HarikuJanuary 31, 2006 8:45 am

Dung twet-twet, dung twet-twet, twet-twet-twet, dung twet-twet, kriiik-kriiik, dung twet, dung twet-twet

FROG FROG FROG

Lama di hutan beton, Jakarta, paduan suara kodok dan jangkrik terasa begitu indah dan merdu. Berirama, menyatu dengan kegelapan yang turun menyelimuti kebun, sawah, dan beberapa rumah. Membelah sunyi, membuai malam, dan mengantar pikiran, serta impian.

Suasana seperti itu saya temui di rumah dua orang tercinta di Jawa Tengah. Udara malam yang dingin bersimponi dengan gerimis kecil yang sudah berjam-jam tak kunjung usai. Segelas teh poci dan sepiring tahu aci menjadi teman kembara.

Teringat seorang teman yang sempat tergila-gila boneka kodok. Teringat juga keriangan si kecil. Esok harus menegakan hati kembali ke Jakarta. Sekali lagi meninggalkan mereka.

Dung twet-twet, dung twet-twet, twet-twet-twet, dung twet, kriiik kriiik, dung twet-twet, dung twet-twet

HarikuJanuary 27, 2006 5:43 pm

Setiap anak dilahirkan dengan membawa pesan, bahwa Tuhan belum bosan dengan manusia (Tagore)

tagore sepatu TAGOR

HarikuJanuary 26, 2006 10:25 am

SETULUS INIKAH TAWA ANDA?
tertawatertawa

Berbagai penelitian menyebutkan, tertawa bisa membuat orang lebih sehat dan awet muda. Benarkah? Jangan telan mentah-mentah hasil penelitian itu. Sebab, tertawa kadang juga merupakan ungkapan hati yang tidak sehat. Misalnya, jika Anda sedang kesal lalu tertawa sinis. Jelas itu bukan tawa sehat. Bahkan bisa membuat orang lain ikut tidak sehat karena tersinggung dan sakit hati. Lebih parah lagi jika Anda sering tertawa sendiri. Bisa-bisa orang lain menyebut gila!

Pakar humor Jayasuprana pernah menulis di Intisari tentang tertawa. Dia menegaskan: tidak semua bentuk tawa itu sehat. Silakan tertawa pada saat Anda menderita infeksi mulut atau terserang radang usus buntu. Hasilnya pasti mengejutkan.
Sebelum meninggalkan dunia fana, para penderita multiple sclerosis fase terminal lazimnya tertawa terbahak-bahak yang sebenarnya lebih merupakan gejala kejang otot sekujur tubuh, sebelum lumpuh total. Tertawa menjelang maut jelas bukan pertanda sehat.
Secara sosial, tertawa juga tidak selalu sehat. Jelas tidak senonoh jika kita tertawa terbahak-bahak di saat upacara keagamaan atau kematian. Betapa pun menggelikannya penampilan atasan, sebaiknya bawahan jangan tertawa, kecuali apabila sang atasan memang sengaja melucu, meski tidak lucu.

Sebuah penelitian menyebutkan, tertawa sebenarnya sarat makna sosial. Bila orang yang tak saling mengenal tertawa bersama, muncul rasa solidaritas. Tawa dan humor juga dapat digunakan untuk menentukan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok. Teori ini disebut teori superioritas. Berbagai penelitian menunjukkan, para atasan lebih sering membuat lelucon daripada karyawannya. Dan para karyawan akan tertawa terbahak-bahak, walau mereka tidak mengerti lelucon atasannya. Wanita cenderung tertawa lebih banyak, bila ada laki-laki di dekatnya. Sebaliknya, laki-laki enggan tertawa terbahak-bahak bila ada kemungkinan tawanya didengar oleh wanita (apa benar?)

