HarikuOctober 24, 2005 4:14 pm

Ketegangan cerita di Dante Club baru terasa mengalir setelah baca bukunya separuh lebih. Mathew Pearl membangun fiksi di tengah kisah nyata. Tapi menurut saya, penggambaran karakternya belum bisa sedalam dan semenyentuh Pramudya Ananta Tour lewat buku Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca.

Saya hanyalah pembaca biasa yang mencoba mengungkapkan isi hati setelah membaca Dante Club. Jadi, harap maklum kalau banyak lubang-lubangnya.

Mathew Pearl dalam bukunya mencoba mengungkapkan berbagai detail lewat tokoh-tokohnya. Cukup berhasil. Hanya saja mungkin terjemahan Indonesianya kurang pas dan kurang menggigit. Terlepas dari semua itu, Dante Club rasanya memang perlu dibaca. Bukan hanya fiksinya, tapi juga untuk menambah pengetahuan tentang sastra di negeri Paman Sam.

Yang menarik — suatu bentuk tren pemasaran di Amerika Serikat — buku ini dilengkapi dengan cuplikan hasil wawancara dengan Pearl. Juga panduan beberapa pertanyaan untuk bahan diskusi antara pembaca Dante Club.

Pertanyaan itu misalnya:
1. Diskusikan momen-momen penting ketika karya sastra menjadi tempat perlindungan sewaktu Anda mengalami masa-masa sulit, bingung atau kalut.
2. Apakah Anda menebak siapa pembunuhnya sebelum Mathew Pearl menyingkapnya?

Pertanyaan pertama menimbulkan api-api kecil dan liar dalam pikiranku. Berloncatan, mencoba mencari garis penyambung. Aku pikir, karya sastra memang bisa menyembuhkan luka hati dan trauma seseorang, sekaligus memberi kekuatan. Bukan hanya karya sastra, tapi juga seni pada umumnya.

Coba rasakan, saat Anda sedih dan membaca sebuah karya sastra yang inspirasinya hampir sama dengan kehidupan yang Anda jalani. Coba rasakan, saat hati Anda disembuhkan oleh musik, lukisan, atau pun pertunjukkan teater.

Mengapa bisa demikian? Sebab menurut saya, sebuah karya sastra dan seni lahir dari sebuah perjalanan emosi panjang dan mengejutkan. Dari rasa sakit itu, lahirlah karya-karya maha dasyat. Jiwa dari karya itu punya kekuatan untuk menyembuhkan sekaligus menjerumuskan.

Menelusuri kehidupan beberapa penulis, perjalanan emosi yang mereka alami terkadang ikut membentuk ‘keanehan’ karakter dan prilaku mereka. Lowel — salah satu sastrawan Amerika yang diceritakan dalam Dante Club — dikenal dengan sikapnya yang eksentrik. Pramudya, dikenal punya sikap yang keras dan eksentrik pula. Saya rasa tidak bisa dipisahkan dengan pengalaman hidupnya yang jauh dari keadilan semasa pemerintahan orde baru. Dipenjara, disiksa, karyanya dibakar, dan bla…bla…

Di zaman sastra muda Indonesia, ada Ayu Utami dan Djenar. Dua perempuan yang berhasil melahirkan karya bagus, sekaligus diikuti juga dengan pandangan hidup mereka yang mengejutkan dan jadi bahan diskusi serta gosip masyarakat umum.

Di dunia musik pop ada Glen Fredly yang menjadi begitu lancar melahirkan lagu-lagu cinta — populer pula — setelah mengalami patah hati dengan kekasihnya yang berbeda agama.

Menengok jauh ke belakang, ada Bethoven yang melahirkan karya saat kesepian begitu menghujam. Juga rasa dongeng HC Anderson. Ada juga Virginia Woolf, penulis terkenal yang lebih senang hidup dalam kesendirian, dan akhirnya mati bunuh diri. Tindakan yang sama juga dilakukan vokalis grup musik Nirvana, saat dia tak bisa lagi menanggung rasa sepi.

Dengan segudang contoh, saya berkecenderungan mengatakan, sebuah karya sastra lahir dari sebuah pertarungan emosi luar biasa. Luka dan proses pencarian diri bisa membuat orang menjadi kreatif. Dan kemudian, karya-karyanya bisa menyentuh orang lain, menyembuhkan, tapi sekaligus juga menenggelamkan.

