HarikuDecember 30, 2005 12:17 pm

Belakangan, di kantor banyak lelaki dan perempuan keranjingan menguruskan badan. Banyak juga yang rela mengeluarkan uang puluhan juta untuk mewujudkan gambaran cantik. Langsing, berkulit halus, putih, dan bla…bla…bla…

Di sebuah fitness center, para perempuan muda hampir selalu berbincang tentang bagaimana menjadi lebih cantik. Mulai dari mengelupas kulit wajah, menghilangkan noda, menanam bulu mata, mengeriting alis, mendatangi dokter ini, dokter itu, operasi ini, operasi itu…dll. Intinya memenuhi kriteria mitos kecantikan: langsing, berkulit putih mulus, dan bla..bla…

Saya sendiri ikut program pelangsingan tusuk jarum (gratis tentu hehehe). Tapi bukan program itu yang ingin saya bicarakan. Lama saya merenung, mengapa orang berlomba dan mau mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk mendapatkan gambaran sesuai dengan mitos kecantikan.

Penasaran, saya coba tanya kebeberapa orang tentang motivasi mereka. Jawabannya beragam. Rata-rata: “supaya sehat atau gampang cari baju.” Ada juga yang memberi jawaban terang-terangan: “untuk menunjang kompetisi.”
Ha ha ha, jawaban terakhir yang keluar dari seorang gadis lajang, saya kira paling jujur. Tapi apa tepat diterapkan pada perempuan yang sudah menikah dan punya anak seperti saya misalnya?

Saya pun mencoba meneropong hati terdalam. Apa tujuan saya menyambar tawaran gratis melangsingkan badan? Jawabannya mungkin mengikuti arus mitos kecantikan bahwa perempuan langsing itu indah dipandang. BT juga hampir setiap hari orang berkomentar: “sekarang elu gemuk ya?”
Jadi, saat ada kesempatan gratis, kenapa tidak dimanfaatkan? Hasilnya memang menyenangkan. Semua baju zaman dulu kembali bisa dipakai. Badan terasa lebih ringan, dan tentu lebih percaya diri.

Munculnya perasaan seperti itu menurut saya wajar saja. Meski sebenarnya — berarti juga — masuk dalam lingkaran jajahan mitos kecantikan yang sudah diciptakan industri dan ditelan mentah-mentah oleh lelaki dan perempuan. Dua jenis kelamin ini menurut saya sama-sama dijajah kecantikan. Hanya saja, perempuan lebih parah karena menjadi korban bentukan industri dan laki-laki sekaligus.
Tapi untunglah, kondisi itu sekarang menjadi agak imbang. Tepatnya, sejak laki-laki juga mulai dijajah ketampanan. Sampai-sampai muncul istilah metroseksual.

Terlepas dari persoalan jajah-menjajah, sekarang saya sudah cukup berhasil mengikuti program tusuk jarum. awalnya asyik juga mendengar pujian:
“sekarang kamu langsing, terlihat lebih muda, dan bla…bla…bla…” :)

Tapi kemudian mulai muncul perasaan: akan lebih asyik kalau yang dipuji adalah hasil kerja otak saya.
Setelah itu muncul perasaan tambahan: “kalau jadi lebih bagus, so what gitu loh? Saya kan ikut program tusuk jarum. Jadi apa hebatnya?”
Itu’kan justru kian memperkuat kenyataan tentang money talk. Kalau kamu punya uang, melakukan ‘permak’ seperti apa pun bisa lebih mudah. Jadi, apa hebatnya? Dan saya pun mulai menikmati sekaligus mencibiri pujian.

Hariku 9:51 am

Kenyataannya, orang lebih sering menilai dari: bukan apa yang disampaikan, tapi siapa yang menyampaikan. — Thoha Alhamid

Pagi berlalu tergesa. Siang pun menjelang. Harus memenuhi janji dengan seseorang. Penasaran… seperti apa sosok yang sering jadi perbincangan tokoh-tokoh politik? Ada rasa gentar…seperti apa orang yang sering disebut-sebut sebagai salah satu tokoh pemberontak? He he, mungkin dalam bayanganku sudah terpampang wajah seram dan siap berperang.

Menuju sebuah hotel di bilangan Senayan — pertengahan Desember — akhirnya bertemu dengan sekjend OPM Thoha Alhamid. Hadir tiga teman lagi, satu penghubung, satu teman kantor, dan di tengah pembicaraan bergabung satu orang lagi.

