HarikuNovember 30, 2005 5:13 am

Hhhhhh….
hari ini waktu 24 jam terasa kurang
bangun pagi, menuntaskan rindu pada si kecil
menyelesaikan tugas rumah tangga
berangkat ke kantor

Terbayang empat halaman yang harus dikerjakan
beberapa rencana bakal tertunda atau mungkin terancam batal
ke diknas beli buku murah….
mengantar seorang teman yang sedang susah….
dan birthday party! he he he
ya sudah….bakalan gagal menikmati seafood dan bili
sebelum subuh sudah harus sampai bandara

HarikuNovember 29, 2005 3:41 pm

Tingkat perselingkuhan di kalangan wartawan ternyata tinggi sekali
Entah apa yang jadi penyebab…
Dari 50 orang yang ditanya secara acak,
tujuh di antara sepuluh pernah atau sedang melakukan perselingkuhan.

Barangkali tingginya tingkat stres
jam kerja tidak menentu
dan kesempatan bepergian yang luar biasa
menjadi penyebab utama

Maksudnya….suka dijadikan alasan…
Halaaah!

Seorang teman pernah mengatakan:
“Fenomena yang terlihat sangat wajar dan manusiawi. Hanya saja, kalau tersesat, cobalah untuk tersesat di jalan yang benar.”

NB: Apa sih?….kalau tersesat ya tersesat aja gitu loh!

HarikuNovember 28, 2005 5:40 pm

Happy birthday….
kaki kecilmu genap tiga tahun hadir di dunia
dan sekali lagi,
mata bening dan lesung pipitmu
selalu memanggilku
untuk pulang

HarikuNovember 26, 2005 4:51 pm

Bantahan untuk buku Malaikat dan Iblis serta The Da Vinci Code kian banyak. Ada yang mengurai teori perteori, membedakan atara fiksi dan non fiksi, sampai pembahasan Maria Magdalena.

Banyak betul. Dari waktu ke waktu masih terus bertambah. Keluar satu, keren. Dua judul okelah, tiga yaah diterima, empat, lima, enam…..halaaah! Gak ada kerjaan. Tapi tetap lebih baik daripada menyalurkan ketidaksetujuan dengan cara kekerasan.

Aku jadi ingat kata seorang teman:
‘’Kalau Yesus menikah dengan Maria Magdalena, memangnya kenapa? Toh aku merasa keimananku tidak tergoyahkan. Aku berdoa dengan caraku, dan aku merasakan kekuatan doa itu. selesai.'’

Hariku 4:33 pm

Ada pesta buku,
tapi belum gajian
ya sudah!
kalau belum bisa beli, ya pinjam aja he he

HarikuNovember 25, 2005 4:55 pm

Ha ha ha ha ha
Spontan dan enak banget gw ketawa

Gimana enggak? Di sebuah pesta yang didatangi para bos dan selebritis, teman kecilku ditolak saat minta wine. Jawaban bartender itu jelas dan singkat: “habis.”

Halaaah, mukanya itu loh…
Jangankan wine merah — dia pengennya itu — wine putih aja gak dapat. Padahal, tidak lama kemudian, pramusaji berseliweran menawarkan wine ke tamu-tamu lain he he he.

Saat itu, ada salah satu ponakan bos besar yang kebetulan kita kenal. Jadi, iseng aja nih, minta tolong ke dia buat ngambilin wine. Cukup satu menit, dia datang dengan dua gelas wine merah. Isinya benar-benar penuh, bukan cuma seperempat seperti aturan umumnya. Hukum rimba bener-bener berlaku: money and power talk. Bukti kalau kasta tetap ada. Yaaah, kembali ke diri kita, mau dilawan atau diterima?

Teman kecilku langsung cengengesan, kesel, seneng, dan barangkali mulai sadar pesta itu bukan tempatnya. Tapi memang sih, rasanya datang ke tempat yang salah, meski tadinya cuma iseng. Gak nyaman gitu loooh!

Tapi gak pa-palah, ada hiburannya juga sih…
saat itu ada presenter cantik yang joget hot kayak monkey monk. Bener-bener kayak monkey monk. Upps…sori!

