Belanja! Belanja! Belanja!
Menghabiskan yuan yang sengaja disisihkan untuk memenuhi sejumlah titipan teman.
Pukul 09.30 meluncur dari Epoch City menuju sisi pintu lain Ba Da Ling. Kurang menarik. Liukan tembok China tak bisa langsung terlihat. Pelataran parkir dipenuhi kios dan pedagang kaki lima. Hanya setengah jam, meluncur kembali ke Beijing, ke sebuah pusat perbelanjaan yang mirip Mangga Dua. Lantai pertama penuh jam tangan dan pashmina. Lantai kedua busana, tas, serta sepatu. Lantai tiga, perhiasan serta tailor.
Rombongan penari Saman menggila. Belanja, belanja, belanja. Saat masuk ke dalam bus, hitungan tas koper baru dan besar memenuhi bagasi. Pedagang membuka tawaran dengan harga super tinggi. Jangan ragu menawar. Dari 100 yuan, bisa menjadi 15 yuan. Tak usah dihiraukan saat melihat penjual bersungut. Itu hanya taktik. Andai bukan, toh kita tidak akan bertemu lagi he he he.
Membeli pashmina, dasi, patung giok, jam tangan, dan tas titipan teman. Usai belanja, rombongan makan malam di sebuah restoran Muslim dekat pusat pertokoan Ya Show. Lumayan berbumbu. Tapi kamar mandinya itu loh….terbuka, bau, dan tanpa tisu. Ah…sudahlah masa bodoh!
Usai makan, jalan kaki menuju Ya Show. Membeli lukisan, senter, dan kain sutera titipan teman. Wah, yuan sudah habis. Pulsa telepon pun habis. tak apalah, toh besok subuh bergerak menuju bandara, kembali ke Jakarta.
Pukul 21.00 mal tutup. Satu-persatu anggota rombongan kembali ke bus. Aduh, kandung kemih rasanya penuh. Masih ada waktu ke kamar kecil. Pamit pada seseorang, meluncur menuju mal. Tapi sudah tidak boleh masuk. Dimana ya? Beberapa jeda toko, ada KFC. Nah itu dia.
Hhhh….lega!
Masuk KFC, numpang pipis, balik lagi ke parkiran Ya Show.
Tapi….
Huaaaa kemana busnya? Yuan habis, pulsa telepon habis, kunci kamar tidak mencantumkan alamat dan nomor telepon hotel. Mulai panik.
Haduuh help…..rada gawat nih. Cari akal, jalanan mulai sepi, lapangan parkir mulai kosong. Nah, itu ada satpam mal.
“Please…help me…bla..bla…bla…”
Walah dia gak bisa bahasa inggris. hampir lupa, sebagian besar orang Beijing tidak mengerti bahasa inggris. Gimana dong? Nah itu mungkin manajer mal, karena dandanannya lebih necis, berjas dan berdasi. Mungkin dia bisa bahasa inggirs. Sekali lagi :
“Please…help me…bla…bla…”
Dia jawab: “w pu che tao tra…tatatatata”
Walaaah. Nah datang lagi satu petugas, lagi, lagi, dan lagi. Tapi tidak satu pun mengerti bahasa inggris. Mati aku! Berkicau sudah, berpantomin sudah, tinggal air mata yang belum.
Untung ada cewek bule lewat. Ternyata mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Beijing. Lancar bahasa inggris dan mandarin. Dia bisa mengerti bahasa inggrisku yang pas-pasan. Horeee! Thanks Marina — itu namanya. Cantik, secantik orang dan hatinya yang rela berlama-lama menerjemahkan persoalanku ke para petugas dari Mal Ya Show.
Akhirnya, aku diantar ke toko yang jual pulsa dan kebetulan masih buka. Tapi tidak ada kartu hp. Yang ada kartu telepon internasional untuk digunakan di telepon umum. Harganya 7 yuan. masalahnya, sudah gak ada yuan. Ya sudah, pakai uang US$100.
Enggak mau? Haduuh gimana nih? Marina juga enggak punya uang yuan sebanyak US$100. Pertukarannya sama dengan 800 yuan. Please…please…modus memasang wajah memelas ke pemilik toko.
Berhasil! Dia mau mengembalikan dalam yuan, tapi cuma mau 700 yuan. Halaah tidak masalah toh. Emang dalam kondisi gitu, siapa yang mikirin uang 100 yuan? he he he
Rombongan Marina dan tiga petugas Ya Show mengantar ke telepon umum. Tapi tidak satu pun nomor yang bisa dihubungi. Orang KBRI di Beijing juga gak bisa. Walah, aku pasti gak tahu caranya. mereka juga gak tahu. Cilaka! Alamat nginep. Harus susah atau seneng ya? Masalahnya kantong mulai tipis nih.
Cling…! Ada matahari di kepalaku. Wang! aku ingat Wang, driver yang mengantar ke Epoch City di hari kedua. Kebetulan aku simpan teleponnya. “Marina bla…bla…bla….”
Akhirnya, petugas Ya Show berhasil menghubungi Wang pukul 21.30. Senangnya. Wang dan aku bicara di telepon dengan bahasa masing-masing. Akhirnya Wang bilang “understand, understand.'’ Huaaah lega!
Marina memberi petunjuk, supaya mengikuti petugas Ya Show ke kantor. Nanti sekitar 30 menit Wang akan menjemput. Aduh, sie sie Marina.
Tunggu di kantor, SMS dari panitia dan kepala rombongan mulai masuk. Mereka cemas. Tapi sudah tidak ada pulsa buat memberi penjelasan. Ya sudahlah. SMS terakhir isinya:
“Kita sedang memesan pulsa dari Jakarta buat ponselmu. Kalau sudah masuk segera dibalas. Hubungi KBRI.'’
Oke. Duduk diam, menunggu Wang. Sesekali bertukar bahasa universal — senyuman — dengan dua petugas Ya Show. Tigapuluh menit berlalu, Wang pun muncul. Waduh senangnya. Blug! itu bunyi pelukan gw ke dia sambil ketawa-tawa. Dia juga senyum-senyum, bertukar mimik universal.
Wah, sie-sie Cici Wang, koko-koko yang aku sampai lupa tanya namanya. Balik ke hotel yang jauhnya uamit-amit. SMS masuk: “Kita mau nyusul ke Beijing.”
Halah, gak usah. Untung pulsa sudah masuk, jadi bisa ngebales.
Sampai di hotel 00.30. Berpelukan lagi sama Wang, bayar sewa mobil 500 yuan. oke. Ramai deh sambutannya. Mereka kira aku duduk di belakang, sementara orang belakang kira aku ada di depan. Sadar-sadar pas nurunin barang belanjaan di gerbang hotel. hayaaah!
Penari-penari bilang, kalau mereka yang ketinggalan pasti sudah nangis. He he, mereka gak tahu, air mataku juga sudah mau bercucuran. Kalau saja tidak ada marina…Kalau saja tidak ada kebetulan-kebetulan? Tapi apa memang ada kebetulan di dunia ini? Mestinya semua sudah diatur toh?