Kemudian saya berpikir, tidakkah banyak karya sastra lahir dari sebuah pribadi yang selalu berproses mencari sesuatu? Proses pencarian itu terkadang dilakukan dengan cara yang sangat tidak umum. Berpuluh tahun dan ratus kemudian, karya perenungan mereka terasa begitu dasyat, meski tetap dianggap sebagai pribadi aneh. ***

HarikuOctober 21, 2005 3:46 pm

Membaca buku Dante Club butuh energi dan waktu. Alurnya agak lambat, dan terjemahannya kurang enak dibaca. Tapi isinya memang oke. Kita dibawa menelusuri perkembangan sastra di sebuah negara, plus watak manusia, dan kondisi sosial saat itu.

Suasana rasisme dihadirkan lewat Nicholas Rey, polisi mulatto (hasil kawin campur antara kulit putih dan hitam, bule dan negro, atau istilah apa pun). Berbagai peraturan dan perlakuan yang sangat rasis disinggung. Dan seperti biasa, saat membaca buku yang menggambarkan kebencian ras, aku selalu tersentuh.

Dalam salah satu bab, ada kata-kata yang dilontarkan seorang penjahat bernama Peaslee yang rasanya sangat tepat menggambarkan keadaan dan juga tekanan psikologis yang dialami Rey.

“Orang-orang kulit hitam membencimu karena kulitmu yang agak putih. Dan orang-orang kulit putih membencimu karena kulitmu yang agak hitam.”

Kata-kata itu sebenarnya — dengan sedikit perubahan konteks dan prilaku — relevan untuk segala zaman. Namun, dalam kondisi tertentu pula, kehidupan ‘mulatto’ untuk segala campuran sudah jauh lebih baik. Bahkan di dunia model, mereka dianggap tambang mas. Tentu bagi mereka yang kebetulan dikaruniai dan diuntungkan paras yang sesuai dengan tuntutan zaman.

Apa pun, saat meresapi hal itu — untuk anakku — aku merasa beruntung. Meski masih ada beberapa pandangan kuno (sedikit rasis) yang membayangi, dia tidak hidup dimasa lampau yang kebenciannya begitu keras. Keteguhan dan kekuatan hatinya akan ditempa dalam bentuk lain. Dan semoga saja membuat jiwanya menjadi lebih peka, sekaligus liat. Doa buat anakku yang berkulit coklat, dengan beberapa garis wajah khas Asia Timur.

HarikuOctober 20, 2005 1:11 pm

Kokology ialah ilmu yang mempelajari kokoro (pikiran atau semangat) di Jepang. Ilmu ini diterapkan dengan prinsip-prinsip psikologi. Bentuknya ringan, seperti kuis.
Dalam buku Kokology Game Praktis menggali Potensi Anda yang ditulis Isamu Saito dan Tadahiko Nagao. ada satu kuis pendek yang saya rasa cukup menarik diikuti. Jawaban yang dipilih menunjukkan bagaimana kita merespon kesulitan dan ketidakpastian dalam menjalani hidup.

Suatu hari, seekor burung berwarna biru masuk dan terperangkap di kamar Anda. Ada sesuatu yang menarik, sehingga Anda memutuskan untuk memelihara. Tapi ternyata keesokan hari, burung itu memberi kejutan. Warnanya berubah menjadi kuning. Keesokannya lagi menjadi merah terang. Di hari keempat berubah menjadi hitam. Pada hari kelima, warna apa yang kira-kira akan muncul?
1. Tidak berubah warna tetap hitam
2. Kembali menjadi biru
3. Berubah menjadi warna putih
4. Berubah menjadi warna emas

Penjelasan berdasarkan pilihan:
1. Tetap hitam
Apakah Anda cenderung percaya bahwa sekali situasi menjadi buruk, maka tidak akan normal lagi? ungkin Anda harus mencoba berpikir, Jika situasi sudah sangat buruk, maka tidak akan berubah menjadi lebih buruk. Ingatlah, tidak ada hujan yang tidak berhenti.

2. Kembali menjadi biru
Anda percaya bahwa hidup ialah campuran antara baik dan buruk. Tidak ada gunanya melawan kenyataan. Anda menerima kemalangan dengantenang dan membiarkan segala sesuatunya berjalan sesuai jalur tanpa stres dan khawatir. Harapan ini membuat Anda menjalani gelombang kemalangan tanpa terhanyut di dalamnya.

3. Menjadi putih
Anda tidak perlu menghabiskan waktu hanya untuk resah dan tidak mengambil keputusan ketika krisis timbul. Jika situasi memburuk, Anda merasa lebih baik membuang kekalahan dan mencari cara baru mencapai sasaran, daripada berhenti dalam kesedihan yang tidak perlu. Pendekatan proaktif ini berarti segala sesuatu secara alami berjalan sesuai keinginan.