HarikuNovember 23, 2005 5:47 am

Tunggu ibu nak,
mata bening dan lesung pipimu,
selalu memanggilku
untuk pulang

Hariku 5:39 am

Barangkali, ada juga sayap capung di jantungku
Batas antarbatas, ternyata sedemikian tipis
Setipis permainan kata

Dan saat ini, kepedihan begitu padat
menyeruak mencekik leher menuju aini
Perasaan bodoh yang sungguh tidak perlu
Tapi sekali-kali, tidak apalah…..
menyerah sejenak pada perasaan

Payaaah!!!

Hariku 5:27 am

Barangkali, Tuhan itu laki-laki

HarikuNovember 20, 2005 11:41 am

Kemarin, datang tawaran kerja menggiurkan
Bukan karena pekerjaannya,
lebih pada tantangan tempat, seperti yang selama ini menjadi impian

“Ada lowongan menjadi PR sebuah perusahaan minyak, tapi di Papua. Gajinya lumayan. Dua minggu kerja, dua minggu libur. Semua ongkos pulang ke Jakarta duganti,” ujar seorang teman.

Rasa hati langsung cling! Tapi terhempas lagi!
Dengan statusku sekarang, tidak mungkin toh?
Mencoba saja rasanya niskala
Ya sudah
hidup memang selalu dihadapkan pada pilihan!

Hariku 11:16 am

Penasaran, memaksaku membeli buku Pada Sebuah kapal-nya NH Dini.
Buku lama yang sudah kubaca saat usiaku masih belia
Tapi kini aku ingin sekali lagi membaca, mencari pemahaman di usiaku sekarang.
Aku ingin mengulang membaca, mencoba memahami mengapa buku itu masuk kategori sastra.
Pasti ada alasannya. dan otakku yang kecil ingin mencari dan mengetahui

Baru seperempat buku terbaca, aku malah teringat kisah Reumanen
Aduuh lupa siapa yang mengarang? (Marriane Katoppo)
Buku lama, yang kisah dan bahasanya sampai kini masih mampu mengharu-biru
Aku terkesan!
Sayang, buku itu sudah sulit didapat
Di rumah, tersimpan fotokopian, yang sebenarnya milik adikku he he he

Hariku 11:08 am

Telepon di meja kantor terus berdering:

“halo, enggak jadi datang?”
Suara kebapakan di ujung saluran yang jaraknya berpuluh bahkan ratus kilo terasa mengejutkan sekaligus menyejukkan.

“Maaf, ada beberapa urusan. nanti menjelang Natal pasti datang.”

“Oooh, padahal mangganya sudah matang di pohon. Sengaja tidak dipetik menunggu kalian datang. Semuanya manis, tidak ada yang asam. Atau mau dikirim saja lewat paket?”

Duh, perasaan melo langsung menggerogoti.
Dua orang tercinta yang selalu mengingat saat memiliki barang lebih,
meski itu hanya beberapa buah mangga dari kebun sendiri.

Di kantor, beberapa saat merenung memikirkan mereka. Nanti, menjelang Natal, aku pasti datang. Mengobati rindu yang selama ini terhalang jarak dan waktu.

HarikuNovember 17, 2005 9:34 am

Hari ini aku dapat dua perasaan. Merasa masih muda, trus dikembalikan ke realita mulai tua he he he

Hari ini aku juga ketemu orang yang baik, meski untuk ukuran individual Jakarta sedikit aneh.

Sedang melihat buku di Gramedia, tiba-tiba ada perempuan muda mendekati. Awalnya ikut melihat-lihat buku, kemudian bertanya:

‘’Buku mana ya yang bagus?'’

‘’Ha? Oh yang ini,'’ jawabku sambil menunjuk Burung-Burung Manyarnya Romo Mangun.

“Suka baca buku-buku seperti ini?”

“Lumayan,” jawabku sambil tetap asyik mencari sebuah buku yang belum juga ketemu.

“Kuliah dimana?”

“Aku dah kerja.”

