Kehidupan ini memang kejam bagi orang yang kebetulan memiliki wajah pas-pasan, apalagi jelek menurut standar umum. Dibutuhkan dua kali lipat usaha untuk mendapatkan sesuatu. Tidak percaya? Coba amati kehidupan disekeliling Anda. Tengok dengan jujur suara hati Anda!
Sudah? Cover yang baik — bila digunakan dengan tepat — akan mempermudah keberuntungan! Baik itu dalam kehidupan pribadi mau pun pekerjaan. Tak perlu dipungkiri, meski tak mutlak berlaku.






HAYOOO, MANA YANG LEBIH CANTIK?
Saya punya banyak cerita berkaitan dengan pengaruh wajah menarik. Seorang teman yang memang cantik dan kebetulan dikaruniai tubuh seksi mengatakan: saat kuliah, ada dua dosen yang selalu datang ke rumah dua jam menjelang ujian. Tujuannya? Menyerahkan soal yang akan dikeluarkan dalam ujian. Satu bukti bahwa wajah cantik memberi keuntungan tersendiri.
Karir teman saya ini juga bisa dikatakan ‘melejit’. Kecantikan, keseksian, kebaikan (ukuran tentu sangat subyektif) , dan kesupelannya mampu menembus kalangan ring atas. Dan tentu semua itu memperlancar jalan. Sesekali keluar jalur, yaaah tak apalah. Senyum maut dan gerak tubuhnya membuat semua orang bisa memaklumi.
Ada juga seorang wartawan televisi berwajah cantik yang kemudian menang bersaing melawan teman-teman seangkatan. Bahkan juga senior yang kerjanya terbukti lebih bagus. Ini kisah nyata, dan tetap dimaklumi meski hasil laporannya — maaf agak memalukan. Kisah ini, mengilhami seseorang untuk menulis tentang pengaruh kecantikan di Jurnal perempuan.
Dalam kisah yang tidak nyata, Ally Mcbeal secara tidak sengaja memporak-porandakan rencana perkawinan dua orang yang sebelumnya saling mencinta. Sepasang ciptaan Tuhan yang kebetulan dikaruniai tubuh subur, berjanji akan saling setia dalam sebuah perkawinan. Namun, saat si lelaki bertemu Ally Mcbeal yang cantik, seksi, dan smart, impian itu buyar. Mereka batal menikah.
Perempuan yang tak jadi dinikahi kira-kira mengatakan begini: ’saya hanya punya satu kesempatan, sedangkan kamu (ally) memiliki banyak kesempatan. Dan satu-satunya kesempatan yang saya miliki telah kamu ambil.’
Tentu saja Ally bengong, karena dia tidak berminat pada pria itu. Ini hanya sekedar pelaksanaan hukum alam, hukum rimba, dan hukum bentukan manusia.
Masih kurang contoh? Berikut beberapa hasil penelitian di luar negeri tentang pengaruh kecantikan dan ketampanan dalam kehidupan sehari-hari. Pernah dimuat di Media Indonesia Minggu:
Hasil studi guru besar ekonomi Universitas of texas Daniel Hamermesh dan Jeff Biddle dari Michigan State University tahun lalu mengungkapkan, orang dengan penampilan biasa-biasa saja bergaji lebih rendah 5%-10% dibanding orang yang berpenampilan menarik.
Sebuah studi lain di tahun yang sama juga menunjukkan hasil serupa. Federal Reserve Bank of St Luis membuktikan, orang berpenampilan menarik bergaji lebih tinggi 5% dibanding yang berpenampilan biasa-biasa saja. Survei London Guildhall University menunjukkan hasil serupa. Dilakukan terhadap 11 ribu responden berusia 33 tahun dengan hasil, pria berpenampilan tidak menarik gajinya lebih kecil 15% dibanding yang berwajah menarik. Sedangkan perempuan berwajah biasa-biasa saja lebih rendah 11% dibanding perempuan yang kebetulan dikaruniai wajah cantik.
Nah…kian terbukti’kan? Jadi tidak mengherankan kalau kemudian banyak orang berlomba membuat diri lebih menarik untuk meraih peluang lebih baik. Inilah dunia nyata! Kalau sudah demikian, masalah money talk kembali muncul. Tapi kata-kata hiburannya: tidak semua aturan umum itu berlaku. Sebetulnya, ini sebuah tantangan. Bagi yang kebetulan dikaruniai wajah pas-pasan dan juga kepandaian pas-pasan — seperti saya misalnya — harus berusaha dua kali lipat lebih keras.
Kata hiburan lainnya: Dunia tidak berputar dibatas paras. Sampai sekarang, saya bisa menjalani hidup dengan sangat nikmat. Dikelilingi teman-teman yang begitu baik dan sering menjadi inspirasi. Juga lingkup kasih sayang dibalik kehadiran suami dan sikecil tercinta. Bukankah itu salah satu nikmat kehidupan?