Terlepas dari semua itu, beberapa penelitian tentang tertawa memang menunjukkan suatu hasil menggembirakan. Coba simak:
1. Membantu membakar kalori
Dalam salah satu artikel, kantor berita asing Reuters menyebutkan, tertawa keras dan terbahak-bahak selama 10 sampai 15 menit bisa membakar sekitar 10-40 kalori.
“Kami telah menghitung bila cara tersebut diterapkan setiap hari selama satu tahun, maka sama dengan mengurangi sekitar dua kilogram berat badan,” kata Dr Maciej Buchowski dari Vanderbilt University Medical Center di Nashville, Tennessee, ketika berbicara pada sebuah konfrensi yang membahas masalah kegemukan.
2. Penghilang stres
Tertawa yang berasal dari dalam hati dan bukan sekedar basa-basi ternyata bisa mengurangi tingkat stres. Tertawa juga bisa membantu mengindari serangan penyakit hipertensi.
3. Memperbanyak kekebalan tubuh
Tertawa pada dasarnya membawa keseimbangan pada semua komponen dalam sistem kekebalan tubuh. Jadi, tertawa itu bisa berfungsi seperti vitamin C.
4. Menurunkan kadar gula
Peneliti dari Jepang yang dipimpin Dr Keiko Hayashi dari Universitas Tsukuba melaporkan, tertawa juga bisa menekan kadar gula darah dalam tubuh. Menurut Hayashi, kadar darah pengidap diabetes tipe 2 mengalami sedikit kenaikan ketika mereka makan. Namun, kenaikan itu bisa dikendalikan bila mereka menonton pertunjukan lawak ketimbang sinetron yang membosankan.
5. Membuat awet muda
Tawa yang tulus ternyata bisa menjadi alternatif senam wajah. Hasilnya, otot lebih lentur dan wajah pun lebih cerah. Semua itu akan membantu menghambat proses penuaan.

Nah, jika digunakan dengan tepat, ternyata tertawa itu bisa mendatangkan banyak manfaat. Tapi ya itu tadi, harus dilakukan dengan tepat dan dalam suasana yang pas. Kalau tidak, bisa-bisa Anda disebut agak miring atau apesnya lagi gila!!! :) :) :)

NB: penelitian diambil dari berbagai sumber

HarikuJanuary 24, 2006 9:47 am

Menulis tentang peran kecantikan dan ketampanan dalam kehidupan tak akan pernah habis. Ini tulisan saya terakhir berkaitan dengan masalah itu. Hanya ingin memberi semacam referensi, dua buku yang ditulis dua perempuan yang sudah menjadi korban mitos kecantikan hasil bentukan industri dan juga nilai-nilai sosial pada umumnya. Mudah-mudahan pengalaman mereka bisa menjadi pelajaran buat kita semua.

1. TUBUHKU MUSUHKU
LANGSINGMarya adalah gadis mungil yang telah berteman dengan bulimia dan anoreksia sejak usianya belum genap sepuluh tahun. Bulimia membuat dia terus memuntahkan makanan. Anoreksia membuat dia merasa bisa meraih kemenangan karena berhasil menahan lapar selama berhari-hari. Semua yang dilakukan hanya untuk mengejar satu kata langsing. Lingkungan keluarga dan tren sosial ikut membentuk penyakit yang oleh para dokter sudah disebut sangat akut. Sampai sekarang, Marya terus berusaha menyembuhkan diri dari dua penyakit itu. Dia terus mencoba berteman dengan ketakutan dan harapan.

2. BEAUTIFUL STRANGER
WAJAH
Satu lagi kisah menarik seputar ketidakpercayaan diri akibat tekanan tren sosial. Kata cantik bekerja seperti candu dan membuat Hope Donahue terjebak dalam keahlian permak para ahli bedah. Pada usia 27 tahun dia telah menjalani tujuh operasi plastik untuk mewujudkan kata cantik. Kekayaan memungkinkan dia melakukan itu. Dia menyadari psikologinya tidak sehat, dan terus berjuang melawan ketidakpercayaan diri dan juga mitos cantik hasil bentukan industri, teknologi, dan juga sosial.

Hariku 9:22 am

Kehidupan ini memang kejam bagi orang yang kebetulan memiliki wajah pas-pasan, apalagi jelek menurut standar umum. Dibutuhkan dua kali lipat usaha untuk mendapatkan sesuatu. Tidak percaya? Coba amati kehidupan disekeliling Anda. Tengok dengan jujur suara hati Anda!

Sudah? Cover yang baik — bila digunakan dengan tepat — akan mempermudah keberuntungan! Baik itu dalam kehidupan pribadi mau pun pekerjaan. Tak perlu dipungkiri, meski tak mutlak berlaku.

cantikAYUcantikAYUcantikAYU

HAYOOO, MANA YANG LEBIH CANTIK?

Saya punya banyak cerita berkaitan dengan pengaruh wajah menarik. Seorang teman yang memang cantik dan kebetulan dikaruniai tubuh seksi mengatakan: saat kuliah, ada dua dosen yang selalu datang ke rumah dua jam menjelang ujian. Tujuannya? Menyerahkan soal yang akan dikeluarkan dalam ujian. Satu bukti bahwa wajah cantik memberi keuntungan tersendiri.
Karir teman saya ini juga bisa dikatakan ‘melejit’. Kecantikan, keseksian, kebaikan (ukuran tentu sangat subyektif) , dan kesupelannya mampu menembus kalangan ring atas. Dan tentu semua itu memperlancar jalan. Sesekali keluar jalur, yaaah tak apalah. Senyum maut dan gerak tubuhnya membuat semua orang bisa memaklumi.