“Bener? Enggak kelihatan loh, sungguh. Apalagi pakai tasnya diselempang.”

“?????????”

“Kerja dimana?”

“bla…bla…bla…”

“Umurnya berapa?”

Walaaah, ramah banget nih cewek?
“Aku dah tua. kamu pasti jauh di bawahku.”

“Aku sudah punya satu anak loh,” kata cewek yang akhirnya aku tahu bernama Chaterine.

“Lo sama dong,” jawabku.

Trus aku pasang senyum sambil sibuk bolak-balik buku yang judulnya saja aku enggak tahu. Tapi cewek itu malah tanya lagi:

“Umurku 29, kamu berapa?”

Haduuuh!
“Umurku…(bukan rahasia, tapi tidak untuk dibaca orang yang belum gw kenal he he he).”

“Masak sih? Bener lo, gak kelihatan.”

He he he :)
Apa sih maksudnya? Rada heran juga.

“Rambutmu bagus, hitam dan tebal.” kata cewek itu lagi.

“???????”
Lebih bagus rambutmu dong!”

Mati aku! obrolannya kok jadi panjang dan gak ada juntrungannya gini.
Dia ngajak salaman, trus kasih kartu nama. Aku tulis nomor hpku 0813xxxx, janjian saling kontak.

“Hayuuk ah, aku mau lihat-lihat buku lagi,” kataku mengakhiri pembicaraan.

Kita berpencar, lima menit kemudian dia datang lagi, pamit mau pergi duluan.
Aduuuh, baek banget sih….!
Terharu nih….Halaaaah!

Gak lama setelah itu, ketemu instruktur dari Celebrity Fitness yang umurnya jauh lebih muda dari adik bungsuku.

“Hai ibu?”

Ibu gitu loh….! Nah, panggilan ini sesuai dengan umur dan statusku ha ha ha!

Welcome in reality

HarikuNovember 16, 2005 5:54 pm

Lewat tengah malam, tercipta perbincangan seru
Haduuuh, seperti biasa, kesulitan merangkai kata, apalagi argumen
Jadi bulan-bulanan deh
ya salahku sendiri

Rasanya setiap hari aku harus mengucapkan mantra ini:
Belajar berargumen…
Belajar tidak impulsif…
dan belajar banyak lagi!

Belajar berargumen…
belajar tidak impulsif…
dan belajar banyak lagi!

Phfffhhhh!!!

HarikuNovember 14, 2005 3:14 pm

Ternyata Tuhan memberi cara diet yang cepat, alami, dan nikmat. Tidak perlu keluar uang, tidak perlu keluar tenaga, dan tidak perlu bersusah-payah.

Cukup hanya dengan ciuman. Sebuah peneletian menyebutkan, setengah menit Anda berciuman, 30 kalori langsung terbakar.

Nah, bayangkan! Kalau Anda melakukan selama dua menit, maka 120 kalori terbuang dengan sangat mudah. Cara alami yang mestinya sangat menyenangkan. Bandingkan jika harus mengayun kaki di atas mesin berjalan. Keringat bercucuran, kaki pegal, tapi hanya 120 kalori yang terbakar selama 15 menit.

Hayoo pilih mana sekarang? Masalahnya, ciuman itu ternyata gak gampang. Mestinya harus ada orang yang tepat, yang bisa buat hati snut-snut. Itu loh, kepak sayap capung di perut dan dada. Kalau enggak, ya percuma toh?

HarikuNovember 9, 2005 3:38 pm

Pulang ke Jakarta, transit di Singapura.
Bib…bib…bib…
SMS bertubi-tubi langsung menyerbu masuk, beberapa saat setelah power ditekan di Bandara Cangi. Salah satunya mengabarkan kecelakaan yang dialami pasangan hidup.
Halaaah….parah gak ya?

Dari bandara langsung ke rumah sakit. Dari hotel di Epoch City singgah di bangsal kelas 1 sebuah rumah sakit swasta. Menunggui operasi, sebelum akhirnya di hari keempat (pas Lebaran pertama) boleh pulang.

