HarikuMarch 31, 2006 10:29 am

Apa arti teman buat kamu?
Uuppsss!
Hai Wake up!
This is (the) real world!

Apa yang jadi prioritas dalam hidupmu?
suami/istri…
anak…
cinta…
teman…
pekerjaan…
atau yang lain…

A

PA JADINYA JIKA PEREMPUAN DENGAN KISAH BERBEDA, PERSOALAN BERBEDA, RASA SAKIT BERBEDA, PANDANGAN HIDUP BERBEDA, DAN PRINSIP BERBEDA, BERTEMU DALAM SEBUAH CERITA?

Banyak hal bisa terjadi. Dan saya baru benar-benar menyadari, ternyata perbedaan prioritas bisa menimbulkan konflik dan kesalahpahaman yang begitu besar. Saya berpikir mengapa? Untuk sementara saya berkesimpulan, bukan masalah mengerti atau tidak mengerti, tapi lebih pada menghargai perbedaan dan menjaga rasa saling percaya. Benar-benar rasa saling percaya.

Pandangan saya tentu bisa salah. Karena itu, saya selalu mengingatkan pada diri sendiri untuk tidak selalu merasa benar. Dan saya juga berprinsip, sebisa mungkin tidak menyalahkan orang lain . Sebab, semua persoalan pasti saling kait-mengait. Merupakan rangkaian sebab akibat yang tidak bisa dipisahkan.

Meski seringkali lupa, tapi saya berusaha terus mengingat kata-kata ini:
Umur seseorang hanya Tuhan yang tahu!

HarikuMarch 25, 2006 4:08 pm

Sesungguhnya, perempuan itu menyangga separo langit (Mao Tze Tung)

Hariku 4:07 pm

Mengapa banyak cinta jatuh di ladang yang salah? Jawabannya mungkin seperti ini: kalau semua jatuh di tempat yang benar, dunia pasti sepi cerita. Bingung’kan? Tidak ada novel, tidak ada film, tidak ada musik, tidak ada dongeng, dan tidak ada berita.

Hariku 4:05 pm

Saya merasa, tingkat ketahanan saya menghadapi persoalan kok kian menurun. Bukan petanda baik. Karena seharusnya, semakin bertambah usia, seharusnya semakin tahan menghadapi persoalan.

Lalu, ada apa dengan saya? Entahlah…saya hanya merasa sedang berdiri di tepi sebuah jurang. Dan itu menakutkan.

Tapi seperti hari-hari sebelumnya, badai pasti berlalu. Iya toh!

HarikuMarch 16, 2006 5:32 am

Betapa kaya dan penuh misteri alam raya.

Beberapa hari lalu, usai runtuh serpihan jarum halus membasuh sebagian bumi, aku melihat sesuatu yang biasa tapi saat itu menjadi luar biasa. Jalinan tiga keindahan alam: langit biru bersisik putih, warna-warni pelangi, dan cemerlang kilau ilalang dalam balutan warna emas matahari sore. Memesona dan penuh misteri.

Kemarin malam, aku kembali terpana menyaksikan banyaknya benturan energi di udara. Kemarahan, kebencian, cinta, ketakutan, hingga kesedihan. Aku berkeyakinan, energi-energi itu berbenturan tiap detik di udara. Terlihat sederhana, tapi disitulah nasib bergulir. Dan semoga, yang terbaiklah yang menjulang.

Beberapa detik aku terpaku dalam siraman purnama. Malam yang seharusnya panjang terasa begitu pendek. Aku merebahkan diri, menyempatkan membaca buku tentang Pramudya Ananta Toer: Saya Terbakar Amarah sendirian.

Satu kalimat itu menguatkan benturan energi di udara. Juga mengingatkan pada siksaan tawanan di Guatanamo, ketakutan akan perang, dan ketidakberdayaan lain yang bisa menimbulkan amarah dan kebencian. Semoga cinta bisa mengalahkan segalanya. Dan, saya pun mulai mengerti….

HarikuMarch 10, 2006 6:36 pm



Saya merasa, perempuan mendapat banyak rahmat sekaligus hukuman lewat hormon premensturasi yang bisa membuat segala kemapanan dan kenyamanan jungkir-balik.

Saya hanya ingin bertanya: apakah dulu pada masa hawa berbuat dosa sudah ada mensturasi?

Benar-benar hanya sekadar ingin tahu.

HarikuMarch 4, 2006 1:57 pm

S

eorang teman mengatakan: “duniamu sedang terbalik. Perubahan yang terlalu frontal, sehingga membuat kamu bingung.”

Mungkin benar. Bagi saya sekarang, dunia sedang berwarna biru. Begitu dalam dan menawarkan banyak hal. Kadang saya terhanyut, kadang saya terkejut karena tiba-tiba ditampar kesadaran.

Kemarin, saya menanyakan suatu peristiwa pada seorang teman. tidak terlalu penting, karena saya menghargai dia apa adanya. Benar-benar hanya sekadar bertanya. Tapi sikap penghindaran ternyata bisa membuat sedih. Perasaan yang salah, karena itu berarti saya belum bisa sepenuhnya menghargai prinsip dan sikap orang lain.

