Mengasah kepekaan Hati
‘Janganlah kamu terlalu rajin berdoa,
nanti Tuhan sayang padamu.
Kalau dia sayang dan sedang kesepian,
kamu akan dipanggil untuk menemani dia…
S
emua manusia diberi kepekaan atau pun intuisi untuk membaca tanda-tanda langkah kehidupan. Dalam hal ini saya sepakat dengan semangat yang ingin dibagi Paulo Coelho dalam bukunya yang memang bagus, berjudul Sang Akemis.
Tapi masalahnya, tidak semua manusia bisa mendengar kepekaan suara hati. Terkadang, saat suatu peristiwa sudah terjadi, baru menyadari arti tanda-tanda yang diberikan. Dan itulah yang sering saya alami.
Ada satu kisah yang kelanjutannya baru saja terjadi. Beberapa tahun lalu, saya berkenalan dengan seorang teman bernama Pius. Kami pernah pergi bersama mengikuti sebuah acara di Pulau Komodo, Flores. Setelah itu, beberapakali kami bertemu dalam berbagai acara, tapi kemudian komunikasi terputus. Sampai kemudian saya sering melihat penampilannya sebagai pembaca berita di sebuah stasiun televisi swasta.
Beberapa minggu terakhir, saya teringat pada Pius dan ingin sekali mengontak. Tapi selalu terhalang kesibukan dan keengganan. Sampai pada suatu Rabu sore yang temaram (2/3), saya berkumpul bersama beberapa teman di warung tenda depan kantor. Pembicaraan mengalir panjang. Mulai dari persoalan sehari-hari hingga hebohnya jual-beli pulau di Nusa Tenggara Timur. Kemudian entah mengapa, saya menyebut nama Pius.
Dan inilah yang terjadi:
Seorang teman mengatakan: “Lho mbak, Pius’kan sudah enggak ada. Kalau tidak salah meninggal hari Sabtu atau Minggu kemarin.”
Mendengar celetukan itu, saya pun terpana. Seorang teman dari Manggarai, Flores membenarkan peristiwa tersebut. Dia kemudian bercerita: Jumat (24/2), ada pertemuan orang-orang Manggarai dengan Bupati Manggarai. Pertemuan itu usai sekitar pukul 02.00 pagi. Pius pun pulang, tidur, dan bangun sekitar pukul 06.00. Kemudian pergi bermain tenis. Setelah itu kembali ke rumah dan di situlah peristiwa itu terjadi. Pius dipanggil Yang Kuasa, dengan perkiraan terserang penyakit jantung.
‘Hati saya terlalu ramai,
belum bisa menghening,
merasakan,
dan mengartikan dorongan nurani.’
“Menurut teman saya tadi, saat bertemu dengan bupati manggarai, Pius bertanya: mengapa orang manggarai malas-malas? Dan diakhir percakapan, dia mengatakan: saya titipkan orang manggarai pada bapak,” demikian cerita teman saya yang memeliki hubungan kedaerah dengan Pius.
Kemudian teman saya itu kembali bercerita, dirinya teringat dan selalu terkenang dengan kata-kata almarhum yang secara garis besar mengatakan demikian:
“Janganlah kamu terlalu rajin berdoa, nanti Tuhan sayang padamu. Kalau Dia sayang dan sedang kesepian, kamu akan dipanggil untuk menemani Dia.”
Senja itu rasanya kian gelap. Saya termenung dan mulai mengerti arti keinginan yang muncul beberapa minggu ini. Keinginan untuk menghubungi Pius.
Tapi seperti biasa, saya tidak peka. Saya menyerah pada keengganan dan keinginan untuk menunda melakukan berbagai hal. Saya sudah mengabaikan tanda-tanda kehidupan. Hati saya terlalu ramai, belum bisa menghening, merasakan, dan mengartikan dorongan nurani.
Tapi saya tidak akan pernah menyerah! Saya akan terus belajar, dan semoga saya bisa lebih dewasa dan bijaksana.
Selamat Jalan Pius….