4. Menjadi warna emas
Anda tidak mengenal tekanan. Bagi Anda, setiap krisis ialah sebuah kesempatan. Tapi berhati-hatilah untuk tidak membiarkan kepercayaan diri yang tidak terbatas mengalahkan Anda. Ada batas yang tipis antara tidak memiliki rasa takut dan membabi buta.

Hariku 4:04 am

Kalau Kamu ada, bantu aku
Hadir Mu dalam setiap detak jantung, bantu aku
Coba, canda apalagi yang Kau tawarkan hari ini?
Aku di sini , toh tak bisa mengelakkan kuasa Mu

HarikuOctober 18, 2005 4:48 pm

Ngobrol panjang dengan temanku yang satu ini, membuat saya lebih membumi dan tenang
Obrolan panjang, menjelang tengah malam, meski cuma lewat transfer kabel
Semuanya mengalir begitu saja,
lewat guyonan
lewat dagelan
membahas segala sesuatu dengan ringan, tanpa menghilangkan keseriusan
bebas berkata-kata…
bebas menangis…
bebas memaki
apapun!
Semua mengalir begitu saja, begitu alami…
Dan semuanya membuat saya lebih membumi
Untuk semua itu…buat kamu….tengkyu!

Ngobrol panjang dengan temanku si beruang madu,
Seringkali memberi cara pandang baru
membangkitkan semangat dan keinginan untuk selalu berkompetisi
Sebuah rasa yang berbeda, karena seringkali mendatangkan kegelisahan
Saya jadi ingin terbang bebas, mengulik sel abu-abuku (pinjam istilah Poirot, tokoh detektif khayalan Agatha Christie)
Untuk semua itu…buat kamu….tengkyu!

Berbicara dengan teman kecilku, rasanya tidak ada yang berat di dunia ini. Semuanya ceria, tanpa beban, meski terkadang terlihat juga kemasgulan.
Ketika nalar tersaput uap, dia biasanya datang menularkan keceriaan,
sekaligus memberi semangat untuk terbang bebas dan mengulik sel abu-abuku
Untuk semua itu…buat kamu….tengkyu!

Tabik!

NB: Kayaknya aku lagi keranjingan bilang tengkyu, he he he

Hariku 3:37 pm

Cerita ini buatku penuh makna. Bukan hanya buat anakku kelak, tapi juga untuk mengingatkan diri sendiri. Dapat dari blog seorang teman yang suka memberi aku semangat. Tx!

Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda tersebut?” “Burung gagak”, jawab si anak.

Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak yang menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras, “Itu burung gagak ayah!”

Sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, “BURUNG GAGAK!!”

Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang ogah-ogahan menjawab pertanyaan si ayah, “Gagak ayah…….”.

Tetapi kembali mengejutkan sianak, beberapa saat kemudian si ayah sekali lagi membuka mulutnya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan menjadi marah. “Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan saya pun sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya katakan? Itu burung gagak, burung gagak ayah,” kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut sebuah buku harian lama.

“Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam diary itu,” pinta si ayah.

Si anak taat dan membaca bagian yang berikut …

“Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap dipohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apakah itu?”. Dan aku menjawab, “Burung gagak”. Walau bagaimanapun, anakku terus bertanya pertanyaan yang sama dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga.”

Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan bersuara, “Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah.”

Hariku 2:28 pm

Bulan ini dapat hadiah dua buku

senangnya….

1. Dante Club
2. The Da Vinci Code

Tengkyu!

HarikuOctober 15, 2005 12:44 pm

Kosong gitu looh

Datar gitu loh

Dua kata itu aja deh!

Hayaah… Gak mutu!

HarikuOctober 10, 2005 8:28 am

Menjelang pms, dunia selalu kacau
sepi, sedih, sendiri, cepat tersinggung,
dan bla…bla…bla…
Pokoknya, perasaan enggak masuk akal lainnya
campur aduk, datang dan pergi

Bulan ini sama saja
Kemarin ke ppe,
lumayan naik turun bus, mikrolet dan metromini
P-10 menguras nostalgia SMA
Rute sama dengan kondisi jalan berbeda.
Jauh lebih mulus, lebar, lengkap dengan julangan gedung-gedung tinggi
Mikrolet dan bus mengingatkan masa pertamakali bekerja
Naik, turun angkutan umum di siang hari bolong, bahkan tengah malam
Kalau beruntung mendapat tempat duduk nyaman, di pojok pula
Tapi lebih sering berdiri
Dan uupps, aku pernah terantuk karena tidur sambil berdiri
Temanku tertawa, dan aku cuek saja.
Lebih memilih melanjutkan mimpi di sebuah bus jurusan Grogol-Depok