Tapi saya rasa, saya mulai lelah membangun garis-garis penghubung. Dan itu membuat saya sedih sekaligus gembira. Sedih, karena sungguh saya masih ingin tetap berteman dan membagi apa yang saya miliki. Gembira karena akhirnya saya sekali lagi ditampar kesadaran.

Dan pagi ini, saya merasa suasana begitu biru. Ditemani mekaran bunga kamboja jepang dan lambaian daun-daun kecil Lavender, saya menertawai dunia saya yang mungkin memang sedang terbalik. Tapi saya tak mau tenggelam dalam kebiruan suasana pagi.

Saya hanyalah manusia biasa yang sedang berusaha untuk menjadi lebih baik. Selama jiwa masih dikandung badan (…maaf bukan lagu kebangsaan…), saya akan terus belajar dan bangkit dari kesalahan. Bukankah itu inti pelajaran hidup yang sesungguhnya?

NB: Kenapa sih gw? Pasti gara-gara hormon PMS :)

HarikuMarch 3, 2006 2:27 pm

Mengasah kepekaan Hati

‘Janganlah kamu terlalu rajin berdoa,
nanti Tuhan sayang padamu.
Kalau dia sayang dan sedang kesepian,
kamu akan dipanggil untuk menemani dia…

S
emua manusia diberi kepekaan atau pun intuisi untuk membaca tanda-tanda langkah kehidupan. Dalam hal ini saya sepakat dengan semangat yang ingin dibagi Paulo Coelho dalam bukunya yang memang bagus, berjudul Sang Akemis.

Tapi masalahnya, tidak semua manusia bisa mendengar kepekaan suara hati. Terkadang, saat suatu peristiwa sudah terjadi, baru menyadari arti tanda-tanda yang diberikan. Dan itulah yang sering saya alami.

Ada satu kisah yang kelanjutannya baru saja terjadi. Beberapa tahun lalu, saya berkenalan dengan seorang teman bernama Pius. Kami pernah pergi bersama mengikuti sebuah acara di Pulau Komodo, Flores. Setelah itu, beberapakali kami bertemu dalam berbagai acara, tapi kemudian komunikasi terputus. Sampai kemudian saya sering melihat penampilannya sebagai pembaca berita di sebuah stasiun televisi swasta.

Beberapa minggu terakhir, saya teringat pada Pius dan ingin sekali mengontak. Tapi selalu terhalang kesibukan dan keengganan. Sampai pada suatu Rabu sore yang temaram (2/3), saya berkumpul bersama beberapa teman di warung tenda depan kantor. Pembicaraan mengalir panjang. Mulai dari persoalan sehari-hari hingga hebohnya jual-beli pulau di Nusa Tenggara Timur. Kemudian entah mengapa, saya menyebut nama Pius.

Dan inilah yang terjadi:
Seorang teman mengatakan: “Lho mbak, Pius’kan sudah enggak ada. Kalau tidak salah meninggal hari Sabtu atau Minggu kemarin.”

Mendengar celetukan itu, saya pun terpana. Seorang teman dari Manggarai, Flores membenarkan peristiwa tersebut. Dia kemudian bercerita: Jumat (24/2), ada pertemuan orang-orang Manggarai dengan Bupati Manggarai. Pertemuan itu usai sekitar pukul 02.00 pagi. Pius pun pulang, tidur, dan bangun sekitar pukul 06.00. Kemudian pergi bermain tenis. Setelah itu kembali ke rumah dan di situlah peristiwa itu terjadi. Pius dipanggil Yang Kuasa, dengan perkiraan terserang penyakit jantung.

‘Hati saya terlalu ramai,
belum bisa menghening,
merasakan,
dan mengartikan dorongan nurani.’

“Menurut teman saya tadi, saat bertemu dengan bupati manggarai, Pius bertanya: mengapa orang manggarai malas-malas? Dan diakhir percakapan, dia mengatakan: saya titipkan orang manggarai pada bapak,” demikian cerita teman saya yang memeliki hubungan kedaerah dengan Pius.

Kemudian teman saya itu kembali bercerita, dirinya teringat dan selalu terkenang dengan kata-kata almarhum yang secara garis besar mengatakan demikian:
“Janganlah kamu terlalu rajin berdoa, nanti Tuhan sayang padamu. Kalau Dia sayang dan sedang kesepian, kamu akan dipanggil untuk menemani Dia.”

Senja itu rasanya kian gelap. Saya termenung dan mulai mengerti arti keinginan yang muncul beberapa minggu ini. Keinginan untuk menghubungi Pius.
Tapi seperti biasa, saya tidak peka. Saya menyerah pada keengganan dan keinginan untuk menunda melakukan berbagai hal. Saya sudah mengabaikan tanda-tanda kehidupan. Hati saya terlalu ramai, belum bisa menghening, merasakan, dan mengartikan dorongan nurani.
Tapi saya tidak akan pernah menyerah! Saya akan terus belajar, dan semoga saya bisa lebih dewasa dan bijaksana.
Selamat Jalan Pius….