Ada juga seorang wartawan televisi berwajah cantik yang kemudian menang bersaing melawan teman-teman seangkatan. Bahkan juga senior yang kerjanya terbukti lebih bagus. Ini kisah nyata, dan tetap dimaklumi meski hasil laporannya — maaf agak memalukan. Kisah ini, mengilhami seseorang untuk menulis tentang pengaruh kecantikan di Jurnal perempuan.

Dalam kisah yang tidak nyata, Ally Mcbeal secara tidak sengaja memporak-porandakan rencana perkawinan dua orang yang sebelumnya saling mencinta. Sepasang ciptaan Tuhan yang kebetulan dikaruniai tubuh subur, berjanji akan saling setia dalam sebuah perkawinan. Namun, saat si lelaki bertemu Ally Mcbeal yang cantik, seksi, dan smart, impian itu buyar. Mereka batal menikah.
Perempuan yang tak jadi dinikahi kira-kira mengatakan begini: ’saya hanya punya satu kesempatan, sedangkan kamu (ally) memiliki banyak kesempatan. Dan satu-satunya kesempatan yang saya miliki telah kamu ambil.’
Tentu saja Ally bengong, karena dia tidak berminat pada pria itu. Ini hanya sekedar pelaksanaan hukum alam, hukum rimba, dan hukum bentukan manusia.

Masih kurang contoh? Berikut beberapa hasil penelitian di luar negeri tentang pengaruh kecantikan dan ketampanan dalam kehidupan sehari-hari. Pernah dimuat di Media Indonesia Minggu:

Hasil studi guru besar ekonomi Universitas of texas Daniel Hamermesh dan Jeff Biddle dari Michigan State University tahun lalu mengungkapkan, orang dengan penampilan biasa-biasa saja bergaji lebih rendah 5%-10% dibanding orang yang berpenampilan menarik.
Sebuah studi lain di tahun yang sama juga menunjukkan hasil serupa. Federal Reserve Bank of St Luis membuktikan, orang berpenampilan menarik bergaji lebih tinggi 5% dibanding yang berpenampilan biasa-biasa saja. Survei London Guildhall University menunjukkan hasil serupa. Dilakukan terhadap 11 ribu responden berusia 33 tahun dengan hasil, pria berpenampilan tidak menarik gajinya lebih kecil 15% dibanding yang berwajah menarik. Sedangkan perempuan berwajah biasa-biasa saja lebih rendah 11% dibanding perempuan yang kebetulan dikaruniai wajah cantik.

Nah…kian terbukti’kan? Jadi tidak mengherankan kalau kemudian banyak orang berlomba membuat diri lebih menarik untuk meraih peluang lebih baik. Inilah dunia nyata! Kalau sudah demikian, masalah money talk kembali muncul. Tapi kata-kata hiburannya: tidak semua aturan umum itu berlaku. Sebetulnya, ini sebuah tantangan. Bagi yang kebetulan dikaruniai wajah pas-pasan dan juga kepandaian pas-pasan — seperti saya misalnya — harus berusaha dua kali lipat lebih keras.

Kata hiburan lainnya: Dunia tidak berputar dibatas paras. Sampai sekarang, saya bisa menjalani hidup dengan sangat nikmat. Dikelilingi teman-teman yang begitu baik dan sering menjadi inspirasi. Juga lingkup kasih sayang dibalik kehadiran suami dan sikecil tercinta. Bukankah itu salah satu nikmat kehidupan?

HarikuJanuary 13, 2006 5:23 pm

Kraaak
ughhhh
saat kaulihat kerapuhan di tiang depan
itulah aku

jiwaku menghening
merenda doa dalam diam

sayangku:
sungguh kita butuh kekuatan ekstra
untuk mencoba menyegarkan kembali
lazuardi cinta yang pernah dan masih
membingkai hati kita

Jakarta 2006 — bagian dari perjalanan

HarikuJanuary 4, 2006 9:34 am

Tengkyu friend, sepatu weidenmann-nya

HarikuJanuary 3, 2006 11:23 am

Pada tahun 2000, di Broklyn terbentuk komunitas pecinta musik robot. Anggotanya sebagian besar terdiri dari ilmuwan dan seniman musik. Sampai sekarang, mereka terus berjuang menciptakan robot-robot musik yang bisa memainkan sebuah konser. Ada robot piano, harpa, biola, dan sebagainya. Mereka diprogram memainkan berbagai lagu klasik, layaknya dalam sebuah konser.