Tidak ada kesan seram. Auranya bagus, ramah, dan rendah hati. Cita-citanya sederhana, ingin jadi pengurus sepakbola Papua.
Perbincangan awal berkisar seputar politik, keinginan untuk meluruskan sejarah Papua, hingga merdeka. Lumayan buat menambah wawasan.

Tapi dari perbincangan itu, ada beberapa topik menyentuh. Mulai dari pendidikan, hingga kerukunan antaragama.
Thoha bercerita: masyarakat papua sudah memiliki aturan sendiri. Penduduk Nasrani selalu menyediakan peralatan makan dan masak khusus di rumahnya. Jika ada kenalan dan keluarga Muslim yang datang, mereka mengeluarkan peralatan tersebut untuk memasak dan menghidangkan. Sebaliknya, jika saudara Muslim mendapati babi hutan dalam jebakan, langsung memberitahu sanak keluarga Nasrani.
“Semua hidup teratur dan rukun. Saya tidak tahu apakah kehidupan seperti itu yang dianggap primitif? Bagaimana dengan kehidupan sekarang yang saling baku hantam antaragama?” katanya dengan nada tanya.

Masih banyak lagi perbincangan mengalir. Tapi terpaksa terhenti. Matahari kian condong ke barat. Ada acara yang harus dihadiri, dan si kecil pun telah menanti. Perbincangan itu, menyisakan ruang pemikiran tersendiri. Mungkin nanti, ada kesempatan mendalami dan menyusun dalam sebuah tulisan.

Hariku 9:20 am

Jangan menunda apa yang ingin kau lakukan. Sebab kamu tidak tahu kapan batas usiamu.

Teman adik bungsuku tiba-tiba meninggal.
Padahal, pagi hari masih berebut kamar mandi, siang hari tertawa-tawa, sore hari tahu-tahu sudah pergi. Sedih? tentu buat yang ditinggalkan, teman dan keluarga.

Kejadian seperti itu mengingatkanku pada makna kalimat di atas.
Seringkali aku menunda melakukan sesuatu. Menghubungi orang, memperbaiki hubungan, mengucapkan terimakasih, meminta maaf, mengunjungi orang tua…dll.
Duuuh…Padahal umur tak bisa ditebak. Benar-benar menjadi rahasia Tuhan.

HarikuDecember 26, 2005 10:58 am

Tengkyu buku Memoar of Geisha-nya

HarikuDecember 23, 2005 12:53 pm

Kehilangan kata-kata
Apalagi kalimat

HarikuDecember 5, 2005 7:53 am

tut tut…tut tut
sms dari jakarta
isinya membuatku kembali
ke titik nadir

ngurah rai sore (3/12)

Hariku 7:49 am

Malam senyap
menebar gelisah
ditemani debur ombak
mendekap malam
sendiri
di balkon sepi

kuta sepi 2005

Hariku 7:46 am

Sepanjang siang hingga menjelang sore (2/12), hujan menemani perjalanan menuju Bedugul dan Tanah Lot
Suasana menjadi begitu muram…kemuraman yang lembut
Dedaunan dipenuhi titik air, kaca bus dihiasi garis-garis kecil
Harum tanah begitu menyentuh,
cumbuan angin dan dedaunan begitu mesra…membangkitkan romantisme lama

Waktu pun seakan mundur
bermain dalam kenangan
ketika jiwa masih begitu merdeka
dan kebahagiaan belum terluka

Ombak tanah lot
masih rajin menciumi bibir tebing
sepasang kekasih kulit putih
baru saja mengikat janji
berhias kamboja
dan titik beras di antara mata dan dahinya

Di Pucang
sepoi angin menghantam kesadaran
tumpukan terasering begitu memesona
dan lenguh kerbau terdengar bak keluh

Sesungguhnya, alam begitu menggairahkan. Maka, aku berpikir:
‘’Sangat menyedihkan ketika kita menemukan sesuatu yang begitu menyentuh, tapi tak ada orang bisa bisa diajak bicara dengan jiwa.'’

Hariku 7:28 am

Anyer satu tahun lalu
‘’Hussh…pergi laut pergi!'’
tangan si kecil memeluk erat
buyar sudah, bayangan indahnya pantai di film Dora

Desember 2005
Bali (2/11), disiram matahari pagi
nyiur dan kamboja di Inna Bali Beach
melambai mendahului pantai
andai si kecilku ada di sini, dia pasti berteriak:
‘’naaah, ini dia pantai dora.'’