Langsung ke Gambir, berangkat ke Bandung, urusan keluarga. Esoknya dari kota kembang ke Garut bareng si kecil tercinta yang kemarin ikut ngejemput di stasiun bandung.

Senin pagi balik sendiri ke Jakarta. Benar-benar sendiri. Tidak ada satu pun orang di rumah. Duh itu loh…paling nelangsa kalau ngeliat bebek-bebekan, meja kecil, dan tumpukan boneka si kecil. Dia lagi liburan di rumah eninnya. Minggu baru balik.

Hariku 11:49 am

Belanja! Belanja! Belanja!
Menghabiskan yuan yang sengaja disisihkan untuk memenuhi sejumlah titipan teman.

Pukul 09.30 meluncur dari Epoch City menuju sisi pintu lain Ba Da Ling. Kurang menarik. Liukan tembok China tak bisa langsung terlihat. Pelataran parkir dipenuhi kios dan pedagang kaki lima. Hanya setengah jam, meluncur kembali ke Beijing, ke sebuah pusat perbelanjaan yang mirip Mangga Dua. Lantai pertama penuh jam tangan dan pashmina. Lantai kedua busana, tas, serta sepatu. Lantai tiga, perhiasan serta tailor.

Rombongan penari Saman menggila. Belanja, belanja, belanja. Saat masuk ke dalam bus, hitungan tas koper baru dan besar memenuhi bagasi. Pedagang membuka tawaran dengan harga super tinggi. Jangan ragu menawar. Dari 100 yuan, bisa menjadi 15 yuan. Tak usah dihiraukan saat melihat penjual bersungut. Itu hanya taktik. Andai bukan, toh kita tidak akan bertemu lagi he he he.

Membeli pashmina, dasi, patung giok, jam tangan, dan tas titipan teman. Usai belanja, rombongan makan malam di sebuah restoran Muslim dekat pusat pertokoan Ya Show. Lumayan berbumbu. Tapi kamar mandinya itu loh….terbuka, bau, dan tanpa tisu. Ah…sudahlah masa bodoh!

Usai makan, jalan kaki menuju Ya Show. Membeli lukisan, senter, dan kain sutera titipan teman. Wah, yuan sudah habis. Pulsa telepon pun habis. tak apalah, toh besok subuh bergerak menuju bandara, kembali ke Jakarta.

Pukul 21.00 mal tutup. Satu-persatu anggota rombongan kembali ke bus. Aduh, kandung kemih rasanya penuh. Masih ada waktu ke kamar kecil. Pamit pada seseorang, meluncur menuju mal. Tapi sudah tidak boleh masuk. Dimana ya? Beberapa jeda toko, ada KFC. Nah itu dia.

Hhhh….lega!
Masuk KFC, numpang pipis, balik lagi ke parkiran Ya Show.
Tapi….
Huaaaa kemana busnya? Yuan habis, pulsa telepon habis, kunci kamar tidak mencantumkan alamat dan nomor telepon hotel. Mulai panik.
Haduuh help…..rada gawat nih. Cari akal, jalanan mulai sepi, lapangan parkir mulai kosong. Nah, itu ada satpam mal.

“Please…help me…bla..bla…bla…”

Walah dia gak bisa bahasa inggris. hampir lupa, sebagian besar orang Beijing tidak mengerti bahasa inggris. Gimana dong? Nah itu mungkin manajer mal, karena dandanannya lebih necis, berjas dan berdasi. Mungkin dia bisa bahasa inggirs. Sekali lagi :

“Please…help me…bla…bla…”

Dia jawab: “w pu che tao tra…tatatatata”

Walaaah. Nah datang lagi satu petugas, lagi, lagi, dan lagi. Tapi tidak satu pun mengerti bahasa inggris. Mati aku! Berkicau sudah, berpantomin sudah, tinggal air mata yang belum.

Untung ada cewek bule lewat. Ternyata mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Beijing. Lancar bahasa inggris dan mandarin. Dia bisa mengerti bahasa inggrisku yang pas-pasan. Horeee! Thanks Marina — itu namanya. Cantik, secantik orang dan hatinya yang rela berlama-lama menerjemahkan persoalanku ke para petugas dari Mal Ya Show.