MUSIK

Dibanding manusia, jelas mereka memiliki keunggulan. Keakuratan nada lebih terjaga. Tapi kok saya terus membayangkan, apa asyiknya menonton alat musik yang bisa bermain sendiri. Sepertinya tak berbeda jauh dengan mendengarkan musik dari CD. Malah saya pikir lebih asyik mendengar CD karena bisa sambil membaca atau bersantai di rumah.

Dari segi teknologi, peningkatan dan penyempurnaan robot musik memang bisa mengundang decak kagum. Tapi bayangkan, jika suatu hari ‘hati’ manusia di bidang musik diambil alih robot? Apa ya yang akan terjadi? Barangkali manusia menjadi semakin tak punya perasaan, atau justru bisa hidup lebih tertib layaknya robot? Itu pun kalau tidak salah program.

Masih tentang kemungkinan masa depan, beberapa waktu lalu saya berpikir, bagaimana kalau air di bumi ini benar-benar menjadi terbatas. Pikiran itu muncul karena kebetulan keran di rumah rusak. Hanya bisa mengalirkan sedikit air, sehingga bak mandi lama penuh.

Sambil menunggu, saya pun berkhayal. Barangkali nanti manusia tidak bisa lagi bermewah-mewah mandi dengan air. Mungkin seperti bayi, harus dengan cara waslap. Itu pun dijatah satu hari sekali. Gawat’kan?

Jika itu terjadi, berarti rambut panjang akan menjadi sebuah kemewahan. Daripada berkutu, orang akan lebih memilih cara praktis memendekkan rambut, atau mungkin justru lebih senang botak.

Nah, jika rambut botak menjadi pilihan, saya pikir akan muncul aliran seni baru. Ituuu, mengukir atau menggambar di atas kepala dengan bahan dasar rambut. Seperti kalau kampanye, dimana ada orang rela mencukur dan membentuk rambutnya menjadi gambar beringin, banteng dan sebagainya.

Barangkali nanti, seni seperti itu akan berkembang menjadi sebuah keahlian tersendiri. Tentu dengan gambar lebih rumit dan seni lebih tinggi.

Kalau begitu, selamat datang deh kehidupan dan kesenian baru. Tapi karena air di bak mandi sudah penuh, khayalan saya pun terpaksa selesai sampai di sini!

HarikuJanuary 2, 2006 4:35 pm

Tahun baru kemarin cukup menyenangkan buat saya. Pergi ke dharmawangsa melakukan suatu treatment, kemudian pulang bersama teman lama, mama mothy.

Sebelumnya kami mampir ke chamu-chamu, buat makan siang yang sebenarnya lebih tepat disebut makan sore. Sungguh sedaaap menyantap tumis pakis dan bunga pepaya, bakwan jagung, serta sepotong ikan.

Setelah itu, kami berdua meluncur ke bilangan Jakarta Barat. Berkumpul bersama anggota keluarga, ngobrol ngalor-ngidul sambil….he he he makan lagi. Tapi makanan kecil siiih??? seperti lapis surabaya, nogosari, dan kentang goreng.

Lepas maghrib, kami semua pergi belanja. Pulang sudah malam sekitar pukul 10.00, dan perut mulai kukuruyuk lagi. Mampirlah ke warung tenda nasi uduk. Hmmm….sedap nian.

Sesampai di rumah, setengah jam sebelum ganti tahun. Tepat pukul 00.00, bunyi petasan dan kembang api mulai bersahutan. Kami keluar, menatap langit gelap yang tiba-tiba diselingi berbagai kilatan cahaya.

Aduhai indahnya langit! malam itu, penuh bintang warna-warni, hijau, merah, kuning, biru, dan putih. Bersama beberapa orang yang duduk manis di atas genteng, kami menonton pertunjukkan gratis.

Alamaak, terimakasih para donatur kembang api yang menyalakan keindahan malam selama kurang lebih setengah jam. Tidak perlu ke Ancol, Taman Mini, atau pun pergi ke berbagai tempat hiburan yang dalam bayangan saja sudah demikian sesak.

Tahun ini, saya merasa melewati Tahun Baru dengan lebih baik. Ada sedikit kesan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Entah mengapa, karena biasanya Tahun Baru berlalu begitu saja, sama dengan hari-hari lain. Tidak berbeda dengan hari besar bahkan ulang tahun saya sendiri.

Kadang, sebuah keistimewaan memang lahir dari kesederhanaan. Tidak ada kata terlambat: SELAMAT TAHUN BARU 2006!