irian: Ini Republik Indonesia Anti Nederland. Sedangkan dari sumber lain disebutkan, Papua berarti penduduk berambut keriting.
6. Mendapat berbagai cerita tentang kehidupan di Irian yang sungguh mengusik hati.

Cerita terbaru datang dari seorang kerabat yang tinggal di Kepi, Merauke. Dia bercerita tentang perahu dan perempuan kelambu. Sebuah kompleks pelacuran di sebuah sungai di Desa Aswe, yang berlangsung dengan cara barter kayu gaharu. Kekuatan yang berada di belakang pertukaran itu yang membuat saya tersentak.
Meski sudah banyak cerita menyangkut kekuatan itu, juga teori Thomas Hobbes: Manusia adalah srigala bagi manusia lain; namun toh saya masih juga terhenyak.

Istilah perahu dan perempuan kelambu muncul karena perahu yang tampak di seberang sungai benar-benar menggunakan kelambu. Dihuni oleh wanita yang terjebak dan mungkin juga secara sadar, terjun dalam bisnis jual beli badan.

Di atas perahu itulah mereka beroperasi. Datang dari berbagai daerah seperti Manado, Surabaya, dan Banyumas. Pembelinya penduduk lokal. Mereka bisa ‘menaiki’ — maaf…demikian istilah mereka — asal membayar dengan satu kilogram kayu gaharu. Begitu setuju dengan persyaratan transaksi, langsung tersedia perahu kecil yang siap menyeberangkan mereka menuju perahu kelambu.

Dalam beberapa menit (atau mungkin jam?) transaksi selesai. Satu kilogram kayu gaharu yang mereka cari di hutan berpindah tangan. Kelihatannya sederhana. Tapi coba simak beberapa fakta di bawah ini:
1. satu kilogram kayu gaharu, setelah sampai di Pulau Jawa termurah bernilai Rp7 juta.
2. Kayu gaharu di dalam kejayaan hutan Irian, hanya bisa dirambah dengan bebas oleh penduduk lokal.
3. Ini yang paling menyentak: kedatangan perahu dan perempuan kelambu, serta penadah kayu gaharu, ternyata melibatkan peran tentara.

Berdasarkan penyelidikan istri salah satu pejabat di Kepi, kayu-kayu gaharu itu disetor pada tentara, kemudian diganti uang sekitar Rp3-4 juta perkilogram.

Keterlibatan tentara juga sudah saya dengar — dari sumber terpercaya — saat datang ke Desa Banti, tetangga kompleks Tembagapura. Masyarakat desa ini (Suku Kamoro), mencari nafkah dengan cara menambang sisa-sisa emas yang mengalir di sungai, salah satu pembuangan limbah PT Freeport.

Setiap sore, hasil emas itu dikumpulkan dan dijual murah, bahkan kadang hanya ditukar dengan minuman keras atau pun rokok dan tembakau. Pembelinya rata-rata tentara.

Alhasil, masyarakat asli Irian kian ‘terjajah’. Mereka hidup dalam kesenangan minum minuman keras, sedangkan pengguna perempuan kelambu rentan terkena AIDS. Bayangkan, efek berantai yang bisa ditimbulkan dari hubungan tersebut. Tidak mengherankan jika Papua menjadi salah satu provinsi yang memiliki kasus HIV dan AIDS tertinggi.

Data dari Ditjend PPM&PL Depkes per 4 Januari 2006 seperti tercantum di www.lp3y.org menunjukkan, saat ini papua menempati urutan kedua jumlah penderita HIV/AIDS (1.752 kasus). Satu tingkat di bawah DKI Jakarta (3.427).
Meski jumlah total nomor dua, namun jika dilihat rincian penyebaran per seratus ribu penduduk sangatlah mengkhawatirkan. Papua yang penduduknya lebih sedikit menempati urutan pertama, yaitu 49.06 per seratus ribu orang. Sedangkan DKI 23.15 per seratus ribu orang. Data juga menunjukkan, penderita HIV/AIDS sebagian besar berada di usia muda produktif, yaitu antara 20-29 tahun.

Papua, Papua, Papua! Begitu banyak persoalan yang harus diselesaikan. Kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan masih banyak lagi.