Akhirnya, aku diantar ke toko yang jual pulsa dan kebetulan masih buka. Tapi tidak ada kartu hp. Yang ada kartu telepon internasional untuk digunakan di telepon umum. Harganya 7 yuan. masalahnya, sudah gak ada yuan. Ya sudah, pakai uang US$100.

Enggak mau? Haduuh gimana nih? Marina juga enggak punya uang yuan sebanyak US$100. Pertukarannya sama dengan 800 yuan. Please…please…modus memasang wajah memelas ke pemilik toko.
Berhasil! Dia mau mengembalikan dalam yuan, tapi cuma mau 700 yuan. Halaah tidak masalah toh. Emang dalam kondisi gitu, siapa yang mikirin uang 100 yuan? he he he

Rombongan Marina dan tiga petugas Ya Show mengantar ke telepon umum. Tapi tidak satu pun nomor yang bisa dihubungi. Orang KBRI di Beijing juga gak bisa. Walah, aku pasti gak tahu caranya. mereka juga gak tahu. Cilaka! Alamat nginep. Harus susah atau seneng ya? Masalahnya kantong mulai tipis nih.

Cling…! Ada matahari di kepalaku. Wang! aku ingat Wang, driver yang mengantar ke Epoch City di hari kedua. Kebetulan aku simpan teleponnya. “Marina bla…bla…bla….”

Akhirnya, petugas Ya Show berhasil menghubungi Wang pukul 21.30. Senangnya. Wang dan aku bicara di telepon dengan bahasa masing-masing. Akhirnya Wang bilang “understand, understand.'’ Huaaah lega!

Marina memberi petunjuk, supaya mengikuti petugas Ya Show ke kantor. Nanti sekitar 30 menit Wang akan menjemput. Aduh, sie sie Marina.
Tunggu di kantor, SMS dari panitia dan kepala rombongan mulai masuk. Mereka cemas. Tapi sudah tidak ada pulsa buat memberi penjelasan. Ya sudahlah. SMS terakhir isinya:

“Kita sedang memesan pulsa dari Jakarta buat ponselmu. Kalau sudah masuk segera dibalas. Hubungi KBRI.'’

Oke. Duduk diam, menunggu Wang. Sesekali bertukar bahasa universal — senyuman — dengan dua petugas Ya Show. Tigapuluh menit berlalu, Wang pun muncul. Waduh senangnya. Blug! itu bunyi pelukan gw ke dia sambil ketawa-tawa. Dia juga senyum-senyum, bertukar mimik universal.

Wah, sie-sie Cici Wang, koko-koko yang aku sampai lupa tanya namanya. Balik ke hotel yang jauhnya uamit-amit. SMS masuk: “Kita mau nyusul ke Beijing.”
Halah, gak usah. Untung pulsa sudah masuk, jadi bisa ngebales.

Sampai di hotel 00.30. Berpelukan lagi sama Wang, bayar sewa mobil 500 yuan. oke. Ramai deh sambutannya. Mereka kira aku duduk di belakang, sementara orang belakang kira aku ada di depan. Sadar-sadar pas nurunin barang belanjaan di gerbang hotel. hayaaah!

Penari-penari bilang, kalau mereka yang ketinggalan pasti sudah nangis. He he, mereka gak tahu, air mataku juga sudah mau bercucuran. Kalau saja tidak ada marina…Kalau saja tidak ada kebetulan-kebetulan? Tapi apa memang ada kebetulan di dunia ini? Mestinya semua sudah diatur toh?

Hariku 10:01 am

Bosan di Epoch City! Tanpa kegiatan apa pun, tidak ada rental mobil, tidak ada penawaran city tour.

Aha hari kedua kesempatan untuk kabur. Ada mobil yang bisa ditumpangi ke KBRI di Beijing. Dari sana, bersama dua teman sepakat menyewa mobil. Sayang jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.00 waktu setempat. Berbincang sejenak, sebelum akhirnya berangkat ke salah satu pintu tembok China yang disebut Ba Da Ling.

Wang, perempuan berusia 40 tahunan menjadi driver kami. Sayang tak bisa berbahasa inggris, dan sayang kami tak menguasai bahasa mandarin. Waktu lebih sering berlalu dalam diam. Perjalanan cukup panjang, sekitar satu jam. Dari kejauhan liukan susunan tembok sudah terlihat. Dibangun di atas pebukitan berbatu. Udara dingin tak mampu mengalahkan rasa penasaran. Jaket, syal, topi, dan tentu kamera di tangan. Memilih naik kereta luncur hingga suatu titik tertentu. Kemudian menapaki tangga demi tangga.

Udara sedikit berkabut, tiupan angin mengibarkan syal di leher. Rambut menari, menggelitik wajah. Terkadang, badan sedikit oleng merasakan kencangnya sapuan alam. Namun, tembok ribuan tahun itu tetap kokoh. Pebukitan, liukan salah satu bagian keajaiban dunia, puri-puri kecil, berdiri angkuh dalam rengkuhan minimnya cahaya sore.

Waktu tak lagi memungkinkan kami berlama-lama. Meluncur lagi ke Beijing, kali ini dua jam perjalanan. Jalan tol padat merayap. Pukul 19.30, tiba di sebuah restoran yang menyajikan bebek peking. Konon, usianya sudah ratusan tahun. Soal kelezatan, relatif. Tapi lemak dari unggas itu, mampu membuat perut yang terbiasa makan sayur asam dan bening menjadi mual he he.

Pulang ke Epoch City, satu setengah jam perjalanan dari Beijing. Jauh nian. Turun di depan hotel, dan kami bertiga membagi sewa mobil seharga 1.100 yuan. Alamak, mahal nian. Itu sekitar Rp1.540.000. Tapi tak apalah, demi sebuah pengalaman yang barangkali tidak akan terulang lagi.

Hari ketiga dan keempat, kebosanan kembali menelingkup. Huh! Tapi di hari kelima ada rencana shopping. Itu berarti bisa keluar dari kota terlarang. Horeee!

Hariku 9:36 am

Bayangan langit biru yang membingkai ranggasan dedaunan merah musim gugur, ternyata tidak tampak di Beijing. Pun di Provinsi He Bei, sekitar 1,5 jam dari ibukota negeri Tirai Bambu itu.

Langit He Bei dan Beijing sama dengan Jakarta. Putih berarak, diselingi warna biru tua dan sedikit abu-abu. Dimana-mana jalan tol malang melintang. Pada jam berangkat dan pulang kantor, antrian kendaraan bak ular naga. Tidak berbeda dengan keruwetan Jakarta.

Beijing dipenuhi gedung-gedung tinggi pencakar langit. Huruf-huruf Mandarin mendominasi. Hanya sedikit manusia yang bisa berbahasa Inggris. Mungkin hanya di toko dan pasar yang banyak didatangi turis. Itu pun sepotong-potong, menyangkut kepentingan tawar-menawar.

Nuansa metropolitan sungguh terasa. Di sela itu, Beijing masih memiliki banyak sepeda. Mengingatkan pada kota kenangan, sedikit masa kecil di kota tetangga, Yogyakarta. Juga sedikit pada film Red Corner yang dibintangi Richard Gere.

Kemegahan bersanding kontras dengan kebiasaan lama masyarakat. Khas, se-khas kamar mandi umum di objek-objek wisata dan restoran biasa. Tanpa pintu, tanpa tisu, dan tanpa malu. Perempuan tua dan muda langsung menyingsingkan rok, menurunkan celana, lalu jongkok. Tidak peduli kloset yang digunakan berkerak atau sebelumnya menyisakan kotoran. Beberapa meter dari tempat seperti itu, berdiri gedung-gedung megah dengan kloset nyaman yang kebersihannya terjaga setiap menit.

Ha, Beijing memang menarik. sayang hanya satu hari terjelajahi. Selebihnya tinggal di duplikat kota terlarang, Epoch City, Provinsi He Bei. Kota baru yang sepi dan pembangunannya pun belum usai.